Cemasnya sore Minggu
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Cemasnya sore Minggu
Modul 03 · Rutin usia sekolah · Artikel 29 · Wave 2 · 4–7, 8–12
Sore Minggu. Sekitar pukul empat.
Akhir pekan mulai mereda. Minggu sekolah mulai mendekat. Anakmu ada di kamarnya. Kamu sedang melipat baju sambil mendengar sesuatu di radio. Rumah sepi.
Lalu, sekitar pukul empat, ada satu rasa yang turun ke seluruh rumah. Susah dijelaskan. Cahaya sudah berubah. Hujan sore tadi baru reda, udara berbau tanah basah, dan dari kejauhan azan Ashar mulai terdengar. Minggu yang menanti tiba-tiba terlihat jelas. PR yang belum selesai. Baju olahraga yang perlu dicuci. Rapat Senin pagi. Bekal makan siang. Serah-terima Selasa sore. Upacara di sekolah hari Senin.
Kamu merasakannya. Anakmu merasakannya. Bahkan kucing di rumah pun ikut merasakannya.
Inilah cemasnya sore Minggu. Sebagian besar orang dewasa kenal rasa ini. Banyak anak juga kenal. Dalam keluarga yang menjalani co-parenting, rasa ini punya bentuknya sendiri.
Artikel ini tentang rasa itu. Bukan sebagai masalah yang harus diselesaikan. Tapi sebagai bagian dari tahun ajaran yang layak dikenali. Dan tentang langkah-langkah tertentu yang bisa membuat sore Minggu terasa lebih lembut dalam kehidupan di kedua rumah.
Sebenarnya cemas ini apa sih
Cemasnya sore Minggu itu sebagian biologis, sebagian budaya, sebagian pribadi.
Bagian biologis. Tubuh merasakan irama satu minggu. Setelah dua hari berjalan lebih pelan, sistem tubuh sedang bersiap menghadapi hari-hari yang lebih terstruktur di depan. Ada sedikit pergeseran kortisol. Tubuh tahu.
Bagian budaya. Sore Minggu, di hampir semua keluarga modern, adalah senjakala dari kebebasan akhir pekan. Toko-toko tutup lebih awal. Hari mulai gelap lebih cepat. Janji-janji minggu depan mulai terlihat. Ada satu kecondongan bersama ke arah Senin. Di rumah-rumah yang menjalankan ibadah Minggu, suasananya bisa terasa lain lagi, hangat di pagi hari lalu makin senyap menjelang sore.
Bagian pribadi. Apa pun yang sedang membuatmu khawatir tentang minggu depan akan paling terasa pada sore Minggu. Rapat yang berat. Tenggat kerja. Percakapan yang sudah lama kamu tunda. Tekanan keuangan. Urusan dengan Co-Parent yang belum kamu beresi.
Bagi anakmu, bagian pribadi ini mencakup hal-hal yang mungkin tidak kamu lihat. Masalah pertemanan minggu lalu yang belum kelar. Ulangan matematika hari Rabu. Guru yang dia kurang suka. Teman sekelas yang suka usil. Presentasi yang harus dia bawakan.
Dalam keluarga yang menjalani co-parenting, cemas ini juga mencakup tekstur minggu depan yang penuh struktur. Serah-terima tiga hari lagi. Menginap di rumah satunya hari Senin atau Selasa. Pergeseran rutinitas yang akan dia lalui lagi.
Kenapa rasa ini lebih besar bagi anak daripada yang kamu kira
Orang dewasa sering meremehkan betapa beratnya sore Minggu bisa terasa bagi anak usia sekolah.
Minggu yang menanti, bagi anak tujuh atau sepuluh tahun, berisi lima hari sekolah ditambah semua kegiatan di sekitarnya. Masing-masing adalah hal yang harus dia jalani, dia urus, dia pikul. Baju olahraga. PR. Pertemanan. Guru. Bekal. Jadwal. Serah-terima. Berpindah antara kedua rumah.
Bagi orang dewasa, minggu kerja punya iramanya sendiri. Ada tugas, ada sedikit kebebasan, harinya punya bentuk yang masih bisa diatur.
Bagi anak usia sekolah, minggunya punya lebih sedikit katup pelepas. Dia nggak bisa bilang aku lagi nggak mau ikut rapat hari ini. Dia nggak bisa memilih jadwalnya sendiri. Dia harus ada di sekolah, tepat waktu, di tempat duduknya, dengan barang yang lengkap, mengerjakan tugas, akur dengan teman-teman, sampai jam pulang tiba.
Bayangan sore Minggu atas semua ini bisa terasa besar sekali. Bahkan bagi anak yang sebenarnya senang sekolah.
Cemas ini muncul dalam bentuk apa
Pada anak, cemasnya sore Minggu bisa muncul sebagai:
Menarik diri diam-diam. Dia kembali ke kamarnya. Dia ingin sendirian. Dia tidak bermain.
Gampang tersinggung. Dia membentak karena hal kecil. Dia mudah kesal oleh sesuatu yang biasanya tidak akan membuatnya kesal.
Jadi lengket. Justru kebalikannya. Dia ingin selalu dekat denganmu secara fisik. Dia ingin lebih banyak sentuhan. Dia ingin duduk di sofa di sebelahmu lebih lama dari biasanya.
Enggan memulai apa pun. Dia tidak mau memulai proyek baru. Dia tidak mau mulai kegiatan yang panjang. Dia hanya diam dengan layar gawai atau menatap kosong.
Sakit perut dan sakit kepala. Nyata, somatik. Tubuh sore Minggu yang memegangnya.
Tawar-menawar soal minggu depan. Aku harus sekolah tiap hari ya minggu ini? Bisa nggak kita bolos hari Rabu? Kenapa sih aku nggak boleh sakit aja?
Kekhawatiran tertentu soal minggu depan. Ulangan matematika. Baju olahraga. Teman yang ngomong sesuatu. Guru.
Ini berbeda-beda pada tiap anak. Sebagian anak tidak menunjukkan apa-apa. Sebagian menunjukkan beberapa sekaligus. Mengenali pola anakmu sendiri adalah pembelajaran tersendiri.
Apa yang membuat cemas ini lebih berat dalam keluarga dengan kedua rumah
Ada lapisan-lapisan tertentu yang bisa memperberat cemasnya sore Minggu.
Serah-terima Senin pagi. Kalau anakmu berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya pada Minggu sore atau malam, cemas itu berlapis dengan peralihan itu sendiri. Dia bukan hanya menghadapi minggu sekolah; dia menghadapinya dari titik awal yang berbeda dari tempatnya akhir pekan ini. (Lihat artikel terkait tentang menenangkan diri di malam menjelang serah-terima, Modul 03 Artikel 08.)
Jadwal yang berganti tiap minggu. Anak yang minggunya berjalan Bunda Senin-Selasa, Ayah Rabu-Kamis, Jumat-Minggu bergantian sedang memikul gambaran yang lebih rumit daripada anak dengan pembagian yang lebih sederhana. Kerumitan itu terlihat pada sore Minggu.
Ketegangan yang tak terucap antara kedua orang tua. Kalau ada minggu yang berat antara kamu dan Co-Parent, anak tahu. Cemasnya sore Minggu membawa beban pertanyaan minggu ini bakal gimana ya antara mereka?
Penyesuaian dengan pasangan baru. Kalau pasangan baru baru saja hadir dalam gambaran ini, sore Minggu mungkin membawa pertanyaan minggu ini bakal baik-baik aja nggak ya?
Hal yang belum diceritakan anak kepadamu. Masalah pertemanan. Masalah dengan guru. Sesuatu di rumah satunya. Sore Minggu mungkin saat ketika ini paling terlihat. (Lihat Modul 03 Artikel 26.)
Apa yang membantu
Tidak semua sore Minggu bisa ditenangkan. Sebagian minggu memang berat. Cemas itu kadang justru respons yang wajar terhadap minggu yang sulit di depan.
Tapi ada beberapa langkah yang bisa membantu.
Ritual Minggu sore atau malam yang konsisten. Apa pun bentuknya. Mandi pada jam yang sama. Makan dengan menu tertentu. Acara televisi tertentu yang ditonton bersama. Jalan-jalan di tempat yang sama. Makan malam bersama keluarga besar, kalau itu kebiasaan di rumahmu. Ritual itu menandai peralihan dengan lembut.
Beresi tas dan siapkan rutinitas di waktu yang lain. Jangan lakukan pukul empat sore Minggu. Membereskan tas justru menambah cemas kalau dikerjakan di jam cemas itu. Geser ke hari Sabtu atau Minggu pagi. Sebagian keluarga melakukannya saat menjemput anak dari sekolah hari Jumat.
Jangan menambah hal baru pada sore Minggu. Kegiatan baru. Teman baru yang berkunjung. Tugas baru. Sore Minggu bukan waktu untuk memasukkan tekanan baru. Jaga supaya tetap terasa akrab.
Beri ruang untuk cemas itu tanpa harus menyelesaikannya. Sore Minggu memang suka terasa agak berat ya. Pengakuan seperti ini sering kali lebih berguna daripada berusaha menghibur anak supaya ceria. Dia merasa dilihat.
Sedikit kesenangan kecil. Bukan acara besar. Hal kecil saja. Camilan kesukaan. Acara favorit. Jalan-jalan sebentar bersama. Sore Minggu tidak harus seluruhnya berisi cemas.
Geser waktu mengerjakan PR, kalau memungkinkan. Anak yang menyisakan PR-nya untuk sore Minggu akan mencemaskan sore Minggu. Idealnya PR sudah selesai hari Sabtu atau Minggu pagi. Sore Minggu untuk membereskan tas dan beristirahat, bukan untuk mengejar tugas yang belum tuntas ditulis.
Jangan memulai percakapan besar. Percakapan tentang semester ke depan. Percakapan tentang jadwal baru. Percakapan tentang bagaimana Lebaran nanti akan diatur. Jangan dibahas pada sore Minggu. Letakkan di waktu yang lain.
Jaga jam tidurnya. Jam tidur Minggu malam untuk memulai minggu sekolah itu penting. Jangan biarkan molor. Kebanyakan SD masuk pukul tujuh pagi, jadi minggu di depan terasa lebih berat kalau Minggu malam kurang tidur.
Apa yang harus kamu lakukan dengan cemasmu sendiri
Cemasnya sore Minggu yang dirasakan orang tua itu nyata juga.
Minggu yang menanti berisi pekerjaan, anak-anak, Co-Parent, urusan rumah, teman-teman, keuangan rumah tangga, orang tua yang sudah sepuh, pasangan. Daftarnya panjang.
Prinsip yang sama berlaku. Ritual yang konsisten. Sedikit kesenangan kecil. Jangan memulai percakapan besar. Jaga jam tidur. Jangan menambah hal baru.
Kalau cemasmu menumpuk di atas cemasnya, kalian berdua sedang memikul beban di jam yang sama. Kadang itu memang berat.
Tapi ini juga bisa jadi momen kedekatan yang tenang. Sore Minggu memang gini. Kamu dan anak ada di dalamnya bersama-sama. Kalian berdua sedang memikul minggu yang sama. Kalian berdua sedang bertahan. Cemas yang disebut dan dibagi terasa tidak terlalu menyendiri.
Saat cemas itu menjadi lebih besar
Sebagian anak punya sore Minggu yang lebih dari sekadar cemas. Itu kesusahan yang berat. Menangis. Memohon supaya tidak usah sekolah. Sakit perut yang tidak kunjung hilang. Tidur yang tak kunjung datang pada Minggu malam.
Kalau ini terjadi lebih dari sesekali, ada sesuatu di balik sore Minggu itu. Minggu sekolah mungkin menyimpan sesuatu yang spesifik (masalah pertemanan, seorang guru, satu mata pelajaran) yang mulai sulit dihadapi. Atau keadaan di rumah sedang memberi beban lebih dari yang sanggup dipikul.
Percakapannya melebar. (Lihat Modul 03 Artikel 26 dan 27.) Guru. Co-Parent. Mungkin juga guru BK di sekolah, atau seorang profesional. Jangan memikul cemas yang berat ini sendirian.
Bagi sebagian besar anak, di sebagian besar minggu, cemas itu ringan dan berlalu. Senin pagi, ketika tiba, ternyata baik-baik saja. Hari sekolah baik-baik saja. Minggunya berjalan.
Penutup
Sore Minggu. Pukul lima sekarang. Cahaya mulai pudar dan azan Maghrib hampir terdengar.
Kamu dan anakmu di sofa. Kalian menonton sesuatu yang ringan-ringan saja. Baju olahraga sudah dicuci dan dilipat untuk besok. PR sudah selesai kemarin. Bekal sudah disiapkan. Tas sudah dikemas.
Cemas itu sudah mereda sedikit. Bukan karena ada sesuatu yang terjadi. Tapi karena ritual sudah mengerjakan tugasnya.
Kamu memasak makan malam yang sederhana. Kalian makan bersama. Kamu membacakan buku sebelum tidur. Kamu menjaga jam tidurnya.
Senin pagi. Alarm berbunyi. Anak bangun, agak malas-malasan. Dia berganti baju. Dia sarapan. Dia mengambil tas. Kamu mengantarnya ke sekolah. Dia masuk.
Minggunya dimulai.
Cemasnya sore Minggu adalah salah satu pola cuaca kecil yang berulang dalam kehidupan usia sekolah. Ia datang, ia mereda, ia kembali lagi Minggu depan. Sebagian minggu lebih ringan, sebagian lebih berat. Tugasmu adalah mengenalinya apa adanya, memberinya ruang, tidak membiarkannya menelan seluruh sore, dan menyiapkan Senin pagi supaya rasa itu tidak terlalu berarti lagi ketika Senin pagi benar-benar tiba.
Minggu yang menanti hanyalah satu minggu. Akan ada akhir pekan lagi di ujungnya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.