dip
Belikan Kopi
Modul 02 · Balita & latihan toilet

Tangisan "Aku mau Bunda" / "Aku mau Ayah"

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

0–38 menit bacaInti
Tangisan "Aku mau Bunda" / "Aku mau Ayah"

Tangisan "Aku mau Bunda" / "Aku mau Ayah"

Modul 02 · Balita & latihan toilet · Artikel 03 · Wave 1 · usia 0–3


Ini malam ketiga di minggu jatahmu. Kamu sudah memasak makan malam, menyiapkan air mandi, mengeluarkan baju tidur, memulai rutinitas menjelang tidur. Kamu lelah dengan cara khusus yang hanya dipahami orang tua yang menjalani minggu di kedua rumah. Kamu sudah melakukan semuanya dengan benar.

Anakmu yang berumur dua setengah tahun menengadah menatapmu dan berkata, Aku mau Bunda.

Ruangan itu seolah bergeser. Kamu menarik napas. Kamu berkata sesuatu seperti Bunda lagi nggak di sini, sayang, malam ini sama Ayah ya. Anakmu mengulanginya, lebih keras. Aku mau Bunda. Suaranya naik. Dalam satu menit, ia jadi tangisan penuh. Dalam lima menit, ia jadi raungan dengan seluruh tubuhnya ikut menangis. Aku mau Bunda. Aku mau Bunda. Aku mau Bunda.

Kamu memeluknya. Kamu mencoba menenangkannya. Dadamu sesak. Sebuah suara kecil di kepalamu mengucapkan hal-hal yang tidak mau kamu tatap. Dia lebih sayang Bunda. Aku nggak cukup. Rumah satu lagi pasti melakukan sesuatu yang nggak aku lakukan. Satu versi dari apa aku orang tua yang buruk sampai anak ini sebegitu menginginkan Bunda padahal dia lagi bareng aku?

Artikel ini tentang saat itu. Apa sebenarnya tangisan itu, apa yang bukan, apa yang membantu di saat itu, dan bagaimana mencegahnya menanam sebuah cerita di kepalamu yang sebenarnya tidak benar.

Apa sebenarnya tangisan itu

Tangisan itu bukan suara dalam pemungutan suara. Balita itu tidak sedang memberitahumu bahwa dia lebih memilih Co-Parent. Dia tidak sedang memberitahumu bahwa rumah yang kedua lebih baik. Dia tidak sedang bilang kamu gagal.

Tangisan itu adalah alat regulasi.

Balita di usia ini belum bisa meregulasi dirinya sendiri. Dia meminjam regulasi dari orang dewasa di sekitarnya. Saat ada yang bergeser, saat dia lelah, saat harinya sudah panjang, saat dia sedang berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain, balita itu meraih kembali keadaan teregulasi yang terakhir dia rasakan. Orang tua yang disebut dalam tangisan itu adalah pengganti dari keadaan teregulasi sebelumnya, bukan hasil membanding-bandingkan pilihan.

Saat seorang anak menangis memanggil Bunda ketika sedang di rumah Ayah, sering kali yang dia maksud adalah versi dari: Tadi aku ada di keadaan yang aku kenal. Sekarang aku di keadaan yang berbeda. Aku mau keadaan yang tadi balik. Keadaan yang tadi itu ada Bunda di dalamnya. Makanya aku mau Bunda.

Anak yang sama, di malam pertama bersama Bunda setelah beberapa hari di rumah Ayah, kadang akan menangis memanggil Ayah. Orang tua yang disebut bukan intinya. Pemulihan keadaan sebelumnya itulah intinya.

Ini berlaku untuk hampir semua tangisan aku mau Bunda / aku mau Ayah pada balita sampai sekitar usia empat tahun. Ini normal dari sisi perkembangan. Ini tanda kelekatan yang aman, bukan kelekatan yang tidak aman. Balita yang tidak pernah menangis untuk salah satu orang tuanya di setiap perpindahan kadang justru balita yang sistemnya sudah menutup diri. Anak yang menangis itu adalah anak yang kelekatannya sehat.

Prinsip yang sama berlaku kalau anakmu menangis memanggil pengasuh lain yang biasa merawatnya, misalnya oma, nenek, atau tantenya, dan bukan orang tua yang satu lagi. Pengasuh itu pun menjadi pengganti dari keadaan teregulasi sebelumnya. Tangisan itu tetap bukan suara dalam pemungutan suara; ia adalah permintaan untuk kembali ke keadaan yang dia kenal.

Apa yang sering didengar orang tua penerima

Tangisan itu bisa mendarat berat pada orang tua yang sedang menerima giliran. Salah baca yang paling umum, dan semuanya keliru:

Anakku lebih sayang Co-Parent. Tangisan itu bukan soal lebih memilih. Itu adalah pencarian regulasi. Anak yang sama akan menangis memanggilmu di rumah yang kedua besok malam.

Aku nggak sebagus Co-Parent. Tangisan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelayakanmu sebagai orang tua. Itu berhubungan dengan kenyataan bahwa keadaan sebelumnya punya orang tua yang berbeda di dalamnya.

Rumah yang kedua pasti melakukan sesuatu yang nggak aku lakukan. Hampir selalu tidak. Tangisan itu terjadi tanpa peduli bagaimana kedua rumah dibandingkan. Anak yang kedua rumahnya nyaris identik pun akan tetap menangis. Anak yang kedua rumahnya sangat berbeda pun akan tetap menangis.

Anakku menolak aku. Bukan. Dia sedang memintamu memeluknya melewati sebuah perpindahan. Tangisan itu adalah permintaan akan dirimu, hanya saja menyamar.

Kalau kamu bisa menjaga jarak dari pembacaan-pembacaan itu di saat tangisannya berlangsung, tangisan itu jadi jauh lebih bisa ditanggung. Tetap berat. Tapi ini jenis berat yang berbeda.

Apa yang sering didengar orang tua yang sedang berpisah

Kalau orang tua penerima melaporkan tangisan itu kepada orang tua yang sedang berpisah dari anak (atau kalau orang tua itu mendengarnya secara tidak langsung), dia punya rangkaian salah bacanya sendiri. Sama-sama keliru:

Anakku butuh aku. Aku harus jemput dia. Anak itu sedang melakukan apa yang dilakukan balita dengan kelekatan yang sehat saat ada perpindahan. Menjemputnya mengajari anak bahwa menangis bisa mendatangkan kembali orang tua yang tidak ada, dan itu membuat perpindahan berikutnya lebih sulit.

Pasti ada yang nggak beres di rumah satu lagi. Hampir selalu tidak. Tangisan itu terjadi juga di rumah yang berjalan baik.

Aku seharusnya merasa tersanjung. Ini juga bukan tentang kamu. Tangisan itu adalah permintaan regulasi, dan orang tua yang disebut hanyalah pengganti. Pembacaan yang membuatmu tersanjung sama melesetnya dengan pembacaan yang membuatmu cemas.

Aku harus meyakinkan orang tua penerima bahwa aku bukan orang tua yang lebih baik. Percakapan ini hampir selalu menjadi bumerang. Orang tua penerima tidak membutuhkan percakapan itu. Yang dia butuhkan adalah momennya sendiri untuk tenang, lalu malam itu bergerak maju.

Tugas orang tua yang sedang berpisah dari anak selama tangisan itu adalah tetap bisa dihubungi kalau memang benar-benar dibutuhkan, dan selebihnya tidak ikut campur. Sebagian besar waktu, tangisan itu sudah reda bahkan sebelum dia sempat membalas pesan.

Apa yang membantu anak di saat itu

Protokolnya pendek.

Akui. Katakan sesuatu seperti Kamu kangen Bunda ya. Ayah lihat kok. Memang berat. Jangan membantah perasaannya. Jangan mengalihkannya. Pengakuan itu bukan berarti menyetujui bahwa tangisan itu harus diatasi dengan menghadirkan Bunda. Itu adalah pengakuan bahwa perasaannya nyata.

Jangan mengulang-ulang kepastian soal kapan Bunda kembali. Mengatakan Bunda pulang hari Jumat satu kali itu tidak masalah. Mengatakannya lima kali dalam dua menit justru memberi makan tangisan itu, karena anak jadi terpaku pada ketidakhadiran orang tua yang disebut dan permintaannya makin menguat.

Tawarkan jembatan ke masa sekarang. Benda kesayangannya. Camilan yang dikenalnya. Buku yang selalu dibacakan menjelang tidur. Sesuatu yang dikenali tubuh anak sebagai bagian dari lingkungan teregulasinya saat ini.

Peluk dia kalau dia mau dipeluk. Sebagian anak mau sentuhan fisik. Sebagian tidak. Jangan paksa. Duduk dekat dia kalau dia tidak mau dipeluk.

Pelankan napasmu sendiri. Anak itu sedang meminjam sistem sarafmu. Kalau napasmu pendek dan rahangmu tegang, tangisan itu akan berlangsung lebih lama. Kalau napasmu pelan dan bahumu turun, sistem anak itu punya sesuatu untuk diandalkan agar bisa tenang.

Tunggu. Tangisan itu akan berlalu. Sebagian besar tangisan aku mau X pada balita reda dalam lima belas sampai tiga puluh menit. Ada yang lebih singkat. Ada yang lebih lama di beberapa kali pertama lalu makin singkat kemudian. Tangisan itu punya durasinya sendiri, dan tugasmu bukan memperpendeknya. Tugasmu adalah memegang momen itu supaya anak tidak sendirian di dalamnya.

Menjelang akhir, hampir selalu, anak itu sudah bertanya soal hal lain. Mana buku kelincinya. Aku boleh pakai gelas hijau nggak. Keadaannya sudah bergeser. Tangisannya sudah selesai.

Apa yang membantu kamu, setelahnya

Tangisan itu memang mendarat, bahkan saat kamu tahu apa sebenarnya. Kamu bisa tahu semua isi artikel ini dan tetap merasakan benda kecil yang tajam di dadamu saat anakmu meraung memanggil Co-Parent jam delapan malam di hari Selasa yang panjang.

Beberapa hal yang bisa kamu lakukan malam itu:

Jangan menganalisisnya saat itu juga. Saat itu adalah waktu untuk hadir bersama anak. Analisisnya untuk nanti.

Jangan mengirim pesan ke Co-Parent di tengah-tengahnya. Percakapan itu jarang berguna dan sering memberi makan cerita yang keliru.

Begitu anak tertidur, lakukan sesuatu untuk sistem sarafmu sendiri. Jalan kaki sebentar. Menelepon teman. Berendam. Beberapa menit hening. Tangisan itu menguras tenaga bahkan saat kamu menanganinya dengan baik, dan kamu butuh regulasi yang sama seperti yang kamu berikan kepada anak.

Bicarakan nanti dengan seseorang yang bisa menampungnya. Seorang terapis, teman yang juga sedang menjalani co-parenting, orang tua yang pernah melewati tahap ini. Jangan menceritakannya kepada orang yang akan memberi makan cerita banding-dan-salahkan. Dia lebih sayang Bunda bukan hal yang perlu kamu uji dengan mengucapkannya keras-keras ke siapa pun.

Sadari bahwa kamu yang memegang momen itu. Kamu tidak membungkam anakmu. Kamu tidak runtuh. Kamu tidak menjadikannya tentang dirimu. Itulah pengasuhan yang akan diingat anakmu di dalam tubuhnya, bahkan kalau kalian berdua tidak ingat hari Selasa ini.

Saat tangisan itu lebih dari sekadar tangisan

Untuk sebagian besar balita yang hidup di antara kedua rumah, pola ini normal, memuncak di suatu titik antara 18 bulan dan 3 tahun, lalu memudar seiring anak mengembangkan kemampuan untuk memegang kedua orang tua dalam pikirannya meski salah satunya sedang tidak hadir. Menjelang usia 4 atau 5 tahun, sebagian besar anak sudah melewati versi tangisan ini.

Beberapa tanda yang menunjukkan pola itu butuh lebih dari sekadar waktu:

  • Tangisan justru meningkat, bukan mereda, bahkan dengan protokol di atas
  • Berlangsung lebih dari enam bulan pada intensitas yang sama, tanpa memudar
  • Ada tanda-tanda disregulasi yang lain (tidur terganggu di kedua rumah, makan menurun, regresi pada keterampilan yang sudah dikuasai)
  • Ekspresi anak datar, bukan ekspresif, sama sekali tidak menangis tapi juga tidak ada kegembiraan
  • Muncul perilaku baru yang sebelumnya tidak ada (membenturkan kepala, menarik diri yang parah, terus terjaga di malam hari)

Kalau salah satu dari ini terjadi, ada baiknya berbicara dengan dokter anak atau psikolog anak. Bukan karena tangisan itu masalahnya, melainkan karena tangisan itu ditambah tanda-tanda lain adalah pola yang baik untuk dilihat oleh mata profesional. (Modul Tidur Artikel 14 membahas ini lebih dalam dari sudut tidur.)

Penutup

Balita yang menangis aku mau Bunda dalam pelukanmu malam ini sedang melakukan apa yang dilakukan anak dengan kelekatan yang aman. Dia tidak sedang menomorduakan kamu. Dia tidak sedang menolakmu. Dia sedang meraih kembali keadaan teregulasi yang dia rasakan sebelum perpindahan tadi, dan orang tua yang disebut adalah pintu menuju keadaan itu di dalam pikirannya.

Tugasmu bukan memperbaiki tangisan itu. Tugasmu adalah memegang momen itu.

Dalam sepuluh menit, dalam dua puluh, dalam tiga puluh, anak itu akan bertanya soal buku kelinci atau gelas hijau atau apakah masih ada pisang. Keadaannya sudah bergeser. Kamu yang sudah memegangnya melewati itu.

Itulah kerjanya. Itu seluruh kerjanya. Tangisan itu akan memudar dalam dua tahun ke depan. Yang akan dibawa anakmu ke masa depan adalah ingatan tubuh tentang dipeluk melewati momen yang berat, olehmu, saat dia masih kecil.

Kamu bukan orang tua nomor dua di rumahmu sendiri malam ini.

Kamu adalah orang tua yang hadir di sini.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.