Buku jurnal baca, buku PR, surat izin bertanda tangan
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Buku jurnal baca, buku PR, surat izin bertanda tangan
Modul 03 · Rutin usia sekolah · Artikel 06 · Wave 2 · 4–7, 8–12
Selasa, pukul 16.15. Buku jurnal baca terbuka di meja makan.
Catatan terakhir: Jumat. Membaca selama lima belas menit. Ditandatangani oleh Bunda.
Sekarang sudah hari Selasa. Hari-hari di antaranya kosong. Guru akan melihat jeda itu begitu buku jurnalnya dikumpulkan lagi besok pagi.
Kamu menggulir ke belakang. Minggu sebelumnya pun sama. Sebagian besar hari ditandatangani olehmu. Beberapa hari ditandatangani oleh Co-Parent. Ada satu dua hari yang tidak ditandatangani oleh kalian berdua, karena anak ada di rumah satunya untuk jadwal membaca hari itu sekaligus untuk waktu tidur hari itu.
Artikel ini tentang dokumen-dokumen kecil dari pihak sekolah yang butuh perhatian orang tua setiap minggu. Buku jurnal baca. Buku PR. Surat izin yang perlu ditandatangani. Buku penghubung antara guru dan orang tua.
Ini bukan hal-hal besar. Tidak ada satu pun di antaranya, kalau dilihat sendiri-sendiri, yang penting. Yang penting adalah gambaran yang menumpuk. Buku jurnal baca dengan jeda tiga minggu akan ketahuan oleh guru. Buku PR yang ditandatangani tidak konsisten membuat guru bertanya-tanya. Surat izin yang masuk telat dua hari membuat staf tata usaha sekolah menghela napas.
Solusinya bukan usaha yang heroik. Solusinya adalah sistem kecil yang menangani setiap hal ini begitu muncul. Yang harian dikerjakan harian. Yang mingguan dikerjakan mingguan. Yang sekali jadi dikerjakan tepat saat tas dibongkar.
Buku jurnal baca
Buku jurnal baca adalah dokumen harian yang paling umum. Anak membaca sesuatu, orang tua mencatatnya, orang tua menandatangani.
Sebagian besar sekolah menerima tanda tangan orang tua mana pun. Sebagian sekolah menegaskannya: satu tanda tangan per hari, dari orang tua yang sedang bersama anak hari itu. Sebagian sekolah ingin nama orang tua ditulis di samping tanda tangan supaya guru bisa melihat anak berada di rumah yang mana hari itu.
Ada dua pola yang berhasil.
Siapa pun yang sedang memegang anak, dialah yang menandatangani. Kalau anak ada di rumahmu hari Senin dan Selasa, kamu yang menandatangani untuk Senin dan Selasa. Kalau dia di rumah Co-Parent hari Rabu dan Kamis, Co-Parent yang menandatangani hari-hari itu. Buku jurnalnya sendiri ikut berjalan bersama tas.
Pola yang kurang umum tapi tetap sah. Kedua orang tua menandatangani satu buku jurnal yang berkesinambungan saat serah-terima. Co-Parent mengisi dua harinya begitu anak kembali ke kamu, atau kamu mengisi hari-harimu begitu anak kembali ke dia. Pola ini menuntut buku jurnalnya benar-benar berpindah secara fisik antara kedua rumah, yang tidak masalah kalau tas memang berjalan. Pola ini cenderung jebol kalau tasnya menetap di satu rumah.
Pola pertama lebih sederhana. Pakai itu kecuali kamu punya alasan untuk tidak.
Ada dua titik kegagalan yang perlu diwaspadai.
Isi-mendadak-Minggu-malam. Kamu baru sadar di hari Minggu bahwa buku jurnalnya belum ditandatangani untuk akhir pekan. Kamu menandatangani untuk Sabtu dan Minggu. Ini pola yang tidak apa-apa kalau anak memang benar membaca. Ini jadi kebohongan kecil kalau ternyata tidak. Sebagian besar orang tua sesekali melakukan ini. Kalau dilakukan tiap minggu, guru akan menyadarinya.
Minggu-kosong-di-rumah-Co-Parent. Buku jurnalnya kembali dari seminggu di rumah satunya dengan keadaan kosong melompong. Entah Co-Parent tidak mencatat (yang oleh guru dibaca sebagai tidak membaca), entah dia mencatat di lembar terpisah (yang tidak membantu). Kalau rumah Co-Parent kamu tidak ikut mengisi buku jurnal baca, pertanyaannya adalah apakah kamu mengangkat hal ini dengannya, mengangkatnya dengan guru, atau membiarkannya saja. Tidak ada jawaban yang sempurna. Langkah yang paling kecil memicu konflik biasanya adalah memberi tahu pihak sekolah secara diam-diam bahwa membaca di rumah memang berjalan, hanya saja tidak selalu tercatat.
Buku PR
Buku PR, atau buku agenda, atau buku perencana, atau apa pun sebutannya di sekolah anakmu, adalah dokumen mingguan tempat anak menuliskan tugas yang diberikan. Sebagian sekolah mewajibkan tanda tangan orang tua tiap minggu. Sebagian tidak.
Kalau sekolahmu mewajibkan tanda tangan mingguan, aturannya sederhana. Siapa pun yang sedang memegang anak pada hari buku PR diperiksa, dialah yang menandatangani. Kalau hari pemeriksaannya berganti-ganti (sebagian sekolah memeriksa hari Senin, sebagian hari Jumat), orang tua yang menandatangani pun bergantian.
Kalau sekolahmu tidak mewajibkan tanda tangan mingguan, buku PR lebih berfungsi sebagai dokumen rujukan. Anak menuliskan tugasnya. Orang tua melihatnya sekilas saat membongkar tas hari Jumat atau saat sesi mengerjakan PR. Tidak ada drama tanda tangan.
Hal yang biasa keliru dengan buku PR sama persis dengan hal yang biasa keliru dengan tas. Kalau buku PR menetap di satu rumah, orang tua di rumah satunya tidak bisa melihat tugas apa yang diberikan. Solusi paling sederhana adalah membiarkan buku PR tetap di dalam tas sekolah, yang berarti tasnya harus berjalan.
Kalau sekolahmu memakai buku PR digital (aplikasi atau portal orang tua), pertanyaan soal orang tua mana yang punya akses jadi nyata. Banyak sekolah secara default hanya memberikan satu akun masuk untuk orang tua, dan orang tua kedua harus meminta akses secara terpisah. Kedua orang tua semestinya punya akun masuk. Kalau punyamu tidak ada, mintalah ke pihak sekolah. Buat banyak keluarga di Indonesia, saluran digital itu praktis hidup di grup WA orang tua kelas, jadi pastikan kamu juga ada di grup itu, bukan hanya Co-Parent.
Surat izin
Surat izin berbeda dari buku jurnal baca dan buku PR karena sifatnya sekali jadi, bukan berulang.
Sebuah surat izin datang. Surat itu butuh tanda tangan. Surat itu punya tenggat. Orang tua yang kebetulan menemukannya di dalam tas, dialah yang menanganinya, idealnya pada hari surat itu datang.
Sebagian besar surat bisa ditandatangani orang tua mana pun. (Lihat artikel tentang map Jumat untuk pembahasan yang lebih panjang soal ini.) Kalau sekolahmu mewajibkan dua tanda tangan (jarang di SD, lebih umum di SMP atau SMA), bereskan ini dengan pihak sekolah sejak awal supaya suratnya tidak macet menunggu tanda tangan yang kedua.
Gesekan dengan surat izin biasanya berasal dari salah satu dari tiga hal.
Suratnya tidak sempat dibongkar dari tas tepat waktu. Surat itu mengendap di tas sampai Minggu malam atau Senin pagi. Lalu ditandatangani dengan panik. Ini masalah map Jumat dalam bentuk lain.
Suratnya sudah ditandatangani tapi tidak kembali ke sekolah. Surat yang sudah ditandatangani malah tergeletak di meja dapur, lalu masuk laci, lalu terlupakan. Solusinya adalah mengembalikannya ke dalam tas tepat saat ditandatangani.
Kedua orang tua berbeda pendapat soal kegiatannya. Satu orang tua ingin anak ikut karyawisata; satunya tidak. Suratnya jadi pengganti untuk perbedaan pendapat itu. Ini bukan masalah surat; ini masalah pengambilan keputusan dalam co-parenting. Suratnya cuma permukaannya saja.
Buku penghubung
Sebagian sekolah, terutama di tahun-tahun SD, memakai buku penghubung kecil tempat guru dan orang tua bergantian menulis catatan. Anak Ibu/Bapak tampak lelah hari ini. Kami akan bicarakan soal kejadian di halaman bermain. Mohon dicek buku PR-nya, halaman 14.
Buku ini ikut berjalan di dalam tas. Memang dari sananya, buku ini adalah dokumen sekolah yang paling tidak bersifat pribadi. Apa pun yang kamu tulis di dalamnya bisa dibaca oleh orang tua mana pun (yang menemukan bukunya lebih dulu), oleh guru, dan mungkin juga oleh kepala sekolah.
Implikasinya untuk co-parenting. Jangan pakai buku penghubung untuk mengirim pesan ke Co-Parent kamu. Gurulah pembacanya. Co-Parent memang membaca apa pun yang dibaca guru, tapi dia membacanya seolah tidak sengaja mendengar pesanmu kepada guru, yang hampir selalu bukan nada yang tepat untuk pesan dari satu Co-Parent ke Co-Parent lainnya.
Kalau kamu dan Co-Parent ingin menyelaraskan sesuatu yang disinggung guru, kirim pesan langsung satu sama lain. Buku penghubung tetap fokus pada percakapan dengan guru.
Saat tidak ada rumah yang menandatanganinya
Kegagalan klasik. Buku jurnal baca punya jeda di hari Rabu. Rabu adalah hari serah-terima. Anak membaca di rumah pertama pada pagi hari, menjalani perpindahan sepulang sekolah, tidak membaca di rumah kedua (karena Rabu memang sibuk di sana), lalu kembali ke rumah pertama pada Kamis pagi tanpa buku jurnalnya ditandatangani untuk Rabu.
Ini bisa dibereskan dalam dua langkah.
Pertama, satu pengecekan singkat di kepala pada setiap serah-terima. Ada yang perlu ditandatangani untuk hari ini? Kalau ada, tandatangani sebelum anak berangkat. Buku jurnal baca, catatan di buku PR, surat izin yang jatuh tempo besok.
Kedua, jaring pengaman. Orang tua yang menerima melakukan pengecekan cepat pada buku jurnal di pagi hari anak datang. Ada yang kosong dari kemarin? Kalau ada, isi berdasarkan apa pun yang dilaporkan anak. Membaca sepuluh menit di rumah Ayah tadi malam. Tandatangani. Lanjut.
Tidak ada satu pun dari kedua langkah ini yang heroik. Keduanya hanya makan waktu tiga puluh detik. Kalau dilakukan dengan konsisten, jedanya berhenti muncul.
Penutup
Selasa, pukul 16.15. Buku jurnal baca punya tiga hari yang kosong. Kamu duduk bersama anakmu selama lima belas menit, mengisi apa yang memang dia baca pada hari-hari itu (ada, hanya saja belum tercatat resmi), lalu menandatangani.
Buku jurnalnya kembali besok dengan tampilan minggu yang lebih rapi daripada seharusnya. Guru tidak melihat masalah. PR membaca tetap berjalan.
Yang dilakukan oleh sistem yang kamu bangun selama berminggu-minggu nanti adalah mengurangi seberapa sering sore-sore Selasa seperti ini terjadi. Buku jurnal baca ditandatangani saat itu juga, harian, oleh orang tua yang sedang memegang anak. Buku PR ditandatangani pada titik pemeriksaan mingguan. Surat izin ditandatangani saat membongkar tas hari Jumat. Buku penghubung tetap fokus.
Kamu tidak akan pernah sampai ke angka nol. Setiap keluarga yang menjalani co-parenting punya sore Selasa seperti ini sesekali. Tapi beda antara tiga hari kosong dan tiga minggu kosong itu terletak pada sistemnya, bukan pada kemauan keras.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.