Mendengarkan lebih dari sekadar memberi tahu
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Mendengarkan lebih dari sekadar memberi tahu
Modul 05 · Bicara dengan anak · Artikel 08 · Wave 2 · untuk semua usia
Jumat sore. Anakmu yang berumur 10 tahun baru saja pulang sekolah. Ada sesuatu yang terjadi, kamu bisa membacanya dari cara dia menggendong tasnya. Dia berjalan melewatimu tanpa melepas sepatu, menjatuhkan tasnya di ruang depan, lalu duduk di anak tangga paling bawah. Kamu bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia menggeleng. Kamu ikut duduk di sampingnya di tangga itu. Kamu tidak berkata apa-apa lagi.
Artikel ini soal momen seperti itu, dan sebagian besar momen di tahun pertama perpisahan yang benar-benar penting. Momen ketika hal paling berguna yang bisa dilakukan orang tua adalah, sesederhana itu, tidak bicara.
Naluri untuk mengisi keheningan
Naluri orang tua di momen-momen sulit, terutama di tahun perpisahan, adalah mengisi keheningan dengan kata-kata. Penenangan. Penjelasan. Cerita. Perbandingan. Pertanyaan. Harapan. Orang tua mengira mereka sedang membantu. Sering kali, mereka sebenarnya sedang menenangkan kecemasan mereka sendiri dengan memenuhi ruangan dengan suara mereka.
Ini salah satu pola yang paling besar dampaknya dalam wilayah bicara dengan anak. Orang tua yang menenangkan kecemasannya sendiri dengan bicara, justru di saat anaknya sedang memproses, melewatkan apa yang sebenarnya anak mereka katakan. Mereka melewatkan keheningan yang menyimpan perasaan yang sesungguhnya. Mereka melewatkan pertanyaan yang hampir saja anak ajukan, yang lalu terkubur di bawah penenangan yang ketiga. Mereka melewatkan tekstur dari momen itu.
Peralihan, dalam modul ini, dari memberi tahu dengan baik menjadi mendengarkan dengan baik, adalah salah satu peralihan yang lebih sulit yang harus dilakukan orang tua yang sedang berpisah. Di sini ada satu lapisan tambahan yang khas buat kita. Banyak rumah di Indonesia tumbuh dengan satu naskah: anak harus mendengarkan orang tua, bukan sebaliknya. Mendidik, mengarahkan, dan menasihati terasa seperti tugas utama orang tua. Justru di sinilah artikel ini meminta sesuatu yang terasa berlawanan: untuk sementara, balik arahnya. Sebagian besar artikel dalam modul ini soal apa yang sebaiknya kamu katakan. Yang ini soal kapan kamu sebaiknya berhenti.
Apa sebenarnya mendengarkan itu
Mendengarkan bukan menunggu giliranmu untuk bicara.
Mendengarkan bukan menyusun nasihat dalam diam.
Mendengarkan bukan melatih responsmu di dalam kepala sambil menjaga wajah tetap netral.
Mendengarkan itu kehadiran. Satu jenis kehadiran yang khusus, dengan beberapa unsur.
Tubuh menunjukkan bahwa kamu ada di sini. Kamu duduk, bukan berdiri menjulang di atasnya. Kamu sejajar dengan tingginya atau lebih rendah. Kamu menghadap ke arahnya. HP-mu kamu letakkan. Tidak sambil menggendong adiknya. Anak yang satu lagi tidak sedang menyela. Cucian piring bisa menunggu. Kalau di rumah ada asisten yang ikut menyambut anak pulang, momen seperti ini sebaiknya jadi momen berdua, jauh dari telinga yang lain.
Wajah dalam keadaan apa adanya. Bukan sedang berakting prihatin. Bukan sedang menyiapkan respons lebih dulu. Berdiam dalam apa pun yang benar-benar kamu rasakan. Anak-anak membaca wajah dengan jelas. Wajah yang terlalu banyak berbuat terbaca sebagai tidak mendengarkan.
Mulut tertutup. Inilah bagian yang paling sulit. Mulut ingin bertanya. Ingin menawarkan penenangan. Ingin memperjelas satu detail. Ingin berkata itu mengingatkan Bunda waktu seusiamu. Ingin menawarkan solusi. Mulut harus tetap tertutup cukup lama supaya anak bisa sampai pada apa pun yang sebenarnya ingin dia katakan.
Perhatian tertuju padanya. Bukan pada apa yang akan kamu katakan berikutnya. Bukan pada jam berapa sekarang. Bukan pada apakah Co-Parent kamu akan kesal kalau makan malam telat. Padanya.
Kedengarannya sederhana. Dalam praktiknya, ini menuntut banyak disiplin dari dalam diri, terutama saat apa yang dikatakan anak sulit untuk didengar, atau saat kondisi emosimu sendiri ikut terpancing.
Apa saja yang menghalangi
Sebagian besar orang tua, termasuk yang baik sekalipun, menghalangi proses anaknya dalam pola yang bisa ditebak. Mengenali polanya sudah setengah dari pekerjaannya.
Penenangan yang terlalu cepat. Anak berkata aku sedih. Orang tua menjawab aduh sayang, kamu nggak perlu sedih kok, semuanya bakal baik-baik aja. Yang ditangkap anak sekarang adalah pesan bahwa kesedihannya tidak diterima, bahwa dia sebaiknya menyembunyikannya, bahwa dia membuat orang tuanya tidak nyaman karena mengungkapkannya. Dia akan jadi lebih sedih, dan dia akan makin jarang menceritakannya padamu.
Buru-buru memberi solusi. Anak berkata aku kangen rumah Ayah kalau lagi di sini. Orang tua menjawab kita telepon Ayah sekarang yuk kalau kamu mau. Atau nanti Bunda tanya, mungkin kamu bisa ke sana sehari lebih awal minggu depan. Anak tidak sedang meminta solusi. Dia sedang menceritakan sesuatu padamu. Solusi itu malah menutup pintu percakapan.
Membanding-bandingkan. Waktu Bunda seusiamu, Bunda sama Kakek dulu. Sepupumu juga pernah mengalami yang mirip. Banyak kok anak yang orang tuanya tinggal di kedua rumah. Kalimat seperti ini kadang dimaksudkan baik. Tapi hampir selalu mendarat sebagai pengalamanmu nggak cukup istimewa untuk pantas diperhatikan.
Menjelaskan ulang. Inget ya sayang, Bunda kan udah cerita, Bunda sama Ayah nggak cocok lagi, jadi kami memutuskan punya kedua rumah, dan itu sebenarnya hal yang baik karena. Anak sudah tahu. Dia sudah mendengarnya. Dia bukan sedang memproses penjelasan saat ini. Dia sedang memproses sebuah perasaan. Menjelaskan ulang adalah penenangan yang menyamar sebagai informasi.
Pertanyaan, terlalu banyak. Orang tua yang bermaksud baik, yang mendengar aku sedih lalu menyahut dengan kamu sedih kenapa, mulai kapan, ini soal Bunda ya, mau cerita ke Ayah apa yang terjadi. Setiap pertanyaan adalah gangguan kecil. Anak tidak bisa menjawab empat pertanyaan sekaligus. Menjelang pertanyaan ketiga, perasaan yang semula sudah terkubur.
Berpidato. Orang tua yang sudah lama menunggu percakapan ini, sudah melatih apa yang ingin dia katakan, dan sekarang menyampaikannya. Bunda mau kamu tahu bahwa apa pun yang terjadi, Ayah dan Bunda sama-sama sayang kamu, dan ini sesuatu yang sudah kami pikirkan matang-matang, dan kesejahteraanmu adalah prioritas paling utama buat kami. Ini pidato orang tua. Bukan percakapan. Anak berhenti mendengarkan sekitar kalimat kedua.
Menjadikannya soal dirimu. Ini juga berat banget buat Bunda. Kadang memang benar. Tapi biasanya bukan itu yang anak butuh dengar pada saat itu. Tugas orang tua adalah memberi ruang untuk pengalaman anak. Pengalaman orang tua bisa disuarakan di tempat lain.
Mengecek HP. Hal kecil yang hampir selalu ada. Anak melihatnya. Anak merasakan perhatian yang cuma separuh itu. Anak pun menutup pintu.
Seperti apa bunyinya mendengarkan, saat ia terjadi
Bunyinya sebagian besar seperti keheningan, dengan sesekali sedikit selaan yang menjaga percakapan tetap mengalir tanpa mengalihkannya.
Hmm.
Iya.
Cerita lagi dong soal itu.
Kedengarannya berat ya.
Ada lagi?
Bagian mana yang paling nggak enak?
Itu saja. Lima atau enam baris, dipakai secukupnya, sudah cukup untuk membuat seorang anak bicara setengah jam soal sesuatu yang tidak akan dia ucapkan dalam dua menit kalau kamu sibuk melempar pertanyaan beneran.
Kalimat cerita lagi dong soal itu termasuk salah satu kalimat paling berguna yang bisa dipelajari orang tua. Tidak ada penilaian di dalamnya, tidak ada arahan, tidak ada dorongan untuk menyelesaikan masalah. Ia hanya membuka ruang.
Kalimat kedengarannya berat ya adalah yang kedua paling berguna. Ia mengakui perasaan itu tanpa berusaha membereskannya atau buru-buru melewatinya.
Keterampilannya ada pada memakai ini secukupnya. Bukan terus-menerus. Anak yang mendengar kedengarannya berat ya setiap empat kalimat akan mulai merasa seperti sedang dijadikan penonton. Pakai salah satunya setiap beberapa menit sekali. Sisanya, habiskan dengan tidak berkata apa-apa.
Saat anak mengatakan sesuatu yang tidak kamu duga
Versi mendengarkan yang paling sulit adalah saat anak mengatakan sesuatu yang kamu belum siap dengar. Aku udah nggak suka di rumah Ayah. Aku pengennya tinggal sama Bunda aja. Aku nggak mau ikut jadwalnya lagi. Aku ngerasa Bunda sedih terus dan itu gara-gara aku.
Nalurinya muncul seketika. Kamu ingin merespons. Kamu ingin membereskannya. Kamu ingin meluruskan kesalahpahaman, atau buru-buru bertindak, atau langsung menelepon Co-Parent, atau mengatur ulang jadwal.
Jangan lakukan semua ini di saat itu juga. Respons pertama, tetap, mendengarkan.
Cerita lagi.
Apa yang bikin rasanya jadi begitu?
Mulai kapan ini?
Lalu kamu duduk dengan apa yang dia katakan. Jangan mengambil keputusan di tengah percakapan. Jangan menjanjikan apa pun. Jangan meremehkannya. Jangan membesar-besarkannya. Cukup dengarkan.
Setelah percakapan, kamu bisa bertindak. Kamu bisa memikirkan apa yang sudah kamu dengar. Kamu bisa bicara dengan Co-Parent kalau memang relevan. Kamu bisa menyesuaikan sesuatu kalau memang perlu disesuaikan. Tapi tindakan itu milik momen yang berbeda. Momen mendengarkan adalah miliknya sendiri.
Apa yang kadang kamu temukan
Saat orang tua mendengarkan dengan baik, mereka sering mendapati bahwa apa yang mereka kira sedang terjadi pada anak ternyata bukan apa yang sebenarnya terjadi.
Anak yang merajuk saat serah-terima ternyata bukan kesal soal serah-terimanya, melainkan soal masalah pertemanan yang belum sempat dia ceritakan. Anak yang tampak enggan dengan jadwal ternyata sedang memproses seorang guru yang tidak dia sukai. Anak yang bilang benci kamar tidurnya di rumah kedua ternyata sedang bereaksi terhadap suatu bau. Anak yang perilakunya tampak berkaitan dengan perpisahan ternyata sedang bergulat dengan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya.
Kamu baru menemukan ini saat kamu mendengarkan cukup lama sampai anak sampai pada hal yang sebenarnya. Beberapa kalimat pertama yang keluar dari mulut anak jarang sekali merupakan hal yang sebenarnya. Hal yang sebenarnya biasanya baru muncul setelah beberapa waktu.
Rentang usia
Mendengarkan penting di setiap usia, tapi teksturnya berbeda-beda.
Anak usia 3 sampai 7 umumnya belum punya rangka bahasa untuk bicara secara panjang. Mendengarkan di sini berbentuk duduk di sampingnya selagi dia bermain. Mengamatinya. Tersedia. Tidak bertanya. Membiarkan permainan itu menjadi komunikasinya. Sesekali satu komentar singkat. Kayaknya kamu lagi bikin kedua rumah ya. Lalu hening lagi.
Anak usia 8 sampai 12 sudah bisa bicara dalam alur yang lebih panjang, tapi sering kali secara menyamping. Sambil mengerjakan hal lain. Mendengarkan di sini berarti hadir di momen-momen menyamping itu dan tidak menjadikannya acara utama. Jangan duduk berhadapan dengannya lalu mengumumkan yuk kita ngobrol. Ajak jalan-jalan sore. Antar dia ke suatu tempat sambil naik motor. Kerjakan teka-teki bareng. Bicara sambil melakukan sesuatu.
Anak remaja adalah yang paling sulit, karena mereka berkomunikasi secara terpilih dan di jendela-jendela waktu yang tidak terduga. Mendengarkan di sini berarti tersedia tanpa mengejar. Duduk di dapur jam 11 malam saat dia turun, bukan sambil main HP. Tidak membuntutinya naik ke kamar setelah perbincangan yang berat. Ada di situ saat dia memutuskan untuk kembali.
Saat mendengarkan saja tidak cukup
Ada momen ketika mendengarkan saja bukan respons yang tepat. Saat anak melaporkan sesuatu yang berbahaya (keselamatan dirinya, keselamatan orang lain, ada yang menyakitinya). Saat dia menggambarkan suasana hati yang terus-menerus murung. Saat dia mengangkat sesuatu yang butuh tindakan segera.
Di momen-momen ini, mendengarkan adalah respons pertama, tapi bukan satu-satunya. Kamu dengarkan dulu. Lalu kamu bertindak. Jangan lewati tahap mendengarkan, sekalipun situasinya mendesak. Anak perlu tahu bahwa dia sudah didengar sebelum dia bisa memercayai tindakan yang menyusul.
Modul 17 (Saat Co-Parent kamu tidak baik-baik saja) membahas situasi saat anak mengangkat sesuatu yang serius. Modul 04 (Perilaku remaja & otonomi) membahas kesehatan mental remaja. Keduanya dibangun di atas fondasi mendengarkan ini. Kalau yang muncul menyentuh keselamatan atau kekerasan, ada juga jalur bantuan: Layanan SAPA 129 dari KemenPPPA (telepon 129, WhatsApp 08111-129-129) dan UPTD PPA di tingkat kota atau kabupaten. Untuk hal yang menyangkut anakmu sendiri, guru BK di sekolah sering bisa jadi titik awal yang aman.
Apa yang diajarkan mendengarkan kepada anak
Anak yang secara konsisten didengarkan belajar beberapa hal yang akan dia bawa seumur hidupnya.
Dia belajar bahwa pengalaman batinnya layak diperhatikan. Dia belajar bahwa orang dewasa bisa memegang hal-hal yang sulit tanpa hancur. Dia belajar bahwa bicara itu membantu. Dia belajar bahwa dia tidak perlu berakting punya perasaan tertentu agar dianggap serius. Dia belajar bahwa pemahamannya sendiri yang baru tumbuh tentang apa yang sedang terjadi padanya itu bisa dipercaya.
Anak yang secara konsisten tidak didengarkan belajar serangkaian hal yang berbeda. Bahwa bicara itu tidak aman. Bahwa perasaan itu merepotkan. Bahwa dia sebaiknya mengurus dulu reaksi orang tuanya sebelum mengungkapkan pengalamannya sendiri. Bahwa apa yang sedang terjadi padanya tidak cukup menarik untuk pantas mendapat perhatian yang berkelanjutan.
Harga dari salah menangani hal ini tinggi. Sedangkan kalau kamu berhasil menanganinya dengan cukup baik, itu salah satu hadiah terpenting yang bisa diberikan orang tua yang sedang berpisah.
Penutup
Pekerjaan dalam artikel ini kecil dan sulit. Hadir. Jangan mengisi keheningan. Bertanya lebih sedikit. Mendengarkan lebih banyak. Duduk di anak tangga di samping anak tanpa berkata apa-apa selama sepuluh menit.
Kamu tidak harus melakukannya dengan sempurna. Anak tidak butuh setiap momen menjadi karya agung keselarasan. Dia butuh sebagian besar momen, dari waktu ke waktu, terasa seperti momen saat dia didengar. Tekstur yang terkumpul itulah yang dia bawa.
Jumat sore. Anak tangga paling bawah. Anak yang berumur 10 tahun itu, bersandar sedikit ke bahumu, belum menangis. Kamu duduk. Kamu tidak berkata apa-apa. Setelah beberapa menit, dia mulai bicara. Kamu mendengarkan. Sisa malam itu bisa menunggu.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.