dip
Belikan Kopi
Modul 04 · Remaja, tingkah laku & ruang

Jam malam di kedua rumah

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

13+12 menit baca
Jam malam di kedua rumah

Jam malam di kedua rumah

Modul 04 · Perilaku remaja & otonomi · Artikel 06 · Wave 2 · usia 13+


Malam Jumat. Anak laki-lakimu sedang di rumah temannya. Jam malam di rumahmu pukul 22.00. Dia menelepon pukul 21.45.

Halo. Ada satu hal nih. Ibunya Sara nawarin nganterin kami pulang rame-rame, tapi beliau baru berangkat jam 12 malam. Aku boleh pulang jam 12 aja nggak?

Kamu memikirkannya. Belakangan ini kelakuannya baik. Orang tua temannya termasuk yang masuk akal. Ibunya Sara bisa diandalkan. Kamu lebih lega dia dapat tumpangan daripada jalan kaki pulang.

Ya udah, boleh. Pulang sebelum jam 12, lampu mati jam setengah 1.

Dia berterima kasih. Lalu menutup telepon.

Siang Sabtu. Ponselmu bergetar, muncul nama Co-Parent.

Halo. Sam semalam keluar sampai jam 12 ya? Jam malam dia sama aku jam setengah 11.

Selamat datang di dunia jam malam di kedua rumah.

Artikel ini soal bagaimana jam malam berfungsi, tidak berfungsi, dan setengah berfungsi dalam keluarga yang hidup di kedua rumah. Artikel ini membahas apa yang harus dilakukan ketika aturannya berbeda. Kapan aturannya perlu sama. Kapan aturannya bisa dibiarkan berbeda. Dan bagaimana menangani momen-momen ketika perbedaan itu berubah jadi garis retak.

Ini praktis. Ini juga salah satu hal yang paling sering dinegosiasikan remaja. Pola yang kamu tetapkan di sini berpengaruh untuk empat tahun ke depan.

Apa sebenarnya fungsi jam malam

Jam malam punya tiga tugas.

Ia menjaga remaja tetap aman. Dia berada di tempat yang diketahui, pada waktu yang diketahui, dalam kondisi yang secara garis besar sudah kamu setujui. Kalau ada yang tidak beres, kamu tahu sebelum kamu tidur.

Ia memberi rumah sebuah ritme. Pulang larut memengaruhi waktu tidur seisi rumah, suasana hati esok pagi, dan sisa malam anggota keluarga yang lain. Jam malam sebagian soal jalannya rumah tangga, bukan cuma soal perilaku remaja.

Ia melatih sesuatu yang berguna. Remaja itu belajar merencanakan malamnya, pulang tepat waktu, dan memberi tahu kalau ada yang berubah. Ini keterampilan, bukan sekadar aturan.

Jam malam yang melakukan ketiga hal ini sedang bekerja dengan berguna. Jam malam yang ada cuma untuk mengontrol, untuk menguji, atau supaya orang tua merasa sedang melakukan sesuatu, biasanya tidak.

Seperti apa jam malam di kedua rumah

Di sebagian besar keluarga yang anaknya tinggal di kedua rumah, jam malamnya berbeda.

Ini biasanya bukan hasil rencana. Ia tumbuh sendiri. Satu orang tua punya pandangan lebih ketat; yang lain tidak. Satu orang tua harus bangun pagi untuk kerja dan ingin rumah sudah tenang pukul 22.00; Co-Parent bekerja sampai malam dan memang masih terjaga. Lingkungan satu orang tua di tengah kota dan KRL masih jalan sampai larut; Co-Parent tinggal lebih ke pinggir dan angkot terakhir lewat pukul 22.00.

Remajanya tahu. Dalam beberapa bulan setelah keluarga mulai hidup di kedua rumah, dia sudah hafal aturan di masing-masing rumah. Sering kali dia bahkan mulai mengatur kehidupan sosialnya berdasarkan dia sedang di rumah yang mana pada akhir pekan tertentu.

Ini, dalam kadar yang wajar, tidak masalah. Kedua rumah boleh punya jam malam yang berbeda. Remaja bisa menyesuaikan diri.

Ini baru jadi masalah ketika:

  • Satu orang tua merasa terus-menerus dilemahkan oleh aturan Co-Parent yang lebih longgar.
  • Remaja itu memakai celah tadi untuk menerobos batas keamanan, bukan sekadar batas kenyamanan.
  • Suatu malam tertentu memunculkan situasi yang membuat perbedaan itu jadi penting (malam menjelang hari sekolah, acara pagi, jadwal ke dokter).
  • Co-Parent baru tahu soal pulang larut setelah kejadian, lalu merasa ditinggalkan di luar.

Apa yang perlu diselaraskan

Daftar pendek hal-hal yang lebih baik kalau kedua rumah selaras.

Jam malam menjelang hari sekolah. Sepanjang minggu sekolah, kedua rumah sama-sama untung kalau malamnya berakhir kira-kira di jam yang sama. Remaja yang keluar sampai tengah malam di satu rumah dan pukul 22.00 di rumah satunya akan kurang tidur dalam pola yang terlihat di sekolah. Penyelarasan jam malam sekolah layak diperjuangkan.

Patokan bagaimana dia pulang. Apakah jalan kaki, naik KRL, dapat tumpangan, atau pesan ojek online. Ini lebih soal keamanan daripada soal jam. Kedua orang tua sebaiknya punya patokan dasar yang sama. Selalu kabari kami kamu pulang naik apa dan dari mana adalah aturan berguna yang tidak menuntut jam malam yang persis sama.

Patokan lapor diri. Apakah dia menelepon sebelum pindah dari satu tempat ke tempat lain. Apakah dia mengirim pesan saat tiba. Apakah dia mengangkat telepon kalau kamu menghubungi. Ini konsisten di kedua rumah, sekalipun jam malamnya berbeda.

Protokol situasi tidak aman. Apa yang terjadi kalau dia berada di tempat yang tidak ingin dia datangi, atau kalau seorang temannya dalam masalah, atau kalau tumpangan pulangnya batal. Kedua rumah sebaiknya punya jawaban yang sama: Telepon. Kami jemput.

Respons ketika ada masalah. Apa yang terjadi kalau dia melanggar jam malam. Kali pertama, kali kedua, ketika sudah jadi pola. Perlu ada semacam kesepakatan antarorang tua tentang cara menanganinya. Tidak harus respons yang persis sama, tapi terkoordinasi.

Apa yang boleh dibiarkan berbeda

Daftar pendek hal-hal yang wajar saja kalau berbeda.

Jam malam yang persisnya. Pukul 21.00 vs 22.00 vs setengah 11. Orang tua berbeda, rumah berbeda, lingkungan berbeda. Selisih 30 sampai 60 menit jarang jadi masalah keamanan. Tidak perlu dipaksa selaras.

Aturan akhir pekan vs malam sekolah. Satu orang tua mungkin tegas pada malam sekolah dan longgar di akhir pekan; Co-Parent mungkin longgar pada malam sekolah (karena dia bisa bangun siang) dan tegas di akhir pekan (karena dia harus bangun pagi). Remaja bisa menyesuaikan.

Aturan untuk acara tertentu. Konser, pesta, malam besar. Yang seperti ini sering kasus per kasus. Biasanya dibahas saat itu, bukan disepakati dari jauh hari.

Aturan saat nongkrong dekat rumah Co-Parent. Pukul berapa remaja harus pulang kalau dia sedang bersama teman-temannya di dekat rumah Co-Parent, padahal malam itu dia menginap di rumahmu. Ini bisa jadi ruwet; kedua orang tua sebaiknya sama-sama masuk akal.

Aturan soal pulang larut malam Sabtu Minggu. Sebagian keluarga membedakan malam Sabtu dari malam Minggu (karena PR, kegiatan, atau komitmen pagi esoknya). Satu orang tua mungkin lebih ketat soal malam Minggu daripada Co-Parent.

Ketika remaja memainkan celah

Sebuah pola yang muncul di banyak keluarga yang anaknya tinggal di kedua rumah. Remaja itu memanfaatkan selisih jam malam.

Bunda ngebolehin aku keluar sampai jam 11. (Padahal jam malammu pukul 22.00.)

Kadang ini benar. Kadang tidak. Kadang jam malam di tempat Bunda memang pukul 23.00 karena faktor tertentu (rumahnya lebih dekat ke lingkungan teman-temannya, jalur transportasinya beda) yang tidak berlaku di rumahmu. Kadang remaja itu melaporkan hasil negosiasi akhir pekan lalu seolah-olah itu aturan tetap.

Langkah yang membantu: jangan meladeni klaim soal celah itu secara langsung. Oke. Di rumah ini, jam malamnya jam 10. Soal apakah aturannya perlu diubah, kita bahas terpisah ya.

Ini melakukan dua hal. Ia mempertahankan aturanmu tanpa mempersoalkan apa yang berlaku di rumah Co-Parent. Dan ia membuka pintu untuk percakapan sungguhan tentang apakah aturanmu memang perlu disesuaikan.

Yang tidak kamu inginkan: terseret tarik-menarik soal apakah Bunda benar-benar bilang pukul 23.00. Kesaksian remaja soal apa yang terjadi di rumah Co-Parent bukan sumber yang bisa diandalkan. Kesaksian Co-Parent, antara kalian berdua, itulah yang bisa.

Kalau kamu ingin memastikan, kirim pesan ke Co-Parent. Bukan di depan remaja. Halo. Sam bilang akhir pekan lalu dia pulang jam 11 di tempatmu. Cuma mau cek, jam malam dia di tempatmu sekarang jam berapa? Sering kali jawabannya menunjukkan bahwa itu cuma sekali itu saja, atau ada salah paham, atau Co-Parent diam-diam sudah melonggarkan jam malam karena alasan yang belum kamu ketahui.

Ketika kamu dan Co-Parent berbeda pendapat soal satu malam tertentu

Kadang satu malam saja sudah memicu konflik.

Anak laki-lakimu sedang di rumahmu untuk akhir pekan, mau pergi ke pesta Sabtu malam. Dia ingin pulang pukul 01.00 dini hari. Kamu cenderung mengiyakan. Co-Parent menganggap pukul 01.00 terlalu larut.

Beberapa pola membantu.

Bicara dulu, putuskan bersama. Sekalipun ini akhir pekanmu, pandangan Co-Parent tetap penting. Lima menit di telepon itu sepadan. Halo, Sam mau pulang jam 1 besok malam, aku cenderung ngebolehin, menurutmu gimana?

Dengar alasannya, bukan cuma posisinya. Co-Parent mungkin punya alasan spesifik (terakhir kali Sam pulang larut di tempatnya tidak berakhir baik; dia tahu sesuatu soal lingkaran pertemanan itu yang tidak kamu ketahui). Atau bisa jadi cuma pandangan umum (pukul 01.00 terlalu larut untuk usianya). Apa pun itu, kamu perlu tahu yang mana.

Kalau tidak bisa sepakat, orang tua yang sedang jadi tuan rumah yang memutuskan. Ini jaring pengaman. Tidak selalu bisa tercapai kata sepakat pada Sabtu siang. Orang tua yang saat itu sedang menampung remaja itu yang mengambil keputusan, setelah mempertimbangkan pandangan Co-Parent. Ini tidak sempurna; tapi lebih baik daripada buntu.

Jangan saling melemahkan di depan remaja. Bunda bilang kamu harus pulang jam 12, Ayah bilang jam 1, ya udah Ayah yang menang. Ini menanam pola persekutuan. Bunda sama Ayah udah ngobrol. Kami putuskan jam setengah 1 jauh lebih baik, meski setengah 1 itu lebih dekat ke pandanganmu ketimbang pandangannya.

Perbaiki, bukan ungkit-ungkit. Kalau keputusannya tidak berakhir baik (dia pulang jam 2, berbohong soal alasannya, akhirnya terjebak situasi buruk), Co-Parent pasti punya pendapat. Kan udah dibilang tidak membantu. Yuk kita pikirkan gimana kita mau menangani yang kayak gini ke depannya itu yang membantu.

Ketika remaja melanggar jam malam

Hampir semua remaja melanggar jam malam pada satu titik. Sekali. Dua kali. Lalu jadi pola.

Kali pertama biasanya soal logistik. Dia ketinggalan KRL. Orang tua temannya terlambat mengantar pulang. Ponselnya mati dan dia tidak bisa mengirim pesan. Yang seperti ini bisa dimaafkan, dengan satu percakapan. Lain kali, ini yang Bunda mau kamu lakukan.

Kali kedua, lihat penyebabnya. Kalau masalah logistiknya sama, berarti sistemnya yang perlu disesuaikan (rencana transportasi cadangan, ponsel dalam keadaan terisi). Kalau penyebabnya beda, tangani sendiri-sendiri.

Pola layak diperhatikan. Bukan karena remajanya nakal. Karena ada sesuatu yang sedang terjadi sampai jam malam itu tidak lagi pas. Dia sudah melewati tahap itu. Lingkaran pertemanannya berubah. Ada hubungan yang tidak kamu ketahui. Ada faktor baru yang bermain.

Respons terhadap sebuah pola biasanya bukan hukuman. Melainkan penyesuaian. Entah jam malamnya yang bergeser (dengan syarat) atau situasi yang mendasarinya yang butuh perhatian. Sering kali keduanya.

Yang tidak membantu dalam hal pelanggaran jam malam:

  • Konsekuensi panjang yang makin berat (dikurung sebulan, ponsel disita dua minggu). Ini membuat remaja jadi lebih tertutup, bukan lebih patuh.
  • Memarahi di depan adik-kakak atau teman. Dia akan kesal padamu dan berhenti bercerita.
  • Menyeret Co-Parent sebagai polisi galak. Tunggu aja sampai Ayah denger. Ini menanam dinamika yang keliru.

Yang membantu:

  • Percakapan tenang, keesokan harinya, saat kalian berdua sudah cukup istirahat.
  • Mengakui bahwa aturannya mungkin perlu berubah seiring dia bertambah dewasa.
  • Konsekuensi spesifik yang sepadan dengan aturan yang dilanggar. (Larut akhir pekan ini? Akhir pekan depan kamu pulang lebih awal. Satu konsekuensi, sebanding, selesai.)
  • Co-Parent ikut tahu, lewat pesan yang tenang: Sam semalam pulang setengah 1. Kami udah ngobrol. Sabtu depan jam malamnya aku majuin. Sekadar info aja.

Lengkung yang lebih panjang

Jam malam anak 13 tahun bukan jam malam anak 17 tahun.

Di usia 13, jam malam sebagian besar bersifat mutlak. Dia masih di tahap awal belajar keluar sendirian, dan dia butuh waktu yang jelas. Di usia 14, 15, jam malamnya bergeser sedikit. Di usia 16, jam malam makin sering dinegosiasikan per acara. Di usia 17, di banyak keluarga, jam malam sebagian besar sudah hilang, berganti jadi kabari kalau kamu mau pulang, kirim pesan kalau ada yang berubah.

Lengkungnya, sekali lagi, dari aturan menuju kemampuan. Anak 13 tahun yang melanggar jam malam sekali lalu belajar dari percakapan itu sedang melakukan sesuatu yang berguna. Anak 17 tahun yang pulang pukul 02.00 dan mengirim pesan pukul 01.00 untuk mengabarinya juga sedang melakukan sesuatu yang berguna, hanya di tahap yang berbeda.

Jangan mencoba mengikat anak 17 tahun pada jam malam anak 13 tahun. Dia sudah melampauinya. Hubungan lebih menderita karena jam malam yang tidak pernah bergerak ketimbang karena jam malam yang longgar.

Apa yang dibutuhkan Co-Parent darimu

Beberapa hal yang praktis.

Beri tahu kalau jam malam bergeser. Kalau kamu melonggarkan jam malam Sam dari pukul 22.00 ke 23.00 karena dia sekarang sudah 15 tahun, sebutkan. Halo, sekadar info, jam malam Sam pas hari sekolah aku ubah ke jam 11. Mau nanya, di tempatmu gimana? Co-Parent boleh mengikuti atau tidak, tapi jangan sampai dia tahunya dari remaja itu.

Beri tahu kalau jam malam dilanggar. Kalau dia pulang larut di rumahmu, sebutkan. Bukan sebagai keluhan soal dia, melainkan sebagai informasi. Sam Jumat malam pulang jam 12, telat setengah jam. Dia ketinggalan KRL. Kami udah ngobrol. Sekadar kasih tahu, siapa tahu nanti kebawa.

Jangan diam-diam menjalankan jam malam yang jauh lebih longgar. Ini otomatis menjadikan Co-Parent orang tua yang tegas dan kamu orang tua yang longgar. Dinamika ini tidak adil bagi kalian berdua dan tidak berguna bagi remaja itu.

Jangan jadikan jam malam Co-Parent bahan candaan. Sekalipun menurutmu terlalu ketat, jangan menyampaikannya begitu kepada remaja. Rumah Co-Parent adalah rumahnya untuk dia atur; aturannya adalah haknya untuk dia tetapkan.

Konteks Indonesia yang patut disebut

Beberapa lapisan tambahan dalam keluarga Indonesia.

Maghrib dan Isya sebagai patokan. Banyak keluarga Muslim mengaitkan jam malam dengan waktu Maghrib atau Isya, bukan dengan angka jam. Pulang sebelum Maghrib atau jangan keluar lagi setelah Isya bisa lebih berarti daripada angka di jam dinding, apalagi pada malam menjelang hari sekolah. Patokan seperti ini bisa diselaraskan antara kedua rumah dengan cara yang sama seperti menyelaraskan angka jam.

Keluarga besar. Remaja Indonesia sering menghabiskan malam di rumah kakek-nenek, om-tante, atau sepupu. Dinamika jam malam bisa membentang ke seisi rumah keluarga besar. Bingkai kedua rumah dalam artikel ini bisa diperluas untuk mencakup pola ini, dan ada baiknya orang dewasa di rumah-rumah itu memakai patokan yang kira-kira sama.

Konteks pesantren. Santri punya jam malam yang diatur lembaga. Artikel ini berlaku saat dia pulang dan saat libur, ketika pola kedua rumah kembali terasa.

Bimbel dan les. Malam remaja Indonesia sering terisi bimbel, les online, atau ekstrakurikuler. Banyak jam malam mengikuti jam selesainya kegiatan ini. Pulang setelah les selesai kadang patokan yang lebih praktis daripada angka jam tetap.

Transportasi. TransJakarta, MRT, KRL, juga ojek dan taksi online seperti Gojek atau Grab. Patokan bagaimana dia pulang harus menempel pada kenyataan di kotamu, entah Jabodetabek atau kota besar lain. Kalau pas dia mudik atau pulang kampung, aturannya bisa berbeda lagi.

Penutup

Sabtu siang. Kamu membalas pesan Co-Parent.

Iya, ibunya Sara nawarin nganterin beberapa anak pulang, berangkatnya jam 12. Aku pikir naik mobil bareng lebih aman daripada pilihan lain. Harusnya aku telepon kamu dulu, maaf ya. Lain kali aku kabari kamu.

Co-Parent: Iya. Mending dianter daripada jalan kaki. Tapi memang kelewat larut sih. Yuk kita ngobrol soal nyesuaikan jam malam dia. Dia kan udah hampir 16.

Kamu: Setuju. Nanti malam aku pikirkan, mungkin dimajuin ke setengah 12 buat akhir pekan. Besok kita cocokkan ya.

Itulah pendaratannya. Satu malam Jumat tidak meruntuhkan keluarga. Ia justru menyingkap sebuah celah (kamu lupa cek; Co-Parent tidak tahu). Kamu menutup celah itu. Sekarang kalian malah sedang membicarakan jam malamnya sendiri, yang memang sudah lama tertunda. Remaja itu pulang dengan selamat. Rumah tangga tetap utuh.

Beginilah rupa penanganan jam malam yang baik. Bukan aturan yang selaras sempurna. Bukan rumah yang serupa. Dua orang tua yang saling memberi kabar, yang sesekali menyesuaikan, yang tidak bersaing menjadi rumah yang lebih enak, dan yang memperlakukan dunia remaja yang sedang melebar sebagai sesuatu yang mereka jalani bersama.

Jam malam adalah salah satu alat praktis dalam tahun-tahun remaja. Ia bekerja paling baik kalau dipakai dengan ringan, disesuaikan secara berkala, dan tidak diubah menjadi rebutan kekuasaan. Kedua rumah boleh punya versinya masing-masing. Kedua orang tua bisa terus saling berhubungan soal itu. Remaja bisa menemukan jalannya sendiri. Itu sudah sebagian besar dari yang dibutuhkan.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.