dip
Belikan Kopi
Modul 10 · Kesehatan & obat

Pendidikan seks di kedua rumah

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

8–1213–1710 menit baca
Pendidikan seks di kedua rumah

Pendidikan seks di kedua rumah

Modul 10 · Kesehatan & obat · Artikel 13 · Wave 4 · untuk umur 8 hingga 17 tahun


Suatu Minggu siang. Anak laki-lakimu yang berumur lima belas tahun duduk di meja makan sambil mengerjakan PR. Dia mengangkat wajah, dan dengan nada santai yang biasa dipakai anak-anak untuk pertanyaan paling penting, dia bertanya, eh, beliin kondom dong?

Kamu terdiam sejenak. Kamu meletakkan lap piring.

Kamu berhasil menjawab, sambil berusaha setenang mungkin, boleh. Mau ngobrol soal itu?

Dia mengangkat bahu. Nanti aja deh. Aku cuma ngerasa harusnya punya stok.

Kamu bilang oke. Kamu tidak mendesak. Kamu kembali mengeringkan piring. Dia kembali ke PR-nya.

Beberapa pikiran datang sekaligus. Rasa bangga, karena dia bertanya kepadamu dan bukan menyelesaikannya sendiri tanpa orang dewasa yang terlibat. Rasa cemas, soal situasi apa pun yang memicu pertanyaan itu. Rasa sadar, bahwa kamu tidak tahu apa saja yang sudah dan belum dibicarakan ibunya dengan dia. Sedikit rasa pedih, bahwa dia kini sudah masuk ke bagian hidup ini.

Artikel ini untuk percakapan yang kini sudah ada di ruangan itu.

Apa yang dibahas artikel ini

Prinsipnya begini. Pendidikan seks, sama seperti pubertas secara lebih luas, tidak terjadi dalam satu percakapan; ia terjadi selama bertahun-tahun, lewat banyak momen kecil, di kedua rumah yang mungkin punya cara membingkai dan tingkat kenyamanan yang berbeda. Tugasnya bukan menyampaikan kurikulum yang sempurna pada usia yang tepat. Tugasnya adalah memastikan kedua orang tua aman untuk ditanya apa saja, bahwa informasi yang anak terima itu akurat, bahwa nilai yang dipegang kedua rumah dijelaskan dengan jernih tanpa saling bersaing, dan bahwa komunikasi terstruktur antarorang tua menangani bagian-bagian yang lebih sulit dengan baik.

Artikel ini mencakup empat hal. Empat percakapan yang perlu terjadi. Penyelarasan antarorang tua. Topik-topik tertentu yang lebih sulit. Dan apa yang harus dilakukan ketika nilai salah satu orang tua berbeda jauh.

Artikel ini mengasumsikan Artikel 10 dalam modul ini (percakapan tentang pubertas) sebagai konteks yang lebih luas. Artikel ini berfokus secara khusus pada pendidikan seks: informasi, percakapan, dan keputusan seputar seksualitas remaja dan kesehatan reproduksi.

Empat percakapan

Sebuah cara yang berguna untuk memikirkan pendidikan seks sepanjang bertahun-tahun.

Percakapan mekanik. Apa yang terjadi secara fisik: tubuh, respons seksual, reproduksi, kontrasepsi. Percakapan ini sering ditangani sepotong-sepotong selama bertahun-tahun: versi awal sekitar umur 7 sampai 9; versi yang lebih mendalam sekitar 11 sampai 12; pembaruan terus-menerus seiring anak menemukan informasi baru dari sekolah, teman, dan media. Tujuannya adalah agar menjelang umur 15 atau sekitarnya, anak punya informasi yang akurat secara fakta tentang bagaimana tubuhnya dan tubuh orang lain bekerja.

Percakapan nilai. Apa makna seks dalam kerangka keluarga: kapan ia pantas, apa perannya dalam hubungan, pertimbangan apa yang dianggap penting oleh keluarga. Di sinilah keluarga paling banyak berbeda. Keluarga religius punya kerangka tersendiri. Keluarga sekuler punya kerangka yang berbeda. Di dalam masing-masing, tiap keluarga punya nuansanya sendiri. Anak perlu tahu apa yang dipercaya orang tuanya, tanpa diseret untuk ikut memeluk keyakinan itu.

Percakapan persetujuan. Apa arti persetujuan; bagaimana memberikannya, memintanya, menariknya kembali; apa yang harus dilakukan saat ada yang tidak beres; bedanya antara ketegasan dan tekanan; bedanya antara kerelaan aktif dan sekadar ikut secara pasif. Percakapan ini semakin gamblang dalam satu dekade terakhir. Kedua orang tua sebaiknya fasih dengannya.

Percakapan realitas. Hal-hal yang lebih sulit: pornografi (hampir pasti sesuatu yang sudah pernah ditemui anak); sexting dan gambar digital (kebanyakan remaja sedang menghadapinya); pelecehan dan eksploitasi (jarang tapi nyata, dan anak perlu tahu cara mengenalinya); lanskap hukum (usia persetujuan, apa yang diizinkan dan kapan). Percakapan ini terasa tidak nyaman bagi banyak orang tua; melakukannya dengan kurang sempurna tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Setiap percakapan terjadi bukan sebagai satu sesi duduk bersama, melainkan sebagai benang yang membentang sepanjang bertahun-tahun. Benang itu bisa dijaga dari salah satu rumah; idealnya kedua rumah ikut berperan.

Penyelarasan antarorang tua

Ada beberapa langkah penyelarasan tertentu yang membantu.

Sepakati kurikulum sekolah. Kebanyakan sekolah punya program kesehatan reproduksi yang berjalan pada usia tertentu. Bila kedua orang tua tahu apa isinya, kapan dijalankan, dan apa yang diharapkan dari rumah untuk mendampinginya, itu mencegah situasi di mana anak menemukan informasi baru di sekolah lalu mendapati tidak ada satu rumah pun yang sudah menyiapkannya untuk percakapan itu.

Sepakati kerangka mekanik dasar. Kedua rumah memberi informasi fakta yang sama tentang tubuh, kontrasepsi, infeksi menular seksual (IMS), kehamilan. Percakapan nilai boleh berbeda; fakta medis-biologis sebaiknya tidak. Informasi keliru dari satu rumah yang kemudian harus dikoreksi oleh rumah yang lain itu memberatkan anak.

Akui perbedaan nilai secara terbuka. Di rumah Bunda, kita percaya X; di rumah Ayah, kamu mungkin mendengar Y; kami berdua sayang kamu dan kami berdua sudah memikirkan hal ini dengan matang. Menamai perbedaan itu memungkinkan anak memegang kedua pandangan tanpa merasa harus memilih diam-diam.

Koordinasikan ketersediaan kontrasepsi. Ini terdengar praktis dan memang praktis, tapi juga sarat nilai. Kedua orang tua sebaiknya tahu apakah kontrasepsi ada di rumah, tersedia tanpa banyak tanya, dan bagaimana cara mengaksesnya. Anak tidak seharusnya menavigasi satu rumah sebagai rumah aman-kontrasepsi dan rumah yang lain sebagai rumah yang tidak.

Bagikan informasi tentang siapa sudah diberi tahu apa. Kalau anak laki-lakimu sudah memberi tahu Co-Parent bahwa dia mulai pacaran dengan seseorang, dan kamu belum diberi tahu, Co-Parent sebaiknya mengabarimu, tanpa membocorkan kepercayaan anak secara rinci. Sekadar info, anak kita baru-baru ini cerita beberapa hal ke aku yang mungkin akan, mungkin juga tidak, dia angkat ke kamu. Aku biarkan dia yang cerita sendiri, tapi aku mau kamu siap kalau memang dia cerita.

Sepakati apa yang rahasia dan apa yang tidak. Sebagian hal yang anak ceritakan ke satu orang tua boleh dibagikan ke orang tua yang lain; sebagian tidak. Patokan dasarnya: kekhawatiran medis dan kekhawatiran keselamatan dibagikan; detail hubungan dan isi emosional tetap pada orang tua yang dipercaya kecuali anak ingin lebih banyak dibagikan. Kedua orang tua menghormati ini.

Percakapan penyelarasan ini, seperti padanannya soal pubertas, biasanya dilakukan sekali lalu sesekali ditinjau kembali. Prinsipnya adalah keselarasan tanpa keseragaman.

Topik-topik tertentu yang lebih sulit

Beberapa topik layak mendapat perhatian langsung.

Pornografi. Hampir setiap remaja sudah pernah menemui pornografi menjelang umur 12 sampai 13 tahun. Di Indonesia, meski ada UU No. 44/2008 tentang Pornografi dan berbagai upaya pemblokiran, akses tetap luas. Percakapannya bukan soal apakah perlu dibicarakan; melainkan bagaimana. Kerangka yang jujur: pornografi adalah jenis media tertentu yang menggambarkan seks dengan cara yang sering kali tidak sesuai dengan pengalaman seksual nyata, dan yang bisa membentuk ekspektasi secara tidak sehat. Kebanyakan remaja sudah pernah mendengar ini; banyak yang belum mendengarnya dari orang tua. Percakapannya singkat, faktual, dan idealnya terjadi sebelum masa remaja berjalan penuh.

Persetujuan. Versi persetujuan untuk remaja lebih kompleks daripada versi masa kanak-kanak. Dinamika kuasa. Penggunaan zat. Gambar digital. Menarik persetujuan di tengah jalan. Apa yang harus dilakukan kalau seorang teman bilang ada sesuatu yang terjadi. Kedua orang tua sebaiknya fasih. Percakapannya bukan satu sesi; ia bagian dari pembahasan terus-menerus tentang hubungan, media, dan cerita teman-teman.

Sexting. Kebanyakan remaja sedang menghadapi komunikasi intim secara digital. Percakapannya mencakup: apa yang legal pada usia berapa (di Indonesia, UU ITE dan UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak memberi kerangka yang ketat, dan konten seksual yang melibatkan anak di bawah umur termasuk pelanggaran berat); kemustahilan menarik kembali pesan yang sudah terkirim; apa yang harus dilakukan kalau menerima sesuatu yang tidak diminta; apa yang harus dilakukan kalau ada orang yang meminta gambar. Orang tua yang berpura-pura ini tidak terjadi meninggalkan anaknya tanpa dukungan.

Orientasi seksual dan identitas gender. Anak yang sedang menjelajah atau sudah mantap pada identitas yang bukan-heteroseksual atau bukan-cisgender membutuhkan kedua orang tua menjadi tempat yang aman untuk diberi tahu. Kalau satu orang tua lebih nyaman dengan hal ini dan yang satu lagi tidak, anak akan memberi tahu yang nyaman lebih dulu; orang tua yang kedua kemudian perlu dilibatkan dengan hati-hati. Percakapan penyelarasan, kalau mencakup bagaimana perasaan masing-masing orang tua tentang topik-topik ini, membantu anak menavigasinya. Di Indonesia, di mana konteks sosial dan keagamaan membuat topik ini sangat sensitif, keamanan saat anak membuka diri menjadi pertimbangan utama. Inilah salah satu tempat paling menentukan bagi kedua orang tua untuk selaras, atau setidaknya tidak secara aktif menolak identitas anak.

Kontrasepsi dan akses. Remaja yang aktif secara seksual membutuhkan akses kontrasepsi. Ini berlaku terlepas dari preferensi salah satu orang tua tentang apakah mereka seharusnya aktif secara seksual. Menghalangi akses tidak mengubah perilaku; ia hanya membuat perilaku itu kurang aman. Percakapannya, dengan dokter atau Puskesmas bila perlu, sebaiknya jadi percakapan yang sungguhan.

Pemeriksaan dan pencegahan IMS. Terutama untuk remaja yang aktif secara seksual. Pemeriksaan IMS rutin, vaksinasi (terutama HPV; vaksin HPV kini diberikan secara bertahap di sekolah untuk anak perempuan), dan bagaimana cara berbicara dengan dokter tentang kesehatan seksual. Kedua orang tua sebaiknya tahu bahwa anak bisa mengakses layanan ini secara rahasia di Puskesmas Ramah Remaja; mendukung akses tanpa ikut campur adalah tugas orang tua.

Pelecehan dan kekerasan seksual. Sebagian besar anak sebaiknya tahu, sesuai usianya, apa itu pelecehan dan kekerasan, apa yang harus dilakukan kalau itu menimpa mereka atau seorang teman, dan kepada siapa mereka bisa cerita. Kebanyakan tidak pernah mendapat percakapan ini, atau hanya sekali waktu masih kecil. Segarkan kembali sepanjang tahun-tahun berikutnya. Kedua orang tua sebaiknya menjadi orang yang aman untuk dijadikan tempat cerita.

Hubungan pertama. Sebagian besar remaja akan punya hubungan romantis atau seksual pertama yang berarti pada suatu titik di masa remaja. Orang tua bisa mendukung ini tanpa ikut campur. Prinsipnya: tertarik tanpa mengorek, mendukung tanpa terlalu heboh, tersedia tanpa mengejar. Anaklah yang menentukan kecepatan dalam bercerita.

Ketika nilai salah satu orang tua berbeda jauh

Sebagian keluarga punya orang tua dengan kerangka yang berbeda jauh tentang seksualitas remaja. Religius lawan sekuler. Konservatif lawan progresif. Tradisional lawan kontemporer. Di Indonesia, ini bisa mencakup keluarga di mana satu rumah membingkai seks dalam kerangka pernikahan dan menunggu sampai menikah sebagai prioritas agama, sementara rumah yang lain membingkainya dengan penekanan pada persetujuan dan kesehatan. Kedua kerangka itu sah; perbedaannya yang perlu dihadapi.

Beberapa pola.

Nilai-nilai itu bisa hidup berdampingan. Anak bisa memegang kerangka religius tentang seksualitas (dari satu orang tua atau dipegang bersama keduanya) dan sekaligus punya akses ke informasi fakta tentang kontrasepsi. Anak bisa tahu bahwa orang tuanya lebih ingin dia menunggu sampai menikah dan sekaligus merasa aman bertanya soal persetujuan dan IMS. Kesalahannya adalah mengira nilai dan informasi saling bertentangan. Keduanya tidak.

Patokan medis tetap sama lintas nilai. Terlepas dari nilai apa pun, fakta medis tetaplah sama. Kedua orang tua sebaiknya memastikan anak punya informasi medis yang akurat. Percakapan nilai adalah percakapan yang berbeda. Keduanya bisa terjadi.

Pola yang lebih sulit: satu orang tua menahan informasi atas dasar nilai. Kadang nilai seorang orang tua membuatnya tidak mengadakan percakapan mekanik, tidak memberi informasi kontrasepsi yang akurat, tidak membahas IMS. Kalau kamu orang tua yang memang mengadakan percakapan ini, lakukanlah di rumahmu, secara faktual, dan biarkan rumah Co-Parent punya kerangka sendiri soal nilai. Anak tetap mendapat informasinya; perbedaan nilai itu tetap ada.

Pola yang lebih sulit: anak yang identitasnya tidak diterima oleh salah satu orang tua. Anak yang orientasi seksual atau identitas gendernya tidak diterima di satu rumah berada dalam situasi yang benar-benar sulit. Di Indonesia, di mana konteks sosial dan hukum menambah lapisan tekanan, hal ini bisa terasa lebih berat. Tugas orang tua yang menerima adalah menjadi rumah yang aman, mendukung identitas anak, dan menangani situasi lintas rumah dengan cermat. Ini bisa melibatkan percakapan sungguhan dengan Co-Parent; bisa melibatkan dukungan profesional untuk anak; dalam kasus serius, bisa melibatkan penataan yang hati-hati tentang berapa banyak waktu yang anak habiskan di rumah yang tidak menerima. Prinsipnya adalah kesejahteraan anak lebih dulu; urusan mengelola hubungan adalah nomor dua.

Percakapan mediasi. Ketika perbedaan nilai itu signifikan dan aktif, di sinilah mediasi di Modul 09 (Mediasi & bantuan pihak ketiga) berguna. Mediator bisa menampung percakapan tentang bagaimana kedua rumah berkoordinasi, di mana mereka berbeda, dan di mana batas dasar kesepakatannya. Untuk keluarga Muslim, jalur islah lewat tokoh agama atau Pengadilan Agama bisa menjadi forum tambahan untuk perselisihan yang berkaitan dengan kerangka agama. Tidak setiap percakapan nilai membutuhkan mediasi; sebagian memang membutuhkannya.

Penutup

Sabtu siang. Kamu mengajak anak laki-lakimu ke apotek. Kamu membeli kondom. Kamu menyerahkannya kepadanya di dalam mobil. Dia bilang, makasih. Kamu menyetir pulang.

Di mobil, dia bilang, Bunda udah ngomong sama aku soal beginian, lho. Apalagi soal yang consent itu.

Kamu bilang, bagus. Itu penting.

Dia bilang, iya. Aku tahu kok. Aku nggak bakal macam-macam.

Kamu bilang, Ayah tahu.

Percakapan itu berlanjut beberapa menit lagi. Dia menyebut, sekilas, bahwa dia sedang dekat dengan seseorang yang dia suka. Dia tidak membagikan detail. Kamu tidak memintanya. Kamu menyetir pulang.

Malamnya, kamu mengirim pesan ke Co-Parent. Tadi aku ajak anak kita ke apotek. Dia udah sampai umur segitu. Dia bilang kamu udah ngobrol sama dia soal persetujuan, dan aku menghargai itu. Kita berdua sama-sama menjalani ini.

Balasannya: Iya, kami sudah ngobrol. Aku biarkan dia cerita apa yang dia mau cerita ke kamu. Lega kamu menangani urusan apotek itu tanpa membuatnya jadi canggung.

Sepanjang beberapa tahun ke depan, percakapan-percakapan itu berlanjut. Sebagian terjadi di rumahmu. Sebagian di rumahnya. Kalian berdua, dengan cara masing-masing, tersedia untuk apa pun yang muncul. Kalian berdua memberinya informasi yang akurat. Kalian berdua memegang nilai (yang sedikit berbeda) tanpa membuatnya harus memilih di antara keduanya.

Dia tumbuh menjadi dewasa setelah punya dua orang tua yang fasih soal seksualitasnya di kedua rumah, tanpa topik-topik utama yang dihindari, dengan kedua orang tua yang dikenal sebagai aman untuk ditanya apa saja. Itulah, ketika berhasil, hasil dari pendidikan seks di kedua rumah. Bukan kurikulum yang sempurna. Bukan kedua rumah yang serupa. Dua orang dewasa yang bisa diandalkan, dengan informasi dan kasih sayang, sepanjang lengkung panjang masa tumbuh.

Itu saja artikel ini. Pekerjaannya berlanjut.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.