Les dan kegiatan setelah sekolah
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Les dan kegiatan setelah sekolah
Modul 03 · Rutinitas usia sekolah · Artikel 17 · Wave 3 · 4–7, 8–12
Co-Parent mengirim pesan di suatu Minggu sore. Kamu sudah kepikiran nggak buat nyariin dia bimbingan matematika? Kayaknya dia agak ketinggalan.
Kamu belum kepikiran soal itu. Atau lebih tepatnya, kamu sempat memikirkannya sekilas, waktu rapor terakhir dibawa pulang. Lalu kamu memutuskan belum saatnya. Co-Parent rupanya sudah memutuskan, kurang lebih iya.
Sekarang ini menjadi satu keputusan kecil yang harus kalian berdua tangani bersama.
Artikel ini membahas les dan kegiatan setelah sekolah ketika kedua orang tua terlibat. Keputusan untuk memulai. Pemilihan programnya. Pembayarannya. Pengaturan jadwal di antara kedua rumah. Lalu pertanyaan yang lebih sulit: saat satu orang tua merasa les itu perlu dan yang lain merasa tidak.
Ini termasuk salah satu keputusan usia sekolah yang paling besar dari sisi keuangan. Guru les tetap dua kali seminggu bisa menghabiskan biaya setara liburan kecil dalam setahun. Program premium bisa lebih mahal lagi. Kedua orang tua menanggung beban biayanya, dan keduanya berhak punya suara dalam keputusan itu.
Kenapa ini sering jadi sensitif
Les itu masuk ke kategori yang agak aneh. Kelihatannya seperti keputusan sekolah, tapi bukan sesuatu yang dipaksakan sekolah. Kelihatannya seperti pilihan orang tua, tapi punya dampak pada kehidupan sehari-hari anak. Kelihatannya seperti keputusan pribadi antara satu orang tua dan anak, tapi biayanya ditanggung bersama, dan waktunya diambil dari jadwal yang dibagi kedua orang tua.
Setiap orang tua punya pandangan yang sangat berbeda soal les. Di Indonesia, bimbel itu lebih dari sekadar pilihan, hampir menjadi semacam standar. Di banyak keluarga kota, anak SD dan SMP ikut bimbel, les mengaji, atau les bahasa Inggris dua sampai empat sore seminggu. Sebagian orang tua melihat les sebagai sesuatu yang wajib, seperti pasang behel itu wajib, investasi kecil tambahan yang berbuah dalam jangka panjang. Sebagian melihatnya sebagai tekanan yang tidak perlu, yang merampas waktu bermain, tidur, dan masa kecil yang lepas tanpa jadwal. Sebagian melihatnya sebagai sesuatu yang dipakai hanya ketika anak benar-benar kesulitan. Sebagian melihatnya sebagai sesuatu yang dipakai ketika anak sebenarnya baik-baik saja, tapi bisa lebih baik lagi.
Pandangan ini sebagian besar bersifat budaya. Letaknya dalam. Pandangan itu tidak berubah hanya karena percakapan berbasis data. Kedua orang tua biasanya masuk ke co-parenting dengan pandangan masing-masing yang sudah terbentuk, dan pandangan itu bisa berbeda.
Karena itu, percakapan untuk mengambil keputusan ini sebagian bersifat logistik (apa yang sebenarnya dibutuhkan anak?) dan sebagian bersifat falsafah (apa yang kita yakini baik untuknya?). Kedua bagian itu sama-sama dibicarakan.
Saat les memang benar-benar berguna
Penjelasan singkat dan apa adanya.
Les membantu ketika ada celah yang spesifik. Anak ketinggalan materi penting. Dia perlu satu konsep tertentu dijelaskan ulang. Dia perlu bantuan keterampilan belajar. Beberapa minggu atau bulan les yang fokus bisa menutup celah itu.
Les membantu ketika anak punya perbedaan cara belajar. Disleksia, diskalkulia, perbedaan dalam hal perhatian. Dukungan dari ahli, sering kali di luar sekolah, membuat perbedaan yang berarti.
Les membantu ketika anak sedang bersiap untuk peralihan yang spesifik. Masuk sekolah unggulan. Ujian tertentu. Pengajuan beasiswa. Terbatas waktunya, jelas targetnya.
Les kurang jelas manfaatnya ketika:
Anak sebenarnya baik-baik saja dan diberi les cuma supaya lebih unggul. Manfaatnya tidak jelas. Biayanya (waktu, uang, stres anak) nyata.
Anak didorong ikut les karena tekanan keluarga. Anak menolak. Les berubah jadi ajang pertengkaran.
Les dipakai untuk menutupi masalah lain yang sebenarnya butuh perhatian berbeda. Kecemasan. Tidur. Situasi di rumah. Les bisa menutupi hal-hal ini untuk sementara; nanti muncul lagi di tempat lain.
Pertanyaan untuk percakapannya: les ini sebenarnya untuk apa? Apa targetnya? Berapa lama jangka waktunya? Anak sendiri bilang apa?
Saat kamu dan Co-Parent berbeda pendapat
Pola yang paling umum. Satu orang tua merasa anak butuh les. Yang lain merasa anak baik-baik saja.
Kadang perbedaan pendapat itu soal informasi. Salah satu orang tua punya masukan yang lebih baru dari sekolah. Salah satunya lebih sering menemani anak mengerjakan PR. Perbedaan pendapat seperti ini selesai dengan saling berbagi informasi.
Kadang perbedaan pendapat itu soal falsafah. Kedua orang tua punya pandangan berbeda soal tekanan akademik. Yang ini tidak selesai dengan cepat.
Tiga langkah yang membantu ketika perbedaan pendapatnya memang nyata.
Cari pandangan ketiga. Pandangan guru. Lebih tepatnya: menurut guru, apa yang dibutuhkan anak ini? Kalau guru bilang dia baik-baik saja, tidak perlu bantuan tambahan, itu informasi. Kalau guru bilang dia akan terbantu dengan sedikit dukungan matematika tambahan, itu juga informasi.
Coba versi kecil yang dibatasi waktu. Enam minggu les, lalu ditinjau ulang. Kedua orang tua sepakat mengevaluasi di titik minggu keenam. Uji coba ini mencegah perbedaan pendapat jadi permanen. Entah les itu berhasil (lanjutkan) atau tidak (hentikan).
Sadari ongkos dari perbedaan pendapat yang berlarut-larut. Keputusan les yang dibiarkan dalam perselisihan berbulan-bulan merusak kepercayaan antara kedua orang tua. Anak pun memperhatikannya. Mengalah, sekalipun pada kompromi yang kurang ideal, sering kali lebih baik daripada bertahan.
Kalau kalian benar-benar tidak bisa sepakat, orang tua yang merasa les itu penting bisa saja membiayainya sendiri, dengan waktu dan uang sendiri, di hari-hari gilirannya. Ini jalan terakhir, bukan pilihan utama. Cara ini menghindari soal biaya, tapi menciptakan ketimpangan yang akan disadari anak.
Soal biaya
Biaya les sangat beragam. Mulai dari teman yang mengajar gratis sambil ngopi, sampai ahli premium yang memasang tarif setara biaya sekolah swasta per minggu.
Di Indonesia, kisarannya luas. Bimbel kelompok di lembaga seperti Ganesha Operation, Primagama, atau Nurul Fikri bisa sekitar Rp300.000 sampai Rp1.500.000 per bulan. Les privat satu lawan satu biasanya Rp100.000 sampai Rp500.000 per jam. Dukungan ahli untuk perbedaan cara belajar, atau program premium, bisa lebih tinggi lagi. Platform les daring seperti Ruangguru, Zenius, atau Pahamify menambah satu pilihan lagi dengan struktur biaya yang berbeda. Les mengaji atau les agama biasanya lebih terjangkau, dan untuk banyak keluarga itu memang sebuah kewajiban, bukan pilihan.
Biaya ini ditanggung bersama dengan cara yang sama seperti pengeluaran terkait sekolah lainnya, lewat Pool. (Lihat Modul 07, Uang & pengeluaran bersama, untuk pembahasan yang lebih panjang.)
Beberapa hal khusus untuk les.
Sepakati tingkat biaya sebelum mulai. Guru les dua jam seminggu dengan tarif sedang adalah satu tingkat biaya. Ahli dengan tarif premium tingkat yang lain. Bimbel kelompok bulanan lagi-lagi berbeda. Kedua orang tua sepakat soal tingkatnya.
Sepakati durasinya. Enam minggu. Satu semester. Satu tahun ajaran. Tanpa batas waktu lebih sulit dikelola dari sisi keuangan.
Sepakati titik peninjauannya. Kapan biayanya ditinjau ulang? Di akhir semester? Saat anak mencapai target tertentu? Les tanpa batas yang tidak punya titik peninjauan akan menjadi pengeluaran permanen.
Sepakati cara berhentinya. Tanda apa yang menunjukkan les sudah tidak diperlukan lagi? Saat anak konsisten dapat nilai di atas [X]. Saat guru bilang celahnya sudah tertutup. Saat anak bilang dia sudah tidak mau lagi (dengan persetujuan orang tua).
Percakapan soal biaya terasa lebih tenang kalau hal-hal ini diputuskan di awal, dibandingkan kalau baru muncul di tengah jalan.
Pengaturan jadwal di antara kedua rumah
Lapisan praktisnya. Guru les datang Selasa dan Kamis pukul 16.30. Anak berada di satu rumah pada Selasa tertentu, dan di rumah yang lain pada Selasa berikutnya.
Tiga pola.
Guru les datang ke satu rumah saja. Rumah mana pun yang lebih dekat atau punya ruang yang cocok. Anak datang ke rumah itu untuk les di hari-hari les, tidak peduli giliran siapa malam itu. Setelah les, anak pergi ke rumah yang memang jadi gilirannya malam itu.
Guru les datang ke kedua rumah. Lebih jarang karena lebih mahal. Anak les di rumah mana pun dia berada. Kedua rumah punya ruang kerja untuk guru les.
Les daring. Anak ikut sesi dari rumah mana pun dia berada, di jam yang sama. Perangkatnya ikut berpindah bersamanya.
Pilihan daring kini makin umum, terutama setelah 2020. Banyak keluarga sekarang ikut les lewat video call atau platform daring. Pilihan ini menghilangkan soal jarak. Tapi artinya anak ikut sesi lewat perangkat, yang mungkin terasa kurang dekat. Cocok atau tidaknya tergantung anaknya.
Untuk anak yang masih sangat kecil atau yang sulit duduk diam, les daring lebih berat. Untuk anak yang lebih besar atau lebih fokus, tidak masalah.
Bimbel di lembaga (yang didatangi anak sendiri) menambah satu pilihan lagi. Anak pergi ke tempat bimbel setelah sekolah. Sama seperti guru les yang datang ke rumah, lembaga itu ada di satu lokasi tetap. Pengaturan jadwal di antara kedua rumah jadi soal logistik: siapa yang mengantar, siapa yang menjemput, dan bagaimana anak pulang ke rumah giliran malam itu. Di banyak keluarga, kakek-nenek atau asisten rumah tangga sering yang menangani antar-jemput bimbel kalau kedua orang tua sama-sama bekerja. Siapa pun yang menanganinya, pengaturannya tetap perlu jelas di kedua rumah.
Saat anak tidak suka dengan lesnya
Layak diperhatikan.
Anak yang diam-diam tidak suka dengan lesnya akan memberi tahu kamu lewat cara-cara yang halus. Dia jadi lelah dan menarik diri sebelum sesi. Dia bertanya apakah boleh bolos. Dia mengerjakan tugas di sesi itu tapi tidak ingat apa-apa. Dia menunjukkan tanda-tanda bahwa les itu beban, bukan bantuan.
Kalau kamu melihat ini, jangan langsung berhenti. Sedikit penolakan itu wajar. Anak mau bermain, bukan mengerjakan tugas sekolah tambahan. Itu wajar.
Tapi kalau penolakannya terus-menerus, lebih dalam dari biasanya, perhatikanlah. Kadang les itu sedang menandai masalah yang sebenarnya (anak butuh jenis bantuan yang lain). Kadang ia menandai keadaan emosi (les berlangsung di masa yang berat dalam hidup anak). Kadang gurunya yang kurang cocok (ganti guru, lesnya sama).
Percakapan dengan anak dilakukan dengan lembut. Gimana lesnya? Bagian mana yang kamu nggak suka? Dengarkan. Sesuaikan berdasarkan apa yang kamu dengar.
Kalau masalah di baliknya adalah keadaan emosi anak (soal perpisahan, kecemasan di sekolah, tidur), les mungkin perlu dijeda dulu. Anak butuh dukungan yang mendasar itu, bukan tambahan input akademik.
Kegiatan setelah sekolah yang bukan les
Satu catatan untuk kategori yang lebih luas. Kegiatan setelah sekolah meliputi olahraga, musik, seni, bahasa, pendidikan agama, pramuka, menari, teater, kelas coding. Di sebagian keluarga, les Mandarin. Les bahasa Inggris sangat umum.
Pertanyaan yang sama berlaku. Apa targetnya? Berapa biayanya? Berapa lama durasinya? Anaknya menikmati atau tidak? Apakah jadwalnya cocok untuk kedua rumah?
Makin sedikit kegiatan, makin baik, secara umum. Anak dengan tiga kegiatan setelah sekolah dalam seminggu sudah sibuk. Anak dengan lima sudah kelebihan beban. Anak dengan tujuh sudah seperti dikejar-kejar jadwal.
Kedua orang tua sepakat soal tingkat keaktifan kegiatannya. Kedua orang tua memperhatikan saat anak terlalu lelah. Kedua orang tua bersedia menghentikan satu kegiatan kalau anak butuh musim yang lebih tenang.
Kegiatan setelah sekolah adalah area di mana pola bersaing antar orang tua bisa menyelinap masuk. Anak orang lain ikut lebih banyak. Kita harus mengejar. Ini masalah di sisi orang tua, bukan di sisi anak. Anak tidak perlu mengejar. Dia perlu berkembang dengan cara yang sesuai dengan dirinya.
Penutup
Tiga minggu setelah pesan Minggu sore itu, kamu dan Co-Parent sepakat untuk uji coba enam minggu dukungan matematika, dua kali seminggu, secara daring. Kalian berbagi biaya lewat Pool. Anak perempuanmu ikut sesi dari rumah mana pun dia berada. Tiga sesi pertama, dia enggan. Menjelang sesi keempat, dia mulai penasaran. Menjelang sesi keenam, dia sudah bisa menyelesaikan soal di sekolah yang sebelumnya tidak bisa dia selesaikan.
Kalian sepakat untuk melanjutkan enam minggu lagi. Setelah itu, celahnya tertutup. Lesnya berhenti.
Co-Parent benar bahwa anakmu butuh dukungan. Kamu benar bahwa dukungan itu tidak perlu permanen. Kalian berdua memegang pandangan masing-masing. Kalian berdua menyesuaikan diri. Keputusannya bagus.
Inilah tekstur dari co-parenting anak yang didukung secara akademik. Perbedaan pendapat disuarakan. Keputusan diambil bersama. Uji coba dicoba. Peninjauan dilakukan. Anak mendapatkan apa yang dia butuhkan; kedua orang tua tetap dalam percakapan; tidak ada yang menjadi permanen secara otomatis.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.