dip
Belikan Kopi
Modul 08 · co parent communication

Jebakan 'dia selalu begitu'

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia10 menit baca
Jebakan 'dia selalu begitu'

Jebakan 'dia selalu begitu'

Modul 08 · Komunikasi dengan Co-Parent · Artikel 10 · Wave 2 · untuk semua usia


Rabu malam. Anakmu menyebut, sambil lalu, kalau makan malamnya di rumah satu lagi tadi cuma Indomie goreng. Lagi.

Kamu merasakan klik batin yang sudah kamu kenal itu. Dia selalu begitu. Nggak pernah masak yang benar untuk anak. Selalu yang paling gampang. Anak ini bakal besar tanpa tahu seperti apa makanan yang layak.

Cerita itu terbentuk dengan cepat. Dalam tiga puluh detik, kamu sudah punya satu paragraf di kepala soal cara Co-Parentmu mengurus anak, yang menarik bahan dari momen Indomie goreng tadi, sebutan serupa bulan lalu, kejadian tiga bulan lalu waktu libur sekolah, dan satu cerita yang setengah kamu ingat, entah kapan, soal makanan yang tinggal dipanaskan di microwave.

Kamu belum mengirim apa-apa. Kamu belum bilang apa-apa ke siapa pun. Cerita itu murni di dalam kepala. Dan menjelang pukul 9 malam, ia sudah mengendap ke dalam sistem sarafmu sebagai sebuah fakta tentang cara Co-Parentmu mengurus anak.

Artikel ini soal apa yang baru saja terjadi.

Apa isi artikel ini

Artikel ini membahas salah satu jebakan kognitif yang paling sering muncul dalam co-parenting: lompatan dari satu kejadian tertentu ke sebuah pola umum. Dia melakukan ini, ini, dan ini, jadi dia selalu begini. Jebakan itu otomatis, menggoda, dan menggerogoti.

Prinsipnya begini. 'Dia selalu begitu' hampir tidak pernah benar. Ia sebuah pola yang otakmu hasilkan dari bukti yang diingat secara terpilih. Pola itu terasa seperti kebenaran, tapi ia tidak sedang melakukan kerja yang akurat; ia sedang melakukan kerja emosi, dan biayanya jatuh ke setiap interaksi berikutnya.

Artikel ini mencakup empat hal. Bagaimana jebakan itu terbentuk. Kenapa ia sangat menggoda dalam co-parenting. Apa yang ia lakukan pada komunikasimu. Dan praktik tandingan yang, kalau dijalankan secara konsisten, perlahan-lahan melarutkannya.

Bagaimana jebakan itu terbentuk

Jebakan ini punya struktur yang bisa dikenali. Tiga atau empat kejadian tertentu, terpisah berminggu-minggu atau berbulan-bulan, terhubung dalam ingatan karena kemiripannya. Hubungan-hubungan itu menghasilkan sebuah pola. Pola itu diberi nama. Setelah diberi nama, pola itu menyerap bukti baru secara terpilih: kejadian yang cocok mengukuhkan pola, kejadian yang tidak cocok disaring keluar atau dicari-cari alasannya.

Dalam hitungan bulan, pola itu terasa seperti fakta yang stabil tentang orang lain. Ia bukan lagi dia melakukan ini pada tiga hari itu; ia menjadi dia selalu melakukan ini.

Mekanismenya sudah terdokumentasi dengan baik. Ingatan itu rekonstruktif, bukan arsip. Kita tidak mengingat peristiwa; kita membangunnya kembali, setiap kali sedikit berbeda, demi cerita yang kita pegang saat ini. Cerita itu membentuk ingatan mana yang muncul; ingatan yang muncul itu mengukuhkan cerita. Putarannya tertutup.

Dalam hidup sehari-hari, putaran ini menghasilkan bias kecil yang sebagian besar tidak penting. Dalam co-parenting, putaran ini menghasilkan cerita tentang Co-Parentmu yang bisa berjalan tanpa tertantang selama bertahun-tahun.

Kenapa co-parenting jadi lahan yang sangat subur

Beberapa ciri co-parenting membuat jebakan ini sangat aktif.

Informasi yang terbatas. Kamu melihat kehidupan anakmu bersama Co-Parentmu hanya lewat apa yang anakmu ceritakan dan apa yang bisa kamu simpulkan dari bukti yang tampak saat serah-terima. Informasinya berkeping-keping. Informasi yang berkeping-keping disambung dengan asumsi, dan asumsi itu cenderung cocok dengan cerita yang sudah kamu pegang.

Keterlibatan emosi. Kamu peduli setengah mati pada anak. Kamu juga punya emosi yang belum selesai soal Co-Parentmu. Gabungan itu menghasilkan penalaran bermotif yang kuat. Cerita yang paling kamu ingin benar (akulah yang mengurus dia dengan benar; dia tidak) adalah cerita yang mendapat penguatan.

Pengulangan tanpa penyelesaian. Persoalan yang muncul antara orang tua yang berpisah sering berulang karena dinamika di bawahnya belum berubah. Setiap pengulangan terasa seperti bukti baru untuk pola itu, padahal sebenarnya ia satu dinamika tunggal yang sama yang muncul lagi. Dia selalu begitu terasa makin benar dengan setiap kejadian, padahal setiap kejadian itu sebenarnya kejadian yang sama yang terjadi lagi.

Tidak ada percakapan untuk meluruskan. Dalam hubungan yang utuh, kamu akan membahas kejadian tertentu itu, dan pembahasan itu entah akan menyelesaikan pola tersebut atau memperlihatkan bahwa ia sebenarnya lebih kecil dari yang terasa. Dalam co-parenting, pembahasan itu sering tidak terjadi, atau terjadi dalam bentuk (teks) yang tidak memungkinkan pertukaran yang sebenarnya. Pola itu tumbuh justru ketika tidak ada yang meluruskannya.

Validasi dari teman yang bersimpati. Teman dan keluarga cenderung memihak kamu saat kamu bercerita soal masalah Co-Parent. Iya, dia kedengarannya parah banget. Simpati itu terasa mendukung, tapi sebenarnya mengukuhkan pola. Teman jarang bertanya yakin nggak sih dia selalu begitu? karena ongkos sosial untuk menyanggah itu tinggi. Apalagi dalam konteks Indonesia, di mana cerita keluarga berlanjut lewat tante, om, dan teman dekat, lalu obrolan grup WhatsApp yang mendukung pola itu bisa terus beredar tanpa pernah dipertanyakan.

Cerita itu menguntungkanmu. Ini yang paling sulit. Punya cerita yang jelas tentang kenapa Co-Parentmu adalah pihak yang sulit membantu menjelaskan kenapa hubungan itu berakhir. Ia mengukuhkan pilihan-pilihanmu sendiri. Ia memberi bentuk pada perasaan yang kalau tidak akan terasa lebih kabur. Cerita itu sedang melakukan kerja emosi yang mungkin tidak ingin kamu ganggu.

Semua ini normal. Tidak ada satu pun yang jahat. Jebakan ini terbentuk bahkan pada orang tua yang paling teliti dan paling baik niatnya. Mengenali jebakan itu tidak berarti kamu sudah menjalankan co-parenting dengan buruk; itu berarti kamu sudah melakukan apa yang memang dilakukan otak.

Apa yang jebakan itu lakukan pada komunikasimu

Cerita 'dia selalu begitu' membentuk setiap interaksi berikutnya.

Kamu membaca pesannya lewat cerita itu. Pesan yang netral dibaca untuk dicari sudutnya. Sebuah permintaan diurai sebagai satu kejadian lagi dalam pola itu. Sebuah kebaikan dianggap pengecualian. Cerita itu memberitahumu apa makna pesannya bahkan sebelum kamu selesai membacanya.

Kamu membalas secara antisipatif. Balasanmu menanggapi bukan hanya pesan saat ini, tapi seluruh rangkaian khayalan pesan yang mungkin menyusul kalau polanya memang seperti yang kamu kira. Balasan itu terlalu defensif, memuat paragraf-paragraf yang tidak perlu, mengantisipasi keberatan yang belum sempat diajukan. Co-Parentmu menerima balasan yang tidak benar-benar nyambung dengan apa yang dia kirim.

Kamu membangun sebuah perkara. Tanpa benar-benar berniat, kamu mulai mengumpulkan bukti. Hitung-hitungan di kepala. Mungkin bahkan catatan sungguhan. Setiap kejadian baru dicatat. Berkas perkara itu menebal. Perkara itu, dalam arti tertentu, adalah dirimu yang sedang bersiap mengajukan sebuah poin yang mungkin tidak akan pernah benar-benar kamu ajukan, tapi persiapan itu sendiri membentuk ulang cara kamu mengalami setiap interaksi.

Kamu menyiratkannya lewat cara-cara yang halus. Bahkan tanpa menyebut polanya, pesan-pesanmu mulai membawa beratnya. Sebuah keluhan kecil dalam caramu membalas. Sedikit ketus dalam caramu menjelaskan soal logistik. Co-Parentmu merasakan beban itu tanpa bisa menunjuk apa persisnya. Dia mulai membalas dengan cara yang sama. Pola itu jadi terlihat oleh dua sisi.

Kamu berhenti melihat dia. Inilah biaya yang paling dalam. Cerita itu menggantikan orang yang sebenarnya. Orang yang sedang kamu jalani co-parenting bersamanya menjadi sulit dilihat, karena setiap interaksi disaring lewat cerita. Dirinya yang sebenarnya, yang, seperti semua manusia, kadang teliti, kadang ceroboh, kadang hangat, kadang sedang banyak pikiran, jadi tidak terlihat di balik versi konsisten yang otakmu hasilkan.

Praktik tandingan

Cerita 'dia selalu begitu' tidak bisa diargumentasikan keluar. Ia akan terbentuk lagi begitu kejadian berikutnya datang. Praktik tandingannya bersifat struktural.

Sebut yang spesifik, bukan polanya. Saat kamu menyadari 'dia selalu begitu' sedang terbentuk, ganti ia di kepalamu dengan kejadian yang spesifik. Dia kasih anak Indomie goreng buat makan malam tadi. Bukan dia selalu kasih Indomie goreng. Tetaplah pada data yang sebenarnya, malam yang sebenarnya, piring yang sebenarnya. Sebagian besar waktu, yang spesifik itu jauh lebih kecil daripada polanya. Satu porsi Indomie goreng pada satu hari Rabu bukan kegagalan dalam mengasuh; ia satu hari Rabu.

Sadari jarak antara data dan kesimpulan. Dia melakukan X itu data. Dia selalu melakukan X itu kesimpulan. Kesimpulan itu mungkin benar; mungkin juga tidak. Disiplinnya adalah menjaga keduanya tetap terpisah. Kamu bisa berkata pada diri sendiri: aku sadar aku sedang membentuk 'selalu' dari satu kejadian saja; coba aku lihat apakah itu memang berdiri kuat.

Catat data yang sebenarnya kalau kamu ingin tahu. Kalau kamu sungguh merasa ada pola, tuliskan kejadian-kejadian yang sebenarnya beserta tanggalnya selama dua bulan ke depan. Data saja, tanpa tafsiran. Hasilnya hampir selalu mengejutkan. Entah polanya lebih lemah dari yang terasa (selalu itu ternyata tiga kali dalam dua bulan tanpa pola yang jelas), atau polanya lebih kuat dari yang kamu sadari dengan cara yang berbeda (bukan selalu Indomie, tapi selalu semacam makan malam yang seadanya pada hari-hari tertentu ketika minggunya memang berat). Data itu memberimu sesuatu untuk dikerjakan, yang tidak diberikan oleh cerita.

Satu catatan di sini. Sebagian orang tua di Indonesia merasa tidak nyaman dengan saran "menulis hal-hal soal Co-Parentku". Rasanya seperti memata-matai, atau seperti mengumpulkan barang bukti. Bukan itu yang sedang terjadi. Data itu bukan untuk dipakai melawan Co-Parentmu. Ia untuk dipakai melawan ceritamu sendiri. Kamu sedang memeriksa sebuah pola yang otakmu hasilkan, bukan menyusun sebuah perkara. Kalau perbedaan itu jelas di kepalamu, latihan itu akan terasa berbeda.

Jalankan cerita sebaliknya. Coba buat daftar kejadian-kejadian terkini ketika dia melakukan sesuatu dengan baik. Menjemput anak tepat waktu. Mengurus satu formulir sekolah dengan rapi. Menunjukkan kebaikan. Melakukan sesuatu yang penuh perhatian. Kalau daftar itu susah dibuat, kamu menemukan sesuatu yang menarik: entah datanya memang berat sebelah, atau otakmu sedang menyaring keluar kejadian-kejadian yang bertentangan. Apa pun itu, latihan ini sendiri melonggarkan cengkeraman cerita. Bagi keluarga Muslim, ini bergema dengan amalan husnuzon, berprasangka baik. Latihan ini tidak butuh kerangka agama untuk berfungsi, tapi bagi orang tua yang kuat menjalankan agamanya, ia punya makna tambahan yang sudah tersedia.

Sadari kapan jebakan itu paling aktif. Larut malam. Setelah satu kekecewaan. Saat kamu lelah. Setelah anak mengatakan sesuatu yang berat. Inilah saat-saat ketika 'dia selalu begitu' paling mungkin terbentuk. Bagi banyak orang tua di Indonesia, larut malam itu juga waktu Status WhatsApp paling ramai diisi, dan beberapa orang tua memposting konten Status yang secara terbuka mengukuhkan cerita 'dia selalu begitu'. Setiap postingan mengeraskan polanya. Voice note panjang ke teman dekat mengalir dengan mudah, dan cerita itu menguat setiap kali diluapkan ke orang lain dalam keadaan lelah. Menyadari ini memungkinkanmu untuk tidak bertindak atas cerita itu saat ia terbentuk di jendela-jendela waktu seperti itu. Aturan 24 jam dari Artikel 02 berlaku juga di sini.

Bicaralah dengan satu orang yang berani menyanggah. Sebagian besar teman tidak akan. Cari satu yang mau. Seorang terapis. Seorang saudara kandung. Seorang teman yang punya pengalaman co-parenting sendiri dan sedang tidak dalam konflik aktif. Seseorang yang, saat kamu bilang dia selalu melakukan X, akan bertanya masa sih? Kehadiran satu orang yang mampu menyanggah dalam hidupmu memperlambat jebakan itu.

Saat 'dia selalu begitu' memang benar

Kadang polanya memang nyata. Dia memang benar-benar melakukan hal itu setiap kali. Kenyataan strukturalnya persis seperti yang kamu kira.

Beberapa ciri saat ini benar.

Datanya bisa diverifikasi, bukan sekadar dibangun ulang dalam ingatan. Kamu bisa menunjukkan kejadian-kejadian tertentu beserta tanggalnya. Frekuensinya tinggi (sebagian besar kejadian yang relevan, bukan tiga di antaranya). Co-Parentmu tidak membantah polanya; dia mungkin punya penjelasan, tapi dia tidak menyangkal bahwa itu terjadi.

Polanya tidak simetris. Kamu tidak bisa membuat daftar yang setara untuk hal-hal serupa di sisi satunya. Polanya sedang benar-benar merugikan anak. Polanya tidak berubah meski sudah dibicarakan secara langsung.

Saat semua ini benar, situasinya berbeda. Kamu bukan sedang berada dalam jebakan 'dia selalu begitu'; kamu sedang menghadapi pola yang nyata yang membutuhkan jenis respons yang berbeda. Kemungkinan mediasi. Mungkin sesuatu yang lebih formal. Cara menangani situasi-situasi seperti itu ada di Modul 09 (Mediasi & bantuan pihak ketiga) dan Modul 11 (Pasangan baru & keluarga gabungan).

Disiplin membedakan jebakan dari pola yang sebenarnya itu sendiri sudah bersifat melindungi. Sebagian besar cerita 'dia selalu begitu' larut saat diuji dengan data. Yang tidak larut, itulah yang layak ditanggapi dengan serius.

Penutup

Rabu, pukul 10.15 malam. Cerita Indomie goreng itu masih ada di kepalamu. Kamu menangkap dirimu sendiri.

Kamu bertanya: berapa kali dalam dua bulan terakhir anak menyebut makan malam Indomie goreng di rumah satu lagi?

Kamu sungguh-sungguh memikirkannya. Sekali. Mungkin dua kali. Sekali itu malam ini. Yang satu lagi mungkin tiga minggu lalu, atau mungkin itu percakapan yang berbeda yang sekarang sedang kamu lipat masuk jadi satu.

Kamu bertanya: dari malam-malam itu, berapa kali yang Indomie saja dibanding Indomie ditambah sesuatu?

Kamu sebenarnya tidak tahu.

Kamu bertanya: seperti apa minggu Co-Parentmu minggu ini?

Yang itu pun kamu tidak tahu. Bisa apa saja. Kerja sampai malam. Lagi sakit. Sekadar lelah.

Cerita itu melunak. Indomie itu menjadi satu porsi pada hari Rabu, bukan vonis soal cara mengasuh. Co-Parentmu menjadi seseorang yang menyajikan Indomie goreng pada hari Rabu, bukan seseorang yang selalu begini.

Kamu meletakkan telepon. Kamu tidak mengirim pesan. Kamu tidak mengungkit hal ini saat serah-terima besok. Satu porsi Indomie itu kecil. Anak baik-baik saja. Kamu pergi tidur.

Beginilah rupanya praktik tandingan itu, dalam praktik. Bukan karena Indomie itu tidak penting. Tapi karena cerita yang otakmu bentuk di sekelilingnya akan jauh lebih penting daripada Indomie itu sendiri. Cerita itu akan membentuk pesan, harapan, dan nada selama berminggu-minggu.

Kamu menangkapnya. Cerita itu larut sebelum mengeras. Pesan berikutnya antara kamu dan Co-Parentmu akan soal hal yang sama sekali lain. Serah-terima berikutnya akan netral. Tekstur saluran komunikasi itu tetap stabil.

Inilah, pada akhirnya, kerja yang tidak dilihat siapa pun, yang melakukan sebagian besar kerja melindungi anak yang sebenarnya. Dua orang tua memegang cerita tentang satu sama lain dengan ringan, satu hari Rabu demi satu hari Rabu, sebanyak hari Rabu yang dibutuhkan.

Yang, pada akhirnya, semuanya.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.