Saat kamu kehilangan kesabaran
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Saat kamu kehilangan kesabaran
Modul 13 · Perilaku & regulasi emosi · Artikel 14 · Wave 3 · untuk semua usia
Kejadian itu terulang lagi. Tenagamu sudah terkuras, harimu terasa terlalu berat, anakmu menekan satu tombol terakhir yang tersisa, dan kamu pun meledak. Membentak lebih keras daripada yang kamu maksudkan. Mengucapkan sesuatu yang tajam. Melihat raut wajah anakmu berubah, lalu merasakan rasa bersalah yang langsung menusuk, karena kamulah yang baru saja membuatnya takut. Sekarang kamu memikul rasa malu itu, bertanya-tanya apakah kamu sudah merusak sesuatu, apakah kamu memang orang tua yang selalu gagal kamu jadi.
Hampir setiap orang tua sesekali kehilangan kesabaran, dan setelah perpisahan, saat tenagamu jauh lebih tipis dari sebelumnya, hal itu lebih sering terjadi. Artikel ini soal apa yang kamu lakukan sesudahnya, karena yang sesudah justru lebih penting daripada momen itu sendiri. Ini juga artikel yang lembut, dan ia menarik satu garis yang jelas, karena kehilangan kesabaran dan menyakiti anakmu bukanlah hal yang sama, dan tulisan ini soal yang pertama.
Kalau kemarahanmu pernah sampai menyakiti anakmu, atau kamu takut dengan apa yang mungkin kamu lakukan, itu di luar jangkauan yang bisa dipegang artikel ini, dan itu butuh dukungan yang sungguhan. Dokter keluarga, seorang terapis, atau layanan bantuan untuk orang tua bisa membantu, dan mengulurkan tangan untuk minta bantuan adalah tindakan yang kuat sekaligus melindungi. Selebihnya, artikel ini soal kehilangan kesabaran yang biasa, jenis bentakan dan ledakan yang dilakukan kebanyakan orang tua lalu mereka sesali sepenuh hati.
Keretakan itu bukan keseluruhan cerita
Inilah hal yang seharusnya mengangkat sebagian beban itu. Satu momen kehilangan kesabaran, dengan sendirinya, tidak merusak seorang anak. Yang membentuk anak dari waktu ke waktu bukanlah ketiadaan keretakan, yang memang tidak pernah dicapai orang tua mana pun, melainkan kehadiran perbaikan. Anak tidak terluka oleh orang tua yang sesekali meledak lalu kembali menyambung. Mereka terluka oleh keretakan yang tidak pernah diperbaiki, oleh orang tua yang membentak lalu berlagak seolah tidak terjadi apa-apa, meninggalkan anak sendirian dengan pengalaman yang menakutkan itu tanpa penyelesaian apa pun.
Penelitian soal ini sungguh melegakan. Hubungan orang tua dan anak yang paling sehat bukanlah yang tanpa konflik atau kemarahan; melainkan yang keretakannya selalu diikuti perbaikan. Ledakan itu, yang disusul dengan kembali menyatu lagi, bukanlah kegagalan dalam mengasuh. Bahkan ia bisa menjadi bagian yang kuat darinya, karena ia mengajarkan anak sesuatu yang perlu dia pelajari: bahwa hubungan bisa bertahan menghadapi kemarahan, bahwa satu momen buruk bukanlah akhir segalanya, bahwa orang yang saling menyayangi bisa saling melukai lalu memperbaikinya. Anak yang seumur hidup hanya melihat orang tua yang selalu tenang justru belajar lebih sedikit soal perbaikan dibanding anak yang melihat orang tuanya meledak lalu meluruskan keadaan.
Jadi kehilangan kesabaran itu, meski bukan hal yang patut dituju, juga bukan bencana seperti yang dibuat terasa oleh rasa bersalahmu. Itu sebuah keretakan, dan keretakan bisa diperbaiki. Keseluruhan ceritanya bukanlah momen saat kamu meledak. Ia momen saat kamu meledak, ditambah apa yang kamu lakukan setelahnya.
Cara memperbaiki
Perbaikan setelah kehilangan kesabaran terdiri dari beberapa bagian sederhana, dan melakukannya dengan tulus lebih penting daripada melakukannya dengan sempurna.
Akui apa yang terjadi, secara terus terang. Begitu kamu sudah tenang, kamu menyebutnya dengan jujur kepada anakmu, tanpa mengecilkannya. Bunda tadi kehilangan kesabaran dan Bunda membentak. Itu nggak baik. Kamu tidak berpura-pura itu tidak terjadi atau itu bukan hal besar. Menyebutnya memberi tahu anak bahwa pengalamannya itu nyata, dan bahwa kamu bisa jujur soal kesalahanmu sendiri.
Ambil tanggung jawab tanpa mencari pembenaran. Kamu memikul bagianmu. Bunda capek dan kesal, tapi itu bukan salahmu, dan bukan tugasmu mengurus kemarahan Bunda. Bentakan tadi soal Bunda, bukan soal kamu. Ini penting, karena anak sering menganggap kemarahan orang tua berarti dirinyalah yang buruk. Mengambil tanggung jawab dengan jelas, dan secara terang memisahkan reaksimu dari nilai dirinya, meluruhkan anggapan itu.
Minta maaf dengan tulus. Permintaan maaf yang sungguhan, bukan yang berkelit membela diri. Bunda minta maaf. Kamu nggak pantas dibentak seperti tadi. Anak luar biasa pemaaf saat permintaan maaf itu tulus, dan melihat orang tua meminta maaf mengajari mereka cara melakukannya sendiri.
Sambung kembali. Setelah kata-kata, kehangatan. Pelukan kalau dia mau, kembali ke kedekatan yang biasa, sebuah isyarat bahwa hubungan itu masih utuh dan keretakannya sudah pulih. Penyambungan kembali itulah yang sesungguhnya menuntaskan pengalaman menakutkan tadi bagi anak, memulihkan rasa aman yang sempat tergoyang oleh ledakan tadi.
Kamu tidak meminta maaf berlebihan, ambruk dalam rasa bersalah, atau membuat anak malah harus menenangkanmu, yang akan membalik peran dan membebani dia. Satu perbaikan yang bersih dan tulus, lalu kembali ke kehidupan biasa. Itulah keseluruhannya, dan itu sudah cukup.
Apa yang diajarkan perbaikan
Lebih dari sekadar memulihkan momen tertentu itu, perbaikan memberi anakmu sesuatu yang akan dia bawa seumur hidup. Dia belajar bahwa kemarahan tidak mengakhiri hubungan. Dia belajar bahwa manusia bisa berbuat salah lalu mengakuinya. Dia belajar seperti apa permintaan maaf yang sungguhan, dicontohkan oleh seseorang yang dia sayangi. Dia belajar bahwa dirinya layak menerima permintaan maaf, bahwa orang tua sekalipun berutang kejujuran dan perbaikan kepadanya. Dan, yang penting, dia belajar cara memperbaiki keretakannya sendiri nanti, denganmu, dengan teman-temannya, kelak dengan anaknya sendiri, karena dia sudah pernah melihatnya dilakukan.
Anak yang sedang melewati perpisahan terutama mendapat manfaat dari melihat bahwa keretakan bisa diperbaiki, karena perpisahan itu sendiri, sebagiannya, adalah satu keretakan raksasa yang terasa tidak terperbaiki dalam dunianya. Menyaksikanmu retak lalu memperbaikinya, dalam skala kecil, berulang-ulang, mengajarinya di lapisan yang dalam bahwa sesuatu yang patah tidak selalu patah selamanya, bahwa hubungan bisa melentur lalu pulih. Itu pelajaran yang mendalam, dan kamu mengajarkannya bukan dengan tidak pernah kehilangan kesabaran, yang memang mustahil, melainkan dengan secara andal memperbaikinya setiap kali itu terjadi.
Saat kemarahanmu lebih dari sekadar biasa
Artikel ini soal kehilangan kesabaran yang biasa, yang dilakukan hampir semua orang tua. Penting untuk disebut dengan jelas bahwa sebagian kemarahan lebih dari itu, dan butuh lebih dari sekadar perbaikan.
Kalau kemarahanmu membuatmu takut, kalau kamu kehilangan kendali dengan cara yang tidak bisa kamu tahan, kalau ia sering dan hebat alih-alih sesekali, kalau kamu pernah menyakiti anakmu secara fisik atau takut kamu mungkin melakukannya, atau kalau kamu bisa merasakan ada sesuatu yang lebih besar yang menggerakkannya, itu bukan situasi perbaikan, itu situasi cari-dukungan. Ini bukan penghakiman. Mengasuh anak di bawah tekanan perpisahan, sering kali sambil memikul dukamu sendiri, kelelahan, dan luka yang belum terolah, bisa mendorong siapa pun ke arah kemarahan yang melampaui yang biasa. Mengakui hal itu lalu mengulurkan tangan untuk bantuan, entah ke dokter keluarga, seorang terapis, layanan pendampingan orang tua, atau saluran bantuan, adalah salah satu tindakan paling melindungi yang bisa dilakukan seorang orang tua, untuk anak dan untuk dirinya sendiri.
Garisnya kira-kira begini. Bentakan sesekali yang membuatmu merasa amat buruk lalu kamu perbaiki adalah hal biasa, dan perbaikan itu menanganinya. Kemarahan yang sering, menakutkan, terus memuncak, atau sudah melewati batas menjadi menyakiti, itu lebih dari sekadar biasa, dan ia butuh dukungan sungguhan, bukan cuma permintaan maaf yang lebih baik. Kalau kamu tidak yakin yang mana kemarahanmu, ketidakyakinan itu sendiri sudah jadi alasan bagus untuk bicara dengan seseorang. Sisi for-you dari perjalanan ini, beserta sumber-sumber bantuan di sana, bisa membantu meringankan beban mendasar yang sedang memicu kemarahan itu.
Kalau kamu merasa butuh bicara dengan seseorang sekarang, kamu tidak harus memikulnya sendirian. Untuk dukungan psikososial keluarga, ada Yayasan Pulih. Layanan SAPA 129 dari KemenPPPA juga bisa dihubungi (telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129) bila ada kekhawatiran soal keselamatan, dan di tingkat kota atau kabupaten ada UPTD PPA. Dokter keluarga atau Puskesmas terdekat pun bisa jadi titik awal yang baik untuk membicarakan apa yang sedang terjadi.
Penutup
Hampir setiap orang tua kehilangan kesabaran, terutama di bawah tekanan perpisahan, dan satu momen kehilangan kesabaran dengan sendirinya tidak merusak seorang anak. Yang membentuk anak adalah perbaikan, bukan ketiadaan keretakan. Hubungan yang paling sehat bukanlah yang bebas konflik; melainkan yang keretakannya selalu diikuti dengan kembali menyatu. Perbaiki dengan mengakui apa yang terjadi secara terus terang, mengambil tanggung jawab tanpa mencari pembenaran, meminta maaf dengan tulus, dan menyambung kembali, yang memulihkan momen itu sekaligus mengajari anakmu bahwa kemarahan tidak mengakhiri cinta dan bahwa keretakan bisa diperbaiki. Dan bedakan dengan jelas antara kehilangan kesabaran yang biasa, yang bisa ditangani perbaikan, dan kemarahan yang sering, menakutkan, atau sudah melewati batas menjadi menyakiti, yang butuh dukungan sungguhan.
Kamu akan sesekali kehilangan kesabaran. Bukan ledakan itu yang menentukan caramu mengasuh. Yang menentukan adalah apakah kamu kembali, mengakuinya, dan memperbaikinya, yang memang bisa kamu lakukan, setiap kali.
Bukan ledakan itu yang membentuk anakmu. Yang membentuk adalah kepulanganmu setelahnya. Perbaiki apa yang kamu retakkan, dan kamu mengajarinya bahwa cinta bertahan melewati momen-momen yang berat.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.