Kenapa anakmu berulah
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Kenapa anakmu berulah
Modul 13 · Tingkah laku & regulasi emosi · Artikel 01 · Wave 1 · usia 4-12 · cornerstone
Minggu sore. Anakmu yang berumur enam tahun baru saja tantrum di ayunan, di depan orang tua yang lain. Dia melempar balok kayu ke anak lain. Dia memanggilmu dengan sebutan yang belum pernah dia pakai sebelumnya. Sekarang dia terbaring di rumput, wajahnya tersembunyi di lipatan lengan, menangis sampai ke titik di mana napasnya tersendat-sendat.
Kamu berdiri kira-kira satu meter darinya. Kamu sadar orang tua yang lain sedang memperhatikan. Kamu sadar ada delapan versi dirimu yang berbeda yang bisa kamu jadi pada saat ini. Versi yang tegas, versi yang lembut, versi yang malu, versi yang masuk lagi ke mobil dan pulang. Tidak ada satu pun yang terasa pas.
Yang tidak kamu sadari, di tengah semua itu, adalah bahwa tantrum ini bukan soal ayunan. Tantrum ini bukan soal anak yang satu lagi. Tantrum ini adalah anakmu yang berusaha memberitahumu sesuatu yang tidak bisa dia sampaikan lewat kata-kata.
Artikel ini soal itu. Tingkah laku yang muncul tanpa sebab yang jelas. Ulah yang tidak sebanding dengan pemicunya. Tantrum, menarik diri, marah yang tiba-tiba, kemunduran. Apa sebenarnya itu, apa bukan, dan bagaimana cara membacanya.
Tingkah laku adalah komunikasi
Korteks prefrontal anak enam tahun belum terbentuk. Ia belum akan terbentuk sampai bertahun-tahun ke depan. Bagian otak yang memungkinkan orang dewasa menamai apa yang mereka rasakan, lalu memilih apa yang akan dilakukan dengan perasaan itu, belum aktif pada anakmu seperti ia aktif padamu.
Apa artinya ini dalam praktik. Saat seorang anak merasakan sesuatu yang besar (cemas, takut, sedih, kewalahan, marah, bingung, berduka), dia tidak selalu bisa menjangkau perasaan itu, mengenalinya, lalu menghasilkan kalimat aku sedang merasa X. Terutama di bawah enam tahun. Sering kali jauh setelah usia itu pun.
Jadi perasaan itu harus pergi ke suatu tempat. Ia tidak bisa masuk ke kata-kata karena kata-katanya belum ada. Ia tidak bisa didiamkan dengan tenang karena sistem regulasinya belum terbentuk. Ia harus keluar dengan cara lain. Dan ia keluar sebagai tingkah laku.
Balok di ayunan itu adalah satu-satunya bahasa yang anakmu punya, di usia enam tahun, pada suatu Minggu sore, untuk apa pun yang sudah dia pikul selama tiga jam terakhir. Atau tiga hari. Atau tiga bulan.
Inilah tingkah laku itu sebenarnya. Tingkah laku adalah informasi. Tingkah laku adalah anak yang sedang memberitahumu sesuatu. Tugasnya bukan menghukum pesannya. Tugasnya membaca pesan itu.
Apa yang biasanya ada di bawah permukaan
Saat tingkah laku tidak sebanding dengan pemicunya, ada sesuatu di bawahnya. Dari ribuan interaksi antara anak dan orang tua, ada beberapa hal yang muncul berulang kali.
Peralihan. Minggu sore, jam serah-terima, pulang dari sekolah, saat masuk ke mobil. Sistem saraf anak butuh waktu lebih lama daripada orang dewasa untuk berpindah antar konteks. Apa yang terlihat seperti berulah saat serah-terima sering kali adalah tubuh anak yang sedang mencoba mengelola sebuah peralihan yang tidak dia punya kata-katanya. Tantrum Minggu sore hampir selalu soal Minggu sore itu sendiri, bukan soal orang tua yang ada di depannya.
Lelah, lapar, sakit yang mau datang. Tiga hal yang membosankan ini. Anak yang belum makan, yang kurang tidur, atau yang sedang mau jatuh sakit secara fisik akan mengeluarkan tingkah laku yang tampak seperti cacat watak padahal sebenarnya masalah tubuh. Hal pertama yang harus disingkirkan, sebelum membaca tingkah laku untuk makna emosi, adalah kondisi dasar fisiknya.
Sesuatu yang terjadi tadi hari ini. Hari sekolah yang lebih berat daripada yang dia ceritakan. Teman yang mengatakan sesuatu. Kekecewaan yang tidak dia sebut. Anak membawa peristiwa hari mereka di dalam tubuh mereka, sering kali selama berjam-jam, lalu melepaskannya pada saat aman yang pertama. Saat aman itu biasanya kamu, di dapurmu, jam lima sore.
Sesuatu yang sudah lama terbangun selama berminggu-minggu. Penumpukan yang perlahan. Adik baru di rumah yang satu lagi, guru yang tidak dia sukai, pindah sekolah, pola pertemanan, kesadaran yang berangsur-angsur bahwa keluarga yang dia punya bukan keluarga yang dia ingat. Hal-hal ini terbangun perlahan, dan melepaskan dirinya tiba-tiba. Tantrum Selasa sore soal sepatah kaus kaki kadang memang soal kaus kaki itu. Lebih sering ia soal tujuh minggu penumpukan, dan kaus kaki itu kebetulan jadi tetes terakhirnya.
Hal yang belum bisa dia namai. Duka, kecemasan, kebingungan identitas, ketakutan akan sesuatu yang tidak dia punya kata-katanya. Modul 14 Artikel 01 (Anakmu juga sedang berduka) membahas seperti apa duka terlihat pada anak. Yang penting di sini adalah bahwa hal yang tak terucap harus keluar di suatu tempat, dan tingkah laku adalah tempat yang paling lazim.
Kamu tidak akan selalu tahu yang mana di antara semua ini. Sering kali kamu tidak akan pernah tahu. Itu tidak apa-apa. Membacanya lebih penting daripada mendiagnosisnya.
Apa artinya ini untuk apa yang kamu lakukan
Kalau tingkah laku adalah informasi, maka respons terhadap tingkah laku bukanlah terutama soal mengoreksi tingkah lakunya. Ia soal menerima informasi itu dan menyambut apa yang ada di bawahnya.
Ini tidak sama dengan membiarkan tingkah laku berlalu tanpa respons. Balok yang dilempar ke anak lain ada konsekuensinya. Membentak orang tua ada batasannya. Tingkah laku itu sendiri bisa ditangani dengan jelas. Yang berubah adalah apa yang kamu lakukan bersamaan dengan respons terhadap tingkah laku itu.
Seperti apa itu:
Langkah pertama adalah regulasi. Anak yang sudah kehilangan regulasi tidak bisa belajar dari konsekuensi. Hal pertama bukanlah ceramah. Ia adalah kembali ke kondisi dasar. Memeluk, bernapas, pindah ke tempat yang lebih tenang, menurunkan tingkat rangsangan. Tangani tingkah lakunya setelah anak bisa mendengarnya, bukan saat dia masih lepas kendali.
Tangani tingkah laku tanpa menyusun naskah penjelasannya. Kita tidak melempar balok ke orang adalah pesan tingkah laku. Coba ceritakan ke Bunda apa yang terjadi adalah langkah membaca informasi. Kamu bisa melakukan keduanya. Keduanya terpisah. Jangan menyatukannya dengan berkata kita tidak melempar balok karena kamu lagi kesal. Kalimat pertama adalah aturan. Kalimat kedua membaca informasi.
Jangan menjadikan bacaan itu khotbah moral. Saat kamu membaca informasi itu, kamu sedang berusaha memahami apa yang anakmu komunikasikan. Bacaan itu bukan vonis. Kamu capek dan itu yang bikin susah buat di taman itu membaca. Kamu jadi begini karena kamu dimanja di rumahmu yang satu lagi itu khotbah moral yang menyamar sebagai membaca. Yang pertama membantu. Yang kedua merusak.
Tetap penasaran soal apa yang ada di bawah, bahkan saat tingkah lakunya berat. Anak yang menjerit AKU BENCI BUNDA menjelang tidur biasanya bukan sedang mengomunikasikan aku benci Bunda. Dia sedang mengomunikasikan ada sesuatu yang nggak tertahankan dan Bunda orang yang aman buat tempat melampiaskannya. Jadi orang yang aman tidak selalu terasa nyaman. Itu juga tanda kelekatan yang sedang bekerja, bukan tanda kelekatan yang gagal.
Perhatikan pola dalam hitungan minggu, bukan dalam hitungan sore. Sebagian besar kejadian tingkah laku secara satuan hanyalah derau. Polanya adalah sinyal. Satu tantrum hari Selasa adalah data. Tantrum hari Selasa empat minggu berturut-turut adalah pola yang sedang menunjuk pada sesuatu. Catat secara longgar, di dalam kepalamu, apa yang terjadi dan kapan. Informasi itu lama-lama membentuk sebuah gambaran.
Saat tingkah laku lebih dari sekadar komunikasi
Sebagian besar waktu, apa yang terlihat seperti berulah adalah sistem regulasi anak yang sedang melakukan kerjanya yang normal secara perkembangan. Pendekatan membaca informasi adalah pendekatan yang tepat.
Dalam jumlah yang lebih kecil, tingkah laku itu sedang memberi sinyal akan sesuatu yang butuh lebih dari sekadar dipegang oleh orang tua.
Pola yang perlu mendapat perhatian klinis:
- Tingkah laku yang meningkat dari minggu ke minggu meski responsmu konsisten dan tenang
- Agresi yang sudah menjadi terarah (pada saudara kandung tertentu, hewan peliharaan, orang tertentu) dan menimbulkan bahaya
- Tingkah laku yang secara mendasar telah mengubah siapa anak itu, berlangsung lebih dari empat sampai enam minggu
- Tingkah laku baru yang disertai perubahan lain: tidur, nafsu makan, suasana hati, menarik diri dari hal-hal yang dulu membawa kegembiraan
- Apa pun yang memberi sinyal menyakiti diri sendiri, atau bahwa anak ingin melukai dirinya
- Pola tingkah laku yang sudah ada sebelum perpisahan tapi menguat secara signifikan sejak itu
Ini bukan tantrum dan kondisi lepas kendali sehari-hari yang mengisi pengasuhan normal. Ini adalah pola yang perlu mendapat perhatian seorang klinisi. Langkah pertama adalah dokter anakmu. Kamu bisa mulai dari dokter keluarga atau Puskesmas, lalu sampaikan pola-pola yang kamu perhatikan. Artikel dalam Modul 16 (Kebutuhan khusus & neurodivergensi) membahas apa yang ada di bawah sebagian pola ini saat ia berlangsung lama. Modul 14 Artikel 07 (Soal terapi) membahas kapan terapi menjadi langkah berikutnya yang tepat.
Kalau pola itu tampak serius dan menyentuh keselamatan anak, ada dukungan yang bisa dihubungi juga. Layanan SAPA 129 dari KemenPPPA bisa diakses lewat telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129 untuk perlindungan perempuan dan anak, dan ada UPTD PPA di tingkat kabupaten atau kota. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga ada untuk perlindungan anak.
Kamu bukan sedang membesar-besarkan keadaan kalau kamu menghadirkan dukungan klinis. Kamu sedang menyadari bahwa anakmu butuh lebih dari yang bisa diberikan satu orang tua, dan kamu sedang memastikan dia mendapatkannya.
Penutup
Minggu sore. Ayunan. Balok di rumput. Anak yang menelungkup dengan wajah tersembunyi di lipatan lengan.
Apa yang kamu lakukan, saat akhirnya kamu menempuh satu meter jarak antara kamu dengannya, bukanlah versi yang tegas, versi yang malu, atau versi yang masuk lagi ke mobil.
Kamu duduk di rumput. Tidak terlalu dekat sampai mengasak. Cukup dekat supaya dia tahu kamu ada. Kamu tidak berkata apa-apa untuk sementara. Kamu biarkan napas itu tersendat dan tersendat lagi dan tersendat sampai akhirnya mendatar. Saat napasnya sudah kembali ke sesuatu yang hampir normal, kamu letakkan satu tangan di punggungnya.
Tadi berat ya, kamu berkata.
Dia tidak menjawab. Tidak apa-apa. Informasi itu sudah diterima, meski dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dia coba sampaikan. Baloknya akan diambil. Anak yang satu lagi akan mendapat permintaan maaf singkat yang sesuai usia beberapa menit lagi. Perjalanan pulang akan sunyi. Dia akan tertidur di mobil.
Kamu tidak akan pernah benar-benar tahu tantrum itu soal apa. Itu tidak perlu. Yang perlu adalah bahwa seseorang, di tengah-tengahnya, mengenali bahwa itu memang soal sesuatu. Bahwa itu bukan siapa dirinya. Bahwa itu, sebaliknya, seorang anak enam tahun yang sedang berusaha mengomunikasikan, dengan satu-satunya alat yang dia punya, bahwa sesuatu yang tidak bisa dia namai terasa terlalu berat.
Tingkah laku bukanlah masalahnya. Tingkah laku adalah pesannya. Dan pesan itu sudah didengar.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.