Tahun sekolah yang berantakan
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Tahun sekolah yang berantakan
Modul 04 · Perilaku remaja & otonomi · Artikel 14 · usia 13+
Raport akhir semester sampai di rumah hari ini. Kamu membukanya di meja makan. Kamu membacanya dua kali. Hasilnya buruk. Bukan sekadar agak buruk. Benar-benar buruk. Mata pelajaran yang dulu nilainya bagus sekarang anjlok. Kehadiran menurun. Komentar guru datar atau penuh kekhawatiran. Ada catatan di bagian akhir yang mengusulkan pertemuan.
Kamu duduk dengan raport itu beberapa menit. Kamu memikirkan kembali setahun ke belakang. Sekarang, saat menengok ke belakang, kamu bisa melihat di mana semuanya mulai merosot. Awal tahun ajaran memang berat. Pertengahannya lebih buruk. Menjelang akhir terus memburuk, tapi kamu terus meyakinkan diri bahwa ini cuma satu fase.
Kamu harus memberi tahu Co-Parent. Kamu harus berbicara dengan anak remajamu. Kamu harus memikirkan apa langkah berikutnya.
Artikel ini tentang tahun sekolah yang berantakan. Kemerosotan sepanjang tahun. Remaja yang sudah tidak baik-baik saja selama berbulan-bulan. Percakapan yang harus terjadi sekarang antara kedua rumah, dengan remaja itu, dan dengan sekolah. Dan pekerjaan, sepanjang bulan-bulan berikutnya, untuk membawa remaja itu kembali ke pijakan yang stabil.
Seperti apa sebenarnya tahun yang berantakan
Sebuah pembingkaian singkat.
Sebagian remaja punya satu semester yang buruk. Sebagian punya satu mata pelajaran yang buruk. Sebagian punya beberapa minggu yang buruk. Ini lumrah dan biasanya bisa pulih tanpa intervensi besar. Bukan ini yang dibahas artikel ini.
Tahun sekolah yang berantakan adalah ketika remaja itu, sepanjang berbulan-bulan, beranjak dari secara umum baik-baik saja menjadi secara umum tidak baik-baik saja di hampir seluruh kehidupan sekolahnya. Beberapa penanda:
Nilai turun secara signifikan di hampir semua mata pelajaran, bukan cuma satu.
Kehadiran turun. Banyak hari bolos. Sering terlambat. Membolos di tengah jam pelajaran.
Keterlibatan menurun. PR tidak dikerjakan. Ujian tidak dipersiapkan. Tugas dilewatkan begitu saja.
Perilaku berubah. Lebih banyak masalah. Lebih sering kena hukuman. Lebih banyak surat panggilan dari sekolah. Atau, dalam beberapa kasus, remaja itu jadi sangat pendiam, menarik diri dari sisi sosial sekolah.
Lingkaran pertemanan bergeser ke arah yang mengkhawatirkan, atau remaja itu kehilangan teman tanpa menemukan yang baru.
Suasana hati kacau hampir sepanjang tahun. Kadang datar. Kadang mudah tersinggung. Kadang keduanya.
Tidur terganggu. Pola makan berubah. Tanda-tanda fisik dari stres mulai terlihat.
Remaja itu makin tertutup di rumah. Komunikasi mengerut. Ponsel mengisi ruang yang kosong.
Ketika beberapa dari hal ini muncul hampir sepanjang tahun, gambarannya lebih besar daripada sekadar masa sulit yang sesaat. Ini tahun di mana fondasinya bergeser.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi
Beberapa kemungkinan. Sering kali lebih dari satu.
Kesehatan jiwa. Depresi, kecemasan, ADHD yang sudah tak terkendali, sebuah kondisi serius yang sedang muncul. Penurunan dalam keterlibatan sekolah sering kali jadi salah satu tanda paling awal dan paling jelas dari perubahan kesehatan jiwa. Artikel 07 membahas wilayah ini lebih dalam.
Penggunaan zat. Penggunaan zat oleh remaja yang menyebabkan atau memperparah kemerosotan itu. Artikel 21 membahas ini.
Sebuah hubungan. Hubungan asmara serius yang menyita seluruh kapasitasnya, atau hubungan yang berakhir dengan buruk. Artikel 12 dan 22 relevan.
Lingkaran pertemanan yang berpindah arah. Lingkaran pertemanan bergeser dengan cara yang menarik remaja itu menjauh dari keterlibatan sekolah. Artikel 11.
Perundungan atau masalah sosial. Sesuatu yang spesifik telah terjadi di sekolah. Retaknya lingkaran pertemanan, gangguan yang terus berlangsung, sebuah insiden yang tidak dia ceritakan ke siapa pun.
Hubungan dengan seorang guru. Seorang guru tertentu yang tidak cocok dengannya, sebuah mata pelajaran yang jadi bermasalah, sebuah persoalan di tingkat sekolahnya.
Sebuah peristiwa spesifik. Kematian dalam keluarga, kesulitan yang sedang dialami Co-Parent, sebuah kepindahan, masalah kesehatan, sebuah peristiwa yang belum selesai dia proses.
Dampak kumulatif dari pola kedua rumah. Kadang tahun yang berantakan itulah tahun ketika remaja itu akhirnya tak sanggup lagi memikul beban yang menumpuk. Bertahun-tahun berpindah antara kedua rumah, bertahun-tahun memegang dua set ekspektasi, bertahun-tahun jadi yang stabil.
Remaja itu memang tidak sanggup dengan jenjang sekolah ini. Sebagian remaja sampai pada satu jenjang di mana tuntutan akademik sudah melampaui kapasitas mereka. Mereka gagal bukan karena kesehatan jiwa atau penggunaan zat; mereka gagal karena pelajarannya jadi tak terjangkau bagi mereka. Di Indonesia, jenjang menjelang ujian akhir SMP atau ujian akhir SMA sering menjadi titik krisis ini.
Pencarian jati diri yang menelan segalanya. Remaja yang sedang memikirkan siapa dirinya, kepada siapa dia tertarik, jadi orang seperti apa dia, mungkin punya kapasitas yang sangat kecil untuk urusan akademik dalam satu periode. Artikel 20.
Sebuah kombinasi. Yang paling sering terjadi. Dua atau tiga dari hal di atas saling berinteraksi.
Tugas pertama, sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan, adalah mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bertindak atas penyebab yang salah membuat keadaan jadi lebih buruk.
Apa yang harus dilakukan di minggu pertama setelah melihat raport
Beberapa langkah.
Jangan memulai dari raportnya. Remaja itu sudah tahu raportnya buruk. Dia sudah memikulnya berminggu-minggu. Menerobos masuk dengan raport dan daftar tuntutan adalah pembukaan yang paling buruk.
Duduklah dengan tahunnya, bukan cuma raportnya. Tengoklah kembali sepanjang tahun. Kapan semuanya mulai merosot? Apa yang sedang terjadi saat itu? Pola apa yang bisa kamu lihat? Jangan mereduksi setahun penuh menjadi sebuah angka.
Bicaralah dengan Co-Parent. Dengan tenang. Bandingkan apa yang masing-masing kalian lihat. Bersama-sama, kalian biasanya punya lebih banyak informasi daripada salah satunya sendirian. Inilah saatnya bagi para Co-Parent untuk menjadi satu tim, bukan saatnya satu pihak menyalahkan yang lain.
Jangan lakukan percakapan besar itu dengan remaja di hari pertama. Tidurlah dulu. Proses dulu. Selaraskan dulu dengan Co-Parent. Buatlah pendekatan yang tenang dan bersama.
Saat percakapannya terjadi, mulailah dari kepedulian, bukan hukuman. Kami sudah lihat raportnya. Kami khawatir. Kami bisa lihat ini bukan tahun yang baik buat kamu. Cerita ke kami dong. Sebenarnya ada apa? Bukan ini apa-apaan. Kenapa kamu nggak belajar. Kami kecewa banget.
Dengarkan, lebih lama daripada yang terasa nyaman. Remaja itu mungkin tak bisa langsung mengungkapkannya. Dia mungkin tidak tahu sendiri. Dia mungkin berkali-kali bilang nggak tahu. Tidak apa-apa. Jangan mendesak melewati itu. Tetaplah di situ.
Jangan menjanjikan lembaran baru yang sebenarnya tak bisa dia pakai. Kita lupakan saja ini, tahun depan mulai dari awal lagi. Remaja itu butuh perubahan yang struktural, bukan optimisme. Dia butuh bantuan, bukan sekadar harapan.
Libatkan sekolah. Sebuah pertemuan. Bersama kedua orang tua kalau memungkinkan. Cari tahu apa yang sudah dilihat sekolah, apa pendapat mereka, apa yang mereka sarankan. Sekolah sering punya data dan pola yang tidak terlihat oleh keluarga. Di Indonesia, ini biasanya wali kelas dan guru BK.
Tahan dulu konsekuensi di minggu pertama. Hukuman sebelum memahami itu merusak. Begitu kamu lebih paham, respons yang proporsional tidak masalah. Respons awalnya adalah kepedulian.
Mencari tahu apa yang ada di baliknya
Beberapa langkah yang membantu.
Dampingi remaja itu dengan para profesional jika perlu. Dokter keluarga atau Puskesmas sering jadi tempat singgah pertama. Dari sana, dukungan kesehatan jiwa kalau memang sesuai. Mungkin masukan soal penggunaan zat. Mungkin pemeriksaan untuk ADHD atau perbedaan dalam cara belajar. Jangan mencoba mendiagnosis situasinya sendiri.
Bicaralah dengan remaja itu sepanjang minggu-minggu, bukan dalam satu percakapan. Jawaban yang jujur datang sepotong demi sepotong. Saat di perjalanan dengan mobil. Suatu malam yang larut di sofa. Saat jalan kaki bersama. Sesi duduk besar sering kali kurang produktif dibanding momen-momen kecil.
Cari peristiwa atau pola spesifik yang mungkin kamu lewatkan. Sebagian remaja tidak akan menceritakannya sendiri. Insiden perundungan di bulan Oktober. Teman yang menghilang begitu saja. Sesuatu yang dia lihat di internet yang terus membekas. Duka karena meninggalnya kakek atau nenek. Pertengkaran dengan Co-Parent yang dia saksikan. Hubungan yang berakhir dengan buruk. Sering kali ada satu hal yang spesifik, bahkan di dalam gambaran yang lebih besar.
Perhatikan rutinitasnya. Tidur. Makan. Layar. Olahraga. Infrastruktur kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah tahun berjalan kacau, hal-hal inilah yang sering pertama runtuh dan justru memperparah sisanya. Memulihkannya adalah bagian dari pekerjaannya, apa pun penyebabnya.
Bicaralah dengan orang dewasa lain dalam hidup remaja itu. Dengan izin remaja itu. Guru yang paling mengenalnya. Pembina kegiatan remaja. Pelatihnya. Orang tua temannya yang sudah mengenalnya bertahun-tahun. Orang dewasa yang melihat remaja itu dalam konteks lain sering punya pengamatan yang tidak dimiliki keluarga.
Lihat gambaran keluarga yang lebih luas. Apakah ada tahun yang berat untuk salah satu orang tua yang ikut diserap remaja itu? Sebuah kepindahan. Pasangan baru di salah satu rumah. Masalah kesehatan. Remaja itu sedang merespons kisah keluarga yang lebih luas.
Dimensi Co-Parent secara khusus
Beberapa pola.
Kedua rumah perlu diselaraskan sepanjang periode ini. Aturan yang berbeda di kedua rumah, respons yang berbeda terhadap situasinya, percakapan yang berbeda dengan remaja itu, akan menggerogoti pemulihan. Sikap yang sama, pendekatan yang sama, dukungan yang sama.
Saling berbicara dengan sering selama periode ini. Sebuah pesan singkat beberapa kali seminggu tentang bagaimana keadaan remaja itu, apa yang sedang terjadi. Kedua rumah perlu terus saling berbicara.
Jangan saling menyalahkan. Godaannya nyata. Dia kan lagi di tempat kamu pas semua ini mulai. Rumah kamu yang bikin ini terjadi. Sebagian besar tahun yang berantakan bukan salah satu rumah. Itu sebuah kombinasi. Percakapan saling menyalahkan tidak produktif.
Selaraskan soal masukan dari sekolah dan profesional. Kedua orang tua hadir di pertemuan. Kedua orang tua diberi tahu apa yang disarankan para profesional. Kedua orang tua menjalankan pendekatan yang sama.
Jangan bersaing soal siapa yang lebih mendukung. Aku orang tua yang benar-benar membantu dia. Remaja itu butuh kedua rumah yang stabil, bukan yang saling berlomba.
Kalau Co-Parent adalah bagian dari masalahnya. Kadang tahun itu berantakan karena sesuatu di rumah Co-Parent. Pasangan baru yang tidak baik. Kesulitan yang sedang dilalui Co-Parent. Sebuah pola di tempatnya yang berdampak pada remaja itu. Ini hal yang peka. Bicaralah dengan Co-Parent secara jujur. Kalau dia mengakuinya, kalian bisa mengerjakannya bersama. Kalau tidak, kamu mungkin butuh masukan profesional.
Kalau Co-Parent tidak mau terlibat. Kadang satu orang tua harus memikul sebagian besar respons. Ini terjadi. Berat memang. Carilah lebih banyak dukungan profesional untuk dirimu dan untuk remaja itu.
Apa yang tidak boleh dilakukan
Sebuah daftar.
Jangan menghukum keterbukaannya. Ketika dia bercerita apa yang sebenarnya terjadi, jangan merespons dengan konsekuensi. Keterbukaan itu adalah hadiah. Menghukumnya mengajarkan dia untuk tidak pernah terbuka lagi.
Jangan membesar-besarkan menjadi malapetaka. Kamu udah ngerusak masa depan kamu. Ini bakal ngaruh ke kamu seumur hidup. Sekalipun kamu takut, membesar-besarkan seperti ini tidak membantu. Itu membebani remaja dengan rasa malu, bukan motivasi.
Jangan meremehkan. Kesalahan yang sebaliknya. Tenang, cuma satu tahun kok, nanti juga kekejar. Remaja itu tahu ini serius. Menganggapnya kecil membuatnya merasa tidak terlihat.
Jangan membandingkan dengan remaja lain. Kakak kamu nggak pernah punya tahun kayak gini. Temen kamu si Maya dapet nilai bagus semua. Perbandingan itu beracun dalam konteks ini.
Jangan membandingkan dengan masa remajamu sendiri. Waktu Bunda seumuran kamu, Bunda harus belajar tiga kali lebih keras. Zaman yang berbeda, orang yang berbeda, situasi yang berbeda.
Jangan jadikan ini soal dirimu. Bunda kecewa banget. Ini bikin Ayah stres banget. Proses perasaanmu di tempat lain.
Jangan mencoba membereskannya dalam seminggu. Pulih dari tahun yang buruk adalah lengkungan yang lebih panjang. Berbulan-bulan, kadang setahun atau lebih. Bersiaplah bahwa pekerjaannya akan berjalan lambat.
Jangan mengeluarkan dia dari sekolah sebagai respons pertama. Sebagian situasi memang perlu pindah sekolah. Banyak yang tidak. Jangan mengambil langkah dramatis sebelum memahami gambaran di baliknya. Sebagian remaja juga berpindah antara sekolah umum dan pesantren; itu salah satu bentuk perubahan sekolah, tapi tetap bukan langkah pertama.
Jangan membatasi semuanya sebagai respons. Ponsel disita, teman dilarang, semua kegiatan tidak diizinkan. Remaja yang sudah terpuruk sekarang jadi terisolasi pula. Ini membuat keadaan jadi lebih buruk, bukan lebih baik.
Soal bimbel, ini sering jadi respons pertama keluarga Indonesia terhadap kemerosotan akademik. Les memang ada tempatnya dalam pemulihan, tapi jangan jadikan itu jawaban sebelum memahami penyebabnya. Kalau remaja itu sedang bergulat dengan kesehatan jiwa atau sebuah hubungan, menumpuk lebih banyak jam akademik di atas beban yang sudah ada hanya akan memperdalam masalahnya.
Pekerjaan sepanjang bulan-bulan berikutnya
Sebuah ringkasan singkat.
Tangani penyebab yang ada di baliknya. Apa pun itu. Kesehatan jiwa, penggunaan zat, kecocokan dengan sekolah, lingkaran pertemanan, jati diri, stres keluarga. Penyebabnya harus dinamai dan ditangani.
Pulihkan rutinitasnya. Tidur, makan, olahraga, lingkungan belajar. Infrastruktur kehidupan sehari-hari dibangun ulang langkah demi langkah.
Setel ulang hubungan dengan sekolah. Sering kali dengan bantuan aktif dari sekolah. Sebuah rencana dukungan belajar, jadwal yang berbeda, mengulang kelas, atau sekolah yang berbeda. Pengaturan yang memberi remaja itu peluang terbaik untuk bisa terlibat kembali. Di Indonesia, tinggal kelas masih membawa stigma tapi tetap dipakai di sebagian sekolah; bicaralah dengan pihak sekolah dan guru BK untuk tahu pilihan yang ada.
Kurangi bebannya di mana bisa. Remaja yang sedang pulih dari tahun yang buruk tak bisa memikul kehidupan normal yang penuh. Sebagian kegiatan dihentikan sementara. Sebagian komitmen sosial dikurangi. Tuntutan rumah tangga dilonggarkan. Fokus pada hal yang paling penting.
Bersabarlah dengan pemulihan yang tidak lurus. Sebagian minggu akan terlihat baik. Sebagian akan terlihat buruk. Dua langkah maju, satu langkah mundur. Ini normal. Jangan membaca setiap kemunduran sebagai kegagalan.
Waspadai persoalan yang lebih dalam yang mungkin muncul. Sebagian remaja, diberi ruang dan dukungan, pulih dan tahun itu adalah yang terburuk. Sebagian remaja, diberi ruang dan dukungan, kemudian justru menampakkan gambaran yang lebih dalam yang ada di baliknya. Gambaran yang lebih dalam, ketika muncul, kadang adalah pekerjaan yang sebenarnya.
Katakan kamu sayang dia. Sering. Bukan sebagai hadiah atas perbaikan. Sebagai sebuah fakta, terlepas dari sekolah. Kamu tahu kan Bunda sayang kamu apa pun yang terjadi? Apa pun nilainya, gimana pun kehadirannya, apa pun keadaannya. Cuma mau bilang aja.
Tetaplah selaras dengan Co-Parent. Sepanjang berbulan-bulan. Melalui pemulihan yang lambat. Melewati kemunduran demi kemunduran. Kedua rumah, stabil, bersama.
Kapan mempertimbangkan perubahan yang lebih besar
Beberapa penanda.
Sekolahnya memang tidak berfungsi untuk remaja itu. Mungkin perlu pindah sekolah. Sekolah yang berbeda, program yang berbeda, bahkan negara yang berbeda. Ini keputusan besar, bukan respons pertama.
Remaja itu butuh dukungan yang lebih intensif daripada yang bisa disediakan keluarga. Program khusus, sekolah terapeutik, dukungan dengan tinggal di tempat. Hal-hal ini ada untuk remaja yang situasinya sudah melampaui apa yang bisa ditangani sekolah biasa dan layanan rawat jalan.
Pengaturan rumahnya sendiri adalah bagian dari masalahnya. Kadang jadwal, dinamika antara kedua rumah, atau pengaturan tempat tinggal yang spesifik, ikut menyumbang ke kesulitan remaja itu. Perubahan dalam pengaturan tempat tinggal mungkin membantu. Artikel 08 di modul ini membahas hal ini.
Cuti setahun adalah hal yang tepat. Sebagian remaja mendapat manfaat dari satu tahun rehat sekolah yang terstruktur. Program jeda, setahun bekerja, setahun pemulihan yang fokus dengan terapi dan rutinitas. Ini kadang memang pilihan yang tepat dan bukan sebuah kegagalan. Di Indonesia ini kurang lazim, tapi tetap pilihan yang sah, terutama untuk keluarga yang punya akses ke pilihan sekolah yang lebih fleksibel.
Ini keputusan-keputusan besar. Semuanya butuh keterlibatan kedua orang tua. Semuanya butuh masukan profesional. Semuanya bukan respons pertama; semuanya adalah langkah yang dipertimbangkan setelah bulan-bulan pertama pekerjaan.
Lengkungan yang lebih panjang
Sebagian besar remaja yang punya tahun yang berantakan, dengan dukungan yang baik dan kehadiran keluarga yang stabil, akan pulih. Pemulihannya tidak selalu rapi. Kadang tahun berikutnya adalah tahun untuk membangun ulang. Kadang butuh waktu lebih lama. Kadang proses membangun ulang itu justru menampakkan apa yang sebenarnya ada di baliknya, dan pekerjaannya pun bergeser.
Sebagian remaja membawa serta sebuah pengalaman pernah bergulat dan bertahan. Ini lama-kelamaan menjadi sebuah kekuatan. Remaja yang pernah punya tahun yang buruk dan melaluinya, dalam beberapa hal, telah belajar lebih banyak daripada remaja yang hanya punya tahun-tahun yang stabil. Pembelajaran itu bergantung pada respons keluarga.
Dalam budaya Indonesia, di mana kegagalan akademik sering membawa beban nama baik keluarga, prinsip-prinsip dalam artikel ini jadi lebih penting lagi. Jangan biarkan rasa malu memenuhi rumah. Kegagalan dalam satu tahun bukan kegagalan remaja itu sebagai manusia, dan bukan pula cermin tentang keluarganya. Remaja yang sedang pulih butuh rumahnya menjadi tempat di mana dia masih terlihat, masih disayangi, bahkan ketika nilainya rendah.
Kamu dan Co-Parent sedang melakukan ini bersama. Pekerjaannya adalah menjadi tanah yang stabil. Sekolah sedang menjalankan bagiannya. Para profesional, kalau terlibat, sedang menjalankan bagian mereka. Remaja itu, dalam waktunya sendiri, sedang melakukan pekerjaan pemulihannya.
Ini akan butuh waktu lebih lama daripada yang kamu inginkan. Jalannya tidak akan lurus. Kemundurannya akan nyata. Pemulihan, dalam sebagian besar kasus, akan datang.
Penutup
Setahun kemudian. Raport dari semester terbaru ada di meja makan. Tidak sempurna. Jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Tiga mata pelajaran stabil. Dua masih sulit. Kehadiran sudah kembali normal. Komentar guru positif.
Malam ini dia di tempat Co-Parent. Dia sudah menjalani terapi selama sepuluh bulan. Co-Parent dan kamu sudah saling berbicara setiap minggu sepanjang waktu ini. Ada minggu-minggu yang buruk. Ada minggu-minggu yang lebih baik. Lintasannya, secara keseluruhan, menanjak.
Dia masih remajamu. Masih rumit. Masih sedang mencari tahu dirinya sendiri. Tahun itu tidak menghapus apa yang telah terjadi. Pekerjaannya masih berlanjut. Mungkin masih akan ada masa-masa sulit.
Kamu mengirim pesan ke Co-Parent: Raport udah keluar. Lebih baik dari tahun lalu. Tiga nilai C, satu D, dua B yang stabil. Kehadiran 92%. Bentar lagi dia tidur. Dia belum sepenuhnya jadi dirinya yang biasa, tapi udah lebih dekat.
Co-Parent: Udah lihat. Ini kemajuan. Kita lanjut terus ya.
Itulah iramanya. Tahun yang berantakan itu sudah di belakang. Proses membangun ulang masih berlanjut. Kedua rumah, stabil. Remaja itu, sebagian besarnya, sedang menemukan jalan kembali. Kamu bukan tahun itu. Dia bukan tahun itu. Keluarga ini melaluinya, bersama, pelan-pelan. Lanjut terus.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.