dip
Belikan Kopi
Modul 07 · Uang & biaya bersama

Ketika salah satu orang tua berpenghasilan lebih besar

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia11 menit baca
Ketika salah satu orang tua berpenghasilan lebih besar

Ketika salah satu orang tua berpenghasilan lebih besar

Modul 7 · Keuangan & pengeluaran bersama · Artikel 8 · Wave 3 · untuk semua usia


Malam Minggu. Kamu baru saja memasukkan angka bulanan Pool ke aplikasi bankmu. Kamu menatap tombol konfirmasi transfer itu sedetik lebih lama dari biasanya. Jumlahnya tidak sampai melumpuhkan. Ia cuma nyata. Ia bagian yang cukup terasa dari apa yang ada di rekeningmu untuk bulan ini.

Kamu terpikir, sekilas, soal rekening Co-Parent. Kamu tidak tahu persis apa yang ada di dalamnya. Kamu tahu penghasilannya jauh lebih besar darimu. Angka bulanan yang sama yang sedang menekanmu itu duduk di saldonya sebagai angka yang lebih kecil, lebih ringan.

Kamu tekan konfirmasi. Kamu tutup aplikasinya.

Esok paginya, kamu membawa satu pikiran ke dalam harimu yang tidak terlalu ingin kamu namai. Pool itu lima puluh-lima puluh. Tapi rasa dari Pool itu bukan lima puluh-lima puluh. Rasa dari Pool itu duduk jauh lebih berat pada salah satu dari kalian dibanding yang lain.

Artikel ini soal ketimpangan itu. Apa yang bisa dilakukan dengannya. Bagaimana membicarakannya. Dan kenapa menanganinya dengan benar adalah salah satu keputusan paling berpengaruh yang akan kamu buat untuk anakmu.

Tentang apa artikel ini

Artikel ini mengandaikan struktur Pool dari Artikel 01 sudah ada dan kamu sudah menyelesaikan kategori-kategori dasarnya. Ia melanjutkan pertanyaan yang dibiarkan terbuka oleh artikel-artikel sebelumnya: bagaimana sebenarnya kedua orang tua sebaiknya membagi kontribusi ketika penghasilan mereka sangat berbeda?

Artikel ini masuk kategori tender. Ia menyentuh tempat yang sering kali duduk di bawah rasa mengganjal yang tidak terucapkan dalam keluarga co-parenting. Baca pelan-pelan, ya. Prinsipnya sederhana. Mempraktikkannya bisa butuh waktu.

Ia mencakup empat hal. Kenapa kontribusi yang sama rata terasa adil tapi sering kali tidak. Model proporsional. Percakapan yang harus terjadi. Apa yang harus dilakukan ketika selisihnya besar, atau berubah, atau terasa tidak adil bagi salah satu dari kalian.

Kenapa kontribusi sama rata terasa adil tapi sering kali tidak

Naluri ke arah kontribusi sama rata itu jujur. Kami berdua orang tuanya. Kami berdua berkontribusi. Sama masuk, sama keluar. Prinsip ini punya daya tarik keadilan yang kelihatan jelas.

Ia juga punya biaya tersembunyi: ia membuat standar hidup anak bergantung pada di rumah mana dia kebetulan sedang berada.

Bayangkan dua orang tua, yang satu berpenghasilan jauh lebih besar dari yang lain. Mereka membagi Pool sama rata. Pool itu, di antara mereka berdua, membiayai uang sekolah, biaya kesehatan, kegiatan, pakaian. Sejauh ini, standar hidup anak terlihat sama di kedua rumah.

Tapi Pool bukan keseluruhan gambarnya. Rumah masing-masing orang tua juga mencerminkan apa yang mereka mampu. Rumah orang tua yang berpenghasilan lebih besar punya peralatan yang lebih bagus, perabot yang lebih nyaman, liburan yang lebih lega. Rumah orang tua yang berpenghasilan lebih kecil lebih sederhana. Pool menutup kebutuhan yang terstruktur. Ia tidak menutup tekstur kehidupan sehari-hari.

Anak mengalami ini setiap minggu. Dia berpindah antara satu rumah dengan tekstur tertentu dan satu rumah dengan tekstur yang lain. Kontrasnya terus-menerus. Dia memperhatikan. Dia mulai menyerapnya sebagai rumah orang tua mana yang lebih bagus, sekalipun dia belum punya kata-kata untuk itu.

Lebih berat lagi: di bawah kontribusi sama rata, rumah orang tua yang berpenghasilan lebih kecil juga tertekan oleh kewajiban Pool. Pool, yang seharusnya menopang anak secara setara di kedua rumah, justru bisa membuat satu rumah jadi lebih tipis. Orang tua yang berpenghasilan lebih kecil mungkin makan lebih hemat, menghemat listrik, menunda perbaikan, demi membiayai separuh bagiannya di Pool. Rumah anak bukan sekadar lebih sederhana secara alami. Ia justru lebih miskin karena cara Pool dibiayai.

Inilah arti dari kontribusi sama rata terasa adil tapi sebenarnya tidak dalam praktik. Tampilan keadilan menghasilkan hasil yang tidak adil bagi anak.

Model proporsional

Alternatifnya adalah kontribusi proporsional.

Prinsipnya: Pool dibiayai sesuai dengan kemampuan masing-masing orang tua untuk membiayainya. Yang berpenghasilan lebih besar berkontribusi lebih banyak. Yang berpenghasilan lebih kecil berkontribusi lebih sedikit. Totalnya tetap memenuhi kebutuhan anak. Tidak ada rumah yang dipaksa masuk ke kesulitan oleh kewajiban Pool.

Ada dua cara keluarga menyelesaikan ini dalam praktik.

Model rasio penghasilan. Jumlahkan dua penghasilan setelah pajak. Hitung persentase masing-masing orang tua dari total itu. Masing-masing berkontribusi sesuai persentase itu dari target bulanan Pool. Kalau salah satu orang tua berpenghasilan 60% dari total rumah tangga, dia membiayai 60% dari Pool. Yang lain membiayai 40%.

Model rasio penghasilan ini sederhana, mudah dihitung ulang ketika penghasilan berubah, dan bersih untuk dipertahankan dalam mediasi atau jalur hukum kalau sampai ke sana. Ia mengandaikan kedua orang tua mampu berkontribusi sesuatu; kalau salah satunya berada di garis subsistensi, model ini perlu penyesuaian.

Model sisa sumber daya. Kurangkan biaya rumah tangga pokok masing-masing orang tua (sewa atau cicilan KPR, listrik dan air, makanan, transportasi, biaya tetap yang sungguh-sungguh dibutuhkan untuk menjalankan satu rumah) dari penghasilan setelah pajak mereka. Sisanya adalah penghasilan yang bisa dibelanjakan bebas. Kontribusi Pool diambil dari penghasilan bebas itu dalam proporsi yang setara dengan apa yang dimiliki masing-masing.

Model sisa sumber daya ini lebih akurat terhadap kemampuan yang sebenarnya. Ia lebih sulit dijaga (kedua orang tua perlu berbagi informasi keuangan yang cukup agar ia berjalan) dan menuntut tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. Ia juga menangani situasi yang tidak biasa dengan lebih baik: orang tua berpenghasilan besar yang tinggal di kawasan mahal, atau orang tua berpenghasilan kecil yang biayanya dibantu keluarga, keduanya bisa dinilai secara jujur.

Bagi sebagian besar keluarga, model rasio penghasilan sudah cukup. Bagi keluarga yang punya perbedaan biaya hidup yang cukup besar di antara kedua rumah, atau ketika salah satu orang tua punya keadaan yang tidak biasa, model sisa sumber daya sepadan dengan usaha tambahannya. Ini sering relevan di Indonesia, misalnya ketika satu orang tua tinggal di Jakarta dan yang lain di Yogya, Medan, atau Makassar, dan biaya hidup di antara kedua kota itu jauh berbeda.

Ada keluarga yang memakai cara campuran: rasio penghasilan sebagai titik awal, lalu sedikit penyesuaian untuk perbedaan biaya hidup yang sudah diketahui. 60-40 menurut penghasilan, tapi sewa dia dua kali lipat sewaku, jadi kami geser ke 55-45. Itu percakapan yang masuk akal.

Percakapan yang harus terjadi

Kontribusi proporsional menuntut sebuah percakapan tentang uang yang, bagi banyak pasangan yang sudah berpisah, terasa lebih sulit daripada kontribusinya sendiri.

Kedua orang tua harus tahu kira-kira berapa penghasilan yang lain.

Ini bukan permintaan kecil. Penghasilan itu pribadi. Ia terikat pada identitas, pada perbandingan, pada riwayat di antara kalian. Menyebutkan penghasilanmu, dan menanyakan penghasilannya, bisa terasa membuka diri dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh urusan logistik co-parenting sehari-hari. Di Indonesia, membicarakan gaji secara terbuka memang umumnya lebih sungkan, apalagi antara dua orang tua yang sudah berjarak. Wajar kalau ini terasa berat.

Beberapa hal membuat percakapan ini lebih ringan.

Bingkai sebagai membiayai anak, bukan membandingkan diri kalian. Angka-angka itu bukan vonis atas nilai siapa pun di antara kalian. Ia hanyalah masukan untuk satu perhitungan tertentu: bagaimana Pool dibiayai. Menjaga percakapan tetap rapat di sekitar apa yang anak butuhkan dan bagaimana kita membiayainya itu membantu.

Spesifik tentang apa yang perlu kamu tahu. Kamu tidak butuh gambar utuhnya. Kamu butuh angka penghasilan bulanan setelah pajak. Bukan gaji pokok, bukan riwayat bonus, bukan penghasilan dari investasi kecuali memang signifikan. Satu angka, terkini, yang memungkinkanmu menghitung proporsinya. Kalau penghasilan salah satu dari kalian naik-turun, misalnya dari warung, ojol, freelance, atau usaha keluarga, satu angka pasti memang sulit didapat. Untuk kasus seperti ini, pakai rata-rata tiga bulan terakhir sebagai gantinya. Itu sudah cukup untuk menghitung proporsi yang wajar.

Kedua orang tua berbagi sekaligus. Jangan minta angka orang lain sebelum berbagi angkamu sendiri. Entah bagikan keduanya pada saat yang sama (ini punyaku, berapa punyamu?) atau jadikan satu panggilan lima menit yang sama (yuk kita berdua lihat tiga slip gaji terakhir bareng). Informasinya bergerak secara setara.

Rencanakan untuk ditinjau ulang. Penghasilan berubah. Gaji naik. Pekerjaan hilang atau didapat. Karier bergeser. Proporsinya perlu ditinjau ulang setiap tahun, atau setiap kali salah satu dari kalian mengalami perubahan yang berarti. Memasukkan ini ke dalam percakapan tahunan (Artikel 02 sudah menggambar polanya; di sinilah momen ketika percakapan kontribusi terjadi) menghilangkan kecanggungan harus mengangkatnya secara terpisah.

Kalau percakapan ini tidak bisa terjadi karena alasan emosional yang lebih besar daripada soal uang, itu masuk ranah Modul 09 (mediasi bisa membantu membuka percakapan) atau ranah Modul 12 (ketika salah satu orang tua tidak mau terlibat dengan struktur keuangan). Jangan dipaksakan sendirian. Carilah suasana dengan pihak ketiga kalau kamu memerlukannya.

Ketika selisihnya besar

Di sebagian keluarga, selisih penghasilannya kecil. Satu orang tua berpenghasilan 55% dari total rumah tangga, yang lain 45%. Penyesuaian proporsionalnya lembut. Orang tua yang berpenghasilan lebih kecil berkontribusi sedikit lebih sedikit. Tidak ada yang merasa timpang secara mencolok.

Di keluarga lain, selisihnya besar. Satu orang tua berpenghasilan 80% dari total rumah tangga, atau 90%. Model proporsional dalam bentuk murninya meneruskan ketimpangan yang sama. Orang tua yang berpenghasilan lebih besar membiayai sebagian besar Pool. Orang tua yang berpenghasilan lebih kecil membiayai porsi yang kecil, kadang sangat kecil. Kadang orang tua yang berpenghasilan lebih kecil hanya mampu memberi kontribusi yang sifatnya simbolis.

Dua hal yang penting ketika selisihnya besar.

Martabat, bukan kesetaraan angka. Orang tua yang berkontribusi 10% ke Pool tidak kurang sebagai orang tua dibanding yang berkontribusi 90%. Kontribusi itu bukan ukuran kasih sayang, komitmen, atau arti penting. Ia adalah fungsi dari kemampuan. Menyampaikan ini di antara kalian, dengan terus terang, mencegah selisih itu menjadi luka yang diam-diam.

Orang tua yang berpenghasilan lebih besar dan berkontribusi 90% perlu sungguh-sungguh memahami bahwa ini hasil yang benar, bukan kemurahan hati yang ia berikan. Orang tua yang berpenghasilan lebih kecil dan berkontribusi 10% perlu sungguh-sungguh memahami bahwa ini hasil yang benar, bukan sebuah penghinaan. Kalian berdua mengucapkan ini dengan lantang, sesekali, menjaga strukturnya tetap sehat.

Pool bukan sedekah. Bahkan ketika selisihnya besar, kedua orang tua sedang membiayai misi bersama yang sama. Orang tua yang berpenghasilan lebih besar bukan sedang memberi kepada orang tua yang berpenghasilan lebih kecil. Mereka sedang berkontribusi sesuai kemampuan mereka untuk anak, dalam proporsi yang mencerminkan apa yang mereka punya. Orang tua yang berpenghasilan lebih kecil bukan sedang menerima. Mereka sedang berkontribusi sesuai kemampuan mereka, dalam proporsi yang mencerminkan apa yang mereka punya.

Bingkai ini penting. Kalau Pool mulai terasa seperti satu orang tua memberi dan yang lain menerima, semua dinamika yang melekat pada sedekah mulai merembes masuk: harapan akan rasa terima kasih, ketimpangan kuasa, terkikisnya pelan-pelan kedudukan yang setara sebagai orang tua. Model proporsional justru dibuat untuk mencegah inilah. Terus kembali ke kami berdua sedang membiayai anak.

Ketika selisihnya berubah di tengah tahun

Penghasilan tidak diam di tempat. Penghasilan seseorang turun mendadak. Seseorang dapat promosi. Seseorang mengambil cuti melahirkan. Seseorang memulai usaha yang lambat menghasilkan.

Model proporsional bisa menyerap perubahan-perubahan ini kalau kamu membiarkannya. Dua prinsip:

Kabari dengan cepat. Orang tua yang penghasilannya berubah secara berarti (naik atau turun lebih dari sepuluh atau lima belas persen) mengabari Co-Parent dalam waktu dua minggu. Pemberitahuan itu sifatnya administratif: penghasilanku sudah berubah, ini angka yang baru, ini kontribusi Pool yang menurutku sebaiknya berlaku. Ini bukan permintaan izin. Ini informasi yang memengaruhi struktur.

Atur ulang dengan bersih. Ketika perubahannya nyata dan bukan sementara, hitung ulang proporsinya. Sesuaikan kontribusi mulai siklus bulanan berikutnya. Jangan coba memberi kredit atau menagih balik untuk bulan-bulan sebelumnya. Prinsip Pool itu menghadap ke depan. Mencoba membereskan masa lalu menciptakan catatan utang-piutang berjalan tersendiri.

Untuk perubahan yang sementara (cuti tiga bulan di antara pekerjaan, satu kuartal yang sepi bagi yang berusaha sendiri), proporsinya bisa ditahan pada angka saat ini, dengan tambahan dari orang tua yang berpenghasilan lebih besar selama jangka itu. Percakapannya: Aku sedang menganggur selama tiga bulan. Aku akan terus berkontribusi di tingkatku sekarang, tapi aku belum bisa menambah kalau Pool jadi menipis. Bisa nggak kamu menanggung hal-hal yang tidak terduga selama periode itu? Jawaban: bisa, nggak apa-apa. Tiga bulan kemudian, ketika penghasilan itu kembali, strukturnya berjalan lagi.

Ketika terasa tidak adil

Kadang struktur proporsional terasa tidak adil bagi salah satu orang tua. Yang berpenghasilan lebih besar merasa memikul terlalu banyak. Yang berpenghasilan lebih kecil merasa kontribusinya dipandang remeh. Kedua perasaan itu bisa sama-sama sah; keduanya juga kadang menutupi sesuatu yang lain.

Tiga hal untuk diperiksa kalau perasaan itu bertahan:

Apakah data penghasilannya akurat? Salah satu orang tua mungkin sedang bekerja dengan gambar yang sudah usang atau separuh. Segarkan angka-angkanya.

Adakah biaya tersembunyi? Kalau salah satu orang tua punya biaya tetap yang jauh berbeda (kondisi kesehatan kronis, tanggung jawab merawat orang tua lanjut usia, kewajiban keuangan yang sudah ada sebelum perpisahan), model rasio penghasilan bisa jadi memang salah menggambarkan kemampuan. Model sisa sumber daya menanganinya dengan lebih baik. Di banyak rumah tangga Indonesia, ada juga pengeluaran tetap seperti gaji asisten rumah tangga yang menanggung anak sehari-hari, atau dukungan rutin untuk kakek-nenek serumah; biaya seperti ini layak ikut dihitung sebagai biaya tetap dalam model sisa sumber daya.

Apakah perasaan itu sebenarnya soal uang? Kadang sentimen Pool ini terasa tidak adil adalah tempat di mana sisa hubungan yang lain sedang bocor merembes. Rasa mengganjal soal pembagian waktu pengasuhan, soal keputusan yang dibuat bertahun-tahun lalu, soal perpisahan itu sendiri, bisa menempel ke permukaan yang paling mudah dijadikan tempat hitung-hitungan, yang sering kali adalah Pool. Kalau hitungannya sudah benar dan perasaan itu tetap bertahan, percakapan berikutnya bukan percakapan tentang uang. Itu percakapan yang dibahas Artikel 12.

Penutup

Malam Minggu, enam bulan kemudian. Kamu sudah memasukkan angka bulanan Pool ke aplikasi bankmu. Kamu menatap tombol konfirmasi transfer itu sedetik.

Angkanya berbeda. Ia naik enam bulan lalu ketika Co-Parent mendapat kenaikan gaji, sementara penghasilanmu tetap stabil, dan proporsinya dihitung ulang. Kamu berkontribusi dengan persentase yang lebih kecil sekarang. Jumlah yang keluar dari rekeningmu setiap bulan pun lebih kecil.

Kamu tekan konfirmasi. Kamu tutup aplikasinya.

Kamu terpikir, sekilas, soal rekening Co-Parent. Kamu tidak iri pada apa yang ada di dalamnya. Kamu tahu Pool dibiayai dengan adil. Kamu tahu anakmu punya apa yang dia butuhkan di kedua rumah. Kamu tahu bahwa tekstur tiap rumah mencerminkan apa yang masing-masing orang tua mampu, bahwa perbedaannya nyata, dan bahwa kamu dan Co-Parent, bersama-sama, sudah membuatnya sekecil yang memang perlu.

Kamu membuat secangkir teh. Ponsel kembali ke atas meja.

Struktur proporsional itu bukan sebuah perasaan. Ia sebuah angka. Angka itu sedang bekerja di latar belakang. Yang tersisa, di malam Minggu, adalah apa yang kamu lakukan dengan malammu.

Yang memang untuk itulah malam Minggu ada.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.