Ketika balitamu tidak mau tidur tanpamu
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Ketika balitamu tidak mau tidur tanpamu
Modul 01 · Tidur & waktu tidur · Artikel 04 · Wave 2 · usia 0-3
Malam Selasa. Anak laki-lakimu sudah menangis selama empat puluh menit. Malam ini dia ada di rumahnya yang satu lagi. Kamu bisa mendengarnya lewat telepon, dan Co-Parent-mu berkata, aku sudah coba segala cara. Kalian berdua tahu apa yang dia mau. Dia mau kamu. Kamu, secara spesifik. Orang tua yang hampir setiap malam mengurus waktu tidurnya sejak dia lahir. Suara yang dia kenal. Tangan yang dia kenal. Dia tidak mau orang lain.
Kamu tidak tahu harus berkata apa. Kamu tidak bisa menyetir ke sana. Malam ini bukan giliranmu mengurus waktu tidurnya. Kamu merasa bersalah karena menjadi orang yang dirindukan. Kamu juga merasakan satu hal kecil yang lebih rumit, yaitu rasa lega karena menjadi orang yang diinginkan.
Artikel ini soal balita itu. Yang tidak mau tidur tanpamu. Apa yang sedang terjadi. Apa yang bisa kamu lakukan di rumahmu. Apa yang bisa kamu lakukan ketika bukan kamu yang menidurkannya.
Kenapa ini terjadi
Balita yang menolak tidur tanpa satu orang tua tertentu adalah pola perkembangan yang normal, bukan masalah yang harus diselesaikan.
Antara kira-kira usia 8 bulan dan 24 bulan, kecemasan berpisah mencapai puncaknya. Anak baru saja mengembangkan kekekalan objek (Modul 02 Artikel 01 membahas ini), yang berarti sekarang dia bisa memegang sosok orang tua dalam pikirannya meski sedang tidak ada di hadapannya. Harga dari memegang sosok orang tua dalam pikiran adalah merindukannya. Anak tahu kamu ada meskipun kamu tidak di sana. Dia mau kamu meskipun kamu tidak di sana. Dia menangis meskipun kamu tidak di sana.
Ini paling kuat terasa di waktu tidur, karena waktu tidur adalah saat paling rapuh dalam sehari (Tidur 01 menjelaskan kenapa). Ketika anak sedang melepaskan kesadarannya, dia mau orang dewasa yang paling tenang dan paling dia kenal yang memegangnya melewati ambang itu.
Kalau selama ini satu orang tua menjadi orang dewasa utama di waktu tidur untuk sebagian besar hidup balita itu, sistem saraf orang tua itulah yang anak pinjam untuk menenangkan diri. Sistem saraf orang tua penerima belum dikenal pada momen yang spesifik ini. Bahkan kalau Co-Parent-mu penyayang, hadir, mampu, dan cakap, di waktu tidur balita itu menginginkan orang tua yang ketenangan-di-waktu-tidurnya sudah dia latih ribuan kali.
Ini bukan vonis terhadap orang tua mana pun. Ini sebuah pola yang tercatat di tubuh anak. Pola itu bisa dibentuk ulang. Hanya butuh waktu.
Perlu disebut, sebelum kita lanjut. Orang tua utama di waktu tidur sering memegang dua perasaan rumit soal ini sekaligus. Satu rasa bersalah, karena balita itu menderita di rumahnya yang satu lagi dan kamu tidak bisa memperbaikinya. Satu lagi perasaan kecil yang lebih sulit diakui, yaitu rasa lega menjadi orang yang tak tergantikan, orang tua yang diinginkan anak. Kedua perasaan itu normal. Keduanya bagian dari apa yang membuat ini berat secara emosi. Kerjanya tetap sama, yaitu memperluas lingkaran itu meski begitu. Kedua perasaan bisa hadir, dan kerja itu tetap bisa berjalan.
Dua bagian dalam persoalan ini
Ada dua bagian, dan keduanya butuh hal yang berbeda.
Ketika balita tidak mau tidur tanpamu di rumah kamu, itu soal memanjangkan kesanggupannya tertidur dengan kehadiranmu yang berkurang sedikit demi sedikit setiap malam.
Ketika balita tidak mau tidur tanpamu di rumah Co-Parent-mu, itu soal Co-Parent-mu membangun ritual waktu tidur yang bisa anak pinjam. Dan soal kamu mendukung ritual itu dari jauh.
Kedua bagian sama pentingnya. Yang kedua lebih sulit.
Ketika ini terjadi di rumahmu
Pola di rumahmu adalah versi yang lebih bisa ditangani. Balita itu bersamamu, kamu orang tua yang dia inginkan, tapi dia tidak mengizinkanmu keluar dari kamar. Dia mau sentuhan tangan. Dia mau kamu duduk di atas tempat tidur. Dia mau tertidur dengan kamu dalam jangkauan tangannya.
Ini wajar untuk usianya. Balita memang seharusnya tidak tertidur sendirian dalam gelap. Secara biologis mereka memang dirancang agar ada orang dewasa di dekatnya sampai kantuk membawanya tidur. Pertanyaannya bukan apakah ini perlu dilakukan. Pertanyaannya adalah seberapa banyak kehadiranmu yang dia butuhkan, dan bagaimana memberinya perlahan-lahan lebih sedikit tanpa merusak ritualnya.
Pergeseran perlahan itu, dalam beberapa tahap:
- Duduk di atas tempat tidur. Tangan di punggungnya. Tenang, tanpa bicara. Tunggu sampai dia tidur.
- Duduk di atas tempat tidur. Tanpa sentuhan tangan. Tunggu sampai dia tidur.
- Duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Tunggu sampai dia tidur.
- Duduk di kursi. Keluar ketika balita sudah mengantuk tapi belum tidur.
- Duduk di kursi untuk awal proses menenangkan. Keluar sebelum dia mengantuk.
- Selimuti, biarkan pintu terbuka, beri suara dari lorong kalau perlu.
Setiap tahap butuh satu atau dua minggu. Jangan terburu-buru. Tubuh balita perlu belajar bahwa kamu tidak persis di sebelahnya bukan berarti kamu sudah pergi. Polanya bergeser dalam hitungan bulan, bukan hari.
Dua hal yang tidak berhasil, yaitu keluar tiba-tiba tanpa pemberitahuan (ini melatih anak untuk melawan tidur lebih keras), dan masuk lagi berulang-ulang untuk menenangkannya (ini melatih anak untuk memanggil-manggil berulang-ulang). Hadirlah. Tunggu sampai titik yang sudah disepakati. Lalu keluar.
Ketika ini terjadi di rumah Co-Parent-mu
Ini versi yang lebih sulit. Balita itu ada di rumah penerima. Balita itu memanggil-manggil kamu. Kamu tidak di sana.
Jangan hadir saat tangisan berlangsung. Tidak lewat telepon, tidak lewat panggilan video di tengah-tengah waktu tidur, tidak lewat pesan yang dititipkan ke Co-Parent-mu. Telepon di waktu tidur saat tangisan berlangsung tidak membantu. Telepon itu menyalakan ulang kerinduan pada kamu, justru di saat balita seharusnya menenangkan diri. Balita mendengar suaramu, berharap kamu akan datang, sadar bahwa kamu tidak datang, lalu tangisannya mulai lagi.
Bangun jembatannya sebelum waktu tidur, bukan di tengah-tengahnya. Satu rekaman audio pendek berisi kamu membacakan cerita, yang diputar oleh Co-Parent-mu di awal proses menenangkan, bisa jadi bantuan yang nyata. Satu panggilan video singkat sebelum makan malam, sebelum proses menenangkan dimulai, bisa melembutkan suasana malam. Satu benda kesayangan yang dia kenal dan berbau kamu. Sehelai bajumu di tempat tidur. Hal-hal ini membantu. Panggilan telepon langsung tidak.
Percayalah orang tua penerima bisa memegang waktu tidur itu. Meski tidak secepat atau semulus caramu. Balita itu akan menangis sepuluh, dua puluh, atau empat puluh menit. Lalu balita itu akan kelelahan sendiri dan tidur. Co-Parent-mu akan tetap tenang, memegangnya, dan tidak panik. Itulah tujuannya. Setiap kali ini terjadi, tubuh balita belajar satu kali lagi bahwa orang tua penerima juga seorang dewasa yang bisa menemaninya tidur.
Jangan saling membandingkan catatan setelahnya. Jangan bertanya pada Co-Parent-mu bagaimana semalam dengan cara yang berubah jadi kritik. Gimana semalam tidak masalah. Kamu jalanin ritualnya dengan benar nggak bermasalah. Co-Parent-mu sedang melakukan hal yang sulit. Dia butuh dukungan, bukan audit.
Berapa lama ini berlangsung
Dua sampai empat minggu ritual yang konsisten di rumah penerima biasanya cukup untuk membuat tubuh balita mengenali rumah itu sebagai tempat tidur. Sebagian anak butuh waktu lebih lama. Balita yang seumur hidupnya hanya pernah punya satu orang tua di waktu tidur mungkin butuh delapan sampai dua belas minggu sebelum pola baru itu benar-benar tertanam.
Seperti apa rupanya kalau sudah tertanam:
- Balita itu tetap lebih suka orang tua utama di waktu tidur (ini tetap begitu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan itu normal)
- Balita itu kini mau tidur di rumah penerima dengan tangisan yang berlangsung kurang dari lima belas menit
- Balita itu tidur nyenyak hampir setiap malam di rumah penerima
- Tidurnya pulih dalam 24 jam setelah serah-terima berikutnya
Kamu tidak akan tergantikan. Orang tua penerima akan menjadi orang dewasa yang sah untuk menemaninya tidur. Keduanya bisa sama-sama benar.
Ketika tidak kunjung membaik
Kalau balita masih tidak bisa ditenangkan di waktu tidur di rumah penerima setelah delapan sampai dua belas minggu ritual yang konsisten, ada hal lain yang sedang terjadi. Beberapa kemungkinan:
- Jadwalnya terlalu panjang untuk jendela perkembangan balita itu. (Lihat Modul 02 Artikel 01 soal jadwal balita.)
- Proses menenangkan di rumah penerima berbeda secara mendasar dari segi tempo atau nada, sehingga tubuh anak tidak bisa mengenalinya.
- Ada perubahan baru-baru ini (pasangan baru, pindah rumah, adik yang akan lahir) yang menambah beban pada sistem yang memang sudah rapuh.
- Balita sedang melalui lonjakan perkembangan, kemunduran, atau sakit yang untuk sementara memperberat kesulitan di waktu tidur.
Dalam kasus-kasus ini, bicaralah dengan Co-Parent-mu (Komunikasi dengan Co-Parent 01 membantu soal caranya). Bicaralah dengan dokter anakmu. Pertimbangkan konsultasi singkat dengan psikolog anak yang biasa menangani keluarga yang berpisah.
Yang bukan jawabannya, yaitu menahan balita di rumah orang tua utama setiap malam, tanpa batas waktu. Itu tidak memperbaiki polanya. Itu hanya menunda kerja ini ke jendela perkembangan yang justru akan membuatnya lebih sulit.
Penutup
Balita yang tidak mau tidur tanpamu adalah balita yang sudah membangun ikatan yang kuat denganmu. Itu bukan masalah. Itulah tujuannya.
Kerjanya, sekarang, adalah memperluas lingkaran orang dewasa yang bisa memegangnya melewati ambang tidur. Kerja itu butuh waktu berminggu-minggu. Rupanya seperti ini: menangis untuk sementara, lalu makin sedikit menangis, lalu suara orang tua penerima menjadi cukup dikenal di waktu tidur untuk menenangkannya.
Kamu tidak sedang digantikan. Kamu sedang membagi peran yang selama ini kamu pegang sendirian. Balita itu tetap akan paling menginginkan kamu. Dia juga, pada akhirnya, akan bisa tidur di rumahnya yang satu lagi. Keduanya bisa benar sekaligus.
Pegang garismu di rumahmu. Percayalah Co-Parent-mu di rumahnya. Kirim rekaman audionya. Jangan menelepon. Tunggu sampai berlalu. Polanya bergeser.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.