dip
Belikan Kopi
Modul 04 · Remaja, tingkah laku & ruang

Percakapan musim ujian

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

13+12 menit baca
Percakapan musim ujian

Percakapan musim ujian

Modul 04 · Perilaku remaja & otonomi · Artikel 09 · usia 13+


Selasa malam di bulan Maret. Anak laki-lakimu ada di kamarnya. Dia sudah di sana sejak jam 4 sore. Dia turun lima belas menit waktu makan malam, makan tanpa banyak bicara, lalu naik lagi. Lampu kamarnya sudah menyala berjam-jam. Tiga bulan lagi sebelum ujiannya.

Minggu lalu dia di tempat Co-Parent. Minggu sebelumnya, di sini. Jadwalnya berjalan sepanjang semester seperti biasa. Tapi sekarang ada yang berbeda. Tekanannya naik. Suasana rumah jadi tegang. Co-Parent bilang di tempatnya juga sama.

Artikel ini tentang musim ujian dalam keluarga dengan dua tempat tinggal. Tryout, masa persiapan, ujian yang sebenarnya, lalu menunggu hasilnya. Ini salah satu periode paling penuh tekanan di tahun-tahun remaja, dan salah satu periode yang paling sering membuat orang tua jatuh ke pola-pola yang tidak membantu.

Sebenarnya apa itu musim ujian

Musim ujian bukan cuma beberapa minggu di bulan tertentu. Bagi sebagian besar remaja, ini rentang tiga sampai enam bulan ketika kehidupan kerjanya menyempit. Tryout, belajar ulang, ujian yang sebenarnya, lalu menunggu. Untuk ujian akhir sekolah atau seleksi masuk perguruan tinggi seperti UTBK dan SNBT, rentangnya membentang lebih lama. Untuk tahun ujian besar yang pertama, rasanya seperti sepanjang tahun.

Dalam keluarga dengan dua tempat tinggal, musim ujian juga membongkar pola-pola yang sebenarnya sudah ada selama ini, sering kali dalam bentuk yang lebih tajam. Lingkungan belajar yang berbeda. Irama yang berbeda. Harapan yang berbeda dari masing-masing orang tua. Gagasan yang berbeda soal seperti apa rupanya mendukung. Si remaja, di tengah-tengah, mengelola semua itu sambil tetap belajar.

Artikel ini tentang cara menjalani musim ujian dengan baik bersama-sama, bahkan ketika kedua rumah melakukan banyak hal dengan cara yang berbeda.

Apa yang dilakukan musim ujian terhadap rumah

Rumah jadi lebih sepi. Atau lebih ramai. Kadang keduanya, di waktu yang berbeda. Si remaja lebih sering di kamarnya. Waktu makan jadi lebih singkat. Ponsel lebih sering di tangannya dan juga lebih sering jauh dari tangannya, tergantung apakah dia sedang menghindari tugas atau sedang mengerjakannya.

Suasana hatinya naik turun dengan cara yang mungkin tidak sesuai dugaanmu. Sebagian remaja jadi sangat pendiam. Sebagian jadi gampang tersinggung. Sebagian berayun di antara keduanya. Sebagian besar tidur lebih sedikit dari yang seharusnya. Sebagian besar makan lebih sedikit, atau makan dengan pola berbeda, atau ngemil dengan cara yang aneh. Sebagian besar menghabiskan lebih banyak waktu sendirian dari biasanya.

Teman jadi lebih penting, bukan kurang penting. Kelompok temannya sedang melalui tekanan yang sama. Mereka saling menjadi penopang utama, sering kali lebih daripada keluarga. Jangan baca ini sebagai si remaja menjauh darimu; bacalah sebagai si remaja yang bersandar pada kelompok sebaya pada momen perkembangan yang tepat.

Si remaja juga punya sangat sedikit kapasitas cadangan. Apa pun yang sudah sulit sebelum musim ujian (hubungan antara kedua rumah, tekanan khusus di salah satu rumah, kesulitan dengan adik atau kakak, persahabatan yang sedang goyah) jadi lebih sulit. Jangan harap dia bisa menangani hal-hal yang lebih berat selama musim ujian. Dia tidak bisa.

Apa yang perlu disepakati dengan Co-Parent

Satu percakapan singkat di awal musim ujian membuat sisanya jauh lebih mudah. Beberapa hal yang perlu dibahas.

Yang dasar. Tidur, makan, ketenangan. Kedua rumah perlu mendukung ketiganya. Jam tidur tidak ditunda sampai tengah malam. Makanan tersedia saat dia mau, bukan dijadikan sumber ketegangan. Suasana rumah di sekitarnya lebih tenang dari biasanya. Kedua orang tua memegang garis yang sama soal ini.

Lingkungan belajar. Kedua rumah perlu punya tempat dia bisa belajar. Meja, kamar yang tenang, penerangan yang cukup, charger. Tidak harus sempurna; cukup yang bisa dipakai. Kalau salah satu rumah punya kondisi belajar yang lebih baik dan si remaja ingin lebih banyak menghabiskan waktu di sana selama semester ini, kadang ini penyesuaian yang masuk akal. Jangan baca itu sebagai dia lebih memilih salah satu orang tua; bacalah sebagai dia lebih memilih mejanya.

Fleksibilitas jadwal, kalau memungkinkan. Sebagian remaja lebih baik kalau menetap di satu tempat menjelang ujian. Sebagian lebih baik dengan pola biasa. Tanya dia. Kalau dia ingin lebih banyak waktu di salah satu rumah selama periode itu, sepakati bersama. Jadwal melayani dia, bukan sebaliknya.

Tingkat tekanan. Selaraskan. Kedua rumah perlu lebih tenang dari biasanya, bukan lebih menuntut. Sepakati garis yang sama: Kami mendukung kamu. Kami bangga sama kamu apa pun hasilnya. Lakukan yang terbaik, cuma itu yang kami minta. Jangan sampai ada satu rumah dengan pesan kamu harus berprestasi dan rumah lainnya dengan pesan apa pun yang terjadi, kami ada di sini. Si remaja membaca ketidakkonsistenan itu sebagai beban tambahan. Di banyak keluarga Indonesia, tekanan ini juga datang dari kakek-nenek atau om dan tante yang punya harapan kuat soal hasil. Kesepakatan antara kamu dan Co-Parent kadang perlu diperluas sampai ke keluarga besar, setidaknya untuk minta mereka menahan komentar sampai hasilnya keluar.

Apa yang akan kamu lakukan kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Bicarakan ini dengan Co-Parent sebelum hari pengumuman, bukan sesudahnya. Si remaja akan rapuh. Orang tua yang bereaksi buruk terhadap hasil menimbulkan lebih banyak kerusakan daripada hasil itu sendiri. Sepakati, jauh-jauh hari: apa pun hasilnya, responsnya tenang. Langkah berikutnya untuk besok.

Kegiatan di luar ujian. Bagaimana dengan pesta, olahraga, acara sosial selama musim ujian? Kedua orang tua perlu garis yang sama. Sepakati apa yang wajar (satu acara sosial seminggu, olahraga yang memang sudah jadi rutinitas, sesi nge-gym, waktu dengan pacar kalau dia punya). Jangan sampai ada satu rumah yang membolehkan semuanya dan rumah lainnya yang tidak membolehkan apa-apa.

Ponsel dan waktu layar. Ini yang sulit. Kedua orang tua pasti punya pandangan. Coba jangan jadikan si remaja sebagai titik pusat percakapan ini. Sepakati, secara umum, pendekatan yang masuk akal. Ponsel ditaruh di ruangan lain saat belajar. Ponsel boleh dipakai malam hari untuk terhubung dan beristirahat. Kedua rumah kurang lebih sama.

Les dan bimbel. Bimbingan belajar dan sesi tryout sering jadi bagian besar dari persiapan ujian, dan jadwalnya kerap memotong jadwal antara kedua rumah. Sepakati dengan Co-Parent siapa yang antar-jemput pada hari apa, dan bagaimana biayanya dibagi. Kalau si remaja minta berhenti dari satu kelas atau menambah satu lagi, putuskan bersama, bukan sendiri-sendiri.

Kewajiban ibadah selama musim ujian. Sebagian keluarga menyesuaikan kegiatan keagamaan selama periode ini, sebagian tidak. Tidak ada satu cara yang benar. Yang penting kedua rumah satu pemahaman soal apa yang sedang dijalani si remaja, supaya dia tidak harus mengulang penjelasan setiap kali pindah rumah. Untuk remaja yang menjalani ujian sambil mondok di pesantren, kerangka yang sama tetap berlaku: koordinasi soal kapan dia pulang, siapa yang menengok, dan bagaimana keduanya tetap selaras dari jauh.

Apa yang tidak boleh dilakukan selama musim ujian

Daftar pola yang justru memperburuk keadaan.

Jangan menumpuk tekanan tambahan. Bunda mau kamu dapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Bunda berharap nilai tertinggi. Kamu bakal nyesel seumur hidup kalau nilaimu jelek. Si remaja sudah berada di bawah tekanan yang luar biasa. Tekanan darimu tidak membantu.

Jangan membanding-bandingkan. Kakakmu dapat sembilan nilai A. Temanmu Maya belajar delapan jam sehari. Waktu seusia kamu, Bunda harus kerja tiga kali lebih keras. Perbandingan dengan kakak, sepupu, anak tetangga, anak teman, semuanya beracun di musim ujian. Hindari.

Jangan menjadikannya soal dirimu. Bunda khawatir banget sampai nggak bisa tidur. Ini bikin Bunda stres banget. Anakmu tidak sanggup memikul stresmu di atas stresnya sendiri. Kalau kamu sedang kewalahan, bicaralah ke pasanganmu, terapismu, temanmu. Bukan ke anakmu.

Jangan memaksakan cara belajar. Kamu duduk di meja ini dua jam. Sebagian besar remaja, pada usia ujian, sudah tahu cara terbaik mereka belajar. Memaksakan pola belajar jarang menghasilkan lebih banyak belajar; yang dihasilkan justru kekesalan dan kadang belajar pura-pura. Percayai dia secara umum. Turun tangan hanya kalau akar masalahnya sudah jelas.

Jangan mengungkit-ungkit jadwal. Musim ujian bukan saatnya menegosiasikan ulang di rumah mana si remaja berada pada hari apa, siapa yang mendapatkannya di akhir pekan mana, atau pertanyaan struktural apa pun soal keluarga. Kalau ada yang harus disesuaikan demi ujiannya sendiri, lakukan itu. Tapi jangan jadikan musim ujian sebagai momen untuk membuka lagi pertanyaan-pertanyaan yang lebih besar. Si remaja tidak punya kapasitas untuk menghadapinya sekarang.

Jangan menjadikan hasil ujian soal keluarga. Kami semua mengandalkan kamu. Seluruh keluarga ingin kamu berhasil. Si remaja menjalani ujian untuk dirinya sendiri, bukan untuk keluarga. Mengaitkan prestasinya dengan kebanggaan atau harapan keluarga membebani dia dengan cara yang menyakitkan.

Jangan menarik kasih sayang kalau dia menjauhkanmu. Sebagian remaja, di musim ujian, jadi ketus ke orang tua. Mereka tidak mau bicara. Mereka membentak. Mereka mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Jangan terpancing. Jangan menarik diri. Tetaplah tenang dan hadir. Perilaku itu adalah stres ujian yang sedang bicara; di bawahnya, dia butuh kamu ada di dekatnya.

Jangan membahas hasil sebelum hasilnya keluar. Berspekulasi soal hasil sebelum waktunya tidak membantu. Bunda rasa kamu bagus di kimia tapi Bunda khawatir soal matematika. Si remaja tidak membutuhkan ini. Tunggu. Cari tahu bersama-sama.

Jangan bersaing dengan Co-Parent soal siapa yang lebih mendukung. Bunda sudah bikin jadwal belajar buat kamu, Ayah cuma membiarkan kamu main HP semalaman. Jangan memposisikan dirimu sebagai orang tua yang lebih baik selama musim ujian. Si remaja akan membacanya. Itu menambah beban.

Cara menjadi orang tua yang tenang selama musim ujian

Beberapa hal yang membantu.

Tetap tenang. Bahkan saat dia tidak. Hal paling berguna yang bisa kamu jadi selama musim ujian adalah tenang dan mantap. Tidak mendesak, tidak cemas, tidak mengatur hal-hal kecil, tidak membayangkan yang terburuk. Cukup hadir, tenang, tersedia.

Sediakan makanan. Camilan yang dia suka, makanan yang gampang, kulkas yang berisi hal-hal yang bisa langsung dia ambil. Belajar membuatnya lapar di jam-jam yang tidak biasa. Buat dia mudah makan tanpa harus mikir.

Buat tidur jadi mudah. Rumah yang tenang di malam hari. Tidak ada acara keluarga besar di hari kerja menjelang ujian. Jam tidur, secara umum, meski dia menundanya. Tidur lebih penting daripada satu jam terakhir belajar.

Lakukan hal-hal kecil. Antarkan secangkir teh hangat untuknya. Ketuk pintu lalu tinggalkan camilan di mejanya. Turunkan piringnya tanpa diminta. Hal-hal kecil berbicara dengan keras tanpa perlu percakapan.

Tanya sekali, bukan berkali-kali. Gimana? Ada yang bisa Bunda bantu? Sekali. Bukan tujuh belas kali dalam satu malam. Buka pintunya, lalu biarkan terbuka tanpa kamu berdiri di situ.

Antar dia ke berbagai tempat. Mobil adalah tempat remaja kadang mau bicara. Sekolah, perpustakaan, rumah teman. Perjalanan di mobil bisa jadi percakapan paling berguna dalam sehari. Atau bisa juga hening. Keduanya tidak masalah.

Puji usahanya, bukan hasilnya. Bunda lihat kamu sudah belajar keras. Bukan kamu harus dapat A di ini. Usaha adalah hal yang ada dalam kendalinya. Hasil akan menjadi apa adanya nanti.

Katakan padanya, sesering mungkin, bahwa kamu menyayanginya apa pun hasilnya. Sekali seminggu, dalam bentuk apa pun. Tidak perlu dengan cara yang berat. Apa pun yang terjadi sama ujian ini, kamu tahu kan Bunda sayang sama kamu? Cuma biar kebilang aja. Dia perlu mendengarnya.

Perhatikan teman-temannya. Seorang teman memencet bel pintu jam 8 malam bukan gangguan; itu sering kali justru obat. Biarkan temannya mampir setengah jam. Biarkan anakmu jalan-jalan sebentar dengannya. Dukungan teman selama musim ujian adalah salah satu faktor pelindung yang paling kuat.

Tetap jalani hidupmu sendiri. Jangan menghentikan seluruh hidupmu demi ujiannya. Olahraga. Temui teman-temanmu. Membaca. Tonton acara kesukaanmu. Orang tua yang seluruh dunianya adalah musim ujian si remaja itu sulit untuk didekati. Orang tua yang punya kehidupan sendiri justru memberi penyeimbang.

Saat hubungan antara kedua rumah sedang sulit

Musim ujian bisa memperbesar kesulitan antara kedua rumah. Beberapa prinsip.

Tahan dulu perselisihan yang lebih besar sampai ujian selesai. Apa pun perselisihan di antara kalian berdua, musim ujian bukan saatnya untuk membesarkannya. Letakkan dulu. Ambil lagi setelah hasil keluar. Otak si remaja tidak punya ruang untuk itu sekarang.

Berkomunikasilah secara praktis, sering. Kirim pesan singkat ke Co-Parent hampir setiap malam. Dia tadi malam belajar matematika dengan berat, makannya lahap, jam 11 sudah tidur. Atau dia pendiam, keluar jalan-jalan sama dua teman, kelihatannya baik-baik saja. Co-Parent akan lebih tenang kalau punya gambaran kecil sehari-hari. Begitu juga kamu, saat dia mengirimkan hal yang sama untukmu.

Jangan menjadikan si remaja sebagai pembawa pesan. Bilang ke Ayah, Bunda mau dia antar buku sekolah hari Minggu. Kirim sendiri pesannya ke Co-Parent. Si remaja sudah cukup banyak yang dipikul.

Kalau ada yang tidak beres di salah satu rumah yang memengaruhi persiapan ujian. Pertengkaran, gangguan, satu minggu yang buruk. Kabari Co-Parent dengan tenang. Jangan jadikan itu keluhan. Jadikan itu informasi. Akhir pekan kemarin agak berat di sini. Dia jadi ketinggalan belajar bahasa Inggris gara-gara itu. Sekadar biar kamu tahu.

Kalau rumah Co-Parent memang tidak mendukung persiapan ujian. Sebagian rumah, karena berbagai alasan, tidak bisa menyediakan dukungan yang tenang dan stabil selama musim ujian. Kalau kamu yakin memang begitu keadaannya, usulkan pergeseran jadwal sementara untuk masa menjelang ujian. Bisa nggak kalau dia tinggal di sini selama tiga minggu sebelum ujian? Bingkai itu di sekitar kebutuhan si remaja, bukan sebagai kritik. Kadang Co-Parent setuju dengan mudah; bisa jadi dia sendiri tahu dia tidak sanggup menyediakannya.

Setelah ujian

Hari setelah ujian terakhir adalah momennya sendiri. Sebagian besar remaja ambruk selama beberapa hari. Mereka tidur. Mereka bertemu teman. Mereka main HP. Mereka makan. Mereka pendiam atau aneh atau justru luar biasa hadir, tergantung remajanya.

Biarkan mereka. Jangan, di hari pertama, menanyakan menurut mereka hasilnya bagaimana. Jangan, di hari ketiga, mulai merencanakan liburan. Beri mereka satu minggu untuk santai-santai saja. Tubuh dan otak perlu turun dari tekanan yang panjang.

Co-Parent sebaiknya ikut dalam hal ini. Ayo kita berdua bikin suasana ringan selama seminggu dua minggu. Belum ada pertanyaan besar dulu.

Ketika si remaja siap membicarakan ujiannya, dia akan bicara. Mungkin butuh beberapa hari, beberapa minggu, atau mungkin baru terjadi saat hasilnya keluar.

Hari pengumuman

Hari pengumuman dalam beberapa hal adalah artikelnya sendiri. Versi singkatnya di sini.

Ada di sana. Tidak harus di dalam ruangan. Tapi di rumah, atau bisa dihubungi lewat telepon, atau cukup dekat sehingga dia bisa menemuimu dalam beberapa menit kalau dia mau. Apa pun hasilnya, dia akan membutuhkanmu di dekatnya.

Respons yang tenang, berapa pun angkanya. Coba cerita gimana tadi. Dengarkan. Jangan bereaksi berlebihan. Jangan bereaksi terlalu datar juga; tanggapi apa yang dia bawa.

Co-Parent sebaiknya tahu dalam waktu satu jam. Hasilnya sudah keluar. Dia dapat X. Dia baik-baik saja / dia kecewa / kami lagi membicarakannya. Respons Co-Parent sebaiknya tenang. Sepakati ini di awal kalau bisa.

Langkah berikutnya menunggu sampai besok. Apa pun hasilnya, si remaja butuh sisa hari itu untuk mencernanya. Keputusan besar soal mengulang ujian, pilihan kampus, jalur alternatif, tidak terjadi di hari pengumuman.

Lengkungan yang lebih panjang

Musim ujian itu berat, dan kemudian berakhir. Si remaja melaluinya. Nilainya adalah apa adanya. Jalan berikutnya terbuka, sering kali dengan cara yang tidak seorang pun menduganya.

Sebagian besar remaja, melalui musim ujian yang baik maupun yang berat, membangun rasa pernah berhasil menangani sesuatu yang sulit. Cara menanganinya lebih penting daripada nilainya. Bertahun-tahun kemudian, yang dia ingat adalah apakah keluarganya tetap tenang, apakah dia merasa disayangi apa pun hasilnya, apakah rumah itu tempat yang bisa dia datangi lagi setelah tryout yang buruk atau yang bagus.

Kamu bisa menjadi itu. Co-Parent bisa menjadi itu. Bersama-sama, sekalipun tidak sempurna, kalian bisa menjadi tanah yang kokoh di sekeliling rentang ujian itu. Itulah yang paling dia butuhkan. Nilai akan datang. Hubunganlah yang bertahan.

Penutup

Akhir Juni. Ujian sudah selesai dua minggu. Dia sudah nonton di bioskop dengan teman-temannya. Dia sudah seharian ke pantai. Kemarin dia tidur sampai jam sebelas. Dia turun untuk makan malam.

Kamu tidak menanyakan menurutnya hasilnya bagaimana. Kamu menanyakan apakah dia mau nasi lagi. Dia bilang iya.

Nanti, dia akan ke tempat Co-Parent untuk akhir pekan. Pagi tadi kamu mengiriminya pesan: Dia kelihatan baik-baik saja. Ke tempat kamu Jumat. Kayaknya dia sekarang benar-benar lagi istirahat. Dia membalas: Bagus. Rencana yang sama di sini. Kita bisa bikin acara bareng nanti pas hasilnya keluar.

Begitulah iramanya. Rentang ujian sudah berakhir. Sekarang masa menunggu yang dimulai. Rumah jadi lebih tenang. Si remaja sedang tidur. Kamu pun, akhirnya, ikut tidur.

Apa pun yang datang di hari pengumuman, kamu sudah melakukan bagian yang paling penting. Kamu menjaga tanahnya tetap kokoh. Dia bekerja. Co-Parent berjalan seirama. Keluarga melaluinya, bersama-sama. Teruskan.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.