Vaksinasi dan pertanyaan soal persetujuan
By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Vaksinasi dan pertanyaan soal persetujuan
Modul 10 · Kesehatan & obat · Artikel 04 · Wave 2 · untuk umur 0-3, 4-7
Pengingat vaksinasi dari klinik datang seminggu yang lalu. Vaksin lanjutan sudah waktunya. Slot janji temu yang kamu pesan jatuh pada Kamis sore.
Sekarang malam Selasa. Kamu sedang berbalas pesan dengan Co-Parent soal rencana minggu ini. Sambil lalu, kamu menyebut janji temu itu.
Balasannya datang, lebih lambat dari yang kamu kira. Aku baru baca-baca soal ini. Aku kurang sreg sama yang satu ini.
Kamu terdiam sejenak menatap pesan itu. Tadinya kamu mengira ini janji temu rutin, jenis yang tinggal kamu datangi tanpa perlu dibahas. Ternyata, percakapan ini tidak rutin.
Artikel ini untuk percakapan yang sekarang ada di depanmu.
Tentang apa artikel ini
Prinsipnya begini. Vaksinasi adalah salah satu dari sedikit keputusan medis yang bisa membuat dua orang tua yang biasanya sepakat soal hampir segala hal mendadak berbeda pendapat dengan serius. Sebagian besar waktu, kedua orang tua sejalan dan janji temu itu tinggal berjalan saja. Saat kesejalanan itu pecah, percakapannya jarang soal vaksin tertentu; ia soal kepercayaan, soal sumber informasi, dan soal pertanyaan yang lebih sulit tentang apa yang harus dilakukan ketika dua orang tua yang sama-sama menyayangi anak mereka berbeda pendapat soal sesuatu sebesar ini. Tugasnya adalah menangani perbedaan pendapat itu dengan baik, dengan kesejahteraan anak sebagai pusatnya, tanpa salah satu pihak merasa dilangkahi atau diabaikan.
Artikel ini membahas empat hal. Kesejalanan yang menjadi keadaan bawaan. Kerangka persetujuan di berbagai sistem hukum. Percakapan yang sulit ketika kesejalanan itu pecah. Dan pertanyaan struktural yang lebih dalam: apa yang harus dilakukan ketika kalian benar-benar tidak bisa sepakat.
Satu catatan sebelum lanjut. Artikel ini tidak mengambil posisi soal vaksin tertentu. Yang dibahas adalah cara menangani percakapan ketika kamu dan Co-Parent berbeda pendapat. Pertanyaan medisnya adalah urusan antara kamu, dokter anakmu, dan dokter spesialis mana pun yang terlibat. Yang dibahas di sini adalah pertanyaan strukturalnya.
Keadaan bawaan: sebagian besar janji temu tinggal berjalan saja
Dalam sebagian besar situasi co-parenting, vaksinasi bukan bahan perdebatan. Kedua orang tua sudah sepakat soal pendekatan besarnya, entah mengikuti jadwal standar, atau mengikutinya dengan penyesuaian tertentu yang sudah lama disepakati. Pengingat datang; janji temu dibuat; salah satu orang tua membawa anak; catatan diperbarui; hidup berjalan terus.
Di Indonesia, jadwal Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) dan imunisasi lanjutan terutama disampaikan lewat Posyandu dan Puskesmas, gratis untuk imunisasi program. Klinik atau dokter anak swasta menawarkan vaksin tambahan dengan biaya tersendiri. Buku KIA dan KMS menjadi catatan resminya.
Inilah situasi bagi mayoritas keluarga co-parenting untuk mayoritas vaksinasi. Ini perlu disebutkan, karena artikel yang menyusul membahas percakapan yang lebih sulit dan bisa membuat percakapan semacam itu terdengar lebih sering terjadi daripada kenyataannya.
Struktur yang menghasilkan keadaan bawaan yang mulus itu dibangun lebih awal. Sebuah pemahaman bersama (formal maupun tidak) tentang bagaimana keluarga ini menyikapi vaksinasi anak. Kepercayaan pada cara kontak medis utama menangani urusan rutin. Catatan bersama (Artikel 01) yang merekam apa saja yang sudah dilakukan.
Saat keadaan bawaan ini bekerja, ia bekerja tanpa terlihat. Pertanyaan-pertanyaan dalam artikel ini tidak muncul.
Kerangka persetujuan
Ketika vaksinasi memang menjadi bahan pembicaraan, kerangka hukum penting sebagai garis dasar.
Di sebagian besar sistem hukum tempat kedua orang tua memegang kuasa asuh bersama, keduanya punya hak (dan harapan praktis) untuk diberi tahu tentang keputusan medis yang tidak rutin dan untuk memberi masukan yang berarti. Vaksinasi rutin pada jadwal standar biasanya termasuk dalam kewenangan salah satu orang tua yang bertindak sendiri. Vaksinasi yang tidak rutin, opsional, atau yang dipertentangkan biasanya membutuhkan keterlibatan kedua orang tua.
Rinciannya berbeda-beda antar sistem hukum. Beberapa pola yang berlaku secara luas.
Vaksin standar pada jadwal nasional. Di sebagian besar sistem hukum, salah satu orang tua yang bertindak sendiri bisa membawa anak untuk vaksinasi yang sudah terjadwal. Partisipasi bawaan diasumsikan; janji temu bersifat rutin; biasanya tidak ada langkah persetujuan bersama khusus yang diperlukan. Di Indonesia, jadwal Imunisasi Dasar Lengkap dari Kemenkes diperlakukan demikian oleh sebagian besar keluarga.
Vaksin opsional atau tambahan. Vaksin di luar jadwal nasional (perlindungan tambahan, terkait perjalanan, perluasan cakupan HPV, dan sebagainya) biasanya butuh kesadaran kedua orang tua, dan makin sering persetujuan formal keduanya, terutama di layanan kesehatan swasta.
Mengeluarkan anak dari jadwal standar. Orang tua yang ingin mengeluarkan anak dari program imunisasi nasional biasanya tidak bisa melakukannya secara sepihak. Perlindungan struktural dari jadwal standar sudah terbangun dalam sebagian besar sistem; keluar dari program diperlakukan sebagai keputusan besar yang membutuhkan persetujuan kedua orang tua.
Suara anak sendiri. Sebagian besar sistem hukum memberi anak suara formal dalam percakapan ini sejak awal masa remaja (sekitar usia 12 tahun), dengan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan muncul di pertengahan hingga akhir masa remaja (sering kali usia 16 tahun). Usia dan aturan persisnya berbeda-beda; arah perkembangannya serupa.
Mengetahui aturan yang berlaku di tempatmu itu penting. Dokter keluarga atau dokter anakmu bisa menjelaskan kerangka yang berlaku setempat. Begitu juga percakapan singkat dengan pengacara keluarga kalau persoalannya mulai dipertentangkan.
Penting juga untuk paham bahwa aturan itu menggambarkan lantai, bukan langit-langit. Sekalipun secara hukum salah satu orang tua boleh bertindak sendiri, ongkos relasional dari melakukannya pada perkara yang dipertentangkan itu tinggi. Kerangka hukum sebaiknya menjadi jaring pengamanmu, bukan mode kerja sehari-harimu.
Percakapan yang sulit
Ketika kamu dan Co-Parent berbeda pendapat soal vaksinasi tertentu, percakapan yang menyusul terasa pelik. Beberapa prinsip.
Pelan-pelan. Sebagian besar percakapan vaksin yang dipertentangkan tidak punya tenggat yang mendesak. Janji temu bisa dijadwalkan ulang. Vaksin lanjutan bisa ditunda satu dua minggu sambil kalian bicara. Jangan coba menyelesaikan perbedaan pendapat yang berarti dalam beberapa hari menjelang janji temu yang sudah terjadwal.
Cari tahu apa yang sebenarnya dipersoalkan. Aku kurang yakin soal yang ini bisa berarti beberapa hal. Bisa jadi kekhawatiran spesifik tentang vaksin yang spesifik ini. Bisa jadi kekhawatiran yang lebih luas soal jadwalnya. Bisa jadi hasil dari membaca sesuatu yang spesifik. Bisa jadi posisi yang sudah lama dipegangnya dan tidak pernah disuarakan. Bagi sebagian keluarga Muslim, bisa jadi kekhawatiran tentang kandungan vaksin dan status halalnya. Percakapan harus dimulai dengan mencari tahu apa yang sebenarnya ada di balik kata-kata itu.
Dengarkan tanpa berusaha memperbaiki. Percakapan pertama adalah untuk memahami, bukan untuk mengubah pendapat. Sekalipun kamu yakin dengan posisimu, tugas pertama adalah benar-benar mendengar kekhawatiran Co-Parent. Ceritakan apa yang sudah kamu baca. Ceritakan apa yang membuatmu khawatir. Aku mau mengerti. Memahami tidak berarti kamu jadi terikat untuk setuju.
Akui nilai-nilai di baliknya. Sebagian besar posisi soal vaksin yang dipertentangkan berasal dari tempat yang nyata: melindungi anak dari bahaya, otonomi atas keputusan medis, percaya atau tidak percaya pada institusi, nilai keagamaan atau budaya. Posisi yang kamu tidak setujui biasanya punya nilai-nilai yang sebenarnya kamu bagi juga di baliknya; menyebut nilai-nilai bersama itu bisa mengubah suasana percakapan.
Libatkan dokter. Hampir setiap percakapan vaksin yang dipertentangkan terbantu oleh percakapan bersama dengan dokter keluarga atau dokter di Puskesmas. Dokter berada pada posisi untuk menjawab pertanyaan spesifik, menanggapi kekhawatiran spesifik, dan menyajikan gambaran medis dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh salah satu orang tua. Gimana kalau kita buat janji temu bareng sama dokter untuk membahas ini? Ini bukan soal dokter yang memutuskan perbedaan pendapat kalian; ini soal punya sumber profesional bersama. Untuk kekhawatiran halal, fatwa MUI tentang vaksin tertentu dan, kalau perlu, penasihat agama bisa menjadi sumber bersama yang melengkapi.
Bersedia untuk meninjau ulang pendapat. Kalian berdua. Kalau kekhawatiran Co-Parent memunculkan sesuatu yang belum kamu pikirkan, anggap serius. Kalau penalaranmu memunculkan sesuatu yang belum dia pikirkan, dia pun sebaiknya menganggapnya serius. Perbedaan pendapat yang produktif menuntut kesediaan yang sungguh-sungguh untuk berubah pikiran.
Jangan bicara mewakili anak atau anak di masa depan. Hindari pernyataan seperti kalau kita tidak melakukan ini, nanti anak kita merasa kita tidak peduli sama dia. Pernyataan semacam ini lebih banyak memproyeksikan daripada meyakinkan. Bertahanlah pada apa yang kamu dan Co-Parent ketahui, di sini, sekarang, dengan informasi yang kalian berdua punya.
Sepakati proses, bukan cuma posisi. Kadang percakapan tidak bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Sepakati apa yang terjadi berikutnya. Percakapan kedua. Konsultasi dengan dokter. Sedikit waktu untuk membaca lagi bagi kalian berdua. Tanggal tertentu sebagai batas keputusan harus diambil. Adanya proses menjaga percakapan agar tidak melenceng tanpa arah.
Ketika kalian benar-benar tidak bisa sepakat
Sebagian besar percakapan vaksin yang dipertentangkan akhirnya terselesaikan. Kekhawatiran salah satu orang tua terjawab oleh informasi; kerangka pikir orang tua kedua menyesuaikan diri; sebuah jalan ke depan menjadi terlihat. Sebagian kecil percakapan memang tidak selesai lewat diskusi biasa.
Ketika kalian sudah benar-benar bicara, dengan masukan dokter, dengan waktu yang cukup, dan kalian masih berbeda pendapat secara mendasar, ada beberapa jalur.
Percakapan mediasi. Kalau perbedaan pendapatnya berbobot dan berkelanjutan, inilah persis jenis keputusan yang menjadi alasan keberadaan mediasi. Seorang mediator terlatih, dengan kedua orang tua hadir, menelusuri sebuah keputusan spesifik dengan kesejahteraan anak sebagai pusatnya. Modul 09 membahas mekanismenya. Sikap netral mediator penting di sini.
Konsultasi dengan spesialis. Kadang seorang dokter spesialis anak (ahli imunologi, dokter anak dengan keahlian khusus) bisa menawarkan sudut pandang yang tidak bisa diberikan dokter keluarga. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga bisa menjadi rujukan medis anak yang terpercaya. Percakapan dengan spesialis bukan soal memutuskan perbedaan pendapat; ia soal menambah kedalaman klinis pada apa yang kalian berdua sudah ketahui.
Langkah hukum. Dalam kasus serius yang tidak terpecahkan, yang melibatkan vaksin rutin atau penyimpangan besar dari anjuran medis, sistem hukum bisa memutus. Ini jarang terjadi dan sebaiknya menjadi langkah terakhir, bukan langkah pertama. Di Indonesia, untuk keluarga Muslim, perkara seputar pengasuhan anak diselesaikan di Pengadilan Agama (dengan mediasi yang diwajibkan lebih dulu sesuai PERMA No. 1/2016); untuk keluarga non-Muslim, melalui Pengadilan Negeri. Pengadilan bisa mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, dan untuk perkara yang menyangkut kesejahteraan anak, lembaga seperti KPAI atau UPTD PPA setempat kadang juga bisa dilibatkan. Putusan pengadilan dimungkinkan, tapi tidak lazim untuk sengketa vaksinasi. Jalur hukum bersifat struktural; ia tidak memulihkan hubungan.
Menunggu. Kadang jawaban yang tepat adalah menunda keputusan. Vaksin yang seharusnya diberikan pada usia enam bulan sering kali masih bisa diberikan pada sembilan bulan atau dua belas bulan tanpa perubahan berarti pada hasilnya. Keputusan yang ditunda bukan berarti tidak ada keputusan; ia adalah keputusan untuk memberi lebih banyak waktu bagi percakapan. Digunakan dengan hati-hati, penundaan bisa memberi ruang pada hubungan tanpa mengorbankan perawatan anak.
Salah satu orang tua bertindak sendiri. Dalam sebagian konteks hukum, dengan sebagian vaksin, salah satu orang tua bisa melanjutkan sendiri kalau kerangkanya mengizinkan. Ini sebaiknya menjadi langkah terakhir yang serius, bukan langkah pertama. Kerusakan pada hubungan co-parenting akibat salah satu orang tua bertindak secara sepihak pada keputusan medis yang dipertentangkan itu besar. Hal ini hanya boleh terjadi ketika alternatifnya adalah bahaya nyata bagi anak dan waktunya benar-benar tidak memungkinkan penyelesaian yang lebih pelan.
Catatan tentang sumber informasi
Banyak percakapan vaksin yang dipertentangkan menyimpan, di baliknya, sebuah perbedaan tentang sumber mana yang dipercaya. Salah satu orang tua membaca panduan dari otoritas kesehatan nasional dan mempercayainya. Orang tua kedua sudah membaca sumber-sumber yang menimbulkan kekhawatiran yang menurut otoritas itu tidak berdasar atau tidak dibahas.
Dua hal membantu di sini.
Sumber bersama. Sepakati setidaknya satu sumber yang akan kalian berdua lihat bersama. Dokter keluarga. Satu konsultasi spesialis. Satu dokumen tertentu. Bagi keluarga Muslim, fatwa MUI tentang vaksin tertentu bisa menjadi titik rujukan bersama. Sumber bersama itu tidak harus menjadi penentu; ia adalah titik temu yang memberi percakapan sebuah tempat untuk berpijak.
Keterbukaan sumber. Kalau kamu sudah membaca artikel, buku, atau video tertentu, bagikan. Jangan diringkas; bagikan. Co-Parent sebaiknya bisa membaca apa yang kamu baca dan sampai pada penilaiannya sendiri. Keterbukaan soal sumber, dari kedua pihak, membuat percakapan menjadi soal informasi, bukan soal posisi.
Versi yang lebih sulit dari percakapan ini, ketika sumber informasi salah satu orang tua dipandang oleh yang lain sebagai tidak bisa dipercaya atau bahkan berbahaya, adalah percakapan yang sama sekali berbeda. Ia jarang selesai lewat tarik-menarik soal sumber yang berlarut. Biasanya ia butuh bantuan struktural dari seorang mediator atau klinisi yang bisa menjaga ruang agar kedua pihak didengar dan agar gambaran medisnya disajikan dengan cermat.
Penutup
Malam Selasa. Kamu membaca pesan itu untuk ketiga kalinya.
Kamu membalas. Ceritakan lebih banyak soal apa yang membuatmu khawatir. Aku mau mengerti dulu sebelum kita ambil keputusan apa pun.
Co-Parent membalas. Dia menyebut satu kekhawatiran spesifik yang sudah dia baca. Kamu membaca apa yang dia baca.
Kalian ambil waktu satu dua hari. Kalian berdua memikirkannya. Kalian sepakat untuk membuat janji temu bersama dengan dokter pada Sabtu pagi, sebelum janji temu Kamis.
Kamu menunda vaksin lanjutan itu. Slot dokter bergeser ke minggu berikutnya. Kalian datang ke percakapan Sabtu pagi itu bersama-sama. Dokter mendengarkan dengan cermat kekhawatiran Co-Parent. Dia menanggapinya secara spesifik. Dia membagikan apa yang dia ketahui. Dia mengakui apa yang tidak bisa dia pastikan. Dia menyampaikan rekomendasi profesionalnya. Dia menyebut sisa ketidakpastian kecil yang masih ada.
Kamu dan Co-Parent keluar dari ruang praktik dokter. Kalian duduk di mobil beberapa menit. Kalian berdua merenung.
Pada akhirnya, kalian berdua memutuskan untuk melanjutkan vaksin itu. Kekhawatiran Co-Parent tidak diabaikan; ia didengar, ditelaah, dan akhirnya ditimbang bersama gambaran yang lebih luas. Dia setuju bahwa penalaran medisnya kuat. Kamu mengakui bahwa bacaannya memunculkan sesuatu yang memang layak dipikirkan baik-baik.
Vaksin lanjutan itu diberikan pada Kamis berikutnya. Janji temunya, pada akhirnya, singkat dan biasa saja.
Babak itu memakan waktu dua minggu, bukan satu. Ia melibatkan satu janji temu yang tertunda, satu kunjungan dokter tambahan, satu percakapan yang lebih sulit, dan satu keputusan bersama yang dicapai berdua. Anak sudah mendapatkan vaksin lanjutannya. Hubungan co-parenting tetap utuh. Lain kali hal serupa muncul, kalian berdua sudah tahu cara menanganinya.
Tidak semua percakapan vaksin yang dipertentangkan berakhir seperti ini. Sebagian tidak selesai dalam kesepakatan; sebagian berakhir di ruang mediator; sebagian kecil berakhir pada alternatif struktural yang sudah disebutkan artikel ini. Artikel ini bukan janji bahwa setiap percakapan akan berjalan mulus. Ia adalah peta tentang cara membuatnya berjalan mulus ketika itu memang bisa.
Tujuannya bukan agar kalian selalu sepakat. Tujuannya adalah agar kalian menangani perbedaan pendapat dengan cara yang melindungi anak, menghormati suara Co-Parent, dan menjaga struktur co-parenting tetap bekerja selama bertahun-tahun.
Itulah artikelnya. Pekerjaannya terus berjalan.
Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.