dip
Belikan Kopi
Modul 02 · Balita & latihan toilet

Empeng, selimut, dan benda kesayangan

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

0–37 menit baca
Empeng, selimut, dan benda kesayangan

Empeng, selimut, dan benda kesayangan

Modul 02 · Balita & latihan toilet · Artikel 09 · Wave 3 · umur 0-3


Kelinci abu-abu ada di jok belakang. Yang merah muda ada di rumah Co-Parent. Ada juga sepotong kecil kain bedong yang sudah dia punya sejak umurnya empat bulan. Kelinci itu untuk waktu tidur. Bedongnya untuk siang hari. Empeng tinggal di boks bayi, dan hanya di boks bayi, atas kesepakatan kalian berdua waktu dia berumur 14 bulan, saat salah satu dari kalian membaca artikel soal gigi.

Tiga benda. Kedua rumah. Satu balita yang punya perasaan sangat spesifik soal benda mana yang pas dipakai kapan.

Inilah arsitektur benda kesayangan dalam hidup yang berjalan di kedua rumah. Artikel ini soal apa yang sebenarnya dilakukan benda-benda itu, kenapa balita melekat begitu kuat padanya, apa yang harus dilakukan saat salah satunya hilang, kapan (dan bagaimana) menyapih empeng, dan bagaimana menyikapi pendekatan yang berbeda di kedua rumah.

Apa yang sebenarnya dilakukan benda kesayangan

Selimut, boneka, empeng, sepotong kecil kain, dan jerapah usang yang telinganya tinggal sebelah, semuanya masuk ke kategori psikologis yang sama. Istilah klinisnya objek transisi. Dokter anak sekaligus psikoanalis asal Inggris, Donald Winnicott, yang memberinya nama itu pada tahun 1953. Benda itu berada di antara si balita dan dunia, memegang sebagian dari fungsi pengaturan diri yang dulu disediakan oleh orang tua.

Saat si balita cemas, benda itu memberi rasa nyaman. Saat dia tertidur, benda itu menjaga ritual waktu tidur. Saat dia di tempat penitipan dan mengalami momen yang berat, benda itu adalah kehadiran orang tua yang menenangkan dalam bentuk yang bisa dibawa ke mana-mana. Aroma, bobot, tekstur, dan riwayat benda itu semuanya membawa makna yang bisa dipakai si balita untuk menenangkan dirinya sendiri.

Kemampuan untuk memakai objek transisi biasanya muncul antara umur 8 dan 18 bulan, dan tetap aktif sampai umur 3 hingga 5 tahun. Ada anak yang membawa bendanya sampai jauh ke usia sekolah, ada yang melepaskannya sekitar umur tiga. Keduanya normal. Kemampuan menenangkan diri lewat sebuah benda adalah keterampilan perkembangan, bukan kegagalan untuk mandiri.

Dalam hidup yang berjalan di kedua rumah, benda kesayangan menjadi penopang utama. Dia adalah satu-satunya potongan kesinambungan yang ikut berpindah bersama si balita dari satu kamar tidur ke kamar yang lain. Sementara segala hal lain berubah (kasurnya, aromanya, suara-suara malamnya, orang tuanya), benda itu tetap sama.

Benda yang berbeda bekerja dengan cara yang berbeda

Beberapa pola yang penting dipahami:

Empeng. Memberi pengaturan oral-motorik. Berguna untuk tertidur, menenangkan, dan menenangkan diri. Ada pertimbangan klinis yang menyertainya setelah kira-kira 18 bulan, yaitu perkembangan gigi, perkembangan bicara, dan dalam beberapa kasus risiko infeksi telinga. Pembicaraan soal menyapihnya biasanya terjadi antara umur 18 bulan dan 3 tahun. Waktunya berbeda-beda, dan penelitian soal kapan waktu yang ideal sebenarnya memang belum pasti.

Selimut, kain bedong, atau kain. Memberi pengaturan lewat sentuhan dan aroma. Aroma orang tua atau aroma rumah adalah bagian dari apa yang membuatnya bekerja. Jangan terlalu sering dicuci. Banyak orang tua belajar dari pengalaman pahit bahwa benda kesayangan yang baru dicuci bisa membuat anak jadi tidak mengenalinya lagi.

Boneka. Memberi pengaturan lewat relasi. Si balita sering memberi nama pada bonekanya, mengajaknya bicara, dan melibatkannya dalam rutinitas. Boneka itu menjadi tokoh kecil dengan aturannya sendiri.

Seorang balita bisa punya satu atau beberapa benda seperti ini. Kebanyakan punya satu benda kesayangan utama dan satu atau dua benda kesayangan kedua. Benda utama biasanya yang ikut tidur bersamanya setiap malam.

Prinsip ikut bepergian

(Tidur 05 membahas lengkap protokol ritual-waktu-tidur yang ikut bepergian. Di sini ringkasannya.)

Benda kesayangan utama ikut bepergian bersama si anak. Selalu. Dari rumah ke rumah, ke penitipan, ke rumah kakek-nenek, ke dokter. Ke mana pun dia menginap, benda itu ikut.

Satu benda saja, bukan duplikat. Naluri untuk membeli kelinci kedua yang identik dan menyimpan satu di masing-masing rumah memang terdengar masuk akal, tapi biasanya malah jadi bumerang. Balita bisa membedakan benda yang sudah lusuh dengan yang masih baru. Aromanya, pola ausnya, bekas-bekas kecilnya, semuanya berarti baginya. Kalau benda aslinya hilang selama beberapa hari karena tertinggal di rumah Co-Parent, itu masih lebih baik daripada dia menyadari adanya penggantian lalu tidak memercayai kedua benda itu.

Tas tempat benda itu dibawa adalah tas yang sama setiap kali. Kebanyakan rumah memilih satu tas tertentu (sering kali ransel kecil atau tas kain) yang menjadi tempat benda kesayangan itu selalu dimasukkan. Tas itu sendiri menjadi bagian dari sistem.

Saat bendanya hilang

Cepat atau lambat, ini pasti terjadi. Kelincinya tertinggal di tempat parkir IKEA. Bedongnya dicuci di rumah Co-Parent dan entah bagaimana tidak kembali. Empengnya jatuh di kereta.

Beberapa hal untuk dilakukan, secara berurutan:

Jangan langsung panik. Banyak benda muncul lagi dalam waktu 24 jam. Cari di tempat-tempat yang biasa. Periksa tas kemarin. Telepon penitipannya. Telepon Co-Parent.

Kalau benda itu memang benar-benar hilang, tunggu satu malam penuh sebelum mendatangkan pengganti. Ini terdengar berlawanan dengan naluri. Alasannya, si balita perlu merasakan dulu ketiadaan benda itu sebelum dia bisa menerima penggantinya. Pengganti yang ditawarkan terlalu cepat bisa terasa seperti menyangkal pentingnya benda yang hilang itu.

Beri tahu dia, dengan sederhana. Kelincinya hilang. Nanti kita cari, ya. Malam ini kamu bisa tidur sama beruang dan bedong. Besok kita cari lagi. Si balita sering kali menghadapi ini lebih baik daripada yang dibayangkan orang tuanya, apalagi kalau orang tuanya tetap tenang.

Kalau pengganti memang dibutuhkan, pilih yang sudah ada di ekosistemnya. Boneka kedua yang sudah dia kenal. Bukan boneka baru yang dibeli khusus sebagai pengganti. Pengganti yang baru dibeli hampir tidak pernah berhasil.

Pertahankan sisa ritual waktu tidurnya. Buku yang sama, lagu yang sama, kata-kata yang sama, kamar yang sama. Benda itu hanya satu unsur. Arsitektur secara keseluruhan jauh lebih berarti daripada satu potongan mana pun.

Untuk anak di atas 2,5 tahun, benda yang hilang sering kali ditangisi selama beberapa hari, lalu diam-diam digantikan oleh sesuatu yang memang sudah ada di kamar. Untuk anak di bawah 2 tahun, prosesnya bisa lebih lama. Tidur bisa terganggu selama dua hingga empat malam. Menjelang malam kelima, kebanyakan balita sudah kembali tenang.

Kapan menyapih empeng

Ini salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam co-parenting usia 0-3. Dua orang tua, sering kali dengan pandangan berbeda soal kapan dan bagaimana menyapihnya.

Beberapa poin klinis untuk menjadi bahan pembicaraan:

  • Sebagian besar panduan gigi anak menyarankan menyapih pemakaian siang hari menjelang umur 12 hingga 18 bulan, dan pemakaian malam hari menjelang 24 hingga 36 bulan. Risiko terhadap kesejajaran gigitan meningkat seiring pemakaian siang hari yang berkepanjangan.
  • Kekhawatiran soal perkembangan bicara menyangkut apakah empeng ada di mulut saat siang hari, bukan saat malam. Empeng yang hanya tinggal di boks bayi selama tidur kecil kemungkinannya memengaruhi kemampuan bicara.
  • Angka infeksi telinga dilaporkan sedikit lebih tinggi pada anak yang memakai empeng melewati umur 12 bulan. Besar dampaknya tergolong sedang saja.
  • Proses menyapihnya sendiri biasanya berlangsung 5 hingga 14 hari. Ada anak yang melepaskannya langsung tanpa kesulitan. Ada yang butuh lebih dari dua minggu pengurangan secara bertahap.

Apa artinya dalam praktik: ada dasar klinis untuk pemakaian malam saja setelah 12 bulan, dan untuk menyapih sepenuhnya menjelang umur 3 tahun, tapi keduanya bukan batas yang kaku. Keadaan keluarga dan kerja pengaturan diri si anak yang lain juga penting diperhitungkan.

Saat kedua rumah tidak sependapat

Dua orang tua, dua pandangan soal empeng. Yang satu ingin mulai menyapih di umur 18 bulan. Yang satu lagi ingin menunggu sampai si anak melepaskannya sendiri. Perbedaan pendapat ini salah satu yang paling sering muncul dalam co-parenting balita.

Beberapa sudut pandang yang bisa membantu:

Pisahkan yang klinis dari yang sekadar preferensi. Kedua orang tua sepakat untuk pemakaian malam saja setelah 12 hingga 18 bulan adalah dasar klinis yang masuk akal. Beda pendapat soal tanggal pasti menyapih setelah itu memang murni soal preferensi, dan orang tua yang sama-sama berakal bisa saja punya pandangan berbeda.

Pertahankan satu pendekatan selama masa perubahan besar. Kalau keluarga baru saja melewati perpisahan, atau pindah rumah, atau kedatangan adik baru, menyapih empeng di saat yang sama biasanya bukan ide bagus. Benda kesayangan sedang mengemban kerja pengaturan diri ekstra selama masa perubahan besar. Tunggu sampai perubahan itu mereda.

Menyapih jadi lebih sulit kalau kedua rumah tidak selaras. Anak yang disapih di satu rumah tapi tidak di rumah satunya sedang diminta memegang dua aturan berbeda di dua tempat berbeda. Kebanyakan balita bisa melakukannya. Sebagian tidak. Kalau penyapihan memang sedang berjalan, kedua rumah sebaiknya menjalankan protokol yang sama, sekalipun waktunya diusulkan oleh salah satu orang tua.

Jangan jadikan empeng sebagai wakil dari persoalan lain. Kadang beda pendapat soal empeng sebenarnya soal hal lain. Kepercayaan, kendali, siapa yang berhak memutuskan. Kalau pembicaraan soal empeng terus memanas, akar masalahnya biasanya ada di tempat lain.

Pengecualiannya: saat pendekatan rumah satunya justru menimbulkan dampak buruk. Mencabut empeng secara mendadak tanpa peringatan, mempermalukan anak karena memakainya, atau mengambilnya sebagai hukuman. Ini bukan filosofi pengasuhan yang berbeda. Ini sudah melewati batas. (Biasanya bukan ini yang sedang terjadi.)

Penutup

Kelinci abu-abu di jok belakang. Yang merah muda di rumah Co-Parent. Bedong yang sudah dia punya sejak umurnya empat bulan. Empeng yang tinggal di boks bayi.

Benda-benda ini bukan sesuatu yang remeh. Mereka sedang bekerja. Mereka menyatukan arsitektur pengaturan diri itu sementara si anak menyusuri dunia yang punya lebih banyak potongan daripada yang bisa ditampung tubuhnya saat ini.

Yang membantu adalah satu benda utama yang ikut bepergian, tas yang sama setiap kali, tidak ada penggantian dengan duplikat, kesabaran saat ada yang hilang, dan keselarasan antara kedua rumah soal keputusan penyapihan yang lebih besar.

Yang tidak membantu adalah memperlakukan benda kesayangan sebagai kebiasaan yang harus diatur, masalah yang harus dipecahkan, atau pengganti dari perselisihan orang tua.

Menjelang umur empat tahun, kelinci itu akan tergeletak di sebuah keranjang entah di mana, hampir terlupakan, sesekali teringat. Bedongnya akan ada di dalam laci. Empengnya akan menjadi sebuah cerita. Saat ini, di umur dua tahun, semuanya adalah bagian dari arsitektur yang sedang menjaganya tetap kokoh. Masukkan kelinci itu ke tas kecil. Selipkan bedongnya di kantong samping. Biarkan empengnya tinggal di boks bayi. Arsitektur itulah intinya.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.