dip
Belikan Kopi
Modul 03 · Rutinitas usia sekolah

Sekolah budaya dan bahasa akhir pekan

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

4–78–128 menit baca
Sekolah budaya dan bahasa akhir pekan

Sekolah budaya dan bahasa akhir pekan

Modul 03 · Rutin usia sekolah · Artikel 18 · Wave 3 · 4–7, 8–12


Sabtu pagi, pukul 8:30. Anak laki-lakimu sudah berdiri di pintu dengan tasnya.

Sekolah budaya akhir pekan mulai pukul 9. Jaraknya dua puluh menit. Kamu yang mengantarnya setiap Sabtu sepanjang semester. Kamu akan menjemputnya tengah hari. Sisa sorenya, itu waktu dia sendiri.

Ini akhir pekanmu, bukan akhir pekan Co-Parent. Sekolah budaya Sabtu pagi itu mengambil satu jam dari akhir pekan dia, satu jam yang seharusnya untuk bermain, kumpul keluarga, atau istirahat.

Sekolah budaya akhir pekan dalam artikel ini merujuk pada kategori luas program akhir pekan yang menghubungkan anak dengan bahasa warisan, agama, budaya, atau tradisi. Kelas Mandarin Sabtu untuk keluarga Tionghoa. Sekolah Minggu di gereja untuk keluarga Kristen dan Katolik. Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) atau kelas mengaji untuk anak Muslim. Sekolah Hindu atau sekolah Buddha untuk keluarga yang ingin meneruskan tradisinya. Kelas pelestarian bahasa daerah seperti Bahasa Jawa, Sunda, atau Bali di beberapa wilayah. Daftarnya panjang. Polanya hampir sama di semuanya. Anak menghabiskan separuh hari di akhir pekan, atau sore hari kerja seperti pada banyak kelas TPA, untuk belajar bahasa atau praktik budaya yang keluarganya ingin agar dia tetap terhubung dengannya.

Ini termasuk salah satu keputusan yang paling berat secara emosi dalam co-parenting di usia sekolah, karena pertanyaan soal sekolah budaya sering menyentuh warisan, identitas, dan sejarah keluarga orang tua itu sendiri. Keputusan ini bisa jadi salah satu dari sedikit hal yang membuat kedua orang tua punya kepentingan yang sangat berbeda.

Artikel ini bukan tentang apakah sekolah budaya akhir pekan itu sepadan atau tidak. Jawabannya tergantung pada masing-masing keluarga. Artikel ini tentang bagaimana menavigasi keputusannya, jadwalnya, dan biayanya ketika kedua rumah terlibat.

Kenapa keputusan soal sekolah budaya bisa terasa berat

Sebagian pasangan masuk ke co-parenting dengan latar budaya yang berbeda. Satu orang tua terhubung dengan sebuah bahasa warisan; satunya tidak. Satu orang tua tumbuh dengan bahasa itu; satunya tumbuh dengan bahasa yang lain. Di Indonesia ini sangat umum, mengingat keragaman pernikahan lintas etnis, lintas daerah, dan terkadang lintas agama yang ada di tengah masyarakat kita.

Keputusan apakah anak sebaiknya ikut sekolah bahasa warisan bisa terasa, bagi orang tua yang terhubung dengan budaya itu, seperti pertanyaan apakah anak boleh menjadi bagian dari keluarga budayanya. Bagi orang tua yang tidak terhubung, ini bisa terasa seperti memakai waktu akhir pekan yang seharusnya dipakai anak untuk bermain.

Kedua perasaan itu sah. Keduanya biasanya dipegang dengan dalam.

Percakapannya, ketika terjadi, sebagian bersifat logistik (jadwalnya bagaimana? biayanya berapa?) dan sebagian lagi menyangkut identitas. Bagian identitas itu tidak selesai dengan cepat. Bisa makan waktu bertahun-tahun sampai kedua orang tua sampai pada satu pengaturan yang mantap.

Kalau kamu masih di awal percakapan ini, beri waktu. Jangan coba menyelesaikannya dalam satu obrolan Minggu malam. Keputusan ini bisa ditinjau ulang nanti.

Satu konteks yang penting di Indonesia: semua sekolah formal sudah memuat pendidikan agama wajib di jam sekolah. Pendidikan agama warisan di akhir pekan atau sore hari, seperti TPA atau sekolah Minggu, sifatnya tambahan di atas itu. Bagi sebagian keluarga Tionghoa, kelas Mandarin juga punya bobot tersendiri, karena dirasakan sebagai pemulihan warisan yang sempat sulit diakses selama bertahun-tahun. Dalam konteks seperti ini, kepentingan orang tua warisan bisa terasa sangat besar.

Hal-hal mendasar, ketika keputusannya sudah selesai

Begitu kedua orang tua sepakat bahwa anak akan ikut sekolah budaya, lapisan praktisnya mirip dengan aktivitas rutin lain.

Hari siapa? Banyak sekolah budaya berlangsung Sabtu atau Minggu pagi. Sebagian, seperti kelas mengaji atau TPA, justru berlangsung sore hari kerja, beberapa kali seminggu. Anak perlu hadir. Kedua rumah memegang jadwalnya. Kalau Sabtu adalah giliran akhir pekan satu orang tua, orang tua itu yang mengantar dan menjemput pagi itu. Kalau jadwalnya bergilir, kedua orang tua mengambil bagian masing-masing. Di banyak keluarga, kakek-nenek atau asisten rumah tangga ikut membantu antar-jemput; itu wajar, asalkan jadwalnya tetap dipegang kedua rumah.

Tas dan perlengkapannya. Perlengkapan sekolah budaya (buku teks, buku tulis, Al-Quran, perlengkapan budaya) perlu siap untuk pagi itu. Seperti tas sekolah harian, tas sekolah budaya ikut berpindah bersama anak atau punya polanya sendiri untuk disiapkan.

PR-nya. Banyak sekolah budaya memberi PR, mirip PR sekolah biasa. Kedua rumah tahu apa PR-nya. Keduanya mendukung. Prinsip yang sama seperti di Modul 03 Artikel 02 berlaku: tasnya adalah sistem; orang tua yang sedang bertugas yang menangani PR harian.

Biayanya. Seperti biaya terkait sekolah lainnya, iuran sekolah budaya dibagi mengikuti pola yang keluargamu pakai untuk pengeluaran bersama lewat Pool. Dibicarakan di awal. Ditinjau secara berkala. TPA atau kelas mengaji biasanya lebih terjangkau daripada kelas Mandarin Sabtu swasta atau les bahasa dengan tutor khusus, tapi prinsipnya sama: biayanya dibagi.

Acara sekolahnya. Pentas akhir tahun, festival budaya, pertemuan orang tua. Kedua orang tua hadir kalau bisa. Kalau hanya satu orang tua yang punya keterhubungan budaya itu, orang tua satunya tetap hadir sebagai bagian dari menjadi orang tua anak.

Ketika salah satu orang tua tidak berbagi latar budaya

Versi yang lebih sulit. Satu orang tua punya keterhubungan budaya itu (penutur Mandarin dari keluarga Tionghoa, Muslim dari keluarga yang taat, penutur bahasa daerah dari keluarga asal). Orang tua satunya tidak.

Ada tiga pola yang umum muncul.

Kedua orang tua mendukung sekolah budaya. Orang tua non-warisan datang ke pentas, membantu PR sebisanya (sering kali secara fonetik, tanpa bisa berbahasa itu sendiri), menghargai keterhubungannya. Orang tua warisan memimpin dalam percakapan bahasa, menangani PR, mengajak anak ke acara komunitas budaya. Sekolah budaya menjadi bagian dari jalinan keluarga.

Orang tua non-warisan bersikap netral. Mereka tidak aktif menentang. Mereka menangani antar-jemput di hari mereka. Mereka tidak terlibat dengan bahasa atau isi budayanya. Bagi anak, sekolah budaya jadi sesuatu yang sebagian besar hidup di satu rumah. Ini berjalan baik selama orang tua non-warisan tetap netral, bukan condong ke arah meremehkan.

Orang tua non-warisan diam-diam tidak setuju. Mereka merasa sekolah budaya itu terlalu menekan, mengambil terlalu banyak waktu akhir pekan, bertentangan dengan nilai mereka. Ketidaksetujuan itu mungkin tidak diucapkan langsung, tapi anak menangkapnya. Anak jadi mendua soal sekolah budaya. Dia mungkin mulai enggan pergi.

Kalau kamu mendapati dirimu dalam pola ketiga, percakapannya sudah telat. Alasan di balik ketidaksetujuan itu layak diperhatikan. Kadang alasannya praktis (anak terlihat lelah; jadwalnya terlalu padat). Kadang menyangkut identitas (orang tua non-warisan merasa tersisih dari sebagian hidup anak). Percakapan itu layak dilakukan sebelum sekolah budaya berubah jadi penyumbat.

Kalau kamu adalah orang tua warisan dalam situasi ini, dengarkan kekhawatiran Co-Parent meski kamu tidak setuju. Jangan mengabaikan perasaan tapi ini penting buatku dari sisi mana pun. Keterhubungan budaya anak punya nilai; hubungan Co-Parent dengan anak juga punya nilai. Keduanya harus sama-sama dipegang.

Ketika anak ingin berhenti

Suatu saat di masa SD, anak mungkin bilang dia tidak mau lagi pergi ke sekolah budaya.

Ini terjadi pada hampir semua anak sekolah budaya di satu titik. Alasannya bermacam-macam.

Teman-temannya ada di rumah atau melakukan kegiatan akhir pekan lain sementara dia harus sekolah. Dia merasa berbeda.

Gurunya galak. Pelajarannya lebih sulit daripada sekolah biasa. Dia tidak melihat gunanya.

Dia terjebak di kelompok teman di sekolah budaya yang tidak dia nikmati.

Dia lelah. Dia kelebihan beban. Sekolah Sabtu ditambah sekolah biasa, ditambah les atau bimbel, ditambah olahraga, ditambah les alat musik. Anaknya memang benar-benar terkuras.

Untuk tiap alasan, responsnya berbeda.

Perbedaan kelompok teman. Akui perasaannya. Iya, teman-temanmu lagi ngelakuin hal lain Sabtu pagi. Itu bisa kerasa berat ya. Tapi juga: Datang ke sekolah budaya itu bagian dari cara kita menjaga keterhubungan ini tetap hidup. Sebagian teman dari sekolah budaya nanti jadi pertemanan jangka panjang yang mungkin nggak didapat dari teman sekolah biasa.

Pelajarannya sulit atau gurunya galak. Bicara dengan gurunya. Pengalaman anak mungkin layak disesuaikan sedikit. Tidak setiap sekolah budaya pandai menangani setiap anak.

Terjebak di kelompok teman. Mungkin layak pindah kelas. Mungkin layak pindah sekolah, kalau ada pilihan lain. Mungkin layak membiarkan anak rehat satu tahun.

Benar-benar kelebihan beban. Ini yang paling layak diperhatikan. Lepaskan kegiatan lain. Atau jeda sekolah budaya selama setahun.

Keputusan untuk menjeda atau menghentikan sekolah budaya itu besar. Kedua orang tua membuatnya bersama. Kepentingan orang tua warisan itu penting; kesejahteraan anak juga penting. Anak yang dipaksa hadir di program mingguan yang dia benci adalah anak yang sedang menumpuk kekesalan terhadap keterhubungan budaya itu sendiri. Keterhubungan itu lebih terjaga oleh jeda singkat daripada oleh kehadiran yang dipaksakan.

Ketika sekolah budaya berubah jadi medan tarik-menarik

Risiko untuk sebagian keluarga. Sekolah budaya berubah jadi tempat perbedaan yang lebih besar antar orang tua bermain.

Orang tua warisan bersikeras anak harus hadir apa pun yang terjadi. Orang tua non-warisan diam-diam berharap anak tidak usah pergi. Anak merasa terjepit.

Atau anak memakai isu sekolah budaya itu sebagai bahan untuk menawar dengan satu orang tua melawan yang lain. Ayah bilang aku nggak harus pergi. Anak jadi pembawa pesan di antara dua orang dewasa yang punya pandangan berbeda.

Jalan keluarnya sama seperti untuk perbedaan besar yang lain. Keputusan ada di antara kedua orang tua. Anak bukan pembawa pesan. Kalau kamu tidak bisa sepakat soal kehadiran di sekolah budaya, itu perbedaan yang dibawa ke mediator atau konselor; bukan perbedaan yang diperdebatkan lewat anak. Modul 09 (Mediasi & bantuan pihak ketiga) membahas ini lebih lanjut.

Penutup

Sabtu tengah hari. Kamu menjemput anak laki-lakimu dari sekolah budaya. Dia lelah tapi puas. Dia bercerita tentang sesuatu yang dikatakan gurunya. Dia punya PR untuk minggu depan. Dia terhubung dengan sebuah komunitas yang dipedulikan Co-Parent (yang berbagi warisan itu).

Kamu menangani PR di hari mana pun yang cocok. Co-Parent menangani acara komunitas budaya, keterlibatan keluarganya, benang-benang identitas yang lebih panjang. Kamu memang bukan orang tua warisan, tapi kamu orang tua yang mengantarnya setiap Sabtu. Itu kontribusimu sendiri.

Sekolah budaya adalah bagian dari tekstur hidupnya. Kedua orang tua mendukungnya, meski dari sudut yang berbeda. Tidak ada satu orang tua pun yang menjadikannya pertarungan. Anak tumbuh dengan warisannya dan dengan kedua orang tua hadir dengan cara yang berbeda-beda.

Bagi keluarga yang berhasil menjalankan ini dengan baik, sekolah budaya menjadi salah satu kesinambungan kecil yang mantap di masa kanak-kanak. Bagi keluarga yang keliru menjalankannya, ia berubah jadi penyumbat. Tugasnya adalah menemukan bentuk yang pas untuk keluargamu sendiri. Beri waktu.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.