dip
Belikan Kopi
Modul 04 · Remaja, tingkah laku & ruang

Kesehatan mental di usia remaja

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

13+13 menit baca
Kesehatan mental di usia remaja

Kesehatan mental di usia remaja

Modul 04 · Perilaku remaja & otonomi · Artikel 07 · Wave 2 · usia 13+


Tiga hari Rabu berturut-turut, anak perempuanmu pulang sekolah, langsung masuk kamar, dan diam di sana sampai pagi. Dia makan malam sendirian. Nilainya tidak turun. Dia tidak tampak sedang sedih. Dia hanya lebih pendiam, lebih kecil, lebih masuk ke dalam dirinya sendiri.

Sudah dua minggu kamu bertanya-tanya apakah perlu mengatakan sesuatu.

Artikel ini tentang rasa bertanya-tanya itu. Kesehatan mental remaja, dalam keluarga yang berpisah dengan kedua rumah, adalah wilayah yang luas. Ia mencakup suasana hati rendah sehari-hari yang berlalu dengan sendirinya. Ia mencakup pola panjang yang diam-diam menggerogoti seorang remaja selama berbulan-bulan. Ia mencakup krisis akut yang butuh bantuan profesional hari ini juga. Dan ia mencakup semua yang ada di antaranya.

Sebagian besar orang tua, pada satu titik di tahun-tahun remaja anaknya, akan berada dalam rasa bertanya-tanya itu. Sebagian besar remaja akan melewati satu versi dari kesulitan kesehatan mental. Sebagian besar keluarga, entah bagaimana, akan menemukan jalan keluarnya. Pekerjaan orang tua sebagian adalah mengenali apa yang sedang mereka lihat, sebagian tahu kapan harus bertindak, dan sebagian menjaga keluarga tetap stabil sementara remaja itu menemukan jalan kembali ke dirinya sendiri.

Ini salah satu artikel yang lebih sulit di modul ini. Ia juga salah satu yang lebih berguna. Kita akan membahas apa yang normal, apa yang tidak, apa yang harus dilakukan saat kamu ragu, dan bagaimana dua orang tua di kedua rumah bisa mendukung remaja yang kesehatan mentalnya butuh perhatian.

Satu catatan sebelum kita lanjut. Artikel ini bukan panduan klinis. Ia titik awal bagi orang tua yang sedang memperhatikan sesuatu. Kalau kamu punya kekhawatiran apa pun bahwa remajamu sedang dalam tekanan serius atau berisiko, hubungi profesional hari ini juga. Guru BK di sekolah, dokter umum atau Puskesmas, psikolog anak dan remaja, atau layanan bantuan kesehatan jiwa. Orang tua tidak menghadapi hal-hal ini sendirian, dan memang tidak seharusnya.

Di Indonesia, kesehatan jiwa remaja sering kali datang dengan beban yang berat: rasa malu, kekhawatiran soal nama baik keluarga, kadang pemaknaan yang spiritual. Sebagian keluarga juga lebih dulu mendatangi ustaz, ustazah, romo, pastor, atau pendeta saat seorang anak sedang berat. Jalur itu bisa menjadi sumber kekuatan, dan tidak ada yang salah dengannya. Yang perlu dijaga: jalur agama dan jalur klinis bekerja paling baik ketika berjalan beriringan, bukan saling menggantikan. Saat muncul tanda-tanda yang butuh tindakan segera (akan dibahas di bawah), bantuan profesional tetap diperlukan.

Kerangkanya

Kesehatan mental remaja, sebagai topik umum, punya tiga hal yang perlu kamu tahu.

Ia umum terjadi. Sebagian besar remaja, dalam tahun tertentu, mengalami kecemasan, suasana hati rendah, masa-masa tertekan yang berat, atau kesulitan kesehatan mental lainnya. Angkanya naik sepanjang dekade terakhir. Kalau remajamu sedang berjuang, dia tidak aneh. Begitu juga kamu.

Ia bisa ditangani. Sebagian besar kesulitan kesehatan mental remaja merespons dengan baik terhadap dukungan dini. Guru BK, terapis, dokter, dan psikolog anak punya perangkat yang nyata. Makin dini dukungan datang, makin baik arahnya.

Dan ia serius. Bisa ditangani bukan berarti sepele. Kesehatan mental remaja, kalau memburuk, bisa berakibat berat. Jangan meremehkan apa yang kamu lihat hanya karena semua remaja kan memang begitu. Sebagian remaja melewati lebih dari yang bisa mereka tanggung.

Pegang ketiganya sekaligus. Umum, bisa ditangani, serius. Tidak satu pun dari ketiganya, kalau berdiri sendiri, memberimu respons yang tepat.

Kenapa usia remaja sangat rentan

Sedikit catatan biologis, karena ini membantu memahami apa yang sedang terjadi.

Otak remaja sedang berubah dengan cepat. Pusat emosi berkembang lebih dulu daripada pusat pengendalian diri. Artinya, remaja mengalami emosi dengan kuat sementara kemampuan mengelolanya masih dibangun. Ini perkembangan saraf yang normal, bukan kelemahan atau kegagalan.

Tambahkan ke situ: perubahan hormon, pergeseran siklus tidur, intensitas kehidupan sosial, pertanyaan soal jati diri, tekanan akademik (apalagi menjelang ujian sekolah atau UTBK), ponsel yang merembes ke mana-mana, dan, dalam keluarga yang menjadi sasaran pustaka ini, kerja menjalani hidup di kedua rumah. Tahun-tahun remaja adalah masa beban emosi yang tinggi pada otak yang masih mencari cara untuk memikulnya.

Ini bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaanmu. Ini alasan untuk lebih sabar dengan apa yang kamu lihat. Sebagian dari yang tampak seperti masalah kesehatan mental sebenarnya adalah menjadi remaja. Sebagian dari yang tampak seperti menjadi remaja sebenarnya adalah kesehatan mental yang butuh perhatian. Pekerjaannya adalah membedakan keduanya, dan bersedia bertindak ketika kamu tidak bisa membedakannya.

Tanda-tanda yang tidak dramatis tapi penting

Sebagian besar yang diperhatikan orang tua ada di ujung yang sunyi. Bukan krisis. Bukan drama. Sebuah perubahan.

Beberapa pola yang, sendiri-sendiri atau bersamaan, menyiratkan ada sesuatu yang sedang terjadi.

Pergeseran suasana hati yang menetap. Bukan satu minggu yang buruk. Beberapa minggu. Dia lebih datar, lebih sedih, lebih marah, lebih cemas dibanding biasanya. Perubahan itu bertahan.

Menarik diri dari hal-hal yang biasanya dia nikmati. Dia berhenti menggambar, berhenti main musik, berhenti nongkrong dengan kelompok temannya, berhenti dari ritual kecil sehari-hari yang dulu menjadi pegangannya.

Perubahan tidur. Dia tidur jauh lebih banyak dari biasanya, atau jauh lebih sedikit. Dia terjaga jam tiga pagi. Dia tidak bisa bangun pagi. Ponselnya menyala jam dua dini hari beberapa malam berturut-turut.

Perubahan nafsu makan atau pola makan. Makan lebih sedikit, makan lebih banyak, pola makan yang bergeser, sembunyi-sembunyi soal makanan, perubahan berat badan yang terlihat.

Nilai sekolah yang turun, atau lonjakan perfeksionisme yang mencolok. Kedua ujung itu bisa jadi sinyal.

Lebih mudah tersinggung atau toleransi yang rendah terhadap frustrasi. Hal-hal kecil kini memicu reaksi besar. Dia membentak adik-adiknya. Dia pergi di tengah percakapan.

Berhenti merawat diri. Tidak mandi. Tidak ganti baju. Tubuh berhenti menjadi sesuatu yang dia rawat.

Kata-kata yang menyusut. Dia menjawab dengan satu kata. Dia berhenti cerita soal harinya. Dia berhenti cerita apa pun.

Pernyataan yang lebih dari sekadar momen. Aku gagal banget. Aku benci diriku sendiri. Apa sih gunanya. Ini tidak selalu alarm; kadang remaja sedang mencoba mencari kata-kata untuk apa yang dia rasakan. Tapi ini layak diperhatikan.

Keluhan fisik tanpa sebab yang jelas. Sakit kepala yang menetap, sakit perut, kelelahan. Tubuh kadang memikul apa yang belum bisa diungkapkan pikiran dengan kata-kata.

Tidak ada satu pun dari ini, sendirian, yang merupakan diagnosis. Beberapa di antaranya bersamaan, bertahan lebih dari beberapa minggu, adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dan keluarga perlu memperhatikan.

Tanda-tanda yang butuh tindakan segera

Daftar yang terpisah dan lebih pendek. Ini butuh respons hari ini, bukan minggu depan.

  • Remaja itu mengungkapkan keinginan untuk mati, ingin menghilang, atau bicara soal mengakhiri hidupnya.
  • Remaja itu menggambarkan rencana untuk menyakiti dirinya sendiri.
  • Kamu melihat tanda-tanda melukai diri sendiri.
  • Remaja itu berhenti makan secara signifikan, atau mengalami perubahan berat badan yang cepat dan besar.
  • Remaja itu berubah drastis setelah suatu kejadian spesifik (kekerasan, perundungan, keretakan besar, insiden serius di salah satu dari kedua rumah).
  • Remaja itu menarik diri secara besar-besaran dari seluruh hidupnya.
  • Kamu takut dengan apa yang mungkin dia lakukan.

Kalau kamu melihat salah satu dari ini, hubungi profesional hari ini juga. Dokter umum atau Puskesmas. Guru BK di sekolah. Psikiater anak dan remaja kalau kamu punya akses (di sejumlah kota ada layanan psikiatri anak di rumah sakit besar dan RSJ). Untuk situasi yang menyangkut keamanan anak, ada Layanan SAPA 129 dari Kementerian PPPA (telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129) dan UPTD PPA di daerahmu. Hubungi layanan kesehatan jiwa atau gawat darurat terdekat kalau kamu tidak bisa menjangkau profesional tepat waktu.

Modul 17, 18, dan 19 di pustaka ini membahas respons spesifik untuk melukai diri sendiri, gangguan makan, dan krisis akut. Kalau kamu mengenali tanda-tanda di salah satu area itu, modul-modul itu ditulis untukmu.

Apa yang harus dilakukan saat kamu memperhatikan sesuatu

Sebagian besar orang tua, saat memperhatikan sesuatu, ragu. Mereka tidak ingin bereaksi berlebihan. Tidak ingin bereaksi kurang. Tidak ingin membuat remaja itu malu dengan menamainya. Tidak ingin membiarkannya kalau ternyata serius.

Beberapa pola yang membantu.

Perhatikan tanpa mengawasi. Remaja tahu kapan mereka sedang diamati. Kalau kamu mulai meneliti, mereka jadi lebih tertutup, bukan lebih terbuka. Perhatikan seperti caramu memperhatikan teman yang sedang melewati sesuatu. Tenang, hadir, tanpa banyak gaya.

Beri ruang untuk percakapan, bukan interogasi. Di mobil. Di dapur saat suasana tenang. Saat jalan bareng. Makan bersama yang tidak penuh tuntutan. Bunda perhatiin kamu lebih pendiam belakangan ini. Ada yang mau kamu ceritain? Lalu tunggu. Jangan mengisi keheningannya.

Jangan langsung menawarkan solusi. Udah coba jalan-jalan belum. Udah ngobrol sama temen-temen belum. Udah coba dengerin musik lain belum. Remaja itu tidak ingin daftar centang. Dia ingin didengar dulu. Solusinya, kalau berguna, bisa menyusul.

Dengarkan apa yang dia katakan tanpa buru-buru menenangkan. Bun, aku tuh ngerasa kosong terus rasanya. Naluri kita adalah aduh sayang, nanti juga membaik, ini cuma fase kok. Langkah yang lebih baik adalah kedengarannya berat banget ya. Cerita lebih banyak dong soal rasa kosong itu. Penghiburan yang diberikan terlalu cepat memberi sinyal bahwa kamu tidak mau mendengarnya.

Jangan menganggapnya sebagai kegagalanmu. Kalau remajamu sedang berjuang, itu bukan karena kamu gagal. Kesulitan kesehatan mental terjadi juga pada remaja yang orang tuanya melakukan segalanya dengan baik. Jangan menempatkan dirimu sebagai pusat dari apa yang sedang dia lewati.

Percayai firasatmu, bahkan kalau kamu belum yakin apa yang kamu lihat. Sebagian besar orang tua, kalau menengok ke belakang, sudah tahu ada yang tidak beres sebelum mereka bisa menamainya. Kalau kamu khawatir, tanyakan. Bahkan kalau ternyata bukan apa-apa yang serius, kamu sudah berlatih percakapannya, dan remaja itu tahu pintunya terbuka.

Dimensi Co-Parent

Kesulitan kesehatan mental adalah salah satu hal yang mutlak butuh kedua orang tua tahu. Ini bukan soal privasi melawan keamanan. Remaja itu butuh kedua rumah sama-sama waspada.

Beberapa pola yang membantu.

Beri tahu Co-Parent apa yang sedang kamu perhatikan. Bukan sebagai keluhan. Sebagai informasi. Hai, aku lagi mikirin Lily nih. Dia lebih pendiam beberapa minggu terakhir. Di tempatmu ada yang kamu perhatiin nggak? Co-Parent mungkin memperhatikan hal yang sama. Mungkin memperhatikan hal yang berbeda. Bersama, kalian punya gambaran yang lebih utuh.

Bandingkan catatan secara rutin. Saling mengabari singkat tiap beberapa minggu. Gimana dia di tempatmu? Ada masalah tidur? Ada perubahan suasana hati? Ini bukan pengawasan; ini koordinasi.

Jangan bersaing soal siapa yang lebih khawatir. Kadang satu orang tua lebih cepat cemas; yang lain lebih cepat menganggap remeh. Kalian berdua perlu menemukan titik tengah yang tidak melebih-lebihkan maupun mengecilkan. Yuk kita sama-sama amati dan saling kabari minggu depan.

Sepakati ambang batas untuk bertindak. Pola atau tanda apa yang akan mendorong kalian membawa profesional. Bahas ini bersama supaya kalian tidak memutuskan dalam tekanan. Kalau dua minggu lagi dia masih begini, kita telepon dokter atau ke Puskesmas ya.

Berkoordinasilah saat kalian membawa bantuan. Kalau terapi dimulai, kedua orang tua harus tahu. Kalau ada kunjungan ke dokter, kedua orang tua harus tahu apa yang dibicarakan. Perawatan medis dan kesehatan jiwa remaja itu tanggung jawab bersama orang tua, bahkan ketika pengasuhan sehari-hari terbagi di kedua rumah.

Jangan biarkan kekhawatiran kesehatan mental berubah menjadi tarik-menarik atas remaja itu. Kalau remaja itu sedang berjuang, kedua rumah perlu menjadi tempat yang aman. Jangan memposisikan satu rumah sebagai yang lebih baik untuk kesehatan mentalnya. Keduanya perlu sama-sama stabil.

Saat kalian punya pandangan yang berbeda soal apa yang sedang terjadi. Kadang satu orang tua menganggap sesuatu serius dan yang lain tidak. Jalan keluarnya biasanya pendapat ketiga. Guru BK, dokter, terapis keluarga. Hadirkan pihak yang netral. Jangan biarkan perbedaan pendapat di antara orang tua menjadi sumber tekanannya sendiri bagi remaja itu.

Apa yang dikatakan kepada remajamu

Beberapa hal yang membantu, saat kamu sedang menjalani percakapannya.

Bunda perhatiin kamu lagi berat. Bunda nggak minta kamu menjelaskannya. Bunda cuma mau kamu tahu kalau Bunda melihatmu.

Kamu nggak harus selalu baik-baik saja. Bunda malah lebih senang kalau kamu cerita pas kamu lagi nggak baik-baik saja.

Bunda nggak selalu bisa paham persis apa yang kamu rasakan. Tapi Bunda bisa ada di sini. Dan Bunda bisa bantu kamu cari orang yang memang paham.

Bunda sama Ayah dua-duanya ada buat kamu. Kamu nggak harus memilih mau cerita ke siapa. Kamu bisa cerita ke salah satu dari kami, ke dua-duanya, atau ke tidak satu pun, dan kami tetap di pihakmu.

Kalau suatu saat kamu sampai di titik kamu merasa nggak bisa menjaga diri tetap aman, Bunda mau kamu telepon Bunda. Bahkan jam tiga pagi. Bahkan kalau kamu pikir Bunda bakal marah. Bahkan kalau kamu udah melakukan sesuatu yang kamu sesali. Bunda lebih baik tahu daripada tidak.

Beberapa hal yang tidak membantu.

Ceria dong. Udah, lupain aja. Orang lain ada yang lebih susah. Pas Bunda seumuran kamu dulu. Kamu lebay deh. Ini cuma hormon remaja. Nanti juga hilang sendiri kok. Ini mengecilkan. Ini mengajari remaja itu bahwa kamu bukan orang yang tepat untuk dia datangi.

Saat bantuan profesional diperlukan

Sebagian besar orang tua, pada satu titik, akan perlu membawa seseorang dari luar keluarga.

Beberapa penanda kapan harus melakukannya.

  • Tanda-tanda yang kamu lihat sudah bertahan lebih dari beberapa minggu meski kamu sudah mendampingi.
  • Remaja itu sendiri yang meminta bantuan.
  • Remaja itu menamai sesuatu yang spesifik (kecemasan, depresi, serangan panik, pikiran yang mengganggu).
  • Kamu melihat salah satu tanda yang butuh tindakan segera dari bagian sebelumnya di artikel ini.
  • Co-Parent menganggap bantuan diperlukan.
  • Sekolah menyampaikan kekhawatiran.
  • Kamu menghabiskan tenaga batin yang tidak kamu punya untuk menanganinya sendirian.

Pintu pertama biasanya guru BK di sekolah (sering kali langkah yang paling mudah dijangkau), dokter umum atau Puskesmas, atau psikolog anak dan remaja. Belakangan ada juga layanan konseling daring yang ramah remaja seperti KALM, Riliv, atau Bicarakan.id. Apa pun yang tersedia di sekitarmu, pakai. Jangan mencoba menangani persoalan setingkat klinis sendirian di meja makan.

Remaja itu mungkin menolak. Aku nggak perlu ke siapa-siapa. Aku nggak mau ngomongin ini. Ini normal. Sering kali sesi pertama yang paling sulit, dan remaja itu menemukan bahwa adanya pihak ketiga (seseorang yang bukan kedua orang tuanya) membuat sebagian hal lebih mudah dikatakan. Dorong dengan lembut. Jangan memaksa terlalu keras. Kadang sebuah kita coba sekali aja dulu, lihat nanti gimana menurunkan ambangnya.

Saat kamu, sebagai orang tua, juga butuh dukungan

Sebuah catatan singkat.

Kalau remajamu sedang melewati masa kesehatan mental yang serius, kamu sedang memikul banyak hal. Kekhawatirannya berat. Ketidaktahuannya berat. Pembagian antara rumah dan rumah kedua, dengan segala koordinasi dan berbagi informasinya, berat. Jangan memikulnya sendirian.

Bicaralah dengan dokter atau Puskesmasmu sendiri. Terapismu sendiri kalau kamu punya. Teman yang pernah melewati hal serupa. Guru BK sebagai tempat curah pikir bagi orang tua, bukan cuma bagi remaja. Bagi sebagian keluarga, pemuka agama yang dipercaya juga menjadi tempat bersandar. Orang tua lain di keluarga dengan kedua rumah, kalau kamu punya jaringan.

Kesejahteraanmu penting karena dirinya sendiri. Ia juga penting karena remajamu butuh kamu tetap stabil. Orang tua yang sudah kehabisan tenaga tidak bisa menopang remaja yang juga sudah kehabisan tenaga. Rawat dirimu sebagai bagian dari merawat dia.

Lengkungan yang lebih panjang

Sebuah pengingat yang membantu di minggu-minggu yang lebih berat.

Sebagian besar kesulitan kesehatan mental remaja akan berlalu. Sebagian berlalu cepat dengan dukungan ringan. Sebagian berlalu pelan dengan dukungan yang besar. Sebagian meninggalkan remaja itu dengan pola yang akan dia bawa ke masa dewasa, di mana hal itu terus dibenahi dengan cara yang berbeda-beda. Sangat sedikit yang permanen dalam bentuk awal remajanya.

Anak 14 tahun yang sedang tidak baik-baik saja tahun ini bisa jadi, di usia 17, menjadi remaja yang berbeda. Anak 16 tahun yang sudah lama berjuang bisa jadi, di usia 22, sedang baik-baik saja. Hubungan yang kamu bangun dengannya sepanjang tahun-tahun ini adalah yang akan dia ingat, sama kuatnya dengan kesulitan itu sendiri.

Jangan mengukur dirimu dari apakah kamu berhasil memperbaikinya. Ukur dirimu dari apakah kamu tetap dekat, tetap memperhatikan, membawa bantuan, terus hadir.

Penutup

Rabu malam, minggu ketiga.

Kamu naik ke atas. Kamu mengetuk. Bunda boleh masuk?

Dia mengangguk.

Kamu duduk di ujung tempat tidurnya. Kamu tidak punya rencana soal apa yang akan dikatakan. Kamu biarkan keheningan menggantung sebentar.

Bunda mikirin kamu terus. Pengen tahu kabarmu. Kamu nggak harus cerita apa-apa. Bunda cuma mau ada di kamar ini sama kamu sebentar.

Dia tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat. Lalu: Aku nggak tahu apa yang salah. Cuma semuanya kerasa berat.

Kamu mengangguk. Kamu tidak berusaha meringankannya.

Kedengarannya berat banget ya.

Kamu duduk bersamanya. Kamu tidak bertanya lagi. Setelah beberapa saat kamu berkata: Apa pun ini, Bunda ada di sini. Ayah juga ada. Kita bakal cari tahu apa yang bisa membantu. Kita nggak harus menemukan jawabannya malam ini.

Dia mengangguk. Kamu duduk sedikit lebih lama. Lalu kamu keluar.

Malam itu kamu mengirim pesan ke Co-Parent. Aku tadi nemenin Lily. Dia bilang semuanya kerasa berat. Aku nggak memaksa. Aku mau ngobrol sama kamu soal mengajak dia ketemu seseorang. Bisa kita ngobrol besok?

Co-Parent membalas. Bisa. Syukurlah kamu naik nemenin dia. Aku juga udah khawatir. Besok pagi. Kita cari jalannya.

Itulah pekerjaannya. Dua orang tua, di kedua rumah, memperhatikan remaja yang sedang tidak baik-baik saja. Tidak panik. Tidak mengecilkan. Melangkah masuk. Membawa bantuan. Menjaga keluarga tetap stabil sementara remaja itu menemukan jalannya.

Sebagian besar remaja menemukan jalannya. Banyak dari mereka, menengok ke belakang dari usia dua puluhan, akan berkata bahwa kestabilan orang-orang dewasa di sekitar merekalah, lebih daripada satu intervensi tertentu, yang membuat perbedaan.

Jadilah kestabilan itu. Bersama Co-Parent. Untuk remaja itu. Melalui apa pun yang akhirnya menjadi musim ini.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.