dip
Belikan Kopi
Modul 07 · Uang & biaya bersama

Uang di tahun-tahun anak remaja

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

13–1712 menit baca
Uang di tahun-tahun anak remaja

Uang di tahun-tahun anak remaja

Modul 07 · Uang & pengeluaran bersama · Artikel 13 · Wave 4 · untuk usia 13-17 tahun


Anakmu yang berumur lima belas tahun turun ke bawah pada suatu Sabtu pagi dengan sebuah pertanyaan. Studi wisata sekolah. Uang mukanya jatuh tempo hari Rabu. Totalnya lebih besar daripada anggaran pakaian bulanan dari Pool. Dua orang temannya akan ikut. Dia sudah menyebutkannya ke Co-Parent kamu. Dia juga sudah setengah menyebutkannya ke kamu seminggu lalu, tapi kamu belum benar-benar menangkapnya waktu itu.

Kamu tanya berapa. Dia bilang.

Kamu berhenti sejenak, sedikit lebih lama daripada yang akan kamu lakukan beberapa tahun lalu. Bukan karena jumlahnya. Tapi karena percakapan yang sebentar lagi akan terjadi.

Di usia lima belas, anak sudah punya pandangan soal uang. Dia tahu kira-kira berapa harga berbagai hal. Dia tahu kedua rumah kamu punya tekstur yang berbeda, dan dia tahu kira-kira kenapa. Dia tahu orang tua yang mana bilang ya untuk hal yang seperti apa. Dia mulai membuat keputusan ekonomi kecil-kecilnya sendiri: bagaimana membelanjakan uang sakunya, apakah mau ambil kerja sampingan di akhir pekan, apakah mau menyimpan voucher hadiah atau menukarnya jadi uang tunai.

Struktur Pool yang berhasil waktu dia berumur delapan tahun perlu ikut tumbuh untuk menemui dia di tempat dia berada sekarang.

Tentang apa artikel ini

Artikel ini mengandaikan Pool dari Artikel 01 sudah ada, dan struktur sepanjang Artikel 02 sampai 12 sudah mapan. Strukturnya tidak berubah di tahun-tahun remaja. Yang berubah adalah apa yang harus ditangani struktur itu, dan peserta baru dalam percakapan: anak yang lebih besar itu sendiri.

Artikel ini membahas lima hal. Uang saku di kedua rumah. Pekerjaan berbayar pertama. Soal rekening tabungan. Saat remaja membelanjakan uangnya sendiri. Dan yang lebih sulit: saat seorang remaja menyadari kesenjangan antara kedua rumah, dan estafet literasi keuangan yang seharusnya berjalan beriringan.

Uang saku di kedua rumah

Sebagian besar keluarga menemukan pola uang saku di masa SD lalu menjalankannya terus. Sampai tahun-tahun remaja, jumlah uang saku awal biasanya sudah terlalu kecil, kategori yang dicakupnya sudah bergeser, dan kedua orang tua mungkin sudah mulai memberi dengan cara berbeda tanpa benar-benar menyadarinya.

Pola yang berhasil: di awal setiap tahun, kedua orang tua dan remaja itu duduk bersama (atau masing-masing orang tua bicara empat mata dulu dengan dia, lalu kedua orang tua berbincang), dan menyepakati uang saku untuk tahun yang akan datang. Satu jumlah. Idealnya dari Pool, ditransfer ke rekening remaja itu sendiri kalau dia punya. Kalau Pool tidak mendanai uang saku secara langsung, jumlahnya sama dari masing-masing orang tua, dibagi sesuai pilihan kalian. Banyak keluarga sekarang memakai transfer terjadwal bulanan supaya uang masuk di tanggal yang sama setiap bulan, atau ke dompet digital (GoPay, OVO, Dana, ShopeePay) untuk remaja yang sudah nyaman dengan itu.

Remaja itu tahu berapa uang sakunya. Dia tahu apa yang seharusnya dicakup (pulsa atau paket data, jajan dan kegiatan sosial santai, beli-beli kecil sesuai keinginan). Dia tahu apa yang tidak dicakup (perlengkapan sekolah, pakaian dasar, ongkos ke sekolah, makan di rumah). Batas antara ditanggung orang tua dan ditanggung uang saku jadi makin jelas.

Yang tidak berhasil: masing-masing orang tua memberi uang saku terpisah dengan jumlah berbeda di jadwal berbeda. Ini menempatkan remaja itu di tengah, membandingkan kedua rumah lewat uang. Dia mulai tahu orang tua yang mana lebih royal dan menyesuaikan permintaannya sesuai itu. Strukturnya harus ada pada orang tua, bukan pada anak.

Kalau salah satu orang tua ingin memberi lebih, dia memberi lebih di luar uang saku, sebagai hadiah khusus untuk momen khusus. Uang saku dasar tetap sama. Tambahannya tetap diberi label yang jelas.

Satu catatan soal THR Lebaran, angpao Imlek, dan hadiah Natal dari sanak saudara: ini bukan uang Pool dan bukan uang yang dikendalikan orang tua. Itu milik remaja itu sepenuhnya. Kamu boleh menawarkan arahan soal cara mengelolanya (simpan sebagian, belanjakan sebagian, sisihkan sebagian untuk zakat, sedekah, atau persepuluhan), tapi itu tidak untuk dimasukkan ke dalam hitungan uang saku.

Pekerjaan berbayar pertama

Di rentang usia empat belas sampai tujuh belas, sebagian besar anak mengambil pekerjaan berbayar pertamanya. Ngajar les adik kelas atau anak tetangga. Bantu-bantu di warung, toko, atau restoran keluarga. Jualan kecil-kecilan di Shopee atau Tokopedia. Bikin konten dan monetisasi di TikTok atau Instagram. Jaga anak. Magang. Pertama kalinya dia punya uang yang dia hasilkan sendiri.

Ini salah satu momen perkembangan yang lebih penting. Ini juga memunculkan pertanyaan yang bisa ditebak untuk para Co-Parent.

Apakah uang saku tetap jalan? Ini bergantung pada nilai keluarga. Sebagian keluarga menurunkan uang saku secara bertahap seiring naiknya penghasilan kerja, dengan prinsip bahwa remaja itu sedang menuju kemandirian keuangan. Sebagian keluarga tetap memberi uang saku dengan jumlah yang sama, dengan prinsip bahwa kerja berbayar adalah kemampuan tambahan, bukan pengganti kontribusi orang tua. Keduanya bisa dipertahankan. Yang penting adalah kedua orang tua sepakat pendekatan mana yang kalian ambil, dan menyampaikannya dengan jelas ke remaja itu.

Gaji itu uang siapa? Uang remaja itu. Gaji itu dia yang kelola, dengan arahan apa pun yang kalian berdua tawarkan. Ini bukan pertanyaan. Kalau ini sampai jadi pertanyaan (salah satu orang tua ingin mengatur cara remaja membelanjakan gajinya sendiri), persoalannya ada di tempat lain, bukan di Pool. Modul 04 membahas otonomi remaja lebih dalam.

Bagaimana dengan pajak dan urusan administrasi? Kerja sampingan remaja di Indonesia biasanya tidak melibatkan banyak urusan kertas. Pekerjaan informal atau membantu di usaha keluarga sebagian besar tidak diatur ketat, dan penghasilannya umumnya jauh di bawah ambang sehingga tidak perlu lapor SPT. UU Ketenagakerjaan membatasi pekerjaan berbahaya untuk yang di bawah delapan belas tahun, jadi sebaiknya kerjanya tetap aman dan wajar untuk usianya. Begitu remaja mulai pekerjaan yang lebih formal, urusan administrasi mulai muncul: kontrak kerja, pendaftaran BPJS, dan sejenisnya. Orang tua yang paling longgar waktunya untuk membantu, ya membantu. Kedua orang tua bisa diberi tahu soal dokumennya sekali di awal. Setelah itu, remaja itu mengurus dokumen pekerjaannya sendiri seperti yang akan dia lakukan sebagai orang dewasa. Ini bagian dari estafet itu.

Bagaimana dengan kontribusi ke pengeluaran rumah tangga? Sebagian keluarga meminta remaja menyumbang jumlah kecil yang simbolis begitu dia mulai berpenghasilan. Sebagian tidak. Sebagian besar keluarga dengan remaja yang di-co-parenting membiarkan hal ini di luar pembahasan; percakapan soal kontribusi rumah tangga bisa menunggu sampai kemandirian dewasa. Meminta remaja yang tinggal di kedua rumah untuk ikut menanggung biaya rumah tangga salah satu rumah terasa janggal secara struktur dan jarang sepadan.

Soal rekening tabungan

Menjelang akhir masa remaja, pertanyaan apakah perlu membuka rekening tabungan untuk remaja itu, dan apa yang dimasukkan ke dalamnya, jadi nyata. Pertanyaan ini perlu penanganan khusus dalam co-parenting.

Satu rekening, kedua orang tua tercantum atau keduanya punya akses lihat. Kalau rekening tabungan dibuka untuk dana jangka panjang remaja (kuliah, motor atau mobil pertama, uang muka tempat tinggal), kedua orang tua sebaiknya bisa melihat isinya. Mekanismenya bergantung pada aturan bank setempat: di Indonesia, rekening anak di bawah umur umumnya mensyaratkan perwalian orang tua, dan banyak keluarga juga membuka tabungan pendidikan, rekening tabungan junior, atau rekening syariah seperti di BSI yang bisa dipantau kedua orang tua. Selain itu, banyak keluarga kelas menengah memakai produk asuransi pendidikan (misalnya Manulife, AIA, Allianz) sebagai wadah menabung untuk kuliah, yang biasanya dipegang salah satu orang tua atas nama anak. Pakai apa pun yang sesuai dengan situasi keluarga kamu.

Yang tidak kamu inginkan adalah dua rekening tabungan terpisah yang masing-masing orang tua buka sendiri-sendiri untuk remaja itu, dengan tidak ada orang tua yang benar-benar tahu isi rekening yang dibuka pihak lain. Ini menciptakan struktur yang tidak transparan dan memunculkan pertanyaan di kemudian hari, terutama saat tabungannya mulai dipakai.

Pool bisa mendanai kontribusinya. Kalau kedua orang tua sudah sepakat menyisihkan jumlah rutin untuk tabungan jangka panjang remaja, ini diambil dari Pool seperti item rutin lainnya. Tinjauan tahunan (Artikel 02 sudah menggambarkan percakapan tahunan; ini bagian darinya) menegaskan besaran kontribusinya.

Remaja itu tahu. Remaja itu sebaiknya tahu kira-kira isi rekening tabungannya menjelang akhir masa remaja. Bukan sebagai fakta harian, tapi sebagai bagian dari orientasinya menuju kehidupan keuangan dewasa. Di sinilah rekening tabungan bertemu dengan estafet literasi keuangan.

Saat remaja membelanjakan uangnya sendiri

Pertama kalinya seorang remaja membuat pembelian besar dengan uangnya sendiri adalah momen co-parenting kecil. Dia sudah membeli sesuatu. Kedua orang tua mungkin punya pendapat soal apakah pembelian itu pilihan yang baik. Kedua orang tua mungkin punya pendapat soal apakah remaja itu seharusnya lebih banyak menabung, lebih hemat, atau memilih yang lain.

Disiplinnya: jangan menjalankan komentar berkelanjutan atas cara remaja membelanjakan gajinya sendiri. Uang dia. Keputusan dia. Peranmu adalah hadir kalau dia minta masukan, dan menjaga struktur tabungan apa pun yang sudah kalian sepakati.

Kalau kedua orang tua secara terpisah merasa remaja itu sedang membuat pilihan yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan (jumlah besar untuk sesuatu yang berisiko; tanda-tanda impulsif yang terlihat seperti pola, bukan sekadar fase), percakapan soal itu antara kedua orang tua dulu, lalu dengan remaja itu bersama-sama kalau perlu. Bukan terpisah-pisah oleh masing-masing orang tua, yang menempatkan remaja itu di tengah.

Kalau remaja itu meminta uang muka dari uang saku ke depan kepada salah satu dari kalian untuk membeli sesuatu, jawabannya boleh ya atau tidak, tapi jawabannya harus sama siapa pun orang tua yang ditanya. Polanya: Bunda pikirkan dulu ya, nanti malam kita bahas. Lalu kedua orang tua mengecek sebentar di antara mereka. Lalu jawaban yang sama datang dari orang tua mana pun.

Remaja yang menyadari kesenjangan

Di usia lima belas atau enam belas, sebagian besar remaja sudah menyadari perbedaan keuangan antara kedua rumah. Kadang perbedaannya kecil. Kadang besar. Bagaimanapun, remaja itu sudah menyerapnya ke dalam dirinya. Di Indonesia, titik banding "rumah yang satu lagi" sering kali juga mencakup rumah-rumah saudara, yang rentangnya bisa sangat lebar dari yang sederhana sampai yang berkecukupan, jadi kesenjangan itu sering terasa lebih kentara.

Apa yang dia katakan (atau tidak katakan) soal itu berbeda-beda. Sebagian remaja bersikap biasa saja. Sebagian marah. Sebagian berhati-hati, merasa bahwa menyebutkannya akan menyakiti salah satu orang tua. Sebagian membuat pilihan kecil untuk menata ulang sendiri: sengaja belanja lebih di rumah yang punya lebih sedikit, menolak pilihan yang lebih mahal yang ditawarkan rumah yang punya lebih banyak.

Beberapa hal yang perlu kamu pegang untuk dia.

Dia tidak harus memperbaikinya. Kesenjangan itu, apa pun bentuknya, bukan proyek remaja itu untuk diselesaikan. Tugasnya adalah bertumbuh. Tugasmu adalah memastikan dia tidak memikul beban keuangan keluarga dengan cara yang bukan tugasnya untuk ditanggung. Sensitivitas soal gengsi nyata di sini; sebagian remaja merasa malu sosial yang tajam soal rumah yang sumber dayanya lebih terbatas, dan pesan "dia tidak harus memperbaikinya" jadi makin penting.

Akui tanpa membenarkan. Kalau remaja itu menyebut perbedaannya, kamu boleh mengakuinya. Iya, rumah kita punya anggaran yang beda dari rumah yang satu lagi. Kita kelola dengan apa yang kita punya. Kamu tidak perlu menjelaskan kenapa rumah Co-Parent kamu punya lebih banyak atau lebih sedikit. Kamu tidak perlu membenarkan tingkat keuangan rumahmu. Kamu tidak perlu minta maaf. Kesenjangan itu nyata; remaja itu bisa memegangnya tanpa perlu semuanya dijelaskan habis. Rasa syukur dan qanaah, kalau itu memang bahasa keluargamu, bisa jadi pegangan yang menopang, bukan untuk membungkam perasaannya, tapi untuk menemaninya.

Jangan biarkan dia mensubsidi. Kalau remaja itu menawarkan membayar sesuatu dari gajinya yang seharusnya jadi item Pool, tolak dengan lembut. Itu yang ditanggung rumah tangga, bukan kamu. Tapi makasih ya sudah nawarin. Gajinya untuk hal-hal dia sendiri dan untuk masa depannya sendiri. Dia tidak seharusnya menambal celah dalam struktur.

Bicara dengan Co-Parent kamu kalau kesenjangan itu mulai terlihat oleh remaja dengan cara yang membuatmu khawatir. Ini percakapan tinjauan Pool, mungkin percakapan kalibrasi ulang tahunan (Artikel 08 membahas topik proporsi kontribusi; inilah saatnya itu ditinjau ulang). Remaja yang menyadarinya bisa jadi sinyal bahwa ada yang bergeser dalam pendanaan Pool. Perlu dicatat juga bahwa kesenjangan tidak selalu cuma soal uang; kalau satu rumah punya asisten rumah tangga dan yang lain tidak, atau tekstur gaya hidupnya berbeda, itu pun perbedaan yang ikut diproses remaja.

Estafet literasi keuangan

Menjelang usia delapan belas, remaja itu akan jadi orang dewasa muda. Sebagian dari mereka akan pindah untuk kuliah. Sebagian akan mulai bekerja. Sebagian akan tinggal di rumah lebih lama. Semuanya akan perlu bisa mengelola uang sendiri.

Artinya, tahun-tahun dari sekitar empat belas sampai delapan belas adalah masa estafet. Hal-hal yang dulu ditangani orang tua diam-diam waktu anak masih kecil berubah jadi hal-hal yang dilakukan remaja itu sendiri, dengan orang tua tersedia sebagai sumber bantuan.

Sebuah perkembangan yang longgar:

Empat belas sampai lima belas: remaja itu paham untuk apa uang sakunya, apa yang dicakup Pool, dan kira-kira berapa harga berbagai hal. Dia punya rekening sendiri bergaya debit (atau setara versi keluarga) dan menggunakannya. Dia mulai paham mutasi rekening. Karena generasinya mobile-first, literasi dompet digital dan QRIS biasanya sudah jadi hal dasar untuknya.

Enam belas: remaja itu mengurus dokumen pekerjaan berbayarnya sendiri dengan sedikit bantuan orang tua. Dia mulai paham apa itu pajak dan iuran. Dia bisa membaca slip gaji. Dia punya kebiasaan menabung, sekecil apa pun.

Tujuh belas: remaja itu mengelola anggaran untuk satu area hidup yang jelas (pulsa, transportasi, uang untuk keluar, baju). Dia membuat pilihannya sendiri dalam anggaran itu. Dia tahu harus bagaimana saat anggarannya jebol. Dia mulai paham bunga, kredit, dan biaya berutang. Kalau dia mulai penasaran dengan investasi atau aset kripto, ini momen yang baik untuk membahas kesadaran risiko dengan tenang, tanpa menggurui.

Delapan belas: remaja itu mengelola uang harian secara mandiri. Dia tahu di mana mencari tabungannya, gajinya, dan dokumen apa pun yang dia butuhkan untuk kehidupan keuangan dewasa. Dia punya pandangan atas pilihan-pilihan di depannya.

Estafet itu tidak terjadi otomatis. Kedua orang tua punya peran di dalamnya. Perannya sebagian besar adalah membuat penalaran keuanganmu sendiri terlihat oleh remaja pada momen yang sesuai usianya: bagaimana kamu memutuskan apa yang sepadan untuk dibayar, bagaimana kamu membandingkan pilihan, bagaimana kamu menabung, bagaimana kamu menghadapi tagihan yang lebih besar dari perkiraan. Sebagian besar remaja belajar ini dengan mengamati orang tuanya mengelola uang secara langsung. Mereka belajar dari kalian berdua, secara terpisah, di masing-masing rumah kalian. OJK punya program literasi keuangan, tapi cakupannya di sekolah belum merata, jadi banyak dari pelajaran ini tetap datang dari rumah.

Pool itu sendiri bagian dari pelajaran. Menjelang akhir masa remaja, remaja itu bisa tahu kira-kira bagaimana Pool bekerja. Kami berdua sama-sama menyetor ke satu rekening bersama untuk hal-hal yang berkaitan dengan kamu. Begitu caranya kami menutup biaya sekolah, kegiatan, dan dokter gigi. Bahasa yang sederhana. Remaja itu kini tahu struktur tempat dia tumbuh besar. Sebagian besar akan mengenalinya sebagai sesuatu yang lebih rapi daripada pola aku beli dulu, nanti kamu ganti yang dia lihat di keluarga sebagian temannya.

Penutup

Anakmu yang berumur lima belas tahun turun ke bawah pada suatu Sabtu pagi dengan sebuah pertanyaan. Studi wisata sekolah. Uang mukanya jatuh tempo hari Rabu.

Kamu tanya berapa. Dia bilang.

Kamu bilang: Bunda cek dulu ya sama Ayah, nanti sebelum malam kami kabari. Kamu mengirim pesan ke Co-Parent kamu. Dia mengecek proyeksi Pool untuk kuartal berikutnya. Studi wisata itu masih masuk jangkauan kalau kalian memangkas satu item yang lebih kecil di semester ini. Kalian sepakat. Kalian berdua membalas ke remaja itu menjelang malam: Iya, ini bisa kita lakukan. Uang mukanya akan dibayar paling lambat Rabu.

Remaja itu membalas dengan emoji jempol. Dia naik lagi ke atas.

Lima tahun lagi, dia akan memilih studi wisatanya sendiri, membayarnya dari rekeningnya sendiri, dan memberitahumu setelahnya, bukan dengan bertanya.

Sementara itu, strukturnya sedang melakukan apa yang seharusnya dilakukannya. Kalian berdua mendanai perjalanan itu. Remaja itu mendapat jawaban yang tidak bergantung pada orang tua mana yang dia tanya atau di rumah mana dia berada. Pool menyerap lonjakannya. Anggaran pakaian kuartal berikutnya akan jadi sedikit tipis dan kalian berdua akan menyesuaikan.

Beginilah rupa tahun-tahun remaja di dalam struktur yang sudah berhasil sepanjang jalan. Angka lebih besar. Prinsip yang sama. Seorang anak muda yang siap mulai mengelola uang sendiri, yang tumbuh besar dengan mengamati dua orang tua mengelolanya bersama, bahkan saat mereka tidak bisa lagi jadi pasangan.

Yang mana, pada suatu Sabtu pagi lima belas tahun dari sekarang, persis seperti warisan yang ingin kamu berikan untuknya.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.