Apa yang sedang dikatakan perilaku anakmu
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Apa yang sedang dikatakan perilaku anakmu
Modul 13 · Perilaku & regulasi emosi · Artikel 16 · Wave 3 · untuk semua usia
Sepanjang modul ini, gagasan yang sama terus muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Anak yang marah, anak yang menarik diri, anak yang mundur ke tahap perkembangan sebelumnya, anak yang tampak sempurna, anak yang berbohong, anak yang agresif, anak yang ketakutan. Setiap perilaku, sebeda apa pun di permukaan, sebenarnya adalah pesan tentang sesuatu yang ada di bawahnya. Artikel penutup ini menyebut gagasan itu secara langsung, karena begitu kamu memegangnya, kamu punya satu kunci yang berfungsi bahkan untuk perilaku yang tidak pernah dibahas modul ini sekalipun.
Kuncinya begini. Perilaku adalah komunikasi. Perilaku anak, terutama anak kecil, jarang sekali menjadi masalah yang sebenarnya, dan hampir selalu merupakan isyarat tentang keadaan batin yang belum bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Perilaku itu asap. Perasaan di bawahnya itulah apinya. Dan orang tua yang belajar membaca asap itu, bukan sekadar berusaha memadamkannya, bisa merawat apinya, dan itulah satu-satunya hal yang sungguh-sungguh mengubah perilaku secara permanen.
Kenapa perilaku adalah komunikasi
Anak, terutama di tahun-tahun yang dibahas modul ini, belum punya perangkat mental atau perbendaharaan kata untuk mengenali sebuah perasaan yang rumit, memahami penyebabnya, lalu menceritakannya kepadamu dengan kata-kata. Kemampuan untuk itu masih dalam tahap berkembang, dan ia berkembang belakangan. Jadi ketika anak sedang memikul sesuatu yang besar, duka, ketakutan, rasa tidak berdaya, kecemasan, rasa kewalahan, perasaan itu tidak bisa keluar sebagai pernyataan yang jelas. Ia keluar dari samping, lewat perilaku.
Kemarahan, penarikan diri, kemunduran, perfeksionisme, kebohongan, agresi, ketakutan malam hari, semuanya, pada akarnya, adalah anak yang sedang mengatakan sesuatu yang tidak bisa dia katakan secara langsung. Aku kewalahan. Aku takut. Aku kangen keadaan dulu. Aku merasa nggak terkendali. Aku lagi berusaha menjaga kita tetap aman. Aku nggak merasa aman buat jujur. Aku takut kehilangan kamu juga. Perilaku adalah satu-satunya bahasa yang tersedia untuk perasaan yang belum bisa anak namai. Dibaca secara harfiah, sebagai kenakalan belaka, ia tidak masuk akal dan mengundang respons yang sama sekali meleset. Dibaca sebagai komunikasi, ia menjadi terbaca, dan respons yang tepat pun muncul di depan mata.
Pembingkaian ulang inilah hal yang paling berguna dalam modul ini, karena ia berlaku jauh melampaui perilaku-perilaku tertentu yang dibahas di sini. Perilaku apa pun yang membingungkan, mendadak, kuat, atau di luar kebiasaan, bisa didekati dengan pertanyaan yang sama. Bukan sekadar bagaimana cara menghentikan ini? tapi apa yang sedang dikatakan ini kepadaku? Apa perasaan di bawahnya? Pertanyaan itulah kunci utamanya.
Keterampilan menerjemahkan
Membaca perilaku sebagai komunikasi adalah sebuah keterampilan, dan ia makin terasah dengan latihan. Intinya adalah satu kebiasaan berpikir: ketika sebuah perilaku muncul, kamu berhenti sejenak sebelum bereaksi, lalu bertanya apa yang mungkin sedang ia komunikasikan.
Ada beberapa hal yang membantu dalam menerjemahkan. Perhatikan waktu dan konteksnya. Perilaku yang memuncak di sekitar momen serah-terima, menjelang tidur, setelah bertemu dengan rumah yang satu lagi, di saat-saat berpisah, sering kali sedang mengomunikasikan sesuatu tentang momen-momen tertentu itu, soal peralihannya, ketakutan ditinggalkan, perasaan siang hari yang baru muncul di malam hari. Kapan-nya sering kali menunjuk ke apa-nya.
Perhatikan apa yang berubah. Perilaku yang baru atau yang menjadi lebih kuat biasanya menjejak sesuatu, perubahan dalam jadwal, tekanan di sekolah, pergeseran di salah satu rumah, hari peringatan yang sebentar lagi datang. Perilaku sering kali adalah respons terhadap sesuatu, dan menemukan sesuatu itu memberitahumu apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Perhatikan apa yang ada di balik emosi yang tampak jelas. Kemarahan sering kali adalah duka atau ketakutan yang mengenakan baju zirah. Perfeksionisme sering kali adalah kecemasan. Penarikan diri sering kali adalah rasa kewalahan. Emosi di permukaan kerap merupakan terjemahan yang lebih bisa ditanggung dari perasaan yang lebih berat di bawahnya. Bertanya apa yang mungkin sedang ditutupi oleh perasaan di permukaan sering kali membawamu lebih dekat ke apinya.
Dan gunakan apa yang sudah kamu ketahui tentang anakmu sendiri. Kamu mengenal pola-polanya, riwayatnya, cara khasnya menunjukkan tekanan. Perilaku yang sama bisa berarti hal yang berbeda pada anak yang berbeda, dan pengetahuanmu tentang anakmu sendiri adalah bagian dari terjemahan itu. Seiring waktu, kamu membangun semacam kefasihan dalam bahasa perilaku anakmu sendiri, dan terjemahannya pun menjadi lebih cepat dan lebih tepat.
Koneksi sebelum koreksi
Kalau perilaku adalah komunikasi, maka respons terhadap perilaku yang sulit harus mencakup respons terhadap apa yang sedang dikomunikasikan, bukan hanya terhadap perilakunya itu sendiri. Inilah benang merah yang menjalin seluruh modul ini, yang kadang disebut koneksi sebelum koreksi.
Artinya, sebelum kamu menangani perilakunya, kamu menangani anaknya dulu beserta perasaan di bawahnya. Kamu menemani anak yang sedang kebanjiran emosi untuk menenang bersama sebelum kamu mengajari. Kamu memenuhi kebutuhan anak yang mundur akan rasa aman sebelum kamu mencemaskan keterampilan yang hilang. Kamu membuat kejujuran terasa aman sebelum kamu menangani kebohongannya. Kamu merawat ketakutannya sebelum kamu menghadapi penolakannya untuk tidur. Dalam setiap kasus, koneksinya, perawatan perasaan yang ada di bawah itu, datang lebih dulu, dan koreksinya, kalaupun koreksi memang diperlukan, datang belakangan, begitu anak sudah teregulasi dan perasaannya sudah terpenuhi.
Ini bukan sikap serba membolehkan. Batasan tetap penting, terutama ketika perilaku menyebabkan bahaya, seperti yang dijelaskan oleh artikel tentang agresi. Koneksi sebelum koreksi bukan berarti tidak ada koreksi sama sekali. Artinya, koreksi yang ditumpukkan di atas perasaan yang belum terpenuhi tidak akan berhasil, karena perasaan itu terus saja mendorong perilakunya. Rawat dulu perasaannya, dan koreksinya baru bisa benar-benar mendarat, atau sering kali malah jadi tidak perlu karena perilakunya mereda begitu penyebabnya ditangani. Anak yang perasaan di bawahnya sudah terpenuhi jauh lebih sedikit memerlukan cara untuk mengomunikasikannya lewat perilaku.
Ini menata ulang respons naluriah kita. Naluri, saat berhadapan dengan perilaku yang sulit, adalah langsung menuju koreksi, untuk menghentikannya, memberikan konsekuensi, membereskannya. Koneksi sebelum koreksi memintamu untuk lebih dulu menuju anaknya, ke perasaannya, ke koneksinya, dan mempercayai bahwa merawat api lebih bermakna daripada mengejar asap. Ini disiplin yang lebih sulit, dan inilah yang sungguh-sungguh mengubah keadaan.
Kapan membacanya dan kapan mencari bantuan
Membaca perilaku sebagai komunikasi adalah keterampilan sehari-hari, dan ia menangani sebagian besar dari apa yang akan ditunjukkan anak yang sedang melalui sebuah perpisahan. Perilaku-perilaku dalam modul ini, dalam mayoritas besar kasus, adalah respons yang wajar terhadap perubahan yang sulit, mengomunikasikan perasaan yang mereda seiring anak menyesuaikan diri dan seiring perasaan di bawahnya terpenuhi lewat pengasuhan yang stabil dan penuh koneksi.
Tapi bagian dari membaca perilaku dengan baik adalah mengenali kapan ia sedang mengomunikasikan sesuatu yang melampaui apa yang bisa diselesaikan oleh pengasuhanmu sendiri. Perilaku yang parah, yang menetap atau memburuk dalam waktu lama tanpa mereda, yang secara nyata mengganggu fungsi anak, yang melibatkan bahaya sungguhan terhadap diri sendiri atau orang lain, atau yang sekadar meninggalkan rasa tak henti dalam dirimu bahwa ada sesuatu yang lebih tidak beres daripada biasanya, sedang mengomunikasikan kebutuhan akan bantuan yang lebih. Itu bukan kegagalan bacaanmu; itu justru bacaan yang berhasil, yang menunjuk ke dukungan profesional. Artikel tentang kecemasan dan terapi, serta modul kebutuhan khusus, membahas langkah-langkah berikutnya itu. Mencari bantuan ketika perilaku sedang memberitahumu bahwa bantuan itu diperlukan justru merupakan salah satu bentuk membacanya dengan benar.
Tapi sebagian besar waktu, pesannya lebih biasa dan lebih lembut ketimbang mengkhawatirkan. Seorang anak yang memikul lebih dari yang bisa dia namai, mengomunikasikannya dengan satu-satunya cara yang dia mampu, dan membutuhkan orang tua yang membaca pesan itu lalu merawat apa yang ada di bawahnya. Orang tua itu, yang belajar menerjemahkan, sedang memberi anaknya sesuatu yang mendalam: pengalaman dipahami bahkan ketika dia tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri, yang merupakan salah satu bentuk paling dalam dari rasa disayangi.
Penutup
Perilaku adalah komunikasi. Perilaku sulit anak, terutama di tahun-tahun ini, jarang sekali menjadi masalah yang sebenarnya dan hampir selalu merupakan isyarat tentang perasaan di bawahnya yang belum bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, asap yang menunjuk ke api. Membacanya adalah keterampilan yang dibangun di atas perhatian pada waktu, pada apa yang berubah, pada apa yang mungkin sedang ditutupi oleh emosi di permukaan, dan pada pengetahuanmu tentang anakmu sendiri. Respons yang berhasil adalah koneksi sebelum koreksi, merawat dulu perasaan yang ada di bawah, karena koreksi yang ditumpukkan di atas perasaan yang belum terpenuhi tidak akan bertahan. Dan membaca perilaku dengan baik termasuk mengenali kapan ia sedang memberitahumu bahwa bantuan yang lebih memang diperlukan.
Perilaku anakmu adalah bahasanya sebelum dia punya kata-kata. Belajarlah menerjemahkannya, rawatlah apa yang sedang ia katakan kepadamu, dan anakmu pun bisa merasa dipahami tepat di usia saat dia paling membutuhkannya dan paling tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri.
Perilaku itu asap. Rawat api di bawahnya, dan kamu melakukan lebih dari sekadar menghentikan asap, kamu membuat anakmu merasa dipahami saat dia belum bisa menemukan kata-katanya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.