Program libur sekolah
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Program libur sekolah
Modul 03 · Rutin usia sekolah · Artikel 20 · Wave 3 · 4–7, 8–12
Libur sekolah bisa enam minggu lamanya. Atau dua minggu. Atau seminggu. Bentuknya berbeda-beda menurut jenjang dan kalender sekolah. Tapi masalah strukturnya sama saja.
Rutin hari biasa anakmu menguap begitu saja. Sekolah tutup. Kamu dan Co-Parent sama-sama masih bekerja. Anak butuh tempat untuk berada, dengan seseorang yang menjaganya, setiap hari kerja sepanjang libur itu. Kalian berdua perlu memikirkan seperti apa bentuknya.
Artikel ini tentang program libur sekolah. Terutama libur akhir tahun ajaran yang panjang di pertengahan tahun, tapi juga libur tengah semester, libur akhir semester ganjil, dan jeda-jeda pendek lainnya. Di mana pun sekolah berhenti tapi pekerjaan orang tua tetap jalan.
Libur yang lebih panjang bukan sekadar soal logistik. Ia juga soal pengalaman anak menjalani libur itu. Libur yang isinya cuma pengaturan jaga anak tanpa rasa libur sama sekali itu melelahkan buat anak. Libur yang dibayangkan dengan indah tapi mustahil dijalankan dari sisi logistik itu tidak bisa diwujudkan oleh orang tua. Kerjanya adalah menyeimbangkan keduanya.
Apa saja sebenarnya isi libur itu
Satu libur sekolah dalam keluarga yang menjalani co-parenting biasanya berisi gabungan dari beberapa hal berikut:
- Waktu cuti orang tua (salah satu atau kalian berdua libur kerja).
- Kamp atau program libur (kamp olahraga, kamp seni, kamp bahasa, pesantren kilat, kelas liburan di bimbel).
- Waktu bersama keluarga besar (kakek-nenek, sepupu, teman-teman keluarga).
- Perjalanan ke suatu tempat (dengan salah satu orang tua, dengan kalian berdua, atau dengan keluarga besar).
- Hari-hari di rumah bersama salah satu dari kalian, bersama yang lain, atau bersama asisten rumah tangga.
- Hari-hari saat anak dititipkan di program penitipan yang disediakan sekolah selama libur.
- Hari-hari di rumah pasangan baru, rumah kakek-nenek, atau rumah teman keluarga.
Kebanyakan libur panjang melibatkan empat atau lima dari ini. Keputusan strukturnya adalah: yang mana terjadi kapan, dan bagaimana caranya.
Langkah pertama: bagi waktu libur antara kedua orang tua
Sebelum aktivitas apa pun diputuskan, ada pertanyaan dasar dulu. Siapa pegang anak di hari-hari yang mana?
Beberapa pola yang umum.
Pembagian 50/50. Libur dibagi rata antara kedua orang tua. Masing-masing dapat satu blok hari. Di dalam bloknya, dia yang menentukan aktivitas, perjalanan, dan program liburnya. Anak tahu lebih awal orang tua mana pegang tanggal yang mana.
Pola seminggu di sini, seminggu di sana. Rotasi mingguan yang biasa diteruskan sepanjang libur. Masing-masing pegang anak di minggu yang biasa jadi gilirannya. Aktivitas dan perjalanan diatur di dalam jendela waktu masing-masing.
Pola campuran. Anak punya lebih banyak waktu dengan salah satu orang tua pada satu libur, dan lebih banyak dengan yang lain pada libur berikutnya. Sering ditentukan oleh siapa yang punya jatah cuti tahunan kapan, atau siapa yang punya akses ke sumber daya tertentu (rumah peristirahatan, pekerjaan yang lebih fleksibel).
Pola mudik. Anak pergi ke kampung halaman salah satu pihak keluarga di kota atau daerah lain untuk tinggal lebih lama. Orang tua yang satu lagi pegang sisa liburnya. Pola ini sangat lekat di Indonesia: libur panjang sering berimpit dengan momen Lebaran atau Natal, dan mudik jadi inti dari rencananya.
Pola yang tepat bergantung pada keluarganya. Prinsipnya: sepakati pembagiannya jauh-jauh hari. Obrolan soal siapa pegang anak di tanggal mana paling baik dilakukan dua bulan sebelum libur, bukan dua minggu sebelumnya.
Memesan program libur
Begitu tanggalnya sudah dibagi, pemesanan program libur menyusul.
Beberapa kerumitannya.
Waktu. Program libur yang populer penuh berbulan-bulan sebelumnya. Slot libur akhir tahun ajaran bisa tutup sejak Maret. Jeda-jeda yang lebih pendek dipesan lebih dekat ke tanggalnya.
Biaya. Rentangnya lebar sekali. Kelas liburan di bimbel bisa sekitar Rp500.000 sampai Rp3.000.000 seminggu. Kamp olahraga atau kamp minat khusus sekitar Rp1.000.000 sampai Rp5.000.000 seminggu. Kamp premium jauh lebih tinggi. Seminggu di kamp mahal bisa setara biaya satu kursus profesional untuk orang dewasa.
Antar dan jemput. Program libur biasanya punya jam mirip hari sekolah. Kalian berdua perlu menyelaraskan dengan jadwal programnya.
Keinginan anak. Sebagian anak suka kamp libur. Sebagian tidak. Pandangan anak itu penting.
Pilihan antarprogram. Tiap program punya kekhususannya sendiri (olahraga, seni, sains, bahasa, keagamaan seperti pesantren kilat). Pilihannya bisa jadi penting buat orang tua.
Obrolannya. Kalian berdua melihat pilihan program libur bersama-sama. Kalian sepakat anak ikut program yang mana. Kalian sepakat siapa bayar untuk minggu yang mana.
Satu prinsip yang berguna. Orang tua yang minggu liburnya termasuk jadwal program itu yang mengurus logistik harian untuk minggu tersebut. Biayanya tetap dibagi, apa pun yang terjadi.
Perjalanan besar
Libur yang lebih panjang sering termasuk satu perjalanan yang lebih besar. Liburan ke pantai. Liburan ke daerah pegunungan. Mengunjungi kakek-nenek di kota lain. Berkemah.
Perjalanan itu bisa:
Dengan salah satu orang tua. Salah satu membawa anak seminggu atau lebih. Orang tua yang satu lagi punya waktu lebih tenang dengan pekerjaan atau urusannya yang lain.
Dengan kedua orang tua. Kurang lazim setelah perpisahan, tapi mungkin saja kalau hubungannya cukup baik. Kedua orang tua dan anak bepergian bersama.
Dengan salah satu orang tua dan keluarga besar. Anak pergi bersama salah satu orang tua dan kakek-nenek, sepupu, dan seterusnya. Orang tua yang satu lagi punya waktu di rumah.
Dengan keluarga besar tanpa orang tua. Anak pergi bersama kakek-nenek atau sepupu. Kedua orang tua punya waktu tanpa anak. Pola ini sangat umum di Indonesia: anak ikut Om atau Tante mudik, tinggal di kampung dua minggu, lalu pulang dengan kepala penuh cerita.
Perjalanan itu salah satu kenangan terbesar dari liburnya. Keputusan tentang siapa yang membawa anak ke mana layak dibicarakan lebih panjang daripada sekadar soal logistik.
Beberapa prinsip.
Co-Parent yang tidak ikut perjalanan sebaiknya diberi tahu rencana perjalanan itu secara rinci. Di mana anak berada. Apa yang mereka lakukan. Bagaimana cara menghubungi mereka.
Orang tua yang membawa anak berkomunikasi dengan Co-Parent selama perjalanan dengan pola yang sudah disepakati. Bukan kabar terus-menerus. Cukup satu pesan singkat sehari. Satu foto. Satu telepon singkat dari anak ke orang tua yang lain di malam hari.
Anak punya waktu dengan orang tua yang tidak ikut, sebelum dan sesudah perjalanan. Orang tua yang tidak ikut bukan menghilang selama dua minggu; dia tetap ada.
Anak bisa bercerita tentang perjalanan itu kepada orang tua yang tidak ikut tanpa orang tua itu merasa tersisih atau kecewa. Anak yang menikmati waktunya bersama orang tua yang membawa perjalanan itu bukan sebuah pengkhianatan.
Saat rencana libur tidak berjalan
Kadang rencana libur tidak bertahan begitu bertemu kenyataan.
Program libur tiba-tiba batal. Sebuah perjalanan dibatalkan. Anak jatuh sakit. Rencana kakek-nenek berubah. Pekerjaan pasangan baru memaksa jadwal disusun ulang.
Cara cadangan untuk semua ini sama. Kalian berdua bicara. Sesuaikan. Geser hari. Tutup celah yang kosong.
Cara cadangan itu mengandaikan kedua orang tua mau lentur. Kalau salah satu menganggap jadwal sebagai sesuatu yang tidak boleh diganggu gugat dan yang lain dianggap fleksibel, ujung-ujungnya orang tua yang fleksibel itu yang melakukan semua penyesuaian. Ini tidak akan bertahan lama.
Prinsipnya. Jadwal libur itu sebatas usaha terbaik. Kedua orang tua sama-sama lentur saat ada yang mengganggu rencana. Anak dipegang oleh kalian berdua sepanjang gangguan itu.
Saat anak berada di rumah pasangan baru
Sebuah konfigurasi yang khusus. Salah satu orang tua punya pasangan baru. Pasangan baru itu punya anak sendiri. Anak-anak pasangan baru itu sedang bersamanya selama sebagian libur. Anakmu pun mendapati dirinya di rumah pasangan baru itu, mungkin bersama anak-anaknya, mungkin baru bertemu mereka untuk pertama kali, mungkin ikut bepergian bersama keluarga baru itu.
Ini hal yang peka. (Lihat Modul 11 untuk pembahasan yang lebih panjang soal penggabungan pasangan baru.)
Prinsipnya dalam konteks libur. Anak diberi tahu tentang susunan keluarga baru itu sebelum libur. Bukan di hari perjalanan. Cukup jauh sebelumnya supaya anak punya waktu untuk bertanya.
Anak-anak pasangan baru dan anakmu tidak dipaksa jadi sahabat. Mereka sekadar berbagi liburan. Mereka mungkin akrab; mungkin juga tidak.
Orang tua yang sedang memperkenalkan hubungan baru itu menyediakan waktu berdua saja dengan anaknya selama libur. Tidak semua waktu harus jadi waktu keluarga gabungan.
Co-Parent di rumah tahu apa yang sedang terjadi selama libur. Dia tidak harus menyukainya; dia perlu tahu.
Kalau penggabungan dengan pasangan baru itu benar-benar masih baru (baru beberapa bulan), perjalanan panjang bersama keluarga baru kemungkinan terlalu dini. Tunggu dulu.
Hari Minggu sebelum sekolah mulai
Penghujung libur punya nuansanya sendiri. Hari Minggu sebelum sekolah mulai.
Anak berada di antara kedua rumah, dua rutin, dua jadwal. Libur sedang surut. Tahun ajaran sedang menanjak. Tas perlu dibereskan ulang dengan perlengkapan sekolah. Jam tidur yang lebih awal perlu dikembalikan. Rutin pagi perlu dihidupkan lagi.
Ini sebuah peralihan yang anak perlu dibantu menjalaninya. Rumah mana pun tempat anak berada di hari Minggu sebelum sekolah mulai itu yang memegang peralihan ini.
Satu langkah praktis. Tas sekolah dibereskan pada Minggu sore, sebelum aktivitas libur yang terakhir. Seragam disiapkan untuk pagi Senin. Jam tidur digeser kembali ke jam sekolah pada Minggu malam.
Kalau anak berpindah rumah pada Senin pagi awal tahun ajaran, perpindahannya dibuat tenang dan dilakukan lebih awal. Tasnya sudah siap. Paginya tidak terburu-buru.
Kalau anak baru saja menjalani libur yang sangat santai, peralihannya mungkin lebih berat. Dia sudah berminggu-minggu dalam mode libur. Mode sekolah butuh penyetelan ulang. Hari Minggu yang tenang dan terstruktur membantu.
Pendaratan
Libur akhir tahun ajaran berlangsung enam minggu. Dua minggu pertama anak bersama salah satu orang tua dan kakek-nenek di kota lain. Minggu ketiga, program libur dekat rumah. Minggu keempat dan kelima, bersama Co-Parent dalam perjalanan ke pantai. Minggu keenam, satu minggu tenang di rumah, bersiap untuk sekolah.
Kamu dan Co-Parent sudah menyepakati bentuknya tiga bulan sebelumnya. Program liburnya dipesan pada Maret. Perjalanannya direncanakan menjelang April. Semuanya berjalan.
Tidak sempurna. Perjalanan Co-Parent terganggu oleh pemesanan yang dibatalkan. Kakek-nenek punya satu acara kecil yang tidak bisa dihadiri Co-Parent. Ada dua hari saat anak merasa tidak nyaman dengan bolak-balik itu.
Tapi di penghujung enam minggu itu, anak punya libur yang dia kenang. Waktu di pantai. Waktu bersama sepupu. Waktu di program libur tempat dia mencoba sesuatu yang baru. Waktu bersama kedua orang tua dengan cara yang berbeda-beda.
Tahun ajaran dimulai lagi. Libur jadi kenangan. Kedua orang tua sudah mulai memikirkan libur berikutnya.
Inilah irama hidup usia sekolah dalam co-parenting. Libur demi libur. Masing-masing direncanakan jauh-jauh hari, dijalankan kurang lebih, dan dikenang dengan manis.
Penutup
Setiap libur direncanakan jauh-jauh hari, dijalankan kurang lebih sesuai rencana, dan dikenang dengan hangat. Pegang strukturnya dengan rapi, dan ia berhenti jadi sumber rebutan, lalu kembali menjadi apa yang seharusnya: waktu yang dikenang anakmu.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.