dip
Belikan Kopi
Modul 05 · Bicara dengan anak

Pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia9 menit baca
Pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab

Pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab

Modul 05 · Bicara dengan anak · Artikel 13 · Wave 3 · untuk semua usia


Malam Selasa. Kamu sedang melipat cucian di atas kasur. Anakmu yang berumur sebelas tahun masuk pelan-pelan. Dia duduk di sudut kasur, mengambil sehelai kaus yang sudah dilipat, mengamatinya. Dia bertanya, nanti Bunda sama Ayah bakal bisa baikan lagi nggak?

Kamu berhenti melipat. Kamu menengadah. Kamu tidak tahu jawaban untuk pertanyaan ini.

Artikel ini tentang momen itu. Momen ketika anak menanyakan sesuatu yang nyata, penting, dan tidak bisa dijawab. Pada momen itu, godaan dalam dirimu adalah mengisi ruang itu dengan sesuatu yang kedengarannya seperti jawaban. Mungkin suatu hari nanti. Kami lagi berusaha. Bunda harap begitu. Kalimat-kalimat ini bukan kebohongan, sebetulnya. Tapi juga bukan kebenaran. Kebenarannya adalah Bunda nggak tahu, dan Bunda nggak tahu terasa terlalu kecil untuk diberikan kepada anak.

Inilah salah satu hal paling penting untuk dipelajari di wilayah bicara dengan anak. Bunda nggak tahu bukan jawaban yang kecil. Sering kali, itulah jawaban yang paling jujur dan paling berguna yang bisa kamu berikan. Anak lebih sanggup memegang Bunda nggak tahu daripada memegang sebuah kepastian yang direka-reka, yang enam bulan kemudian ternyata tidak benar.

Pertanyaan-pertanyaan yang akan datang

Sebuah daftar sebagian dari pertanyaan yang, selama bertahun-tahun, akan ditanyakan anak dari keluarga yang berpisah kepada orang tuanya. Tidak satu pun punya jawaban yang bersih.

Nanti Bunda sama Ayah bakal bisa baikan lagi nggak?

Kenapa Bunda nggak berusaha lebih keras?

Bunda sama Ayah pernah saling sayang nggak sih?

Bunda masih ada rasa sayang nggak ke Ayah, dalam bentuk apa pun?

Ayah dulu ngelakuin sesuatu yang buruk ya?

Bunda selingkuh nggak? Ayah selingkuh nggak?

Aku bakal punya adik atau kakak nggak kalau Bunda sama Ayah tetap bareng?

Gimana kalau Bunda nggak pernah ketemu Ayah?

Ayah sama Sarah bakal nikah nggak?

Nanti pas aku nikah, Bunda sama Ayah dua-duanya datang nggak?

Bunda sama Ayah bakal berdiri bareng pas aku wisuda nggak?

Bunda sama Ayah dua-duanya datang nggak ke pesta ulang tahunku?

Nanti pas aku udah gede, gimana ya?

Kita masih bakal ketemu nggak pas aku udah dewasa?

Aku bakal baik-baik aja nggak?

Bunda bakal baik-baik aja nggak?

Aku bakal ngerasa normal lagi nggak ya?

Setahun lagi ini bakal beda nggak? Lima tahun lagi? Pas aku udah remaja?

Aku juga bakal cerai nggak nanti?

Ini normal nggak sih?

Ada di antara pertanyaan ini yang punya jawaban sebagian. Ada yang jawabannya bergantung pada hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Ada yang sama sekali tidak punya jawaban. Bentuk cara menanganinya sama.

Apa yang ada di balik pertanyaan itu

Ketika anak menanyakan sesuatu yang sulit, biasanya dia tidak sedang meminta ramalan. Dia sedang meminta salah satu dari tiga hal, kadang lebih dari satu sekaligus.

Dia ingin tahu kamu masih ada di situ. Boleh nggak aku tanya hal yang berat dan Bunda tetap baik-baik aja? Pertanyaan itu sendiri sebagian adalah ujian terhadap hubungan kalian. Bisakah orang tua ini memegang topik yang berat tanpa runtuh? Tanpa marah? Tanpa membuat aku merasa bersalah karena bertanya?

Dia ingin tahu bahwa masa depan punya bentuk. Anak-anak, terutama setelah perpisahan, punya kebutuhan yang besar untuk tahu bahwa masa depan, setidaknya secara garis besar, bisa diperkirakan. Kita masih bakal ketemu nggak pas aku udah dewasa? adalah anak yang sedang memastikan apakah fakta-fakta dasar kehidupan keluarga akan terus berjalan.

Dia butuh bantuan untuk memegang sesuatu yang sudah dia rasakan. Bunda sama Ayah bakal bisa baikan nggak? mungkin adalah anak yang sedang duduk dengan kesedihan saat ini tentang keadaan antara kamu dan Co-Parent sekarang. Pertanyaan itu cuma kendaraan untuk perasaan itu. Menjawab pertanyaannya secara harfiah bisa jadi malah melewatkan apa yang sebenarnya sedang dia sampaikan.

Tugasmu adalah mendengar yang mana di antara ketiganya yang sedang ditanyakan anak, dan menanggapi yang itu.

Bagaimana cara menjawab

Ada tiga langkah yang berhasil untuk hampir semua pertanyaan dalam daftar tadi. Ketiganya bisa digabungkan.

Satu: Akui bahwa pertanyaan itu nyata. Bukan dengan nada merendahkan. Jangan bilang pertanyaan yang bagus. Cukup: Itu pertanyaan yang penting buat kamu tanyakan. Atau: Bunda juga pernah mikirin itu. Atau: Bunda nggak punya jawaban yang gampang. Anak perlu tahu bahwa pertanyaannya ditanggapi dengan serius, bukan dialihkan.

Dua: Katakan apa yang memang kamu tahu. Sering kali ada bagian dari pertanyaan itu yang bisa kamu jawab. Bunda nggak tahu apakah Bunda dan Ayah bakal jadi teman lagi. Tapi Bunda tahu kami lagi berusaha untuk bersikap baik satu sama lain. Bunda tahu kami berdua sayang kamu dan kami bakal terus hadir di hal-hal yang penting buat kamu. Kamu tidak menjanjikan persahabatan. Kamu sedang menyebut apa yang benar.

Tiga: Pegang ketidakpastian itu tanpa berusaha membereskannya. Jangan isi Bunda nggak tahu dengan satu kalimat harapan. Duduklah saja bersamanya. Bunda nggak tahu apakah Bunda dan Ayah bakal jadi teman. Bunda harap nanti kami bisa baik-baik aja satu sama lain. Bunda belum tahu. Bunda rasa ini bakal lebih ringan seiring waktu, tapi Bunda nggak bisa janji.

Langkah ketiga ini yang paling sulit. Nalurimu adalah menenangkan anak dengan memberi sesuatu yang pasti. Harga dari memberi sesuatu yang pasti yang ternyata tidak benar jauh lebih tinggi daripada harga dari memberi ketidakpastian yang jujur.

Beberapa pertanyaan khusus, dikupas satu per satu

Nanti Bunda sama Ayah bakal bisa baikan lagi nggak?

Bunda nggak tahu. Bunda harap seiring waktu kami bisa baik-baik aja satu sama lain. Kami berdua lagi berusaha untuk sopan. Apakah itu nanti jadi persahabatan, Bunda nggak bisa janji. Yang bisa Bunda janjikan, kami bakal hadir bareng di momen-momen yang penting buat kamu. Ulang tahun. Wisuda. Momen-momen besar. Kami bakal ada. Itu nggak tergantung sama apakah kami berteman.

Ini memisahkan dua hal. Soal persahabatan, yang tidak bisa kamu janjikan. Soal kehadiran, yang bisa.

Kenapa Bunda nggak berusaha lebih keras?

Kami memang berusaha. Lama. Bunda minta maaf itu nggak cukup. Bunda berharap semuanya bisa beda. Bunda nggak tahu apakah ada versi kami yang berusaha lebih keras yang bakal berhasil. Bunda rasa kami sudah berusaha sekuat yang kami tahu caranya.

Ini cara menangani duka. Jawaban yang jujur adalah: mungkin kami bisa berusaha lebih keras, mungkin tidak, kami tidak akan pernah benar-benar tahu. Duduklah bersama duka itu, bukan sibuk membela diri.

Ayah dulu ngelakuin sesuatu yang buruk ya?

Alasan kami berpisah itu urusan antara Bunda dan Ayah, dan sebagian besar bukan beban yang harus kamu pikul. Kadang sesuatu berakhir karena alasan yang sebenarnya bukan salah siapa-siapa. Kadang sesuatu berakhir karena alasan yang sebagian memang salah seseorang. Bunda nggak akan membahas hal-hal detailnya sama kamu. Nanti pas kamu udah lebih besar, kalau kamu masih mau membicarakannya, kita bisa ngobrol dengan cara yang beda.

Batasnya dipegang. (Lihat Artikel 02 tentang apa yang perlu disampaikan kepada anak soal "kenapa".)

Ayah sama Sarah bakal nikah nggak?

Bunda nggak tahu. Itu pertanyaan untuk Ayah. Kamu bisa tanya ke dia. Bunda bakal ikut senang buat Ayah kalau mereka menikah, dan Bunda mau kamu tahu kamu juga punya izin dari Bunda untuk ikut senang buat Ayah. Apa pun yang mereka putuskan, kamu tetap disayang oleh kami berdua.

Bahasa pemberian izin. (Lihat Artikel 12.)

Bunda bakal baik-baik aja nggak?

Iya. Ada hari-hari yang berat buat Bunda. Bunda punya orang-orang tempat Bunda cerita. Bunda lagi mengusahakan diri untuk baik-baik aja. Kamu nggak perlu mengurus Bunda. Itu bukan tugas kamu.

Jujur, ringkas, dengan batas agar anak tidak diangkat menjadi pengasuh orang tuanya yang disebut dengan jelas.

Aku juga bakal cerai nggak nanti?

Bunda nggak tahu. Bunda rasa nggak ada orang yang bisa tahu hal itu tentang dirinya sendiri dari sekarang. Sebagian anak dari orang tua yang berpisah berakhir dalam pernikahan yang panjang, sebagian berakhir dengan berpisah, banyak banget jenis kehidupan yang terjadi. Yang Bunda tahu, kamu sudah menyaksikan dua orang dewasa menangani sesuatu yang berat sebaik yang mereka bisa, dan itu sebenarnya hal yang berguna untuk pernah disaksikan.

Mengubah bingkai pertanyaan itu. Ketakutan di bawahnya adalah apakah aku rusak. Jawabannya adalah nggak, kamu seorang anak yang sudah menyaksikan orang dewasa melakukan sesuatu yang berat.

Aku bakal ngerasa normal lagi nggak ya?

Iya. Dengan cara yang beda. Pada akhirnya, ini akan menjadi bentuk hidupmu, bukan sesuatu yang aneh yang pernah terjadi. Butuh waktu. Tapi itu akan terjadi.

Izin untuk berduka, keyakinan yang lembut tentang perjalanan panjangnya.

Ketika pertanyaannya memang kamu tahu jawabannya tapi tidak bisa kamu bagikan

Kadang anak menanyakan sesuatu yang memang kamu tahu jawabannya, tapi jawaban itu tidak pantas untuk diterima oleh anak. Ayah dulu selingkuh ya? Kenapa Bunda sebenarnya pergi? Kamu tahu jawabannya. Kamu tidak bisa membagikannya. (Lihat Artikel 02 dan Artikel 07.)

Dalam kasus ini, Bunda nggak tahu tidak jujur. Yang lebih baik adalah versi yang menyebut bahwa kamu sedang menahan sesuatu.

Bunda nggak akan menjawab itu sama kamu sekarang. Ada beberapa hal detail antara Bunda dan Ayah yang bukan beban untuk kamu pikul. Nanti pas kamu udah lebih besar, kalau kamu masih mau bertanya, kita bisa membicarakannya dengan cara yang beda.

Anak sanggup memegang ini. Yang tidak sanggup dia pegang adalah dibohongi lalu, bertahun-tahun kemudian, menemukan kebohongan itu.

Ketika pertanyaannya retoris

Kadang anak menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak dia harapkan jawabannya. Kenapa sih ini terjadi sama aku? Kenapa sih kita nggak bisa jadi keluarga yang normal aja? Ini bukan pertanyaan yang sungguhan. Ini duka dalam bentuk pertanyaan.

Tanggapan yang tepat bukanlah memberi jawaban. Tanggapan yang tepat adalah menjadi saksi. Bunda tahu. Ini memang nggak adil. Bunda juga berharap semuanya bisa beda.

Setelah itu, duduklah bersamanya. Jangan coba membereskan perasaan itu. Jangan menyebut satu per satu sisi baiknya. Cukup berada di situ bersamanya selagi dia duduk dengan betapa beratnya hal ini.

Apa yang kamu ajarkan ketika kamu bilang Bunda nggak tahu

Anak yang secara konsisten disambut dengan Bunda nggak tahu untuk pertanyaan-pertanyaan yang nyata, dan yang menyaksikan orang tuanya duduk bersama ketidaktahuan itu alih-alih menutupinya, belajar beberapa hal yang berguna tentang hidup.

Dia belajar bahwa orang dewasa pun tidak punya semua jawaban. Ini justru sebuah kelegaan bagi anak yang selama ini memikul beban menyangka orang dewasa sudah paham segalanya dan dia pun seharusnya begitu.

Dia belajar bahwa ketidakpastian bisa dijalani. Dia menyaksikan orang tuanya memegang ketidakpastian di dalam ruangan itu dan tidak runtuh. Dia belajar bahwa dia pun bisa melakukan hal yang sama.

Dia belajar bahwa kejujuran lebih penting daripada penenangan. Dia belajar bahwa dia diperlakukan dengan hormat, bukan dilindungi dari kenyataan.

Dia belajar bahwa pertanyaan-pertanyaan yang berat boleh ditanyakan kepadamu, dan hubungan kalian akan tetap bertahan.

Ini pelajaran-pelajaran yang mendasar. Pelajaran ini terbawa sampai dewasa. Harga dari punya orang tua yang tidak bisa berkata Bunda nggak tahu, dalam jangka panjang, lebih besar daripada harga dari diberi sebuah ramalan yang ternyata tidak benar.

Pertanyaan yang berulang

Ada pertanyaan yang ditanyakan berkali-kali. Nanti Bunda sama Ayah bakal bisa baikan lagi nggak? mungkin muncul di usia 9 tahun, lalu lagi di usia 12, lalu lagi di usia 16. Jawaban yang tepat di setiap usia sedikit berbeda, karena apa yang sebenarnya diketahui sudah bergeser.

Bentuk dasarnya tetap sama. Duduk bersama pertanyaan itu. Akui pertanyaannya. Katakan apa yang kamu tahu. Pegang ketidakpastian. Jangan berjanji. Jangan mematahkan. Ulang sebanyak yang diperlukan.

Penutup

Pertanyaan yang ditanyakan anak dari keluarga yang berpisah termasuk pertanyaan-pertanyaan paling sulit yang akan diterima orang tua mana pun sepanjang hidupnya. Tidak ada naskah untuknya. Sebagian besar tidak punya jawaban yang bersih. Apa yang sedang diminta darimu, biasanya, bukan sebuah jawaban. Yang diminta adalah kehadiran. Kesediaan untuk duduk bersama sesuatu yang berat. Teladan seorang dewasa yang bisa memegang ketidakpastian tanpa runtuh.

Bunda nggak tahu sudah cukup. Bunda nggak tahu, dan Bunda ada di sini lebih dari cukup. Bunda nggak tahu, dan Bunda ada di sini, dan kita bakal cari tahu bareng-bareng seiring waktu adalah kalimat yang, kalau diberikan kepada anak sekali setahun selama sepuluh tahun, membangun sesuatu yang tahan lama.

Malam Selasa. Kaus yang sudah dilipat kembali ke tumpukan. Kamu memandang anakmu yang berumur sebelas tahun itu. Kamu bilang Bunda nggak tahu apakah suatu hari nanti Bunda dan Ayah bakal jadi teman. Bunda harap kami bisa cukup baik satu sama lain supaya bisa hadir bareng di acara-acara sekolah kamu. Bunda rasa ini mungkin butuh waktu. Bunda minta maaf nggak bisa kasih jawaban yang lebih baik dari itu. Dia mengangguk. Dia mengambil sehelai kaus kaki. Dia membantumu melipat selama beberapa menit. Cucian pun selesai. Pertanyaan itu terpegang. Itulah bentuknya malam ini.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.