dip
Belikan Kopi
Modul 01 · Tidur & waktu tidur

Jam tidur pukul 7 dan pukul 9. Ketika orang tua tidak sepakat.

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

4–78–128 menit baca
Jam tidur pukul 7 dan pukul 9. Ketika orang tua tidak sepakat.

Jam tidur pukul 7 dan pukul 9. Ketika orang tua tidak sepakat.

Modul 01 · Tidur & waktu tidur · Artikel 06 · Wave 2 · usia 4-7, 8-12


Selasa sore. Anak lelakimu bilang, santai saja, Ayah ngebolehin aku begadang sampai jam sembilan. Kamu mengangguk. Kamu tidak berkata apa-apa. Tapi di dalam hati, kamu sedang menghitung. Jam tidur di rumahmu pukul 8. Di rumah satunya pukul 9. Itu satu jam. Empat malam seminggu. Berarti, menurutmu, empat jam tidur seminggu yang hilang dari anakmu, gara-gara seorang Co-Parent yang kamu anggap memang tidak becus soal ini.

Kamu sudah mengangkat soal ini dua kali. Yang pertama, Co-Parentmu bilang dia baik-baik aja kok, akhir pekan dia tidur sampai siang. Yang kedua, jangan ajari aku cara membesarkan anak. Kamu pun melepaskannya. Tapi anakmu kelihatan lelah di hari sekolah setelah dia pulang dari rumah satunya. Kamu melihatnya.

Artikel ini tentang apa yang bisa kamu lakukan ketika satu rumah menerapkan jam tidur pukul 7 dan rumah satunya pukul 9. Atau 7.30 dan 8.30. Atau versi apa pun dari selisih jam tidur itu.

Kenapa perbedaan pendapat ini begitu umum

Jam tidur adalah salah satu topik yang paling sering jadi perselisihan antar Co-Parent. Ada enam alasan yang umum.

Jadwal kerja yang berbeda. Satu orang tua pulang kerja dan bisa menemani anak sepanjang malam. Yang satunya baru sampai rumah pukul 7.30 dan ingin punya waktu sebelum anak tidur. Jam tidur di rumah yang pulang lebih malam itu bergeser untuk menyesuaikannya.

Filosofi pengasuhan yang berbeda. Satu orang tua menjunjung rutinitas dan tidur yang terjaga. Yang satunya menjunjung fleksibilitas, kedekatan di waktu malam, dan kemandirian anak. Keduanya adalah nilai yang nyata.

Keyakinan yang berbeda soal tidur. Sebagian orang tua meremehkan berapa banyak tidur yang sebenarnya dibutuhkan anak. Mereka melihat anaknya masih sanggup dengan jam tidur 9.30 lalu menganggap itu tidak masalah, padahal sebenarnya anak itu sedang menjalani hari dengan utang tidur yang baru muncul dua minggu kemudian dalam bentuk mudah marah, belajar yang lebih lambat, dan daya tahan tubuh yang menurun.

Kenyataan praktis di rumah. Satu rumah punya bayi yang harus sudah tidur. Kakaknya pun harus tenang sejak saat itu. Jadi jam tidur di rumah itu mau tidak mau lebih awal.

Pola budaya dan keluarga asal. Norma soal jam tidur memang beragam. Sebagian budaya menidurkan anak lebih awal sebagai rutinitas. Yang lain punya malam yang lebih panjang dan lebih ramai bersama. Ketika kedua Co-Parent berasal dari pola yang berbeda, selisih itu muncul.

Jam tidur adalah waktu untuk dekat. Bagi orang tua yang cuma punya anak empat malam seminggu, menidurkannya lebih awal bisa terasa seperti kehilangan waktu yang berharga. Jam tidur yang lebih malam itu, kadang, adalah caranya memperpanjang malam bersama.

Tidak ada satu pun dari alasan-alasan ini yang konyol. Sebagian besar memang nyata. Perbedaan pendapat ini jarang soal satu orang tua benar dan yang satunya salah. Ini soal nilai-nilai sah yang saling bersaing, ditambah, sering kali, satu pertanyaan faktual yang sebenarnya ada jawabannya: berapa banyak tidur yang sebenarnya dibutuhkan anak ini secara spesifik?

Apa kata sains

Pertanyaan faktual itu bagian yang lebih mudah. Ada jawabannya.

Total kebutuhan tidur menurut usia:

  • 4 sampai 7 tahun: 10 sampai 13 jam total dalam 24 jam, termasuk tidur siang
  • 8 sampai 12 tahun: 9 sampai 12 jam total dalam 24 jam

Rentangnya lebar karena tiap anak memang berbeda. Ada anak usia 8 tahun yang butuh 11 jam dan merasa payah kalau cuma 9. Ada juga yang baik-baik saja dengan 9 jam. Biasanya kamu bisa tahu anakmu termasuk yang mana dari pola akhir pekannya: anak yang tidur sampai siang banget di hari Sabtu kemungkinan memang kurang tidur di malam-malam sekolah.

Angka yang lebih penting adalah jam bangun, bukan jam tidur. Kalau anakmu harus bangun untuk ke sekolah, hitungannya berjalan mundur. Anak usia 7 tahun yang butuh 11 jam harus sudah tidur pukul 7.30, artinya sudah di tempat tidur untuk persiapan tidur pukul 7, artinya makan malam selesai pukul 6.30. Anak usia 10 tahun yang butuh 10 jam harus sudah tidur pukul 8.30. Dari situ, kamu bisa menghitung jam tidur paling malam yang masih masuk akal untuk malam sekolah.

Dua temuan lain yang layak diketahui:

  • Konsistensi dalam rentang 60 sampai 90 menit lebih penting daripada tepat di jam tertentu. Anak yang tidur antara pukul 8 dan 9 setiap malam sekolah tidurnya lebih nyenyak daripada anak yang kadang tidur pukul 8.30 dan kadang pukul 10.
  • Utang tidur menumpuk. Anak yang kekurangan tidur 30 menit setiap malam selama tiga minggu menunjukkan efek kognitif dan emosional yang nyata. Satu dua malam yang buruk tidak apa-apa. Polanya yang jadi masalah.

Inilah yang diberikan sains. Dua angka penting untuk anakmu secara spesifik adalah: total kebutuhan tidurnya (di suatu titik dalam rentang di atas) dan jam bangunnya di hari sekolah. Dari dua angka itu, rentang jam tidur yang masuk akal muncul dengan sendirinya.

Apa yang harus selaras, dan apa yang tidak

Artikel Tidur 03 membahas soal keselarasan ini secara rinci. Diterapkan pada perbedaan pendapat yang spesifik ini:

Apa yang harus selaras di kedua rumah:

  • Total tidur di malam sekolah. Dalam batas wajar, kedua rumah seharusnya menghasilkan anak yang cukup tidur di malam sekolah. Selisih 90 menit pada hari Minggu kebanyakan tidak masalah. Selisih 90 menit pada hari Selasa itu masalah.
  • Bentuk persiapan tidurnya. Kedua rumah seharusnya punya semacam proses melambat sebelum tidur. Tidak harus persis sama bentuknya. Cukup ada satu bentuk.

Apa yang tidak harus selaras:

  • Jam tidur yang persis. Selisih 30 sampai 45 menit itu normal di kedua rumah. Pukul 8 di satu rumah dan 8.30 di rumah satunya bukan masalah.
  • Kegiatan sebelum tidur. Satu rumah membacakan buku, satu rumah menonton tayangan yang tenang. Tidak apa-apa.
  • Jam tidur akhir pekan. Akhir pekan ya akhir pekan. Bergeser tidak masalah.

Perbedaan pendapat ini cuma penting di zona yang memang menuntut keselarasan: total tidur di malam sekolah, dan bentuk persiapan tidurnya. Kalau dua hal itu berjalan di kedua rumah, jam tidur yang persis hanyalah sebuah perbedaan, bukan sebuah masalah.

Ini juga sebabnya kalimat Ayah ngebolehin aku begadang sampai jam sembilan kadang memang kekhawatiran yang nyata dan kadang cuma cerita biasa. Kalau jam tidur pukul 9 versi Ayah itu jatuh di hari Sabtu, dan anak tidur sampai pukul 9.30 pagi esoknya, total tidurnya baik-baik saja. Kalau jam tidur pukul 9 versi Ayah itu jatuh di hari Rabu, dan anak harus bangun pagi esoknya, total tidurnya kurang.

Cara menyelesaikannya

Bagian tersulit dari perbedaan pendapat ini bukan perbedaan pendapatnya itu sendiri. Tapi kedua orang tua sering kali sebenarnya tidak sedang membicarakan hal yang sama. Yang satu bicara soal rutinitas. Yang satunya bicara soal kedekatan. Yang satu bicara soal apa yang dia junjung. Yang satunya bicara soal apa yang dia lihat di depan matanya. Percakapannya berputar-putar karena kalian berdua memakai kerangka yang berbeda.

Satu cara untuk menyelesaikannya, langkah demi langkah.

Mulai dari data. Catat tidur anakmu yang sebenarnya selama dua minggu. Tulis pukul berapa dia tertidur di tiap rumah, dan pukul berapa dia bangun. Bawa catatan itu ke percakapan. Angka tidak sepemantik pendapat. Rabu lalu dia sudah tidur. Kamis lalu sekolah mulai. Dia tidur delapan jam lima puluh menit. Itu angka, bukan tuduhan.

Pisahkan soal kebutuhan dari soal selera. Kebutuhan adalah apa yang anak perlukan untuk tumbuh sehat. Selera adalah apa yang dinikmati tiap orang tua tentang waktu malamnya. Keduanya nyata. Tapi keduanya percakapan yang berbeda, dan jadi kusut kalau dijalankan bersamaan.

Berpegang pada jam bangun, bukan jam tidur. Jam bangun di hari sekolah sifatnya tetap. Dari situ, hitung mundur memakai total kebutuhan tidur anak. Angka yang kamu dapat adalah jam tidur paling malam yang masih masuk akal untuk malam sekolah. Itu angka yang bisa dipertanggungjawabkan, ditarik dari usia dan biologi anak, bukan dari selera salah satu orang tua. Itu bukan pendapatmu. Itu hitungannya.

Biarkan selisihnya ada di malam bukan sekolah. Kalau rumahmu menerapkan pukul 8 di malam sekolah dan Co-Parentmu menerapkan pukul 9.30 di Jumat dan Sabtu, itu bukan masalah tidur. Itu sebuah perbedaan. Anaknya tidak sedang dirugikan.

Cari satu patokan bersama untuk malam sekolah. Tidak harus jam tidurnya. Bisa saja sudah tidur pukul 9 di malam sekolah, di kedua rumah. Atau tidak ada layar setelah pukul 8 di malam sekolah, di kedua rumah. Satu aturan bersama lebih mudah dipegang daripada daftar panjang kebiasaan yang harus selaras.

Tinjau ulang setiap enam sampai dua belas bulan. Yang cocok di usia 5 tidak cocok di usia 8. Yang cocok di usia 8 tidak cocok di usia 11. Percakapan soal jam tidur bukan kesepakatan sekali jadi. Ini penyesuaian kecil yang berulang seiring anak bertumbuh.

Inilah prosesnya kalau kedua orang tua bersedia berbicara dengan niat baik. Kalau bukan begitu keadaannya, itu masalah yang berbeda.

Ketika kalian tidak bisa sepakat

Kadang percakapannya memang tidak berhasil. Co-Parentmu tidak melihat datanya seperti caramu melihatnya. Atau dia melihatnya tapi punya pandangan berbeda soal pertimbangannya. Atau dia memakai jam tidur sebagai tempat untuk melawanmu secara umum, terlepas dari kondisi anak.

Dalam kasus seperti itu, kamu punya lebih sedikit kuasa daripada yang kamu mau. Ada tiga hal yang membantu.

Jaga rumahmu sendiri. Kamu bisa menjalankan tidur malam sekolah dengan benar di rumahmu, terlepas dari apa yang terjadi di rumah satunya. Itu saja sudah membuat perbedaan yang terukur. Anak yang punya setidaknya tiga malam tidur cukup dalam seminggu berada di posisi yang berbeda dibanding anak yang sama sekali tidak punya.

Jangan tarik anak ke dalamnya. Jangan tanya anak pukul berapa dia tidur di rumah satunya. Jangan memutar bola mata saat dia menceritakannya. Jangan bilang Ayah seharusnya tidak ngebolehin kamu begadang selarut itu. Setiap ketegangan yang kamu taruh ke jam tidur akan dibawa anak masuk ke jam tidur itu sendiri. Akibatnya, kamu malah membuat jam tidur jadi lebih buruk di rumahmu sendiri. (Modul 08 (Komunikasi dengan Co-Parent) Artikel 01, soal nada di atas isi, membahas ini secara rinci.)

Kalau selisihnya parah dan terus menerus (artinya anak secara konsisten tidur terlalu malam di malam sekolah, dengan jadwal sekolah, dan ada dampak terukur pada anak), itu percakapan untuk dokter anak, guru BK, atau, dalam beberapa kasus, mediator keluarga. Bawa datanya. Bawa hitungan jam bangunnya. Bingkai semuanya di sekitar kebutuhan anak, bukan di sekitar pandanganmu tentang Co-Parentmu.

Ini berat. Tidak ada versi dari situasi ini yang sama sekali tanpa kehilangan. Anak akan punya selisih jam tidur antara kedua rumah untuk sementara waktu. Kamu akan merasakan selisih itu sebagai kehilangan kendali. Kedua hal itu bisa sama-sama benar dan anak tetap bisa tidur cukup nyenyak untuk bertumbuh.

Penutup

Selisih jam tidur antara kedua rumah itu normal. Selisih 30 sampai 45 menit tidak masalah. Selisih 90 menit di malam sekolah memang jadi masalah, kalau hitungannya tidak pas.

Jalan keluarnya adalah data dan hitungan jam bangun. Bukan pendapat. Bukan siapa orang tua yang lebih baik. Cukup: berapa banyak tidur yang dibutuhkan anak ini, pukul berapa dia harus bangun, dan jam tidur seperti apa yang menjadi konsekuensinya.

Begitu angka itu sudah ada di atas meja, percakapannya jadi lebih sederhana. Bukan lebih mudah. Lebih sederhana. Jam tidur yang tepat untuk anakmu bukan soal pendapat. Itu soal hitungan.

Pendapat itu soal apa yang dilakukan tiap rumah di satu jam sebelum tidur, irama persiapan tidurnya, jenis malam yang ingin kamu jalani. Itu semua boleh berbeda. Itu semua boleh tetap jadi milikmu.

Yang harus selaras adalah hitungannya. Yang itu, kedua orang tua berutang pada anak.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.