Soal terapi
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Soal terapi
Modul 14 · Kehidupan emosi anakmu · Artikel 07 · Wave 3 · untuk semua usia
Satu pagi di akhir pekan. Kamu sudah terjaga sejak sekitar pukul lima. Kamu tidak bisa tidur karena sesuatu yang dikatakan guru anakmu saat pertemuan orang tua hari Jumat lalu. Beliau menyebutkan, dengan lembut, bahwa K terlihat lebih pendiam dari biasanya selama beberapa bulan terakhir. Gurunya tidak menyarankan apa-apa yang spesifik. Beliau cuma memerhatikan.
Kamu sudah membolak-balik komentar itu sejak saat itu. Digabung dengan beberapa hal lain. Tantrum hari Minggu yang belum benar-benar berhenti. Keengganan soal kemah sekolah yang sebentar lagi. Kenyataan bahwa K sudah cukup lama tidak benar-benar membicarakan apa pun yang menyangkut perasaan. Kenyataan bahwa kamu punya teman yang anak perempuannya mulai berkonsultasi dengan psikolog tahun lalu, dan temanmu bilang itu keputusan terbaik yang pernah mereka buat.
Kamu sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi. Pertanyaan yang berputar di kepalamu: sebaiknya K menemui seseorang atau tidak.
Inilah artikel praktis yang lebih panjang, tempat sisa modul ini bermuara. Tentang soal terapi. Kapan itu langkah yang tepat. Bagaimana cara membawanya masuk. Apa yang perlu kamu harapkan. Apa sebenarnya terapi dengan seorang anak itu, dan apa yang bukan. Dan bagaimana mengambil keputusan ini dengan baik.
Prinsip umumnya
Soal terapi sering datang sebagai pilihan biner. Anakku butuh terapi atau tidak. Bingkai biner ini bingkai yang keliru. Bingkai yang lebih berguna adalah sebuah spektrum.
Di satu ujung: anak yang hidupnya berjalan baik dan tidak butuh apa pun selain rumah dan rutinitasnya.
Di ujung yang lain: anak dalam kondisi tertekan secara klinis yang butuh keterlibatan profesional segera.
Di antara kedua ujung itulah sebagian besar anak dari keluarga yang berpisah berada. Sebagian baik-baik saja hampir sepanjang waktu. Sebagian baik-baik saja dengan sesekali masa yang berat. Sebagian memikul hal-hal yang terlihat tapi masih bisa ditangani. Sebagian memikul hal-hal yang mulai tampak lebih dari yang bisa diuraikan di rumah. Keputusan soal terapi bukan ya-atau-tidak; tapi soal di mana posisi anakku di spektrum ini sekarang, dan apakah dukungan profesional akan mengubah sesuatu.
Pembingkaian ulang ini membantu karena ia melepaskan beban yang dibawa pilihan biner tadi. Membawa masuk terapi tidak berarti anakku rusak. Artinya anakku bisa mendapat manfaat dari satu jenis perhatian yang tidak bisa kuberikan sendirian. Itu benar untuk banyak anak di banyak momen. Itu apalagi benar untuk anak yang keluarganya telah melewati perubahan besar.
Kapan terapi mungkin langkah yang tepat
Berikut daftar pola yang tidak lengkap, yang mengarah pada keputusan untuk membawa seseorang masuk.
Sebuah pola dari artikel lain di modul ini atau Modul 13 sudah hadir lebih dari 6 sampai 8 minggu meski kerja di rumah sudah konsisten. Kecemasan, menarik diri, menolak sekolah, agresi, regresi, pola anak-sempurna, pola diam, ketika hal-hal ini tidak bergeser dengan apa yang kamu lakukan di rumah, masukan profesional sering melakukan apa yang rumah sendirian tidak bisa.
Anak punya perasaan tentang dirinya atau tentang dunia yang tidak bisa kamu jangkau. Menyalahkan diri yang tidak mau mereda. Keyakinan bahwa dia rusak atau tidak pantas disayang. Kedataran yang terus-menerus. Rasa bahwa hidup tak bermakna pada anak usia sekolah atau remaja. Keyakinan batin seperti ini kadang butuh suara orang dewasa yang lain, seseorang yang bukan orang tua, untuk mulai melonggar.
Anak telah mengalami satu peristiwa traumatis yang spesifik. Sebuah kehilangan. Sebuah insiden yang menakutkan. Sebuah episode medis yang serius. Sebuah situasi di sekolah. Terapi yang peka-trauma sudah berkembang baik dan bisa diandalkan ketika ditangani sejak dini.
Anak mulai memakai bahasa yang menyiratkan depresi atau keputusasaan. Nggak ada yang seru. Aku nggak ngerti buat apa. Mending aku nggak ada. Pernyataan seperti ini, bahkan kalau diucapkan sambil lalu, layak dibawa ke percakapan klinis. Mungkin anak sedang menempuh perasaan berat yang normal. Mungkin dia sedang memberi sinyal sesuatu yang lebih. Seorang klinisi bisa membedakannya, dan perbedaan itu penting.
Anak menunjukkan tanda menyakiti diri. Sayatan, lebam, mencabuti rambut, mencakar diri, perilaku makan yang disembunyikan, apa pun yang terlihat seperti anak sedang menyakiti dirinya sendiri. Hal-hal ini tidak selalu seperti yang tampak, tapi selalu layak mendapat masukan profesional.
Anak menunjukkan pola di beberapa tempat. Perilaku di rumah ditambah perilaku di sekolah ditambah perilaku di rumah Co-Parent. Pola yang muncul di banyak tempat adalah sinyal yang lebih kuat daripada pola yang hanya muncul di rumah. Seorang klinisi bisa membantu memetakan apa yang sedang terjadi.
Co-Parent atau orang dewasa dekat lainnya sudah menyuarakan kekhawatiran. Orang dewasa kedua yang mengenal anak dengan baik, yang mengangkat sebuah kekhawatiran, adalah informasi yang patut diambil serius. Mereka membaca anak dari sudut yang berbeda darimu.
Kamu punya firasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Naluri orang tua, dalam hal ini, cukup bisa diandalkan. Kalau kamu sudah lama membawa perasaan kayaknya kita butuh bantuan untuk hal ini, perasaan itu biasanya layak ditindaklanjuti.
Rumah sudah melakukan yang ia bisa dan kamu merasa kehabisan langkah. Sebagian pola tidak bisa diselesaikan di tingkat rumah. Mengakui bahwa kamu kehabisan langkah bukan kegagalan; itu pembacaan yang akurat. Langkah berikutnya yang tepat adalah membawa masuk seseorang yang langkahnya berbeda dari langkahmu.
Sebuah perubahan keluarga di masa lalu sedang menimbulkan kesulitan yang berkepanjangan. Perpisahan itu, sebuah kematian, sebuah perpindahan besar, perkenalan dengan pasangan baru, ketika kesulitan di seputar sebuah perubahan keluarga berlanjut melampaui rentang waktu yang digambarkan artikel-artikel lain di modul ini, dukungan profesional sering kali yang mengubah arah perjalanannya.
Kamu tidak perlu sebagian besar hal ini benar. Dua atau tiga biasanya cukup untuk menjadikan terapi langkah yang tepat. Asesmen seorang klinisi, sekalipun pada akhirnya terapi tidak direkomendasikan, memberimu informasi yang sulit kamu dapatkan dengan cara lain.
Kapan terapi mungkin belum mendesak
Sama pentingnya: kapan kerja di rumah sudah cukup, dan membawa masuk seorang terapis justru bisa membuat keadaan lebih rumit ketimbang membantu.
Satu masa berat yang tunggal dalam alur yang sebenarnya stabil. Anak yang baru melewati sebulan yang berat setelah sebuah peristiwa yang bisa dikenali, tapi yang arah keseluruhannya baik, sering kali tidak butuh terapi. Masa berat itu adalah sistem yang sedang memproses, bukan yang sedang patah.
Sebuah fase perkembangan tertentu yang sedang dilewati anak. Sebagian pola memang sesuai dengan tahap usianya. Pertanyaan anak lima tahun soal kematian, kecemasan anak delapan tahun saat jauh dari rumah, kemarahan anak sebelas tahun atas segala hal, sikap remaja yang menarik diri. Hal-hal ini bisa terlihat mengkhawatirkan dan sering reda begitu fasenya berlalu.
Tanda-tanda ringan dalam kehidupan yang normal. Sedikit rasa takut menjelang tidur, seminggu yang lebih sunyi, keengganan soal satu acara tertentu. Latar ringan dari masa kanak-kanak yang normal tidak memerlukan keterlibatan profesional.
Firasatmu mengatakan anak baik-baik saja. Sama seperti firasat ke arah sebaliknya itu penting, begitu juga yang ini. Kalau seluruh pembacaanmu menunjukkan anak sedang melewati perubahan keluarga itu dengan daya tahan yang biasa, percayalah pada pembacaan itu. Kamu bisa meninjau ulang pertanyaan ini nanti kalau ada sesuatu yang berubah.
Dalam keadaan-keadaan ini, terapi bukan langkah yang salah, ia hampir selalu mendatangkan sedikit kebaikan, tapi ia tidak perlu, dan membawanya masuk saat ia tidak dibutuhkan kadang bisa mengubah sebuah fase biasa menjadi topik kekhawatiran profesional, yang bukan hal yang kamu inginkan.
Cara membawanya masuk dengan baik
Ketika kamu sudah memutuskan terapi adalah langkah yang tepat, cara membawanya masuk itu penting.
Mulai dari dokter anakmu. Dokter spesialis anak atau dokter keluarga bisa menyingkirkan penyebab fisik dari apa yang kamu lihat, bisa memberimu pembacaan atas gambaran keseluruhan, dan bisa merujuk ke psikolog anak yang mereka percaya. Di Indonesia, kamu juga bisa mulai dari Puskesmas atau dokter keluargamu. Rujukan dari dokter sering menghasilkan jalur yang lebih cepat menuju klinisi yang baik dibanding mulai dari nol. Guru BK di sekolah anakmu juga bisa jadi titik awal yang berguna kalau polanya muncul di sekolah, karena beliau sudah mengamati anakmu hampir setiap hari.
Cari terapis yang khusus menangani anak dan masa peralihan keluarga. Tidak semua terapis yang bekerja dengan orang dewasa cocok untuk anak. Tidak semua terapis anak punya pengalaman dengan perpisahan, keluarga gabungan, atau pola yang didorong oleh kelekatan. Klinisi yang tepat akan pernah membaca soal hal-hal yang kamu khawatirkan. Di Indonesia, psikolog klinis tergabung dalam HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) dan berpraktik dengan Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP), jadi tidak ada salahnya menanyakan izin praktik dan pendekatan mereka saat kamu pertama kali menghubungi. Untuk kasus yang melibatkan obat atau diagnosis yang lebih kompleks, dokter spesialis kedokteran jiwa anak dan remaja adalah klinisi yang sesuai.
Bersiaplah bahwa beberapa sesi pertama adalah asesmen, bukan penanganan. Terapis anak yang baik menghabiskan dua atau tiga sesi pertama untuk mengenal anak, mengamati, membangun kedekatan. Penanganan yang sebenarnya baru dimulai setelah gambarannya jelas. Jangan berharap hasil di minggu pertama.
Beri tahu anak dengan bahasa yang sesuai usianya. Bukan sebagai hukuman, bukan sebagai perbaikan. Sebagai sebuah tambahan. Bunda menemukan seseorang yang pandai membantu anak-anak bicara soal perasaan. Kita akan ke sana dan lihat kamu suka atau nggak. Dia bukan dokter dan kamu nggak sakit. Banyak anak menemui orang seperti ini. Itu tempat untuk ngobrol yang khusus buat kamu sendiri.
Untuk anak yang lebih kecil, bahasanya lebih sederhana. Kita akan ketemu seseorang yang main dan ngobrol sama anak-anak. Mau coba? Bingkainya sebaiknya santai dan tanpa tekanan. Ruang terapi bukan tempat di mana ada sesuatu yang tidak beres; ia tempat di mana hal-hal bisa terucap.
Libatkan Co-Parent. Terapis yang bekerja dengan anak biasanya ingin kedua orang tua sepaham soal anak menemui seseorang. Bahkan ketika hubungan co-parenting sedang tegang, percakapan ini layak diadakan sebelum janji temu pertama. Aku sudah lama mikir K mungkin butuh seseorang untuk diajak ngobrol soal semuanya. Aku sudah menemukan orang yang tepat. Aku mau kasih tahu kamu. Kalau Co-Parent mendukung, terapinya berjalan lebih baik. Kalau tidak, percakapan itu tetap harus diadakan, dan keadaan ini bergeser ke wilayah Modul 17.
Biarkan anak punya privasi di dalam ruang itu. Terapi dengan anak melibatkan sebuah ruang yang rahasia. Kamu tidak akan, dan memang tidak seharusnya, mendapat laporan tentang apa yang anakmu katakan dalam sesi. Terapis akan berhubungan denganmu sesekali, akan memberi tahu kalau ada sesuatu yang memerlukan tindakan orang tua, akan memberimu tema-tema umum. Rinciannya adalah milik anakmu. Privasi itu bagian dari apa yang membuat ruang itu bekerja.
Jangan menginterogasi mereka selepas sesi. Gimana tadi? Ngomongin apa? Kamu cerita soal Ayah nggak? Interogasi semacam itu mengubah sesi menjadi topik untuk diproses orang tua. Anak akan menutup diri. Sambut mereka selepas sesi seperti cara kamu menyambut mereka selepas kegiatan apa pun yang lain. Hai. Sesinya enak? Mau cemilan? Sesi itu milik mereka.
Apa sebenarnya terapi itu, dengan seorang anak
Terapi dengan anak tidak terlihat seperti terapi dengan orang dewasa. Sedikit orientasi, karena orang tua kadang punya harapan yang keliru.
Dengan anak yang lebih kecil (4 sampai 8 tahun), terapi sering terlihat seperti bermain. Terapis bermain dengan anak, memakai boneka, menggambar, pasir, menyusun cerita, bermain peran. Permainan itu bukan rekreasi. Ia saluran tempat anak mengungkapkan apa yang belum bisa dia ucapkan dengan kata-kata. Terapis membaca apa yang sedang keluar dan bekerja dengannya. Seorang orang tua yang masuk ke ruang terapi dan melihat anaknya sedang menggambar rumah bersama terapisnya mungkin bertanya-tanya ini gunanya buat apa. Gunanya, sering kali, sangat banyak.
Dengan anak usia sekolah (8 sampai 12 tahun), terapi adalah campuran. Ada yang berupa bicara. Ada yang bermain. Ada latihan yang terstruktur. Ada seni. Terapis menemui anak di titik mereka berada. Anak mungkin memunculkan isi emosi yang sungguhan di sebagian sesi dan terlihat menghabiskan sesi lain tanpa melakukan apa pun yang khusus. Keduanya bagian dari kerjanya.
Dengan remaja (13 sampai 17 tahun), terapi lebih terlihat seperti terapi orang dewasa. Kebanyakan berupa bicara, kadang dengan latihan terstruktur, kadang dengan tambahan pesan teks atau tugas di antara sesi. Remaja biasanya punya lebih banyak kendali atas apa yang dibahas. Terapinya berjalan mengikuti waktu remaja, bukan waktu orang tua.
Kerjanya biasanya lebih lambat dari yang diharapkan orang tua. Enam sesi tidak menyelesaikannya. Enam bulan sesi mingguan mungkin mulai bisa. Kerja jangka panjang dengan anak sering menghasilkan dampak yang muncul di masa dewasa mereka, bukan di masa kecil mereka. Terapi itu sebuah investasi untuk seluruh kehidupan anak, bukan satu intervensi untuk satu gejala yang spesifik.
Saat Co-Parent tidak setuju
Sebuah situasi spesifik yang sering terjadi. Kamu merasa anak sebaiknya menemui terapis. Co-Parent tidak merasa begitu.
Ketidaksepakatan itu bisa soal biaya, soal pandangan (sebagian Co-Parent skeptis terhadap terapi secara umum), soal penyangkalan (Co-Parent tidak melihat pola yang kamu lihat), soal kendali (Co-Parent tidak ingin ada klinisi yang punya pandangan ke dalam keluarga), atau soal hal teknis (Co-Parent menginginkan terapis yang berbeda).
Apa yang kamu lakukan:
Usahakan mengadakan percakapan itu dengan tenang. Aku sudah melihat beberapa hal yang aku khawatirkan. Aku ingin K bisa ngobrol dengan seseorang. Ini yang aku perhatikan. Hal yang spesifik, bukan yang umum. Co-Parent mungkin punya pembacaan yang berbeda atas bukti yang sama, atau mereka mungkin punya informasi baru yang mengubah gambaranmu.
Dengarkan kekhawatiran yang tulus. Co-Parent yang ragu mungkin benar soal sesuatu. Mereka mungkin tahu hal yang kamu tidak tahu. Mereka mungkin punya kekhawatiran yang masuk akal soal terapis tertentu yang kamu pilih.
Kalau ketidaksepakatan itu berlanjut, lihat kerangka hukumnya. Di Indonesia, selama kedua orang tua sama-sama memegang hak asuh, keputusan penting soal kesehatan anak idealnya diambil bersama, tapi salah satu orang tua umumnya tetap bisa membawa anak untuk sebuah asesmen awal dengan seorang klinisi, sementara terapi yang berkelanjutan sebaiknya dengan persetujuan keduanya. Kalau hak asuh sudah ditetapkan lewat putusan Pengadilan, periksa kembali bunyi putusan itu sebelum berasumsi. Sering kali, sebuah asesmen awal dengan seorang klinisi bisa dilakukan oleh satu pihak lebih dulu, lalu pembacaan klinisi itu tentang anak bisa menjadi landasan untuk percakapan kedua dengan Co-Parent.
Jangan jadikan anak sebagai pembawa pesan. Bilang ke Ayah kita mau ketemu seseorang menempatkan anak di tengah-tengah. Komunikasi antarorang dewasa tetap menjadi urusan orang dewasa.
Bawa masuk seorang mediator kalau perlu. Ketidaksepakatan soal perawatan klinis seorang anak adalah kasus untuk mediasi, bukan untuk tindakan sepihak. Modul 09 membahas mediasi. Seorang mediator bisa membantu menyelesaikan ketidaksepakatan itu dengan cara yang melindungi anak agar tidak menjadi objek yang diperebutkan dalam tarik-menarik kalian.
Dokumentasikan, dengan tenang, kalau-kalau eskalasi diperlukan. Kalau Co-Parent menolak terapi yang, dalam pembacaanmu, benar-benar dibutuhkan, dan ketidaksepakatan itu tidak bisa diselesaikan, jalur hukum mungkin pada akhirnya jadi satu-satunya jalur. Dalam kasus itu, catatan tentang apa yang sudah kamu amati, apa yang sudah kamu sampaikan, dan bagaimana kamu menanggapinya, akan berguna. Jangan memulai dari sini, tapi bersiaplah untuknya kalau memang datang.
Saat anak tidak mau pergi
Sebagian anak menolak janji temu pertama. Sebagian terus menolak setelah itu.
Keengganan di awal adalah hal yang normal. Sebagian besar anak, kalau diminta pergi ke tempat baru untuk bicara dengan orang dewasa baru soal perasaan yang berat, lebih memilih untuk tidak pergi. Keengganan itu bukan vonis atas apakah mereka butuh terapi atau tidak.
Pegang pendirian dengan lembut untuk tiga atau empat sesi pertama. Beri tahu anak bahwa kamu paham ini berat, bahwa mereka tidak harus membicarakan apa pun yang tidak mereka inginkan, tapi bahwa janji temu itu tetap berjalan untuk sekarang dan kalian bisa meninjaunya ulang setelah beberapa minggu. Menjelang sesi keempat atau kelima, sebagian besar anak entah sudah membangun kedekatan dengan terapis (dan keengganan itu pun memudar) atau punya pendirian yang lebih jelas tentang kenapa ia tidak berhasil.
Dengarkan penolakan yang berkepanjangan. Anak yang, setelah beberapa minggu, masih aktif tertekan oleh terapinya tidak sedang melakukan kerjanya. Terapis yang salah, metode yang salah, momen yang salah dalam kehidupan anak. Bicaralah dengan terapisnya. Pertimbangkan untuk berganti. Pertimbangkan untuk berhenti sejenak.
Jangan jadikan terapi sebagai hukuman. Kamu harus terus pergi gara-gara kelakuanmu minggu ini bukan bingkainya. Terapi adalah tempat di mana hal-hal terucap dan dikerjakan. Mengaitkannya dengan konsekuensi atas perilaku akan merusak kerjanya.
Penutup
Pagi Sabtu itu, kopi itu, meja makan itu. Kamu sudah memutuskan, setelah memikirkannya, bahwa K sebaiknya menemui seseorang. Kamu sudah memutuskan untuk memulai dengan menelepon dokter keluarga hari Senin dan menanyakan siapa yang akan mereka rekomendasikan. Kamu sudah memutuskan untuk belum mengatakan apa pun pada K sampai kamu punya nama yang spesifik dan rencana yang spesifik.
Kamu menghabiskan kopinya. Kamu naik ke atas. K sudah bangun, di kasurnya, sedang membaca. Kamu duduk di tepi kasur sebentar. Kamu tidak berkata apa-apa soal terapi. Kamu bertanya dia sedang membaca apa. Dia memberitahumu.
Dalam beberapa minggu, sesi pertama akan berlangsung. K mungkin menolak. Dia mungkin pergi dengan rela. Sesi-sesi pertama mungkin tidak menghasilkan apa pun yang terlihat. Selama berbulan-bulan, hal-hal mungkin mulai bergeser. Atau terapi mungkin bukan langkah yang tepat, dan asesmennya akan memberitahumu begitu. Apa pun hasilnya, kamu sudah memperlakukan pertanyaan itu dengan serius.
Jauh dari sekarang, saat anakmu sudah dewasa, dia akan ingat atau tidak ingat soal terapi itu. Yang akan dia miliki adalah salah satu dari dua memori: memori tentang orang tua yang, ketika ada sesuatu yang tidak beres, membawa masuk bantuan; atau memori tentang orang tua yang membiarkan ketidakberesan itu apa adanya. Yang pertama adalah memori yang ingin kamu berikan kepadanya. Kamu sedang memberikannya dengan bertindak atas pertanyaan itu alih-alih membiarkannya terus tergeletak di atas meja makan tanpa kesudahan.
Rumah bertahan. Kadang rumah bertahan dengan menambahkan orang ke dalamnya. Terapis itu menjadi salah satu orang yang ikut menopang rumah itu. Topangannya menjadi lebih kuat.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.