Takut kehilangan orang tua yang satu lagi juga
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Takut kehilangan orang tua yang satu lagi juga
Modul 13 · Tingkah laku & regulasi emosi · Artikel 13 · Wave 3 · umur 4-7, 8-12
Anakmu mulai mengecek terus. Kamu nanti di mana. Kapan kamu pulang. Apa yang terjadi kalau kamu nggak datang. Dia ingin tahu rencanamu sampai ke detailnya, jadi cemas kalau kamu telat beberapa menit, menelepon untuk memastikan kamu masih ada. Atau ini muncul saat serah-terima, anak yang tiba-tiba lengket dan tertekan untuk meninggalkan salah satu orang tua, seolah-olah kepergian itu mungkin permanen. Di balik semua pertanyaan dan sikap lengket itu ada satu ketakutan yang mungkin tidak pernah dia ucapkan terang-terangan, dan ini salah satu ketakutan yang paling umum sekaligus paling jarang diutarakan dalam seluruh pengalaman perpisahan. Kalau satu orang tua bisa pergi, yang satu lagi pun bisa.
Ini termasuk yang lembut, karena letaknya dekat dengan inti dari apa yang menakutkan bagi anak soal perpisahan. Kalau kamu seorang orang tua yang sedang membaca ini, menyadari bahwa anakmu memikul ketakutan ini bisa terasa menyayat. Wajar saja dia merasa begitu, dan ini sesuatu yang bisa kamu bantu secara langsung, dan itulah kabar baik di dalam bagian yang sulit tadi.
Pelajaran yang dipetik anak
Sebelum perpisahan, kebanyakan anak hidup dengan satu anggapan yang tidak terucap, bahwa orang tua mereka itu sesuatu yang permanen, yang selalu ada begitu saja, seperti tanah tempat berpijak. Perpisahan mematahkan anggapan itu. Anak belajar, dengan cara yang sekonkret mungkin, bahwa seorang orang tua bisa berhenti tinggal bersamanya, bahwa keluarga yang dia andalkan bisa berubah, bahwa orang-orang yang selama ini selalu ada ternyata mungkin tidak. Apa pun yang dimaksudkan orang dewasa, pelajaran yang diserap anak adalah bahwa kepermanenan yang dia anggap pasti itu ternyata tidak terjamin.
Begitu seorang anak sudah belajar bahwa satu orang tua bisa pergi, perpanjangan logika yang menakutkan itu jadi jelas baginya. Kalau itu bisa terjadi, apa yang menahan yang satu lagi untuk tidak ikut pergi? Ini bukan irasional. Dari sudut pandang anak, ini kesimpulan yang masuk akal dari bukti yang baru saja diserahkan kepadanya. Anggapan dasar tentang kepermanenan orang tua sudah terbukti salah satu kali, dan anak yang sudah belajar bahwa fondasi itu bisa bergeser, wajar saja cemas apakah ia akan bergeser lagi.
Ketakutan ini mendasari banyak sekali tingkah laku pasca-perpisahan. Sikap lengket, kebiasaan mengecek, kecemasan saat berpisah, kesulitan saat serah-terima, kebutuhan untuk melacak di mana orang tua berada, masalah saat waktu tidur dan di gerbang sekolah, sering kali semuanya adalah ketakutan yang sama dalam baju yang berbeda. Anak sedang memantau keamanan ikatan yang masih dia miliki karena dia sudah belajar bahwa ikatan-ikatan itu bisa hilang. Dibaca dengan cara ini, banyak tingkah laku yang berserakan menyatu menjadi satu kekhawatiran yang mendasarinya, dan satu kekhawatiran yang mendasari itu adalah sesuatu yang benar-benar bisa kamu tangani.
Kenapa peneguhan lewat kata-kata saja tidak cukup
Respons yang naluriah adalah meneguhkan lewat kata-kata. Bunda nggak ke mana-mana. Bunda akan selalu ada. Bunda nggak akan pernah ninggalin kamu. Dan mengatakan ini penting, kata-kata peneguhan punya tempatnya. Tapi kata-kata saja tidak menyelesaikan ketakutan ini, karena satu alasan yang spesifik. Anak dulu menganggap segalanya permanen, dan ternyata terbukti salah. Dia sudah belajar untuk tidak sepenuhnya memercayai anggapan selalu-ada itu. Jadi janji lisan tentang kepermanenan, setulus apa pun, mendarat pada seorang anak yang punya bukti baru bahwa kepermanenan semacam itu bisa runtuh. Kata-kata itu perlu, tapi tidak cukup.
Yang sungguh-sungguh menenangkan anak yang takut kehilangan orang tua bukanlah janjinya, melainkan pengalaman berulang bahwa orang tuanya hadir secara andal dan bisa diprediksi. Keandalan itulah peneguhan yang sebenarnya, dibuktikan berulang kali, bukan dinyatakan sekali. Setiap kali kamu bilang akan pulang pada jam tertentu lalu kamu memang pulang, setiap kali kamu muncul di serah-terima persis seperti yang dijanjikan, setiap kali anak menjangkaumu dan menemukanmu di sana, ketakutan itu mendapat satu kepingan bukti yang menyangkalnya. Sistem saraf anak belajar, perlahan-lahan, lewat pengalaman yang menumpuk, bahwa ikatan ini bertahan, meskipun susunan yang satu lagi sudah berubah.
Inilah kenapa konsistensi dan kebisaan diprediksi begitu penting bagi anak yang ketakutan. Ini bukan sekadar rutinitas yang menyenangkan; inilah bahan aktif dalam menyembuhkan ketakutan itu. Orang tua yang secara andal berada di tempat yang dia janjikan, pada waktu yang dia janjikan, sedang membangun kembali anggapan anak tentang kepermanenan yang sudah hancur, satu janji yang ditepati setiap kalinya. Keandalan itulah obatnya. Kata-kata hanyalah label di botolnya.
Kedua orang tua membuktikan ketakutan itu keliru
Ketakutan ini soal kehilangan salah satu dari kedua orang tua, yang artinya kedua orang tua adalah bagian dari jawabannya, dan di sinilah hubungan co-parenting melakukan kerja yang tenang tapi penting.
Masing-masing orang tua menenangkan ketakutan itu dengan hadir secara andal di waktunya sendiri bersama anak, muncul, menepati jadwal, ada secara bisa diprediksi. Tapi ada juga bagian yang dibagi bersama. Ketakutan itu disuapi oleh ketidakstabilan dan diredakan oleh kestabilan, jadi susunan co-parenting yang dengan sendirinya stabil dan bisa diprediksi, dengan jadwal yang andal, serah-terima yang tenang, dan rasa bahwa strukturnya kokoh, secara langsung menenangkan kekhawatiran yang mendasari hati anak. Susunan yang kacau dan tidak terprediksi membuat ketakutan itu terus hidup karena menegaskan bahwa segalanya memang tidak stabil. Susunan yang mantap memberi tahu anak, lewat pengalaman yang dia jalani, bahwa meski keluarganya berubah bentuk, bentuk yang baru ini kokoh, dan ikatan-ikatannya di dalamnya aman.
Ini salah satu dari sekian banyak titik di mana kedua orang tua yang tetap selaras dan mantap, bahkan saat mereka tidak saling suka, membuahkan hasil langsung pada kesejahteraan anak. Anak yang menyaksikan dua orang tua yang secara andal muncul, yang menjaga struktur tetap bisa diprediksi, yang keduanya tetap hadir, adalah anak yang sedang mengumpulkan bukti yang menyangkal ketakutan terdalamnya. Tidak ada orang tua yang bisa melakukannya sendirian. Keduanya yang andal itulah yang membuktikan ketakutan itu keliru.
Menamainya dengan lembut
Meski keandalan yang melakukan kerja paling dalam, menamai ketakutan itu dengan lembut juga bisa membantu, terutama untuk anak yang lebih besar. Anak yang memikul ketakutan kehilangan orang tua yang tidak terucap sering merasa tidak terlalu sendirian dengannya begitu ketakutan itu diberi nama. Kadang setelah perubahan seperti ini, anak-anak khawatir kalau-kalau mereka bisa kehilangan orang tua mereka yang satu lagi juga. Itu kekhawatiran yang sangat wajar. Dan ini intinya, Bunda dan Ayah akan selamanya jadi orang tua kamu, dan kami berdua akan selalu ada untuk kamu, walaupun kami tinggal di rumah yang berbeda. Kamu menamai ketakutan itu, menormalkannya, lalu memasangkannya dengan peneguhan, sambil tahu bahwa peneguhan itu akan dibuktikan seiring waktu lewat kehadiranmu yang andal.
Untuk anak yang lebih kecil yang belum bisa mengungkapkan ketakutan itu, penamaannya lebih ringan dan keandalan jadi lebih penting lagi, karena dia akan menyerap peneguhan itu lebih lewat pengalaman ketimbang lewat penjelasan. Bagaimanapun juga, pesannya sama. Ketakutan itu masuk akal, kamu memahaminya, dan kamu akan membuktikannya keliru dengan hadir di sana, berulang kali, sampai tubuh anak belajar lagi bahwa dia tidak akan kehilangan kamu.
Penutup
Ini salah satu ketakutan yang paling umum sekaligus paling jarang diutarakan setelah sebuah perpisahan, dan itu masuk akal: anak yang belajar bahwa satu orang tua bisa pergi, wajar saja khawatir yang satu lagi akan menyusul. Ketakutan ini mendasari banyak tingkah laku pasca-perpisahan, sikap lengket, kebiasaan mengecek, kecemasan berpisah, semuanya ketakutan yang sama dalam baju yang berbeda. Kata-kata peneguhan itu penting tapi tidak cukup, karena anak punya bukti bahwa kepermanenan bisa runtuh; yang menyembuhkan ketakutan itu adalah pengalaman berulang yang dijalani, bahwa seorang orang tua hadir secara andal dan bisa diprediksi. Kedua orang tua yang membuktikannya keliru lewat kehadiran yang mantap, dan struktur co-parenting yang stabil, itulah obat yang sebenarnya, berdampingan dengan menamai ketakutan itu dengan lembut agar anak tidak sendirian menanggungnya.
Anakmu takut kehilanganmu karena dia belajar bahwa kehilangan orang tua itu mungkin terjadi. Kamu menjawab ketakutan itu bukan terutama dengan janji, melainkan dengan hadir di sana, secara andal, sampai hatinya belajar lagi bahwa kamu memang akan tetap ada.
Anakmu belajar bahwa satu orang tua bisa pergi. Kamu mengajarkannya kebenaran yang lebih dalam dengan satu-satunya cara yang bisa mengajarkannya, yaitu dengan hadir secara andal, berulang kali, sampai dia memercayainya di dalam tubuhnya.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.