Sakit di sekolah. Siapa yang menjemput
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Sakit di sekolah. Siapa yang menjemput
Modul 03 · Rutinitas usia sekolah · Artikel 09 · Wave 2 · untuk anak SD
Hari Selasa, pukul 11.18 pagi. Ponselmu berdering. Halo, ini dari ruang tata usaha sekolah. Putri Bapak/Ibu muntah di sekolah. Sekarang dia ada di UKS. Apakah ada yang bisa datang menjemput?
Kamu sedang di kantor. Empat puluh menit dari sekolah. Kamu sedang di tengah rapat yang baru separuh jalan, dan sepanjang sore nanti penuh dengan agenda yang berentetan.
Sekolah menanyakan siapa yang bisa datang. Kamu berpikir sejenak. Hari ini Selasa. Selasa hari kamu. Co-Parent bekerja lebih dekat ke sekolah. Kamu tahu pagi ini dia sedang agak senggang, mungkin.
Kamu meneleponnya. Dia mengangkat. Dia bisa sampai dalam lima belas menit.
Anak dijemput. Ditenangkan. Menjelang pukul 4 sore, dia sudah di sofamu dengan ember kecil dan satu film. Sorenya berubah haluan, tapi harinya tetap utuh.
Artikel ini tentang telepon "anak sakit di sekolah". Bagian menjemputnya. Bagian memutuskan di rumah mana dia pulih. Bagian berkomunikasi dengan Co-Parent. Bagian bagaimana ini muncul sebagai pola dan kapan perlu khawatir.
Ini bukan tentang perawatan medisnya. Keputusan klinis untuk anak yang sakit dibahas di modul kesehatan dan pengobatan. Artikel ini tentang logistik yang melingkupinya ketika ada kedua rumah yang terlibat.
Penjemputan
Tugas sekolah adalah menelepon seseorang. Kebanyakan sekolah menelepon menurut urutan daftar. Orang tua pertama. Orang tua kedua. Kontak darurat. Urutannya tergantung pada apa yang ada di data sekolah.
Langkah praktis pertama, sesegera mungkin setelah perpisahan, adalah memastikan daftar kontak sekolah sudah diperbarui dengan kedua orang tua dan kontak darurat lainnya (kakek atau nenek, teman yang dipercaya). Kedua orang tua sebaiknya ada di daftar itu. Kalau sekolah hanya punya alamat satu orang tua, nomor telepon keduanya tetap harus ada.
Untuk banyak keluarga di Indonesia, daftarnya lebih panjang. Kakek atau nenek yang tinggal dekat. Tante yang biasa menjemput saat darurat. Asisten rumah tangga atau sopir yang sudah lama bersama keluarga. Siapa pun orang dewasa yang mungkin menjemput dalam keadaan sebenarnya, namanya harus ada di sana, dengan nomor telepon yang aktif. Pada banyak keluarga di mana kedua orang tua bekerja, justru asisten atau sopirlah yang melakukan penjemputan di siang hari.
Ketika teleponnya masuk, orang tua yang mengangkat menangani penjemputan, atau mengaturnya. Orang tua yang paling dekat, paling cepat, paling longgar waktunya yang menjemput. Ini jarang orang tua yang sedang gilirannya. Soal hari giliran siapa itu penting untuk tempat anak pulih, bukan untuk siapa yang menjemputnya.
Kalau kamu tidak bisa menjemput dan Co-Parent bisa, telepon dia. Kalau kalian berdua tidak bisa, kontak darurat yang turun tangan. Kalau itu pun tidak berhasil, anak tetap di sekolah sampai ada yang bisa datang. UKS sekolah hanya tempat singgah sementara; ia bukan solusi jangka panjang.
Jangan berdebat soal siapa yang seharusnya menjemput selagi anak masih di UKS. Pihak sekolah bisa mendengarnya dari nada suaramu. Anak, pada akhirnya, bisa mendengar ceritanya dari petugas tata usaha. Mereka tidak bisa memutuskan siapa yang akan datang. Penjemputan itu logistik. Jawaban yang paling bersih adalah yang paling cepat.
Di mana dia pulih
Pertanyaan yang sedikit lebih sulit. Anak sudah dijemput. Sekarang dia ada di mobilmu atau di mobil Co-Parent. Dia dibawa ke mana?
Tiga pola yang umum.
Mengikuti siapa yang menjemput. Co-Parent yang menjemput. Anak dibawa ke rumah Co-Parent. Dia pulih di sana. Dia tinggal selama apa pun yang dibutuhkan pemulihannya (sehari, dua hari, kadang lebih).
Ke rumah yang seharusnya. Co-Parent yang menjemput tapi hari itu hari kamu. Co-Parent membawa anak ke rumahmu. Kamu mengambil alih.
Ke rumah mana pun yang siap hari itu. Co-Parent yang menjemput. Co-Parent bekerja dari rumah hari itu; kamu tidak. Anak dibawa ke rumah Co-Parent, terlepas dari hari giliran siapa.
Gesekan paling sedikit datang dari menegaskan pola mana yang kamu pakai, jauh-jauh hari, sebelum telepon sakit yang pertama. Gesekan paling banyak datang dari berimprovisasi saat kejadian. Aku kira dia akan diantar ke aku. Lho, rumahku yang sepi hari ini. Anak sekarang lagi tidur di sofaku, kamu maunya gimana?
Kalau kamu belum pernah membicarakan ini, lakukan pada satu sore yang tenang. Kalau salah satu dari kita menjemput dia sakit dari sekolah, dia pulih di mana? Jawabannya mungkin ikut siapa yang menjemput. Jawabannya mungkin ke rumah yang seharusnya untuk hari itu. Keduanya tidak masalah. Yang penting adalah tahu.
Hari pengganti
Ketika anak sakit dan tinggal di rumah salah satu orang tua untuk hari yang seharusnya jadi hari orang tua yang lain, ada pertanyaan apakah hari yang terlewat itu diganti.
Ada keluarga yang mengganti dengan ketat. Co-Parent kehilangan Selasa karena anak sakit di rumah pertama. Rumah pertama mengembalikan satu hari minggu depan.
Ada keluarga yang tidak mengganti. Hari sakit memang terjadi. Ia jatuh di mana ia jatuh. Jadwal berlanjut lagi begitu anak sembuh.
Ada keluarga yang mengganti secara tidak resmi. Lama-lama, hari-harinya kurang lebih seimbang. Tanpa hitung-hitungan resmi.
Mana pun dari ketiganya berhasil kalau kedua orang tua menyepakatinya. Pola yang tidak berhasil adalah ketika satu orang tua mengira ada penggantian dan yang lain mengira tidak ada. Yang mengganti dengan ketat merasa dirinya berhak atas hari yang terutang; yang tidak mengganti merasa dihitung-hitung. Ini jadi konflik tersendiri di atas hari sakit yang asalnya.
Kalau kamu belum memutuskan pola mana, putuskan. Satu percakapan singkat. Kalau anak sakit dan kelewatan harimu, kita ganti nggak? Nggak. Hari sakit kan memang terjadi. Oke.
Komunikasi selama pemulihan
Ketika anak ada di satu rumah sedang pulih, orang tua yang lain ingin tahu kabarnya. Ini normal dan masuk akal.
Pola yang membantu. Sekali sehari, satu kabar singkat. Tidur sampai jam 9. Makan biskuit sedikit. Suhu 37,8 tadi pagi. Itu cukup. Bukan laporan langkah demi langkah. Bukan catatan klinis. Satu ringkasan singkat, sekali sehari.
Panggilan video. Kalau kedua orang tua dan anak menginginkannya, satu panggilan video singkat sekali sehari selama sakit yang agak lama bisa membantu orang tua yang tidak bersama anak merasa kurang cemas, dan anak merasa kurang terputus dari rumahnya yang satu lagi. Singkat saja. Anak sedang tidak sehat; panggilan yang panjang menguras tenaganya.
Yang tidak boleh dilakukan. Mengirim kabar tiap jam. Mengirim foto tiap kali anak makan. Menyiarkan pemulihan secara langsung. Ini lebih tentang kecemasanmu daripada berbagi kabar. Co-Parent tidak membutuhkannya. Dia justru akan lebih khawatir.
Yang juga tidak boleh dilakukan. Sama sekali tidak mengirim kabar. Dia baik-baik aja, lagi pulih, nanti aku kabari kalau memburuk. Co-Parent tidak punya cara untuk membayangkan bagaimana keadaan anak. Dia akan mengisi keheningan itu dengan bayangan terburuk.
Tingkat yang tepat adalah membosankan. Tidak terlalu banyak kabar sampai Co-Parent tidak bisa mencernanya. Tidak terlalu sedikit sampai dia dibiarkan menebak-nebak.
Ketika sakitnya lebih serius
Telepon sekolah tentang anak yang sakit biasanya berarti sakit perut, demam, atau ruam. Anak perlu dijemput. Anak akan pulih di rumah dalam sehari dua hari.
Sebagian kecil telepon sekolah lebih serius. Cedera kepala. Tulang patah. Reaksi alergi yang serius. Kondisi yang butuh perhatian medis segera.
Untuk yang ini, kedua orang tua dikabari segera. Bukan lewat pesan. Lewat telepon. Baru dapat telepon dari sekolah. [Anak] jatuh dan ada darah. Sekolah lagi memanggil ambulans. Aku menuju ke sana sekarang. Nanti aku kabari terus.
Kalau kamu yang menerima telepon dari sekolah dan kamu orang tua yang sedang dalam perjalanan, telepon Co-Parent sebelum kamu sampai di sekolah kalau bisa. Dia juga perlu segera bergerak.
Kalau anak dibawa ke rumah sakit, idealnya kedua orang tua datang ke rumah sakit. Kalau hanya satu yang bisa, orang tua itu memastikan yang satu lagi tahu apa yang sedang terjadi, di mana, dan apa yang dibutuhkan.
Ini satu wilayah di mana, hampir tanpa kecuali, kehadiran kedua orang tua menenangkan bagi anak. Hal-hal soal kedua rumah yang biasanya kamu hadapi dengan hati-hati (hari giliran siapa, rumah siapa, siapa yang menjemput) untuk sementara dikesampingkan. Anak ada di ruang perawatan rumah sakit; kedua orang tua ada di ruangan. Itulah pengaturannya.
Ketika sakit menjadi pola
Anak yang sudah sakit di sekolah tiga kali dalam sebulan bukan sekadar kurang beruntung. Sakit yang berulang di sekolah bisa berarti:
- Masalah medis yang nyata yang perlu diperiksa (anemia, infeksi berulang, asma).
- Masalah lingkungan sekolah (sesuatu yang sedang beredar, daya tahan tubuh yang belum terbangun lagi setelah lama tidak masuk, kebersihan kelas).
- Masalah regulasi emosi. Sebagian anak, terutama dalam beberapa bulan pertama setelah perpisahan, mengalihkan tekanan emosi ke tubuh. Sakit perut. Sakit kepala. Sulit bertahan di sekolah. Sakitnya nyata bagi anak; penyebab di baliknya bisa jadi emosional.
Kalau polanya berlanjut, percakapannya melebar. Dokter untuk pemeriksaan medis (biasanya dimulai dari dokter keluarga atau dokter di Puskesmas, dan dirujuk ke dokter spesialis anak kalau perlu). Guru untuk pandangan soal lingkungan sekolah. Kedua orang tua untuk soal regulasi emosi.
Anak yang tenang di satu rumah tapi sakit di sekolah pada minggu-minggu dia berpindah ke rumah yang satu lagi sedang mengirim sinyal. Tidak selalu jadi alasan untuk panik. Sering kali cuma satu fase. Tapi layak diperhatikan.
Penutup
Selasa pagi. Menjelang pukul 11.35, Co-Parent sudah sampai di sekolah. Menjelang tengah hari, anak sudah di mobil. Menjelang pukul 1 siang, dia sudah tenang di rumah kedua untuk sore itu.
Kamu mengirim pesan ke Co-Parent pukul 2 siang. Gimana keadaannya? Dia membalas. Lagi tidur. Minum air sedikit. Sekarang nggak demam. Kamu tidak mengirim pesan lagi. Kamu mempercayai sistemnya.
Menjelang Jumat, anak sudah kembali ke sekolah. Episode itu selesai dan tersimpan rapi. Tidak ada yang menghitung-hitung skor.
Inilah gunanya artikel ini. Bukan untuk penjemputan yang dramatis. Untuk lapisan-lapisan kecil sistem yang cekatan, yang mengubah telepon "anak sakit di sekolah" dari sebuah krisis menjadi sekadar selingan satu sore di hari Selasa.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.