Bimbingan agama dan budaya
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Bimbingan agama dan budaya
Modul 09 · Mediasi & bantuan pihak ketiga · Artikel 09 · Wave 1 · untuk semua usia
Kamu berdiri di bagian belakang ruang ibadah setelah acara selesai. Ruangan perlahan mulai kosong. Sang imam (atau pendeta, atau romo, atau bhante, atau pemangku, atau rabi) ada di depan, menutup sebuah percakapan dengan seseorang. Kamu menunggu karena ingin bertanya apakah ada waktu sebentar untuk bicara.
Kamu sendiri belum tahu persis apa yang ingin kamu minta. Kamu tidak sedang meminta izin. Kamu tidak sedang meminta penilaian. Yang kamu cari lebih mirip kehadiran: seseorang yang mau menampung keadaanmu sejenak, dalam kerangka yang sudah menjadi bagian dari hidupmu sejak kecil.
Percakapan di depan ruangan selesai. Sang pemuka agama mengangkat wajah, melihatmu, tersenyum, memberi isyarat agar kamu mendekat.
Artikel ini untuk momen yang kamu pikirkan saat melangkah masuk ke ruang ibadah tadi.
Apa isi artikel ini
Artikel ini membahas peran bimbingan agama dan budaya dalam kerja co-parenting. Di hampir semua tradisi besar dunia, tokoh agama dan budaya sudah berabad-abad menjadi pihak ketiga yang tenang dalam urusan keluarga. Artikel ini menelusuri kapan ini berjalan baik, kapan tidak, dan bagaimana memanfaatkan sumber daya ini dengan hati-hati.
Prinsipnya begini. Bimbingan agama dan budaya bisa menjadi pihak ketiga yang sangat berarti bagi keluarga yang berakar dalam satu tradisi bersama. Kerangkanya punya bobot, hubungannya sering kali sudah terjalin puluhan tahun, dan kearifan dalam tradisi itu terkumpul dari pengalaman banyak keluarga. Tapi sumber daya ini peka terhadap kecocokan: ia berjalan baik ketika kedua orang tua sama-sama memegang tradisi itu dan memercayainya; ia bisa berubah menjadi kerumitan ketika tidak. Memanfaatkannya dengan baik berarti menyelaraskan sumber daya ini dengan konteks yang sama-sama dimiliki.
Artikel ini mencakup empat hal. Apa yang bisa ditawarkan bimbingan agama dan budaya. Bentuk-bentuknya yang khas di tiap tradisi. Kapan ia berjalan baik. Dan kapan ia tidak.
Apa yang bisa ditawarkan bimbingan agama dan budaya
Ada beberapa kemampuan yang khas.
Kesinambungan lintas puluhan tahun. Banyak keluarga punya hubungan dengan komunitas keagamaan yang membentang lintas generasi. Tokoh yang mungkin kamu temui itu mengenal orang tuamu, barangkali menikahkanmu dulu, barangkali pula menyambut anakmu ke dalam tradisi itu. Kesinambungan semacam ini tidak tertandingi oleh layanan profesional mana pun.
Kerangka yang menempatkan persoalan. Semua tradisi keagamaan punya sesuatu untuk dikatakan tentang keluarga, perpisahan, membesarkan anak, dan kerja saling merawat di masa-masa sulit. Entah itu konsep sulh dalam Islam (penyelesaian secara damai), penekanan Kristen pada rahmat dan rekonsiliasi, tekanan Hindu pada dharma, ajaran Buddha tentang samvega dan pasada, prinsip Yahudi shalom bayit, atau etika Sikh seva dan vand chakko, kerangka itu memberi keadaan ini sebuah bentuk yang lebih besar daripada sengketa yang sedang dihadapi. Bagi keluarga yang menjalani tradisinya dengan sungguh-sungguh, bentuk yang lebih besar ini memberi pijakan yang tak bisa diberikan oleh apa pun yang lain.
Konteks komunitas. Tokoh agama dan budaya berada dalam jaringan komunitas: keluarga-keluarga lain, para sesepuh, peran-peran pendukung, layanan-layanan. Bimbingan mereka sering datang dengan janji yang tersirat bahwa keluarga ini tidak sendirian; bahwa komunitas, dengan caranya sendiri, ada bersama mereka.
Biaya rendah atau tanpa biaya. Sebagian besar bimbingan agama dan budaya diberikan tanpa tarif, atau hanya dengan sumbangan sukarela. Bagi keluarga yang terhalang biaya untuk mediasi atau terapi profesional, akses semacam ini sangat berarti.
Rentang waktu yang berbeda. Profesional bekerja dalam sesi-sesi yang sudah ditentukan. Tokoh agama sering bekerja sepanjang lengkung hidup keluarga yang lebih panjang: percakapan yang terjadi bulan ini berada dalam konteks percakapan yang terjadi lima tahun lalu dan percakapan yang akan terjadi lima tahun ke depan. Ritme yang lebih lambat ini kadang membuat hal-hal bisa mengendap, yang tidak bisa dilakukan oleh ritme profesional yang lebih cepat.
Bentuk-bentuknya yang khas di tiap tradisi
Sebuah tinjauan singkat, dengan kesadaran bahwa setiap tradisi beragam di dalamnya sendiri dan apa yang disebut di sini tidak akan cocok dengan praktik setiap komunitas.
Tradisi Islam. Sulh adalah praktik formal penyelesaian secara damai, dengan akar yang dalam pada Al-Qur'an dan Hadis. Di Indonesia, Pengadilan Agama menjalankan mediasi (sesuai PERMA No. 1/2016) dengan bobot hukum keagamaan, dan hasilnya bisa dikukuhkan secara hukum. Secara lebih informal, keluarga berkonsultasi dengan ulama, kyai, ustaz, ustazah, atau tokoh agama di tingkat komunitas untuk meminta bimbingan. Ada pula lembaga seperti BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan) dan KUA yang menyediakan penasihatan bagi keluarga Muslim. Hakam adalah peran juru damai khusus dalam ranah hukum keagamaan, dengan struktur yang berbeda dari mediasi sekuler. Tradisi besar seperti NU dan Muhammadiyah, juga tradisi pesantren yang berpusat pada kyai, masing-masing punya warna sendiri. Bagi keluarga Muslim yang berakar dalam tradisi, sulh dan praktik terkait bisa menyatu mulus dengan mediasi sipil, atau berdiri sendiri.
Tradisi Kristen. Lintas denominasi: pendeta, romo, diaken, penginjil, penatua. Beberapa gereja punya peran khusus untuk pelayanan keluarga. Tradisi Katolik punya proses tribunal perkawinan yang formal untuk pembatalan nikah, terpisah dari bimbingan pastoral. Tradisi Protestan sangat beragam: banyak jemaat punya konselor awam yang dilatih khusus, dan gereja-gereja seperti GKJ, GKI, HKBP, Toraja, hingga jemaat di Manado dan Ambon punya kekhasan kewilayahannya masing-masing. Tradisi Pentakosta dan kharismatik sering memadukan doa dan bimbingan. Kecocokannya sangat bergantung pada komunitas yang spesifik.
Tradisi Hindu. Swami, guru, pendeta keluarga (purohit), atau sesepuh komunitas. Di Indonesia, Hindu Bali punya pemangku (pemimpin upacara di pura), sulinggih atau pedanda (pendeta tinggi), dan banjar adat yang menangani urusan keluarga di tingkat komunitas. Kerangkanya sering berputar pada dharma (tindakan yang benar), karma (akibat), dan keluarga sebagai miniatur tatanan yang lebih besar. Sebagian tradisi melibatkan upacara komunitas yang formal untuk peralihan besar dalam keluarga.
Tradisi Buddha. Bhikkhu atau bhikkhuni (biksu/biksuni), lama (Tibet), roshi (Zen), atau guru awam yang dipercaya. Di Indonesia, tradisi Mahayana kuat dalam komunitas Tionghoa, sementara Theravada juga hadir. Kerangkanya sering berputar pada dukkha (penderitaan) dan cara mengolahnya dengan bijak. Sebagian tradisi menekankan dukungan sangha sebagai komunitas; sebagian lagi menekankan latihan pribadi. Percakapannya sering kurang mengarahkan dibanding tradisi lain, dan lebih berfokus pada kejernihan batin orang tua itu sendiri.
Tradisi Yahudi. Rabi, dengan perbedaan halus lintas tradisi Ortodoks, Konservatif, Reform, Rekonstruksionis, dan Renewal. Beth Din (pengadilan rabinik) untuk urusan hukum keagamaan yang formal, termasuk get (perceraian keagamaan) dan penyelesaian hukum keluarga. Hubungan sho'el u'meshiv dengan seorang rabi untuk bimbingan yang berkelanjutan. Kerangkanya sering melibatkan shalom bayit (kedamaian dalam rumah tangga) sebagai nilai yang utama.
Tradisi Sikh. Granthi, gianni, atau sesepuh komunitas. Sangat (komunitas) sering ikut terlibat dalam urusan keluarga. Kerangkanya melibatkan seva (pengabdian tanpa pamrih), vand chakko (berbagi), dan ajaran para guru tentang kehidupan keluarga dan rumah tangga.
Tradisi adat dan budaya. Banyak komunitas punya tokoh yang bukan pemuka agama formal tapi mengemban peran serupa: tetua adat, ibu yang dituakan dalam keluarga besar, sosok wali baptis, sahabat dekat keluarga yang dipandang bijak. Di Indonesia peran ini sangat kuat: ada mamak dan datuak dalam tatanan Minang, ompu yang dituakan dalam masyarakat Batak, pakdhe dan budhe dalam keluarga Jawa, serta tetua adat dalam banyak masyarakat Dayak, Toraja, Bugis, dan lainnya. Tokoh-tokoh ini bukan otoritas agama melainkan otoritas budaya; mereka membawa tradisi tanpa doktrin. Bagi keluarga yang ikatannya lebih bersifat budaya daripada keagamaan, sosok-sosok ini bisa menjadi penasihat yang tepat.
Keluarga dengan tradisi beragam. Banyak keluarga sekarang melibatkan lebih dari satu tradisi. Pertanyaan tentang bimbingan mana yang akan didatangi, dan apakah keduanya perlu didatangi, sudah menjadi bagian dari kerja itu sendiri. Sebagian pasangan menanganinya dengan indah lewat berkonsultasi pada satu tokoh dari masing-masing tradisi; sebagian lagi merasa profesional sekuler justru pilihan yang lebih bersih, justru karena tidak ada satu tradisi pun yang bisa menampung seluruh keluarga.
Kapan ia berjalan baik
Ada syarat-syarat tertentu yang menentukan.
Kedua orang tua sama-sama memegang tradisi itu dan memercayai tokohnya yang spesifik. Ini syarat paling mendasar. Kalau hanya satu orang tua yang menghargai bimbingan agama atau budaya itu, pihak yang lain bisa merasa ditekan atau tersisih. Kalau keduanya menghargai tradisinya tapi tidak tokoh yang ini, carilah tokoh yang lain. Kalau keduanya memercayai tokoh ini, sumber dayanya nyata.
Tokohnya bijak, bukan sekadar dituakan. Otoritas agama dan budaya tidak otomatis disertai kepekaan hubungan yang dibutuhkan untuk membimbing keluarga. Sebagian tokoh yang sangat dihormati ternyata kurang piawai dalam kerja semacam ini. Bimbingan yang tepat datang dari mereka yang kearifannya cocok dengan jenis kerja yang kamu butuhkan: menampung sudut pandang kedua orang tua, tidak memihak, mendorong kejernihan ketimbang menggurui.
Kerangka tradisinya memang cocok dengan keadaannya. Sebagian tradisi sangat menekankan rekonsiliasi; ini tepat ketika rekonsiliasi masih mungkin dan memang sedang diupayakan. Ketika rekonsiliasi bukan jalannya, penekanan tradisi pada rekonsiliasi justru bisa membuat kerja ini lebih berat alih-alih lebih ringan. Sang tokoh sebaiknya paham bedanya dan bisa bekerja dalam kerangka mana pun.
Bimbingan ini berdampingan dengan sumber daya lain, bukan menggantikannya. Untuk situasi yang rumit (komplikasi hukum, persoalan kesehatan jiwa, urusan perlindungan anak), bimbingan agama adalah satu sumber daya di antara yang lain, bukan satu-satunya. Tokoh agama yang bijak menyadari ini dan merujuk ke pihak lain saat dibutuhkan.
Kerahasiaan dihormati. Sebagian besar tokoh agama menjaga kerahasiaan dengan serius. Beberapa tradisi punya praktik formal soal ini (sakramen pengakuan dosa dalam Katolik; konsep shtikah dalam Yahudi). Pastikan dulu bagaimana praktiknya di komunitasmu sebelum kamu bercerita.
Kapan ia tidak berjalan
Sama pentingnya untuk diketahui.
Ketika salah satu orang tua memakai bimbingan itu sebagai otoritas atas yang lain. Kalimat seperti Kata Pak Kyai kamu harus begini yang dijadikan senjata mengubah sumber daya kearifan menjadi alat kekuasaan. Bimbingan itu dimaksudkan untuk kalian berdua; memakainya secara berat sebelah merusak hubungan sekaligus sumber dayanya sendiri.
Ketika tradisi dipakai untuk memaksakan ketimpangan kekuasaan. Sebagian tradisi secara historis pernah ditafsirkan dengan cara yang secara timpang mengistimewakan satu jenis kelamin, atau satu pihak, atau satu posisi budaya. Kalau bimbingannya melanggengkan ketimpangan itu, ia bukan sedang melayani keluarga; ia sedang melayani ketimpangan. Tokoh agama yang bijak akan menolak hal ini. Yang kurang berhati-hati barangkali tidak.
Ketika ada persoalan keselamatan. Bimbingan agama jarang menjadi sumber daya utama yang tepat dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, kontrol yang memaksa, atau ancaman yang nyata. Sebagian tradisi sudah memperbaiki cara menanggapi soal keselamatan; sebagian lagi belum. Dalam situasi keselamatan, pilihan yang tepat biasanya adalah profesional yang terlatih menangani keselamatan, mungkin dengan bimbingan agama di sampingnya, tapi bukan sebagai penggantinya. Di Indonesia, untuk perlindungan perempuan dan anak ada Layanan SAPA 129 dari KemenPPPA (telepon 129, WhatsApp 08111-129-129) dan UPTD PPA di tingkat kabupaten/kota.
Ketika tokohnya terlalu lekat dengan salah satu keluarga. Tokoh yang dekat dengan keluarga besar salah satu orang tua, atau yang punya kepentingan pribadi pada hasil tertentu, tidak bisa memberi bimbingan yang netral. Kelekatan yang biasanya membuat bimbingan agama bernilai justru bisa mengikis kenetralannya.
Ketika percakapan ini dipakai untuk mengganti kerja yang lebih berat. Kadang berkonsultasi dengan tokoh agama menjadi cara menghindari percakapan langsung dengan Co-Parent. Percakapan dengan pemuka agama lebih mudah; percakapan dengan Co-Parent itulah yang sebenarnya dibutuhkan. Bimbingan agama yang baik mengarahkan orang tua kembali ke percakapan yang lebih berat itu; bimbingan agama yang buruk menyerap energi yang seharusnya tertuju ke sana.
Ketika kerangkanya menambah rasa malu, bukan menambah daya. Sebagian pembingkaian keagamaan tentang perpisahan membawa rasa malu yang besar (soal kegagalan, soal tidak memegang janji nikah, soal penilaian komunitas). Di Indonesia, kekhawatiran soal aib keluarga bisa menambah beban ini. Rasa malu bisa melumpuhkan alih-alih menggerakkan. Bimbingan yang tepat mengakui kesulitan tanpa memperbesar rasa malu.
Beberapa prinsip praktis
Kalau kamu memutuskan untuk meminta bimbingan agama atau budaya, ada beberapa prinsip.
Jernihlah tentang apa yang kamu minta. Saya ingin membicarakan apa yang sedang terjadi dan mendengar apa yang dikatakan tradisi soal ini berbeda dari Saya ingin Bapak/Ibu mengatakan kepada Co-Parent saya bahwa dia salah. Kejernihan tentang permintaanmu membantu sang tokoh menanggapi dengan baik.
Datanglah bersama bila bisa. Percakapan bersama dengan bimbingan agama sering berjalan lebih baik daripada percakapan terpisah, karena kedua orang tua mendengar kerangka yang sama dan punya titik acuan bersama setelahnya. Kalau bersama tidak memungkinkan, terpisah pun bisa diterima, tapi hati-hatilah dengan bagaimana tiap percakapan diceritakan kembali.
Jangan meminta atau menerima penilaian hitam-putih. Siapa yang benar? adalah pertanyaan yang keliru untuk bimbingan agama. Bagaimana kami bisa melangkah maju dengan baik, dengan kearifan tradisi ini? adalah pertanyaan yang lebih baik. Tokoh yang menjawab pertanyaan pertama memberimu lebih sedikit daripada tokoh yang sanggup menampung pertanyaan kedua.
Biarkan bimbingan ini berjalan lebih lambat daripada layanan profesional. Tokoh agama sering tidak membuat janji sesi. Percakapannya mungkin terjadi sebentar setelah acara ibadah, atau membentang dalam hubungan yang lebih panjang, atau muncul secara kebetulan. Ritme yang lebih lambat itu adalah bagian dari cara kerjanya.
Hormati pengabdiannya yang lebih luas. Tokoh agama biasanya melayani satu komunitas utuh. Jangan berharap mendapat perhatian mereka secara berlebihan. Bawalah sumbangan kecil (berupa uang, barang, atau tenaga) yang lazim dalam tradisi itu.
Sadari kapan kamu sudah melampaui sumber daya ini untuk kerja yang satu ini. Kadang bimbingan agama tepat sekali pada satu tahap dan menjadi tidak cukup pada tahap yang lain. Menyadari pergeseran itu bukanlah kegagalan sumber dayanya; ia tanda bahwa kerjamu sudah bergerak maju.
Penutup
Percakapan di ruang ibadah itu hampir usai. Sang imam (atau pendeta, atau pemangku, atau rabi) sudah mendengarkan selama lima belas menit tanpa banyak bicara. Di akhir, ia menyampaikan satu pengamatan saja: bukan nasihat, bukan perintah, melainkan sudut pandang yang menempatkan keadaanmu dalam lengkung tradisi yang lebih panjang.
Kamu merasakan sesuatu mengendap dalam dirimu yang tadinya belum mengendap. Yang mengendap itu bukan sebuah penyelesaian. Ia sedikit perluasan kerangka. Keadaan yang sejam lalu terasa tak tertangani kini terasa sebagai bagian dari pola manusia yang lebih luas, yang sudah dilalui keluarga-keluarga selama berabad-abad.
Kamu tidak punya solusi. Kamu punya sesuatu yang lebih baik: rasa tenang bahwa kerja ini bisa dijalani, dalam bentuk yang panjang. Tradisi itu menampungmu; tokoh yang ada di hadapanmu berdiri di dalam penampungan itu.
Kamu berterima kasih. Kamu pamit. Kamu tidak menceritakan apa yang akan kamu lakukan berikutnya, karena ia memang tidak bertanya. Yang diharapkan dalam tradisi ini adalah kamu akan melangkah maju dengan kerangka yang ia berikan, dengan caramu sendiri dan dalam waktumu sendiri. Ia sudah melakukan apa yang dilakukan bimbingan agama saat berada pada wujud terbaiknya: menampung keadaan tanpa berusaha mengendalikan penyelesaiannya.
Pada hari-hari setelahnya, percakapan dengan Co-Parent yang selama ini berat akan, dengan cara yang kecil, terasa sedikit lebih mungkin. Bukan karena ada sesuatu yang spesifik dikatakan. Melainkan karena bentuk kesulitan itu sudah bergeser dalam pikiranmu sendiri.
Inilah yang dilakukan bimbingan agama dan budaya ketika ia berjalan baik. Bukan sebuah solusi. Sebuah bentuk. Bentuk itu mengubah cara kamu memegang kerja ini di tanganmu, dan perubahan itu terbawa ke dalam cara kamu menjalaninya.
Bagi keluarga yang berakar dalam satu tradisi, sumber daya ini nyata dan layak dimanfaatkan. Bagi keluarga yang tidak berakar, sumber daya profesional sekuler mungkin lebih melayani. Mengetahui termasuk yang mana dirimu adalah bagian dari memilih dengan baik.
Kamu berjalan pulang. Senja sudah berubah lebih sejuk. Percakapan berikutnya dengan Co-Parent sudah ada di kalendermu.
Kamu merasa siap untuknya, dengan cara yang tadi sejam lalu belum kamu rasakan.
Itulah hadiah dari bimbingan yang dijalankan dengan baik.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.