dip
Belikan Kopi
Modul 04 · Remaja, tingkah laku & ruang

Remaja yang berperan jadi orang tua bagi adik-adiknya

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

13+11 menit baca
Remaja yang berperan jadi orang tua bagi adik-adiknya

Remaja yang berperan jadi orang tua bagi adik-adiknya

Modul 04 · Perilaku remaja & otonomi · Artikel 13 · usia 13+


Sabtu pagi di rumahmu. Anak perempuanmu yang lima belas tahun sudah bangun sejak satu jam lalu. Dia sudah menyiapkan sarapan untuk adik laki-lakinya yang tujuh tahun. Dia sudah membantu adiknya mencari perlengkapan bola. Dia sudah mengingatkan adiknya untuk gosok gigi. Sekarang dia sedang membereskan tas adiknya karena pagi ini adiknya ada pertandingan.

Kamu di dapur, kopi di tangan, menyaksikan ini semua. Manis, dengan caranya sendiri. Dia cekatan, baik hati, rapi. Tapi ini juga keliru, dengan cara yang sudah kamu perhatikan sejak beberapa waktu lalu. Dia sudah melakukan pekerjaan semacam ini sejak usianya sekitar sebelas tahun.

Di seberang kota, di rumah Co-Parent, polanya sama. Dia membangunkan si bungsu tujuh tahun. Dia membereskan segala keperluan adiknya. Dia yang menjalankan rutinitas pagi. Entah sejak kapan, dia sudah menjadi semacam orang tua bagi adik laki-lakinya.

Artikel ini tentang remaja yang perlahan masuk ke peran orang tua bagi adiknya. Ini bentuk tertentu yang kerap muncul di keluarga dengan kedua rumah, sering kali tanpa ada yang benar-benar memutuskannya. Anak sulung menjadi orang dewasa yang tegar. Orang tua yang sebenarnya, di salah satu atau kedua rumah, menjadi orang dewasa kedua, atau kadang ketiga.

Ini disebut parentifikasi. Ini pola yang nyata dan sudah banyak didokumentasikan. Ini juga pola yang, dengan perhatian, bisa diurai kembali.

Apa sebenarnya parentifikasi itu

Sedikit penjelasan dulu.

Parentifikasi adalah ketika seorang anak atau remaja mengambil alih tugas-tugas pengasuhan yang tidak sesuai dengan usianya. Sebagian bersifat praktis: memasak, beres-beres, mengantar adik ke sekolah, mengelola rumah tangga. Sebagian lagi bersifat emosional: menjadi tempat curhat orang tua, menengahi pertengkaran, menghibur orang tua yang sedang kesulitan, memikul kecemasan keluarga.

Berbagi sebagian pekerjaan rumah dan urusan adik itu wajar. Remaja yang sesekali membantu mengantar ke sekolah, yang menjaga adik selama setengah jam, yang turun tangan di minggu yang sibuk. Ini partisipasi keluarga yang sehat.

Parentifikasi adalah pola yang sudah menjadi struktural. Remaja itu bukan sekadar membantu. Remaja itu yang menjalankan segalanya. Orang tua, dalam arti tertentu, bergantung pada remaja itu agar rumah bisa berfungsi.

Beberapa tandanya:

Remaja melakukan pekerjaan rumah dan urusan adik sebagai ekspektasi baku, bukan sebagai kontribusi.

Remaja lebih hafal rutinitas adiknya daripada kedua orang tuanya.

Remaja mengambil keputusan setingkat orang tua soal adiknya: jam tidur, makan, waktu layar, rencana main.

Remaja mengatur ulang jadwalnya sendiri demi menjaga adiknya.

Remaja sudah menjadi orang yang diajak bicara oleh orang tua soal kekhawatiran orang dewasa, keuangan, masalah hubungan, kelelahan.

Remaja merasa bertanggung jawab atas suasana hati orang tua, kesejahteraan orang tua, kemampuan orang tua untuk bertahan.

Remaja, di level tertentu, sudah melepaskan kegiatan, pertemanan, atau minat karena tuntutan di rumah.

Remaja mencemaskan keluarga ketika dia sedang tidak di rumah.

Kalau beberapa dari ini muncul, keluarga itu sudah masuk ke parentifikasi.

Kenapa ini terjadi di keluarga dengan kedua rumah

Ada beberapa sebabnya.

Orang tua memang sedang kewalahan. Satu orang tua, yang menjalankan rumah sendirian separuh waktu, bisa kewalahan. Remaja melihat ini lalu maju mengambil alih. Selama berminggu-minggu, "maju mengambil alih" itu menjadi kebiasaan.

Adik butuh lebih banyak dukungan daripada yang bisa diberikan orang tua sendirian. Anak kecil pada masa peralihan antara kedua rumah butuh banyak hal. Remaja itu yang mengisi celahnya.

Orang tua menjadi bergantung secara emosional pada remaja. Keluarga sudah melewati tahun-tahun yang berat. Orang tua curhat. Remaja mendengarkan. Polanya mengeras menjadi dinamika yang menyerupai persahabatan antar orang dewasa.

Remaja itu memang cekatan secara alami. Sebagian remaja memang rapi, baik hati, mampu. Tanpa sadar, keluarga melimpahkan beban kepadanya karena memang berhasil.

Kedua rumah melakukannya, dengan rincian yang berbeda. Di satu rumah, remaja menjalankan rutinitas pagi. Di rumah satunya, remaja menjaga adik sepanjang sore. Total bebannya di kedua rumah jadi besar.

Co-Parent tidak tahu seberapa banyak yang terjadi di rumah satunya. Masing-masing orang tua melihat remaja melakukan sebagiannya dan menganggapnya masih bisa ditangani. Justru akumulasi di kedua rumah itulah yang membuatnya menjadi parentifikasi.

Orang tuanya bukan orang jahat. Sering kali mereka sudah berusaha sebaik mungkin dalam keadaan yang sulit. Polanya tumbuh perlahan, bukan dirancang. Itu yang membuatnya mudah terlewat, dan mudah diurai begitu terlihat.

Kenapa ini penting

Satu catatan singkat.

Sebagian remaja, kalau menengok ke belakang, bilang bahwa tanggung jawab pengasuhan sejak dini membuat mereka tangguh dan mampu. Ada benarnya juga.

Tapi ada kebenaran yang lain. Remaja yang pernah terparentifikasi sering kali, saat dewasa, punya kesulitan tertentu. Mereka sulit minta tolong. Mereka berfungsi berlebihan dalam hubungan. Mereka sulit mengenali kebutuhan mereka sendiri. Mereka merasa bersalah ketika sedang tidak mengurus seseorang. Mereka bisa terjun ke profesi yang penuh perawatan dengan cara yang membakar habis tenaga mereka. Mereka kadang sulit menikmati hidup mereka sendiri karena perhatian mereka selalu tertuju pada orang lain.

Pekerjaan mengurai parentifikasi di masa remaja, sebagian, adalah pekerjaan mengembalikan masa remaja itu kepada anakmu. Waktunya. Ruangnya. Kebebasan dari rasa cemas. Kesempatan untuk menjadi anak dalam keluarga, bukan orang tua kedua.

Apa yang harus dilakukan setelah kamu menyadarinya

Ada beberapa pola.

Bicara dengan Co-Parent. Bandingkan apa yang kalian masing-masing lihat. Ini sering kali jadi momen kesadaran itu. Kamu melihat dia menjalankan segalanya di rumahmu; Co-Parent melihat hal yang sama di rumahnya. Gambaran gabungannya lebih besar daripada yang dikira masing-masing orang tua.

Jangan membuat pengumuman besar ke remaja. Mulai sekarang kami nggak akan ngandelin kamu lagi. Remaja bisa merasa dia sudah berbuat salah, atau bahwa perhatiannya ditolak. Penguraian terjadi lewat perubahan struktur keluarga, bukan lewat satu percakapan.

Ambil kembali pekerjaan pengasuhan, dengan cara yang konkret. Mulai tangani sendiri hal-hal yang selama ini kamu biarkan jatuh ke tangannya. Rutinitas pagi. PR adiknya. Jemput-antar sekolah. Jam tidur. Walaupun kamu melakukannya tidak sebaik dia, lakukan saja. Pekerjaannya adalah menempatkan dirimu, orang tua, kembali ke peran orang tua.

Jangan jadikan remaja saksi atas rasa bersalahmu. Harusnya semua ini aku yang ngerjain. Maaf banget udah naruh kamu di posisi ini. Remaja tidak butuh rasa bersalahmu. Dia butuh tindakanmu. Olah rasa bersalah itu di tempat lain.

Hadirkan kembali waktu dan ruang. Kembalikan Sabtu paginya. Sarankan dia main keluar dengan teman-temannya. Jangan minta dia menjaga adiknya. Pastikan komitmennya pada olahraga, belajar, pertemanan, tetap terlindungi.

Berhenti curhat ke dia soal hal-hal orang dewasa. Kesedihan tentang keluarga. Kekhawatiran soal uang. Keluhan tentang Co-Parent. Bawa itu semua ke terapismu, ke teman-temanmu, ke kelompok dukunganmu. Bukan ke remajamu.

Kurangi paparannya pada kecemasan orang tua. Kalau kamu stres soal uang, soal jadwal, soal Co-Parent, kelola itu di luar jangkauan pendengarannya. Dia tidak perlu memikul cuaca emosional rumah tangga ini.

Sesekali katakan padanya bahwa tugasnya adalah jadi remaja. Bukan dengan cara yang berat. Tugas kamu itu sekolah, teman-teman kamu, hidup kamu sendiri. Urusan rumah biar aku.

Tata ulang hubungan adik dengan kamu. Si bungsu sudah terbiasa kakaknya yang menjalankan segalanya. Sebagian dari pekerjaannya adalah membangun kembali ekspektasi si bungsu bahwa orang tua adalah orang tuanya. Habiskan lebih banyak waktu langsung dengan si bungsu. Biarkan kakaknya mundur.

Koordinasikan pengurangan beban ini di kedua rumah. Ini cuma berhasil kalau kedua rumah melakukannya. Remaja yang terparentifikasi di satu rumah tapi tidak di rumah satunya hanya mengalami pergeseran beban, bukan pengurangan. Kedua orang tua perlu sama-sama mengurangi beban itu bersama.

Bersabarlah. Penguraian ini butuh berbulan-bulan, bukan berminggu-minggu. Pola lama tidak berubah dalam seminggu. Untuk sementara, remaja itu akan tetap masuk ke peran orang tua karena sudah jadi refleks. Arahkan ulang dengan lembut setiap kali itu terjadi.

Apa yang sebaiknya tidak dilakukan

Beberapa pola yang perlu dihindari.

Jangan tiba-tiba mencabut semua tanggung jawab remaja. Ini bisa terasa seperti penolakan bagi remaja. Kok aku nggak ngerjain itu lagi? Apa aku ngerjainnya jelek? Pembagian ulang sebaiknya bertahap dan dijelaskan kalau memang membantu.

Jangan menyalahkan Co-Parent atas hal ini. Kamu sih biarin dia ngatur semua di rumah kamu. Makanya dia jadi begini. Sebagian besar parentifikasi terjadi atas kolaborasi diam-diam kedua rumah. Percakapan menyalahkan bukanlah percakapan penguraian.

Jangan menyalahkan remaja karena mengambil terlalu banyak. Kamu kebanyakan ngurusin adik kamu. Kamu harus mundur. Dia tidak memilih ini. Dia mengisi sebuah celah. Jangan membuatnya merasa dia salah.

Jangan langsung menghentikan bagian-bagian yang dia nikmati. Sebagian remaja memang sungguh-sungguh menikmati waktu bersama adiknya. Menjaganya sesekali, bermain dengannya, sesekali membantu PR-nya. Ini boleh tetap ada. Yang dikurangi adalah beban struktural, bukan hubungannya.

Jangan jadikan kesadaran ini sebagai beban rasa bersalah baru baginya. Nggak nyangka aku udah maksa kamu ngerjain semua ini. Kamu jadi harus dewasa terlalu cepat. Aku udah gagal sama kamu. Apa pun yang kamu rasakan soal ini, remaja tidak perlu memikul proses olah perasaanmu.

Jangan membuat si bungsu merasa dia jadi beban bagi kakaknya. Kakak kamu kebanyakan ngurusin kamu. Kamu harus lebih mandiri. Si bungsu juga tidak minta begini. Sesuaikan dinamikanya tanpa menyalahkan siapa pun.

Ketika remaja menolak perubahan itu

Kadang remaja, setelah mengambil peran orang tua, tidak mau melepaskannya. Bisa jadi dia sudah membangun rasa dirinya di sekitar perasaan dibutuhkan. Bisa jadi dia merasa tidak nyaman dengan waktu kosong. Bisa jadi dia merasa sedang mengecewakan keluarga.

Beberapa pola yang membantu.

Akui apa yang sudah dia lakukan. Kamu udah ngerjain banyak banget selama ini. Sekarang kita mau ngelakuinnya dengan cara beda, dan itu bukan berarti yang kamu lakuin nggak dihargai.

Bersabarlah dengan masa peralihan ini. Untuk sementara, dia mungkin akan tetap masuk membantu. Setiap kali, arahkan ulang dengan lembut. Udah aku yang urus. Kamu pergi aja, lakuin yang kamu mau.

Bantu dia menemukan apa yang bisa dilakukan dengan waktunya. Sebagian remaja, setelah bertahun-tahun menjalankan keluarga, tidak tahu seperti apa hidup mereka sendiri. Bantu dia menemukannya kembali. Dulu dia suka apa? Apa yang mungkin ingin dia coba?

Perhatikan riak-riak emosi. Sebagian remaja, ketika beban orang tua terangkat, justru jadi sedih. Mereka bisa berkabung atas peran itu. Mereka bisa merasa kehilangan pijakan. Sebagian bahkan bisa marah. Semua ini wajar. Ini bagian dari prosesnya. Beri waktu.

Cari bantuan profesional kalau perlu. Konselor atau terapis yang bekerja dengan remaja bisa membantu remaja itu mengolah peralihannya. Terapis keluarga bisa membantu keluarga menata ulang peran-perannya.

Ketika parentifikasinya parah

Kadang polanya sudah menancap dalam. Remaja itu sungguh-sungguh menjalankan rumah. Orang tua sungguh-sungguh tidak mampu kembali ke peran orang tua. Ini situasi yang serius.

Beberapa penandanya:

Orang tua punya kondisi kesehatan jiwa, penggunaan zat, atau kondisi kesehatan fisik yang signifikan yang menghalanginya mengasuh dengan layak.

Remaja sudah bertahun-tahun mengasuh adik-adiknya, termasuk dengan cara yang memengaruhi keselamatannya sendiri.

Remaja kelelahan, menarik diri, murung, atau menunjukkan tanda-tanda kehabisan tenaga.

Remaja sudah banyak bolos sekolah, melepas kegiatan, atau kehilangan pertemanan karena beban pengasuhan.

Remaja, ketika ditanya, merasa dia tidak bisa mundur karena tidak ada orang lain yang akan mengerjakannya.

Dalam situasi seperti ini, keluarga butuh dukungan orang dewasa. Terapis keluarga yang khusus. Pekerja sosial kalau memang sesuai. Bicara dengan dokter keluarga atau Puskesmas. Bicara dengan sekolah, lewat guru BK. Orang dewasa lain dalam keluarga atau lingkungan yang bisa turun tangan. Modul 17 di pustaka ini membahasnya lebih jauh.

Remaja dalam parentifikasi yang parah sudah terlalu lama melakukan pekerjaan orang dewasa. Pekerjaan menguraikannya melibatkan keluarga, tapi juga butuh lebih dari yang biasanya bisa disediakan keluarga sendirian.

Khusus soal dimensi Co-Parent

Ada beberapa pola.

Kedua rumah perlu sama-sama melakukan penguraian. Kalau hanya satu orang tua yang mengurangi beban, bebannya bergeser ke rumah satunya, dan remaja itu tetap terparentifikasi di seluruh sistem keluarga.

Jujurlah dengan Co-Parent soal apa yang kalian masing-masing lihat. Ini bisa terasa kurang nyaman. Co-Parent bisa jadi belum sadar seberapa banyak yang terjadi di rumahnya. Kamu bisa jadi belum sadar seberapa banyak di rumahmu. Percakapan yang jujur adalah awal dari penguraian.

Koordinasikan perubahannya. Siapa menangani apa di tiap rumah. Bagaimana kalian masing-masing mengambil kembali pekerjaan pengasuhan. Apa yang kalian lakukan soal si bungsu.

Jangan jadikan ini bukti untuk saling menyerang. Godaan untuk berkata tuh kan, kamu biarin dia ngatur semuanya, kamu bukan orang tua yang beneran itu kuat. Jangan. Penguraian butuh kerja sama.

Kalau salah satu orang tua tidak bisa atau tidak mau maju mengambil alih. Kadang satu orang tua adalah pihak yang mampu mengurangi beban dan yang satunya tidak bisa. Ini terjadi. Pekerjaan bagi orang tua yang mampu adalah menjalankan bagiannya sepenuhnya dan mencari dukungan profesional untuk bagian yang butuh lebih banyak.

Busur yang lebih panjang

Remaja yang pernah terparentifikasi biasanya keluar dari situ. Dengan kesadaran keluarga, dengan pekerjaan menguraikannya, dan dengan waktu, dia memulihkan sebagian besar masa remajanya sendiri. Dia belajar, perlahan, bahwa dia boleh diperhatikan, bukan cuma memperhatikan. Dia punya hidupnya sendiri. Dia punya kebutuhannya sendiri.

Sebagian dari yang dia ambil dari peran itu tetap melekat. Kecekatannya. Kebaikan hatinya. Kemampuannya menangani hal-hal yang rumit. Ini kekuatan yang nyata.

Sebagian dari yang dia ambil dari peran itu perlu disembuhkan. Kecenderungan berfungsi berlebihan. Rasa bersalah. Kesulitan minta tolong. Ini bisa butuh bertahun-tahun dan mungkin terbantu oleh dukungan profesional sepanjang masa dewasanya.

Kamu dan Co-Parent, dengan menyadari pola ini, sedang melakukan salah satu hal terpenting yang bisa kamu lakukan di masa remaja. Kamu sedang mengembalikan masa remaja anakmu. Kamu sedang mengambil kembali peranmu sebagai orang tua. Kamu sedang membiarkan si bungsu memiliki dinamika dengan orang tuanya yang sebenarnya, bukan dengan kakak-sebagai-orang-tua.

Ini tidak akan rapi. Ini butuh waktu. Ini akan melibatkan kesalahan. Tetap saja, ini layak dijalani.

Penutup

Enam bulan setelah percakapan itu. Sabtu pagi di rumahmu. Si bungsu tujuh tahun turun untuk sarapan. Kamu yang membuatkannya. Sekarang dia sedang makan. Dia akan pergi main bola. Kamu yang akan mengantarnya.

Anak perempuanmu masih tidur. Dia tidur lebih lama. Semalam dia begadang dengan teman-temannya.

Dia turun pukul sepuluh. Dia minum teh. Dia tidak bertanya soal rutinitas pagi. Dia tidak mengecek apakah si bungsu sudah membawa perlengkapan bolanya. Dia percaya kamu sudah menanganinya. Dia sedang merencanakan harinya sendiri.

Kamu tidak mengomentari itu. Kamu biarkan dia begitu. Akhirnya dia sedang melakukan pekerjaan menjadi anak lima belas tahun. Si bungsu sedang menjadi anak tujuh tahun, diurus oleh orang tuanya yang sebenarnya.

Kamu mengirim pesan ke Co-Parent: Dia di tempatku sampai besok. Soal bola aku yang urus. Tadi dia jadi remaja seutuhnya sepanjang pagi. Semoga terus begini. Co-Parent: Di sini juga begitu, hampir selalu. Kemarin aku ngajak adiknya ke taman sendirian, dia anteng di kamarnya.

Itu pola yang baru. Perlahan. Tidak sempurna. Remaja itu sedang dikembalikan. Keluarga ini sedang ditata ulang dengan para orang tua kembali di kursi orang tua. Si bungsu sedang diasuh. Remaja itu sedang menjadi remaja.

Kamu akan keliru sesekali. Pola lama akan kembali di hari-hari yang berat. Itu tidak apa-apa. Sekarang kamu sudah melihatnya. Kamu bisa terus menyesuaikan. Teruslah berjalan.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.