dip
Belikan Kopi
Modul 03 · Rutinitas usia sekolah

Saat sekolah jadi tempat paling aman

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

4–78–129 menit baca
Saat sekolah jadi tempat paling aman

Saat sekolah jadi tempat paling aman

Modul 03 · Rutinitas usia sekolah · Artikel 27 · Wave 1 · umur 4-12


Di minggu-minggu tertentu, sekolah jadi bagian paling tenang dalam hari anakmu.

Pagi terburu-buru; sore tidak menentu. Serah-terima terasa berat. Percakapan antara kedua rumah penuh ketegangan. Pasangan baru masih mencari pijakan. Atau tidak ada pasangan baru, dan orang tuanya sendiri sedang bergulat. Atau satu rumah stabil dan satu lagi sedang dalam masa peralihan. Atau kedua rumah sedang dalam jenis gerak yang berbeda, dan anak ada di tengah-tengah.

Di tengah semua itu, sekolah duduk diam. Bangunan yang sama. Guru yang sama. Meja yang sama. Teman-teman yang sama di kursi yang sama. Makan siang yang sama di kantin yang sama pada jam yang sama. Pelajaran matematika yang sama pada Selasa pagi, yang ada minggu lalu dan minggu sebelumnya juga.

Bagi anak yang kehidupan rumahnya sedang bergerak, sekolah kadang jadi tempat paling stabil dalam minggunya.

Artikel ini soal itu. Anak yang baginya sekolah berfungsi sebagai tanah pijakan yang teguh. Apa artinya. Apa yang perlu dilakukan. Apa yang tidak perlu dilakukan.

Kenapa ini penting

Anak usia sekolah menghabiskan kira-kira enam jam sehari, lima hari seminggu, di sekolah. Itu sepertiga dari jam bangunnya.

Bagi kebanyakan anak, sekolah adalah salah satu dari dua ruang yang relatif stabil dalam hidup mereka, bersama satu atau kedua rumahnya. Anak bergerak antara rumah dan sekolah dalam irama yang memegang.

Bagi anak yang situasi rumahnya sedang bergolak, sekolah jadi lebih dari salah satu dari dua ruang stabil. Sekolah jadi ruang stabil itu.

Ini bukan sesuatu yang keliru. Ini adaptif. Anak-anak mencari tanah pijakan yang teguh dalam hidup mereka, lalu bersandar padanya. Sekolah memang sering jadi tanah yang teguh.

Persoalannya bukan sekolah itu stabil. Persoalannya adalah apa artinya bagi keadaan rumah kalau sekolah sudah jadi bagian yang stabil. Ada rumah yang sedang dalam gejolak sementara (perpisahan yang sedang berlangsung, pasangan baru yang sedang menyatu, pindah rumah). Ada yang dalam gejolak jangka panjang. Kestabilan sekolah punya arti yang berbeda di tiap kasus.

Tanda-tandanya

Anak yang baginya sekolah jadi tempat paling aman sering menunjukkan pola yang bisa dikenali.

Dia ingin pergi ke sekolah. Bahkan di hari-hari saat kebanyakan anak akan malas-malasan. Anak itu bangun dan sudah siap. Dia tidak sabar keluar dari rumah dan sampai di sekolah.

Dia tidak mau pulang. Saat dijemput jadi sulit. Dia berlama-lama di gerbang. Dia mau main lebih lama dengan teman-temannya. Dia mengulur-ulur waktu untuk masuk mobil.

Dia bicara soal sekolah lebih banyak daripada soal rumah. Ceritanya di meja makan adalah cerita sekolah. Gambarnya adalah gambar sekolah. Teman-temannya ada di sekolah. Pusat dunianya ada di sekolah.

Dia jadi lebih dirinya sendiri di sekolah. Guru melaporkan anak yang cerewet, aktif, percaya diri. Kamu mengenal anakmu sebagai pribadi yang lebih pendiam, lebih tertutup di rumah. Versi sekolah itu terdengar seperti anak yang berbeda.

Dia jadi lebih cemas saat libur sekolah. Saat sekolah berhenti, kestabilan itu pun berhenti. Tanda-tanda gelisah meningkat saat libur panjang.

Dia menceritakan ke gurunya hal-hal yang tidak dia ceritakan ke kamu. Guru menyebut, sambil lalu, bahwa anakmu membagikan sesuatu yang membuatmu terkejut. Anak itu punya hubungan dengan gurunya, dan di dalam hubungan itu dia mengatakan hal-hal yang tidak dia katakan di rumah. Di sekolah dasar di Indonesia, kadang yang lebih dulu menangkapnya adalah guru BK (bimbingan konseling), kalau sekolahnya punya. Kualitasnya berbeda-beda dari satu sekolah ke sekolah lain, tapi peran ini ada justru untuk mengenali anak yang rumahnya sedang bergejolak.

Tanda-tanda ini tidak selalu berarti rumah sedang sulit. Ada anak yang memang anak sosial yang suka sekolah, yang berkembang dalam lingkungan yang terstruktur. Sekolah luar biasa bagi mereka; rumah juga baik-baik saja.

Tanda-tanda ini jadi penting saat berkumpul bersama dan sejalan dengan satu sumber tekanan yang sudah kamu ketahui di rumah.

Apa yang perlu dilakukan, segera

Dua langkah penting, apa pun yang sedang terjadi di rumah.

Satu: jangan melemahkan sekolah. Kalau sekolah adalah bagian yang stabil, jangan ganggu.

Artinya datang tepat waktu untuk menjemput. Mengirim anak ke sekolah sesuai jadwal. Tidak menarik anak keluar untuk absen yang lama kecuali memang perlu. Menjaga rutinitas yang jadi sandaran anak.

Artinya juga tidak membingkai sekolah secara negatif di rumah. Aduh, sekolah berat banget ya. Kenapa sih gurunya selalu nyuruh nulis banyak-banyak? Komentar kecil seperti ini, kalau diulang-ulang, bisa mengikis rasa anak bahwa sekolah adalah tempat yang stabil. Jangan, sekalipun cuma sambil lalu, melakukan ini kalau kamu sudah menyadari bahwa sekolah berfungsi sebagai ruang yang stabil.

Dua: lindungi kedudukan guru dalam hidup anak. Guru jadi lebih penting dari biasanya bagi anak yang baginya sekolah adalah tempat yang teguh. Di Indonesia, sosok guru, Bu Guru atau Pak Guru, memang punya wibawa tersendiri, dan itu justru bisa jadi kekuatan di sini. Jangan bicara negatif soal gurunya. Jangan membantah keputusan guru di depan anak. Jangan bilang ke anak bahwa gurunya salah soal sesuatu.

Guru tidak harus jadi orang dewasa yang sempurna. Guru hanya perlu jadi orang dewasa yang stabil, bisa diandalkan, dan bisa diprediksi dalam hidup anak. Yang penting adalah sandaran anak pada kestabilan guru itu.

Ini mungkin berarti membiarkan saja beberapa keputusan guru yang sebenarnya ingin kamu pertanyakan. Pilih mana yang benar-benar perlu diperjuangkan. Hal-hal yang lebih kecil tinggal antara kamu dan guru, bukan di depan anak.

Apa yang perlu dilakukan, secara struktural

Begitu kamu menyadari bahwa sekolah berfungsi sebagai tempat yang stabil, kerja di rumah pun menyusul.

Kestabilan rumah perlu tumbuh. Kestabilan sekolah sedang menyediakan apa yang belum disediakan rumah, di musim ini. Pada akhirnya rumah juga perlu stabil.

Ini bukan berarti memperbaiki semuanya sekaligus. Kadang gejolak di rumah memang perlu atau tidak terhindarkan (perpisahan, kematian, perubahan pekerjaan). Kerjanya bukan membuat rumah jadi sempurna; kerjanya adalah menambah kestabilan di tempat yang masih bisa kamu lakukan.

Langkah-langkah yang lebih kecil dan lebih langsung.

Pegang rutinitas yang sudah ada. Apa pun jam tidurnya, pegang. Apa pun pola mengerjakan PR-nya, pegang. Apa pun pola makan malamnya, pegang. Rutinitas yang dipegang itu sendiri adalah satu bentuk kestabilan.

Jangan menambah hal baru selama masa yang bergolak. Hewan peliharaan baru, pindah rumah baru, perkenalan dengan pasangan baru di musim saat sekolah sudah jadi tempat yang stabil, semuanya terlalu banyak. Tunda dulu kalau bisa.

Bicara dengan Co-Parent. Rumah satu lagi mungkin juga sedang bergolak; gabungan keduanyalah yang menjadikan sekolah tempat yang teguh. Percakapan antara kedua orang tua tetap tenang dan penuh pengamatan. Aku rasa sekolah lagi lebih stabil daripada rumah buat dia sekarang. Kamu lihat itu juga nggak?

Cari bantuan kalau perlu. Anak yang situasi rumahnya benar-benar berantakan, dengan sekolah sebagai tanah pijakannya, mungkin terbantu oleh dukungan dari luar. Guru BK. Psikolog atau terapis keluarga. Kesadaran dari guru. Dalam banyak keluarga Indonesia, rumah juga lebih dari sekadar Bunda dan Ayah: ada kakek-nenek, paman-bibi, kadang asisten rumah tangga yang ikut menjaga keseharian anak. Mereka bisa jadi bagian dari kestabilan yang kamu bangun. (Lihat Modul 13 Artikel 06.)

Saat sekolah yang tahu lebih dulu

Kadang gurunya menyadari sebelum kamu menyadarinya.

Guru yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan anak usia sekolah bisa mengenali anak yang baginya sekolah adalah tempat paling aman. Di banyak sekolah, mereka memang dilatih untuk mengenali ini. Mereka mungkin akan menghampirimu untuk bicara.

Percakapan dengan guru yang sudah menyadarinya layak diberi perhatian.

Guru itu tidak sedang menuduhmu. Dia sedang berbagi apa yang dia lihat. Saya perhatikan Lily kelihatan lebih rileks begitu sampai di sekolah. Belakangan dia lebih cemas di gerbang sekolah waktu pagi. Saya ingin menyampaikannya saja.

Respons yang tepat adalah mendengarkan, bukan membela diri. Terima kasih sudah memberi tahu. Kami memang sedang melewati banyak hal di rumah. Saya akan memikirkan yang Bapak sampaikan.

Jangan beradu argumen dengan guru soal apakah rumahmu stabil atau tidak. Jangan merinci hal-hal yang sudah kamu lakukan dengan baik. Jangan menceritakan soal rumah Co-Parent dan bagaimana rumah itu jadi sumber masalahnya. Guru tidak ada di situ untuk berpihak.

Bawa pulang apa yang guru sampaikan. Pikirkan. Bicara dengan Co-Parent kalau memang sesuai. Sesuaikan kalau perlu.

Kalau pengamatan guru itu cukup serius, dia mungkin juga wajib menyampaikannya ke pihak sekolah atau ke layanan di luar sekolah. Ada pola-pola tertentu yang memicu jalur resmi. Bekerja samalah dengan ini, dengan tenang. Peran sekolah adalah mendukung anak, bukan menghukummu.

Saat rumah memang tidak aman

Ada satu kondisi khusus yang perlu disebut dengan jelas. Sebagian anak mendapati sekolah sebagai tempat paling aman karena rumah mereka, dalam cara tertentu, memang tidak aman.

Kekerasan dalam rumah tangga antara kedua orang tua. Pasangan baru yang berperilaku tidak pantas. Orang tua yang kondisi kesehatan jiwa atau pemakaian zatnya menciptakan lingkungan yang tidak aman. Situasi antarsaudara yang sudah jadi membahayakan.

Kalau ini yang terjadi, sekolah bisa sekaligus jadi tempat paling aman bagi anak dan tempat di mana masalahnya jadi terlihat. Guru, guru BK, dan tenaga kesehatan sekolah dilatih untuk mengenali dan menanggapi.

Kalau kamu orang tua yang menyadari ini, ada dua jalur.

Kalau kamu orang tua di rumah yang lebih aman, kerjanya adalah membuat rumahmu aman secara konsisten dan menangani keamanan rumah satu lagi lewat jalur yang tepat. Jangan mencoba menangani ini sendirian. Layanan SAPA 129 dari KemenPPPA bisa dihubungi lewat telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129 untuk perlindungan perempuan dan anak. Di tingkat kabupaten atau kota, ada UPTD PPA. Untuk perlindungan anak, ada KPAI. Untuk keadaan darurat yang butuh respons segera, hubungi Polri di 110. Bagi keluarga yang lebih dulu merujuk ke pemuka agama (ustaz, ustadzah, kiai, pendeta, pastor), itu juga satu titik awal yang baik, tapi jalur resmi tetap perlu.

Kalau kamu orang tua di rumah yang sudah jadi tidak aman, kerjanya adalah mengubahnya. Cari bantuan. Hentikan polanya. Apa pun yang diperlukan. Kalau kamu sendiri sedang bergulat dengan kondisi kesehatan jiwa, mulai dari dokter keluarga atau Puskesmas, lalu Layanan Sehat Jiwa Kemenkes. Tidak ada yang memalukan dalam meminta tolong, sekalipun rasa malu di sekitar kesehatan jiwa masih sering terasa berat.

Dalam keadaan apa pun, sekolah bisa jadi mitra. Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dari sekolah. Guru, kepala sekolah, guru BK, dan tenaga kesehatan sekolah sudah pernah melihat pola seperti ini sebelumnya. Manfaatkan sumber daya yang mereka tawarkan.

(Untuk versi yang lebih sulit dari percakapan-percakapan ini, lihat artikel-artikel Modul 13 tentang keselamatan, dan Modul 09 tentang Co-Parent yang sulit.)

Saat rumah jadi stabil kembali

Kondisi yang paling terbantu oleh artikel ini adalah kondisi yang sementara. Rumah sedang bergolak; sekolah jadi tanah pijakan yang teguh; pada akhirnya rumah pun reda.

Saat rumah memang reda, kamu mungkin akan menyadari pergeserannya.

Anak tidak lagi mengulur-ulur waktu saat dijemput. Dia senang pulang ke rumah. Dia ingin berada di rumah. Sekolah masih penting, tapi bukan lagi satu-satunya tempat yang stabil.

Ini tanda yang positif. Rumah sudah menyusul sekolah dalam keteguhan.

Kedua ruang yang sama-sama stabil bukanlah dua kali lebih stabil dibanding satu yang stabil. Itu keadaan yang berbeda. Anak bisa beristirahat sepenuhnya. Dia tidak perlu lagi memikul beban bergantung pada satu tempat untuk menopangnya.

Percakapannya bukan sesuatu yang dramatis. Tadi dia kelihatan senang pulang ke rumah. Iya. Dia jadi lebih dirinya sendiri. Itulah penandanya.

Penutup

Email dari guru masuk pada bulan Mei. Mira sudah lebih tenang. Dia kelihatan lebih bahagia dengan dirinya sendiri semester ini. Saya ingin berbagi saja, karena kita sempat berbincang di awal tahun.

Kamu membaca email itu dua kali. Kamu duduk dengannya beberapa menit.

Pada bulan Desember, Mira adalah anak yang disadari oleh gurunya. Rumah sedang tidak menentu: perpisahan itu tidak berjalan mulus, kamu dan Co-Parent sedang mencari pola yang baru. Sekolah jadi tempat yang teguh. Gurunya menyadarinya.

Sekarang, enam bulan kemudian, rumah sudah lebih stabil. Serah-terima berjalan tenang. Rutinitas terpegang. Kamu dan Co-Parent sudah dalam komunikasi mingguan yang stabil. Pola-pola baru sudah menetap.

Mira tidak lagi membutuhkan sekolah sebagai tempat paling aman. Dia aman di sekolah. Dia juga aman di rumah. Kedua rumah.

Kamu meneruskan email itu ke Co-Parent. Kayaknya kamu mau lihat ini deh. Co-Parent membacanya. Iya. Sama kami dia juga baik-baik aja. Percakapan berlanjut sebentar, lalu beralih ke urusan praktis minggu depan.

Sekolah masih jadi tempat yang teguh. Begitu juga setiap rumah. Anak itu punya tiga tempat. Itulah tujuannya.

Inilah tekstur co-parenting saat melewati masa-masa sulit. Kadang sekolah memikul lebih banyak beban. Kadang rumah yang memikulnya. Kerjanya adalah mengetahui yang mana, dan menumbuhkan kapasitas rumah untuk berdiri teguh berdampingan dengan sekolah. Saat keduanya berdiri teguh, anak pun bisa beristirahat.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.