dip
Belikan Kopi
Modul 09 · Mediasi & bantuan pihak ketiga

Mencari mediator yang tepat

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia11 menit bacaInti
Mencari mediator yang tepat

Mencari mediator yang tepat

Modul 09 · Mediasi & bantuan pihak ketiga · Artikel 02 · Wave 1 · untuk semua usia


Co-Parent kamu setuju. Balasannya masuk dua hari setelah pesanmu, agak ragu, tapi akhirnya sebuah ya. Oke, ayo kita coba. Gimana cara kita cari orangnya?

Kamu duduk di meja dengan buku catatan dan laptopmu. Sekali mencari, hasilnya lebih banyak daripada yang kamu kira. Ada yang pengacara yang juga jadi mediator. Ada yang psikolog yang juga jadi mediator. Ada yang memang dilatih khusus sebagai mediator keluarga. Situs-situs mereka terasa mirip: rapi, profesional, foto kantor yang asri. Daftar biayanya beragam jauh.

Kamu nggak tahu cara memilihnya.

Artikel ini soal memilih itu.

Apa yang dibahas artikel ini

Artikel ini membahas kerja praktis memilih seorang mediator, setelah kamu dan Co-Parent sepakat bahwa mediasi adalah langkah berikutnya.

Prinsipnya begini. Seorang mediator adalah orang yang akan kamu ajak mengerjakan hal yang nyata, di ruangan yang nyata, atas persoalan yang nyata. Kredensial profesional itu penting. Kecocokan antara gaya mereka dan situasimu lebih penting lagi. Memilih mediator yang tepat bukan seperti menyewa kontraktor, tapi lebih mirip memilih dokter: kamu sedang memilih seseorang yang pendekatan khasnya akan membentuk apa yang terjadi.

Artikel ini mencakup lima hal. Kriteria yang penting. Tempat mencari. Telepon pertama. Tanda bahaya. Dan apa yang harus dilakukan kalau pilihan pertama ternyata tidak cocok.

Artikel ini tidak membahas apa yang terjadi di dalam sesi pertama itu sendiri (Artikel 03), atau seperti apa bentuk hasil formalnya (Artikel 04). Itu artikel-artikel berikutnya. Yang ini soal sampai pada satu pemesanan yang sudah pasti, dengan orang yang kalian berdua sepakat sebagai yang tepat.

Kriteria yang penting

Enam hal untuk dinilai.

Pelatihan khusus dalam mediasi keluarga. Mediator umum (orang yang dilatih untuk sengketa bisnis atau tempat kerja) mungkin bukan pilihan yang pas untuk co-parenting. Mediasi keluarga punya kerangka prakteknya sendiri: psikologi perkembangan anak, struktur rencana pengasuhan, pola komunikasi setelah perpisahan. Cari mediator yang pelatihannya memang di bidang keluarga atau co-parenting.

Netralitas. Mediator yang sebelumnya pernah bekerja dengan salah satu dari kalian dalam peran lain (sebagai psikolog, pengacara, atau penasihat satu pihak) tidak bisa netral. Keberpihakannya sudah terbentuk. Mediator yang tepat adalah orang yang kalian berdua belum pernah kenal sebelumnya. Kalau seorang teman merekomendasikan mediatornya sendiri, itu pertanda baik bahwa dia mempercayai orang itu; tapi bukan alasan untuk melewatkan pemeriksaan netralitas.

Gaya. Mediator berbeda gaya lebih jauh daripada yang dibayangkan orang awam. Ada yang bersifat evaluatif, menawarkan usulan dan penilaian. Ada yang bersifat memfasilitasi, menjaga ruang sementara kalian berdua mencari sendiri jawabannya. Ada yang bersifat transformatif, fokus pada hubungan antara kedua orang tua sebanyak pada keputusan-keputusan tertentu. Tidak ada yang lebih baik secara mutlak; kecocokan dengan situasimu itulah yang penting. Kalau persoalannya adalah satu keputusan tertentu dengan tenggat waktu, mediator evaluatif mungkin bisa menggerakkan lebih cepat. Kalau persoalannya adalah sebuah pola yang perlu diurai, mediator yang memfasilitasi mungkin lebih membantu. Kalau hubungan antara kalian berdua sudah jadi bermusuhan, pendekatan transformatif mungkin dibutuhkan.

Struktur biaya. Tarif per jam, harga per sesi, paket. Skala yang menyesuaikan dengan penghasilan. Pilihan bersubsidi lewat organisasi masyarakat atau keagamaan. Konsultasi pertama gratis. Struktur biaya mengatakan sesuatu tentang bagaimana mediator menjalankan prakteknya. Harga yang bisa diperkirakan mengurangi gesekan; harga yang tidak transparan menimbulkan stres di tengah proses.

Logistik. Di mana kantornya? Seberapa mudah dijangkau dari tempat tinggal kalian berdua? Apakah dia menawarkan sesi daring? Kalau kedua orang tua tinggal berjauhan, sesi daring mungkin satu-satunya pilihan praktis, dan tidak semua mediator melakukannya dengan baik. Ada yang memang dilatih khusus untuk mediasi daring; ada yang melakukannya dengan setengah hati. Layak ditanyakan.

Rekam jejak. Sudah berapa lama dia berpraktek? Berapa persen dari pekerjaannya yang memang mediasi keluarga? Apakah dia pernah menulis atau berbicara secara terbuka tentang pendekatannya? Materi yang menghadap publik memberimu gambaran tentang cara berpikirnya tanpa harus berkomitmen pada satu sesi. Lama berpraktek itu penting, tapi bukan segalanya; ada mediator yang sangat baik yang masih di awal karier, datang dari profesi terkait (psikologi klinis, hukum keluarga) dengan latar belakang relevan yang kuat.

Kriteria-kriteria ini bukan urutan peringkat yang kaku. Ini alat untuk membantumu memahami dan menyusun para calon. Kebanyakan mediator akan kuat di sebagian dan lemah di bagian lain. Pertanyaannya adalah kelemahan mana yang bisa kamu terima.

Tempat mencari

Beberapa jalur.

Lembaga akreditasi profesional. Di Indonesia, mediasi punya pijakan resmi di dalam sistem pengadilan: mediasi adalah tahap wajib dalam perkara perdata dan perkara perceraian, diatur oleh PERMA No. 1 Tahun 2016. Untuk keluarga Muslim, Pengadilan Agama menyelenggarakan mediasi dengan mediator yang sudah bersertifikat. Untuk keluarga non-Muslim, Pengadilan Negeri menjalankan mediasi yang setara. Di luar pengadilan, ada mediator independen yang bersertifikat lewat Pusat Mediasi Nasional (PMN) atau lembaga terakreditasi lain, dan ada psikolog yang juga punya pelatihan mediasi (biasanya terdaftar di HIMPSI). Direktori publik dari lembaga-lembaga ini adalah titik awal yang baik.

Rujukan dari pengacaramu (kalau ada). Kalau kamu sudah bekerja dengan pengacara keluarga, biasanya mereka mengenal para mediator setempat dengan baik. Rekomendasi mereka bisa sangat bernilai. Catatannya: hubungan antara pengacara dan mediator kadang membuat rekomendasi itu mengarah ke pengacara yang juga jadi mediator, yang dinamikanya berbeda dari mediator murni. Layak ditanyakan ke pengacara soal perbedaan ini.

Rujukan dari psikolog (kalau ada). Psikolog sering punya daftar mediator pilihan yang mereka rekomendasikan, kadang termasuk psikolog yang juga jadi mediator. Rujukan dari psikolog biasanya mencerminkan apakah kepekaan emosional si mediator cocok dengan jenis kerja yang akan kamu butuhkan.

Saluran keagamaan atau komunitas. Untuk keluarga Muslim, di samping mediasi resmi di Pengadilan Agama, ada peran hakam (juru damai yang ditunjuk dari pihak keluarga) dan badan seperti BP4 (Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan) yang menawarkan penasihatan keluarga dalam kerangka keagamaan. Untuk keluarga Kristen, sebagian gereja punya pendeta atau konselor keluarga yang dilatih dalam penyelesaian konflik. Untuk keluarga Hindu di Bali, musyawarah di tingkat banjar atau melalui pemangku kadang mendahului jalur formal. Untuk keluarga Tionghoa, tetua komunitas kadang memegang peran serupa. Jalur-jalur ini sering memadukan mediasi dengan kerangka budaya dan spiritual yang lebih luas, dan itu bisa jadi kekuatan kalau kedua belah pihak sama-sama berada dalam kerangka itu.

Lembaga masyarakat. Sebagian lembaga dan yayasan menawarkan mediasi atau pendampingan dengan biaya bersubsidi atau gratis. Yayasan Pulih, misalnya, bekerja dengan pendekatan yang peka trauma untuk keluarga (lebih ke pendampingan psikososial daripada mediasi murni, tapi berkaitan). Di tingkat daerah ada UPTD PPA (Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak), pengganti resmi P2TP2A yang lama. Kualitasnya beragam; aksesnya yang penting. Untuk keluarga yang kendalanya terutama biaya, jalur-jalur ini membuka pilihan yang tertutup kalau hanya mengandalkan mediasi swasta berbayar.

Dari mulut ke mulut. Teman, anggota keluarga yang pernah memakai mediator, grup co-parenting daring. Rekomendasi itu hanya berbobot kalau situasi temanmu memang mirip dengan situasimu, dan hubungan dengan mediator itu berjalan baik sepanjang seluruh proses, bukan cuma sesi pertama.

Daftar pendek berisi tiga sampai lima calon adalah hasil yang tepat dari fase mencari. Daftar panjang justru bikin lumpuh memilih. Tiga sampai lima memberimu cukup pilihan untuk dibandingkan tanpa membuat perbandingannya sendiri jadi sebuah proyek.

Telepon pertama

Kebanyakan mediator menawarkan telepon pertama yang gratis atau berbiaya rendah. Ini bukan sesi; ini percakapan penyaringan dua arah. Mereka memeriksa apakah kasusmu termasuk yang bisa mereka tangani. Kamu memeriksa apakah mereka orang yang ingin kamu ajak bekerja.

Apa yang perlu ditanyakan.

Berapa lama satu sesi, dan biasanya butuh berapa sesi untuk situasi seperti kami? Perkiraan umum saja. Kebanyakan mediasi keluarga berjalan tiga sampai enam sesi, masing-masing 90 menit hingga dua jam. Kalau dia menyebut sesuatu yang jauh berbeda (satu sesi, atau dua belas), itu sinyal yang layak dipahami.

Apa pendekatan Anda kalau salah satu pihak lebih emosional daripada yang lain? Jawabannya mengatakan sesuatu tentang gayanya. Saya beri setiap orang ruang untuk mengungkapkan perasaannya adalah satu jenis mediator. Saya menyusun percakapannya dengan rapat untuk mencegah eskalasi adalah jenis yang lain. Tidak ada yang salah; kecocokan dengan situasimu yang penting.

Bagaimana Anda menanganinya kalau kami sampai jalan buntu? Jawabannya menunjukkan apakah dia nyaman dengan perbedaan pendapat, atau justru akan mendorong ke arah kesepakatan dengan cara apa pun. Jawaban yang tepat kira-kira begini: Kadang kita namai jalan buntunya dan cari cara berbeda untuk mendekatinya. Kadang kita simpulkan bahwa mediasi tidak akan menyelesaikan satu bagian tertentu, lalu menyarankan langkah berikutnya. Mediator yang menjanjikan selalu mencapai kesepakatan itu sedang menjual berlebihan.

Apa yang Anda lakukan kalau salah satu pihak jadi memusuhi yang lain di dalam sesi? Dengarkan apakah dia bisa menjaga struktur di bawah tekanan. Mediator yang tepat punya perangkat (menjeda sejenak, memisahkan ke ruang terpisah sebentar, menamai apa yang sedang terjadi). Mediator yang salah cuma berharap hal itu tidak terjadi.

Ceritakan tentang pelatihan dan praktek terbaru Anda. Jawaban singkat tentang kredensial dan fokusnya saat ini. Jawaban yang kabur di sini adalah tanda bahaya; pelatihan itu fondasinya, dan dia semestinya nyaman menjelaskannya.

Bagaimana struktur biayanya? Langsung, spesifik. Tarif per jam. Lama sesi. Tambahan apa pun (persiapan, kesepakatan tertulis, laporan untuk pengadilan). Kalau dia tidak memberi rincian di telepon penyaringan, mungkin nanti pun dia tidak akan memberi.

Ada pertanyaan untuk kami? Pertanyaannya menunjukkan apa yang menurutnya penting. Mediator yang baik menanyakan ketersediaan kedua orang tua, kesediaan mereka, dan persoalan yang spesifik. Yang lebih lemah cuma menanyakan hal logistik.

Yang kamu periksa, di samping jawabannya, adalah tekstur percakapan itu. Apakah dia mendengarkan? Apakah dia menjawab spesifik atau umum? Apakah kamu merasa benar-benar dihadapi, atau cuma diproses? Tekstur itu lebih penting daripada jawaban tertentu mana pun. Kamu akan mengerjakan hal yang nyata di satu ruangan dengan orang ini. Kalau tekstur telepon penyaringan saja sudah terasa janggal, sesi-sesinya kecil kemungkinan akan terasa berbeda.

Tanda bahaya

Beberapa tanda yang perlu ditanggapi serius.

Berpihak sejak telepon pertama. Kalau mediator, saat penyaringan, menunjukkan simpati pada salah satu dari kalian melebihi yang lain, atau membuat asumsi tentang apa yang salah satu pihak inginkan, netralitasnya sudah terganggu sejak awal. Mediator yang tepat tetap netral bahkan sebelum kerja formal dimulai.

Tekanan untuk langsung memutuskan. Saya ada slot kosong Kamis, mau dipesan? sebelum kalian sempat membahasnya bersama adalah gerakan jualan, bukan gerakan profesional. Mediator yang baik memberimu ruang untuk memutuskan.

Kabur soal kredensial. Kalau dia tidak bisa atau tidak mau menyebut pelatihan, sertifikasi, dan berapa persen pekerjaannya yang berupa mediasi keluarga, jawaban sebenarnya mungkin tidak sehebat yang ingin dia sampaikan.

Tidak menyinggung soal kerahasiaan. Mediator profesional, dalam telepon penyaringan apa pun, akan menyebut kerangka kerahasiaan (apa yang rahasia, apa yang tidak, bagaimana kaitannya dengan kemungkinan proses hukum). Kalau ini tidak disinggung sama sekali, prakteknya di bawah standar.

Tidak nyaman menyebut batas. Kalau kamu bertanya bagaimana kalau mediasi tidak berhasil untuk kami? dan dia menghindari menjawab, mungkin dia tidak punya gambaran yang jelas tentang batas kemampuannya sendiri. Mediator yang tepat bisa menjelaskan kapan perangkatnya tidak akan cukup.

Tenggat yang agresif. Kita bisa selesaikan ini dalam dua sesi untuk situasi keluarga yang rumit adalah menjual berlebihan. Mediasi keluarga yang berkualitas biasanya butuh lebih banyak sesi daripada perkiraan awal mediator yang terlalu bersemangat.

Pertanyaan yang tidak pantas. Telepon penyaringan semestinya efisien dan profesional. Pertanyaan pribadi tentang pernikahan, soal perselingkuhan, soal proses hukum (kalau ada) di luar yang benar-benar perlu itu tidak pada tempatnya di tahap ini. Mediator bisa menggali lebih dalam nanti; penyaringan semestinya ringan.

Kalau dua tanda bahaya atau lebih muncul dalam satu telepon, kamu sudah tahu apa yang perlu kamu tahu. Coret dari daftar. Lanjut.

Setelah penyaringan

Begitu kamu sudah melakukan dua atau tiga telepon penyaringan, kamu dan Co-Parent membandingkan catatan. Ini sendiri sebuah pertukaran co-parenting kecil, dan layak dijalani dengan baik.

Masing-masing dari kalian menggambarkan teksturnya, bukan cuma kredensialnya. Aku merasa didengar oleh [nama] lebih berguna daripada [nama] kredensialnya bagus. Kalian berdua akan ada di ruangan dengan orang ini; kalian berdua perlu merasa bahwa dialah yang tepat.

Keputusannya bersama. Kalau salah satu dari kalian punya preferensi yang kuat dan yang lain netral, ikuti preferensi itu. Kalau keduanya punya preferensi, cari satu yang bisa kalian berdua terima. Memaksa Co-Parent menerima mediator yang tidak membuatnya nyaman akan membuat mediasi dimulai dengan buruk.

Hak veto itu penting. Kalau salah satu dari kalian punya tidak yang jelas pada orang tertentu, veto itu berlaku. Mediasi menuntut kedua pihak merasa cukup aman untuk terlibat. Mediator yang diveto tidak bisa menghasilkan rasa aman itu.

Keputusannya tidak harus sempurna. Cukup baik saja sudah memadai. Mediator terbaik adalah yang cukup kompeten dan bisa diterima oleh kalian berdua. Membanding-bandingkan tanpa henti itu sendiri sebuah cara untuk menghindari kerja.

Kalau ternyata tidak cocok

Kadang kamu sudah memesan seorang mediator, menjalani satu atau dua sesi, dan ternyata tidak berjalan. Kimianya tidak pas. Gayanya tidak cocok dengan situasi. Kalian tidak membuat kemajuan.

Beberapa prinsip.

Satu sesi yang buruk belum cukup jadi alasan untuk berganti. Mediasi sering terasa lebih berat di sesi pertama dibanding sesi-sesi berikutnya, karena hal-hal yang sulit baru dimunculkan ke permukaan. Beri tiga sesi dulu sebelum menyimpulkan bahwa pilihannya salah.

Kalau yang tidak cocok itu pilihan orangnya, bukan tekniknya, kamu bisa berganti. Beri tahu mediator yang sekarang. Mereka tidak akan tersinggung; mediator yang kompeten sudah terbiasa dengan ini dan kadang malah akan merekomendasikan rekan yang mungkin lebih cocok.

Kalau yang tidak cocok itu mediasinya sendiri, beralihlah ke pendekatan lain. Kadang kerja yang dibutuhkan bukan mediasi; tapi terapi co-parenting, terapi individu lebih dulu lalu mediasi, atau langkah struktural seperti kesepakatan pengasuhan yang disusun bersama pengacara. Menemukan bahwa mediasi bukan yang tepat itu sendiri informasi yang berguna.

Berganti bukan berarti gagal. Itu kalibrasi. Pemesanan pertama tadi sebuah hipotesis; kerjanya mengujinya; hipotesisnya keliru; kamu jadi tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan. Lanjut ke depan.

Penutup

Rabu malam. Kamu sudah melakukan tiga telepon. Kamu sudah membandingkan catatan dengan Co-Parent. Kalian sepakat pada nama kedua di daftarmu.

Kamu mengirim email pemesanan. Halo. Saya dan Co-Parent ingin memesan sesi pertama. Kami bisa hari Rabu setelah jam 6 sore, atau pagi di akhir pekan. Kami menantikan kesempatan bekerja sama dengan Anda.

Balasannya masuk dalam dua jam. Bagus. Rabu tanggal 23 pukul 18.30 cocok di sisi saya. Saya akan mengirim formulir awal dan kesepakatan untuk mediasi. Saya menantikan pertemuan dengan kalian berdua.

Sesinya dua minggu lagi.

Antara sekarang dan saat itu, kamu dan Co-Parent masing-masing punya sedikit persiapan untuk dikerjakan (yang dibahas Artikel 03). Tapi pilihannya sudah dibuat. Mediatornya nyata. Jalannya bukan lagi sekadar bayangan.

Kamu belum menyelesaikan persoalannya. Kamu sudah melakukan sesuatu yang hampir sama bergunanya: kamu sudah menemukan orang yang akan membantu kamu dan Co-Parent menyelesaikannya.

Kenyataan bahwa kalian berdua sampai di titik ini bersama-sama, dengan caranya yang tenang, sudah menjadi awal dari kerja yang akan dilakukan si mediator. Kalian berdua sudah sepakat bahwa kalian tidak bisa melakukannya sendiri. Kalian berdua sudah melihat pilihan-pilihannya. Kalian berdua sudah membuat satu pilihan.

Inilah fondasinya. Dari sini, kerja yang terstruktur dimulai.

Kamu menutup laptop. Kamu menyiapkan makan malam.

Nama mediator itu sekarang sudah ada di kalendermu. Nyata, hadir di dunia. Hal yang tadinya tidak akan terselesaikan kini punya satu tanggal, setidaknya, untuk mulai ditangani.

Itu sendiri, sebuah kelegaan yang tenang.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.