dip
Belikan Kopi
Modul 08 · co parent communication

Percakapan yang perlu dilakukan tatap muka

By the dip team · Clinical consultant: Pauline Sam, MD ·

Semua usia11 menit baca
Percakapan yang perlu dilakukan tatap muka

Percakapan yang perlu dilakukan tatap muka

Modul 08 · Komunikasi dengan Co-Parent · Artikel 14 · Wave 3 · untuk semua usia


Thread WhatsApp itu sudah berjalan sembilan hari. Topiknya jadwal liburan sekolah. Pesan pertama lugas dan jelas; menjelang pesan ketiga, sudah ada nadanya; menjelang pesan ketujuh, kalian berdua sudah berhati-hati dengan cara yang artinya berhati-hati tapi tidak hangat. Tidak ada satu pun dari ketujuh pertukaran pesan itu yang menyelesaikan apa-apa. Jadwal liburan masih belum disepakati. Kamu merasakan beban yang sudah biasa, kita tidak ke mana-mana.

Kamu berpikir mau mengirim pesan kedelapan. Kamu berhenti.

Kamu sadar. Ini bukan lagi percakapan untuk dilakukan lewat pesan. Ini jenis percakapan yang hanya bisa terjadi di dalam satu ruangan yang sama.

Artikel ini tentang kesadaran itu, dan apa yang perlu dilakukan setelah kamu sampai ke sana.

Apa isi artikel ini

Artikel ini membahas momen-momen tertentu saat pesan, email, atau bahkan telepon tidak akan membawa percakapan ke tempat yang seharusnya. Kalian berdua perlu berada dalam ruang fisik yang sama, saling memandang, supaya percakapan itu bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

Prinsipnya begini. Ada percakapan yang tidak bisa dilakukan pada lebar saluran pesan. Percakapan yang melibatkan kerja menyelesaikan perbedaan pendapat, keputusan struktural, atau perbaikan setelah ada pelanggaran yang nyata, tempatnya adalah tatap muka. Mencoba melakukannya lewat pesan akan merusak percakapan itu, merusak hubungan kalian, dan merusak kemampuan kalian bersama untuk menjalani percakapan berikutnya.

Artikel ini mencakup lima hal. Cara mengenali kapan percakapan tatap muka diperlukan. Cara mengusulkannya. Cara bersiap. Percakapannya sendiri. Dan apa yang menyusul setelahnya.

Artikel ini tidak mencakup situasi yang menyangkut keselamatan. Kalau ada riwayat kekerasan, intimidasi, atau ketimpangan kuasa yang besar, percakapan tatap muka mungkin perlu menghadirkan seorang mediator, atau mungkin memang tidak tepat sama sekali. Modul 11 (Pasangan baru & keluarga gabungan) membahas kategori ini secara khusus.

Kapan tatap muka diperlukan

Beberapa tanda.

Thread pesan sudah berputar-putar. Beberapa kali pertukaran, tidak ada titik temu. Setiap pesan membingkai ulang pesan sebelumnya sedikit demi sedikit. Kalian berdua bisa merasakan salah paham yang menumpuk. Pesan tidak menyelesaikan tugasnya karena persoalannya butuh ulang-alik secara langsung yang memang tidak dimungkinkan oleh pesan.

Topiknya punya muatan emosi melampaui hal operasional. Mengubah jadwal itu hal operasional; mengubah jadwal yang menyentuh kebutuhan medis anak dan perubahan pekerjaan salah satu orang tua baru-baru ini punya lapisan emosi yang akan terkikis habis oleh pesan. Lapisan-lapisan itu perlu ada di dalam ruangan.

Sebuah keputusan tidak bisa diambil tanpa melihat orang yang satu lagi. Sebagian keputusan butuh kamu membaca wajah, gerak tubuh, energi. Menyelesaikan topik yang sulit. Menyampaikan kabar yang mungkin tidak menyenangkan. Menetapkan batasan. Versi tatap muka membawa informasi yang tidak terkirim lewat pesan.

Perbaikan setelah ada pelanggaran. Sesuatu telah terjadi. Sebuah garis dilewati. Sebuah pertukaran yang berat. Percakapan perbaikan, kalau memang mau sampai, hampir selalu perlu dilakukan tatap muka. Permintaan maaf lewat pesan setelah pelanggaran yang nyata itu tidak cukup. Orangnya perlu melihat wajahmu saat kamu mengatakannya.

Sebuah pola sudah menjadi sesuatu. Saat kamu sudah mengalami perbedaan pendapat operasional yang sama tiga kali dalam tiga bulan, diskusi operasional itu sudah berubah menjadi diskusi struktural. Kita selalu berakhir di titik yang sama; ayo bicarakan kenapa. Itu percakapan tatap muka.

Pesan mulai punya bobot yang tidak kamu maksudkan. Saat kalian berdua makin lama menulis balasan, saat setiap pesan terasa lebih berat, saat kamu membaca ulang pesan mereka berkali-kali, saluran itu sudah jenuh. Langkah berikutnya adalah tatap muka.

Peristiwa hidup besar yang memengaruhi co-parenting. Hubungan baru yang mengarah serius. Tawaran kerja yang menuntut pindah kota. Perubahan keuangan besar. Diagnosis baru untuk anak. Kategori kabar yang paling besar, setelah disampaikan pertama kali, layak ditindaklanjuti dengan percakapan tatap muka tentang implikasinya.

Saat dua tanda atau lebih hadir bersamaan, percakapan tatap muka adalah langkah yang tepat. Memintanya bukan eskalasi; itu kalibrasi.

Cara mengusulkannya

Meminta percakapan tatap muka itu sendiri bisa jadi langkah yang halus. Beberapa prinsip.

Bingkai sebagai sesuatu yang membantu, bukan sebagai eskalasi. Hai. Kayaknya kita kebawa di WA terus, nggak nyampai-nyampai. Bisa ketemu langsung buat ngobrolin ini? Sekitar 30 menit, di tempat netral, minggu depan. Bingkainya adalah aku ingin ini berjalan baik, dan beginilah caranya supaya berjalan baik. Bukan kita harus menuntaskan ini habis-habisan.

Sebutkan topiknya. Soal jadwal liburan sekolah. Bukan kita perlu bicara. Kalimat kabur kita perlu bicara memicu kecemasan pada penerima bahkan sebelum dia tahu ini soal apa. Topik yang spesifik membuat dia bisa bersiap dan mencegah percakapan melebar ke mana-mana.

Sebutkan durasinya. Tiga puluh menit. Bukan sebentar saja. Durasi memberi tahu dia bahwa ini percakapan yang fokus, bukan pertemuan emosional tanpa ujung. Durasi juga membantu kalian berdua berkomitmen untuk tetap pada topik.

Usulkan tempat yang netral. Sebuah kafe. Sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Sudut food court mal yang cukup tenang. Bukan di rumah salah satu dari kalian (terlalu bermuatan), bukan di tempat ada anak (anak tidak boleh hadir), bukan tempat yang salah satu dari kalian kaitkan dengan kenangan tertentu. Hindari juga tempat acara keluarga besar atau lokasi yang besar kemungkinan kalian bertemu kenalan. Tempat netral menandakan bahwa percakapan itu adalah hal tersendiri, tidak terselip ke dalam sisa hubungan kalian.

Beri dia pilihan. Selasa jam 2 atau Rabu jam 7. Dia memilih salah satu. Dia punya kendali. Percakapan jadi terasa seperti sesuatu yang dimasuki kalian berdua, bukan sesuatu yang dipaksakan.

Jangan kirim pesan soal isi percakapan sebelum bertemu. Begitu pertemuan disepakati, isi percakapan menunggu sampai pertemuan itu. Mengirim pesan panjang malam sebelumnya, sekalipun dengan niat biar kita sepaham dulu, sering kali menyetel arah percakapan lebih awal sehingga pertemuan yang sebenarnya malah jadi lebih sulit. Tunggu saja. Percakapannya terjadi di dalam ruangan.

Cara bersiap

Dua puluh menit sebelum pertemuan, lakukan tiga hal.

Tentukan dua atau tiga hasil yang kamu inginkan. Seperti apa wujud keberhasilan? Bukan dalam istilah yang kabur. Hasil yang spesifik. Sepakat soal jadwal liburan. Sebuah cara menangani percakapan seperti ini ke depan. Pengakuan bahwa beberapa pertukaran terakhir memang tegang. Kalau kamu tidak tahu seperti apa wujud keberhasilan, kamu tidak bisa tahu apakah pertemuan itu berhasil. Mengetahuinya lebih awal menjaga percakapan tetap terarah.

Tentukan dua atau tiga konsesi kamu. Apa yang kamu rela berikan? Masuk ke percakapan dengan gambaran di mana kamu bisa lentur, itulah yang membuat kesepakatan mungkin tercapai. Kalau kamu sudah memutuskan di awal aku bisa menggeser serah-terima Kamis ke penjemputan jam 6 sore kalau dia setuju soal minggu Agustus, kamu bisa menawarkannya dengan rapi saat momennya tiba.

Akui keadaanmu sendiri. Apakah kamu masuk dalam keadaan lelah? Cemas? Marah? Terluka? Kamu tidak harus memperbaiki keadaan itu. Tapi kamu memang harus tahu apa keadaannya. Kalau kamu masuk dalam keadaan mentah, kamu akan bertindak dari keadaan mentah. Menamainya untuk diri sendiri, sekalipun sebentar, tidak melarutkannya, tapi memberimu sedikit jarak darinya.

Kalau ada riwayat rumit yang mungkin muncul, kamu juga bisa melakukan hal keempat: pikirkan apa yang tidak akan kamu katakan. Keluhan lima tahun lalu yang selalu ingin menyusup ke dalam percakapan. Kalimat yang selalu kamu lontarkan saat merasa terpojok. Garis serangan yang, meski tersedia, tidak akan membantu. Memutuskan di awal untuk tidak memakai semua ini adalah bagian dari persiapan.

Percakapannya sendiri

Percakapan itu punya bentuk.

Buka dengan pengakuan. Makasih ya sudah menyempatkan waktu. Atau, Senang kita bisa ketemu kayak gini. Satu kalimat yang membuka dengan hangat. Pembukaan menentukan suhu untuk 28 menit berikutnya. Basa-basi sebentar di awal juga wajar dan membantu; itu cara biasa kita mencairkan suasana.

Sebutkan topiknya dengan jelas. Aku mau ngobrolin jadwal liburan sekolah dan gimana kita sampai kebawa soal itu minggu lalu. Kamu menyatakan apa yang ada di atas meja. Orangnya kini tahu apa yang akan dibahas dan apa yang tidak.

Bergantian. Kebanyakan percakapan tatap muka antara Co-Parent yang gagal, gagal karena kedua pihak bicara bersamaan, saling memotong, sama-sama naik tensi. Latihan yang disengaja adalah bergantian. Satu bicara; yang lain mendengar; yang lain bicara; yang pertama mendengar. Jeda di antara giliran itu wajar. Percakapan berjalan lebih lambat dibanding pesan; justru itu tujuannya.

Dengarkan apa yang ada di baliknya. Saat dia bicara, dengarkan bukan hanya kata-katanya tapi apa yang sedang mendorongnya. Sering kali permintaan di permukaan bukan permintaan yang sebenarnya. Aku mau minggu Agustus mungkin sebenarnya berarti aku ingin merasa bahwa liburan tidak selalu jatuh ke syaratmu. Kalau kamu bisa mendengar hal yang di baliknya, kamu bisa menanganinya. Kalau kamu hanya mendengar hal di permukaan, percakapan akan berputar terus.

Bicara dari pengalamanmu sendiri. Aku merasa X saat Y terjadi. Bukan, Kamu melakukan X. Yang pertama mengundang respons; yang kedua mengundang pembelaan. Isi yang sama, disampaikan sebagai pengalamanmu, mendarat berbeda dibanding isi yang sama yang disampaikan sebagai tuduhan terhadapnya.

Pelankan diri saat kamu merasa terpicu. Kalau rahangmu menegang atau napasmu memendek, berhenti sejenak. Minum air seteguk. Sebentar, aku mau mikir dulu. Memperlambat diri bukan kelemahan; itu disiplin. Percakapan butuh kalian berdua berada dalam keadaan yang memungkinkan kalian mendengar dan menanggapi, bukan dalam keadaan yang membuat kalian merespons secara refleks.

Sampai ke hasil yang konkret. Sebelum percakapan berakhir, sebutkan apa yang sudah kalian sepakati. Jadi kita atur 1 sampai 15 Agustus sama kamu, 15 sampai 30 Agustus sama aku, dengan kemungkinan tukar akhir pekan terakhir kalau [acara keluarga Co-Parent] sudah pasti. Spesifik. Kalian berdua mengangguk. Kesepakatan itu kini sudah ada di udara, dan kamu bisa merujuknya kembali kalau salah satu dari kalian mulai melenceng.

Tutup dengan singkat. Senang kita ngobrol kayak gini. Boleh diulang kalau ada hal lain yang mentok. Atau cukup, Makasih ya. Kita tetap kabaran soal minggu Agustus. Kamu tidak perlu memanjang-manjangkan. Penutup mengakui kerja yang baru saja terjadi dan mengakhiri pertemuan dengan rapi.

Setelahnya

Begitu percakapan selesai, tiga hal.

Tulis apa yang sudah kalian sepakati. Dalam waktu satu jam. Email atau catatan bersama. Konfirmasi yang kita sepakat: [daftar]. Kamu bukan menguji dia; kamu melindungi kalian berdua dari salah ingat di kemudian hari. Versi tertulis itu menjadi sumber acuan.

Jangan dibahas ulang lewat pesan. Percakapan sudah selesai. Kesepakatan berlaku. Lawan dorongan untuk mengirim pesan susulan yang menambah syarat, menambah hal, atau membongkar ulang. Kalau ada sesuatu yang muncul dan ingin kamu tambahkan, simpan untuk percakapan tatap muka berikutnya, atau untuk pesan yang dibingkai dengan baik beberapa hari kemudian, bukan untuk jam-jam tepat setelah pertemuan.

Perhatikan apa yang berhasil. Apa dari percakapan ini yang terasa berbeda dari pertukaran pesan yang mendahuluinya? Apa yang membuat kalian bisa bertemu di titik tengah? Ini data untuk lain kali. Lain kali sebuah thread mulai berputar-putar, kesadaran bahwa kita perlu ketemu langsung akan datang lebih cepat.

Yang sebaiknya tidak dilakukan dalam percakapan

Beberapa hal yang perlu dihindari.

Jangan bawa berkas. Kadang orang masuk ke pertemuan dengan Co-Parent membawa catatan, dokumen, bukti. Ini mengubah percakapan menjadi sidang. Co-Parent kamu akan jadi defensif. Jangan bawa apa pun yang terlihat. Apa pun yang perlu kamu ingat, simpan di kepala.

Jangan ajak anak. Percakapan ini bukan untuk disaksikan anak. Anak sebaiknya berada di tempat lain. Kalau logistiknya menyulitkan, percakapan dipindah ke waktu saat anak sedang bersama orang lain.

Jangan bawa pasangan baru. Sekalipun pasangan barumu punya kepentingan dalam persoalan itu, percakapan ini antara kamu dan Co-Parent kamu. Pasangan baru bisa dilibatkan dalam percakapan mereka sendiri di lain waktu (Modul 11, Pasangan baru & keluarga gabungan). Yang ini cuma berdua.

Jangan bawa keluarga besar. Di Indonesia, tarikannya kuat untuk mengajak Om, Tante, Eyang, atau orang tua sendiri sebagai saksi atau pendukung. Tahan dorongan itu. Begitu juga jangan menjadikan ART sebagai penyangga atau penemani. Percakapan ini antara dua orang tua yang sedang mengoordinasikan cara membesarkan anak. Kehadiran pihak ketiga, sekalipun dengan niat baik, mengubah dinamikanya. Kalau kamu memang merasa butuh pihak ketiga, langkah yang tepat adalah mediator terlatih (lihat Modul 09, Mediasi & bantuan pihak ketiga), bukan anggota keluarga.

Jangan mencoba membahas semuanya. Percakapan ini soal topik yang sudah kamu sebutkan. Kalau topik lain muncul, sebutkan tapi tunda. Itu pantas jadi percakapan sendiri; bisa kita simpan untuk lain kali? Mencoba menangani beberapa hal yang belum selesai dalam satu pertemuan menghasilkan penyelesaian pada tidak satu pun dari semuanya.

Jangan menjadikannya pembahasan hubungan. Sekalipun persoalannya menyentuh apa yang dulu terjadi di antara kalian secara romantis, ini percakapan Co-Parent. Sejarah romantis punya ruangnya sendiri (atau tidak); itu bukan topik di sini. Tetaplah di jalur co-parenting.

Jangan menyepakati sesuatu yang tidak bisa kamu penuhi. Lebih baik membiarkan satu pertanyaan terbuka daripada terlalu banyak berjanji di ruangan lalu harus menariknya kembali. Aku pikirkan dulu ya, nanti aku pastikan paling lambat Rabu. Itu penanda sementara yang rapi. Menarik kembali kesepakatan jauh lebih buruk daripada menundanya.

Penutup

Selasa jam 2 siang. Kamu di kafe yang kamu usulkan. Co-Parent kamu masuk. Kalian berdua memesan. Kalian duduk di meja dekat jendela.

Percakapan berjalan tiga puluh lima menit. Sebagian operasional. Sebagian lebih sulit. Ada satu momen, sekitar dua puluh menit berjalan, saat suhunya naik dan kalian berdua berhenti. Kamu minum air seteguk. Dia menarik napas. Percakapan dilanjutkan, sedikit lebih sejuk.

Menjelang akhir, kalian sudah sepakat soal jadwal liburan. Kalian juga sudah sepakat soal cara menangani lain kali pertukaran pesan mulai berputar-putar: telepon, atau pertemuan tatap muka lagi kalau perlu. Kalian belum menyelesaikan setiap hal yang ada di balik permukaan di antara kalian; memang tidak akan. Tapi hal yang paling mendesak sudah selesai, dan struktur untuk menangani hal berikutnya sudah ada di tempatnya.

Kalian berdua berdiri. Kalian berdua mengucap terima kasih singkat. Kalian berdua pergi ke arah yang berbeda. Sore itu berlanjut.

Malam itu, kamu mengirim email ringkasan. Konfirmasi yang kita sepakat: [daftar]. Dia membalas dalam satu jam. Iya, betul. Makasih ya.

Jadwal liburan sudah beres. Thread pesan yang sudah berjalan sembilan hari itu sudah ditutup. Agustus anak akan berjalan mulus.

Inilah yang dilakukan percakapan tatap muka, saat ia berhasil. Bukan karena percakapannya mudah. Karena salurannya punya lebar yang cukup untuk apa yang sebenarnya menjadi isi percakapan itu.

Yang terlindungi, dalam pendekatan ini, adalah salurannya sendiri. Komunikasi antar Co-Parent, kalau dipakai dengan baik selama bertahun-tahun, menuntut agar saluran pesan tetap untuk hal-hal seukuran pesan. Saat sesuatu yang lebih besar dari pesan datang, salurannya bisa berubah. Kemampuan untuk mengenali itu, dan untuk bertindak atasnya, adalah pembeda antara komunikasi co-parenting yang makin berat tiap tahun dan komunikasi co-parenting yang tetap pada ukuran yang pas untuk kerjanya.

Yang pada akhirnya satu-satunya ukuran yang sanggup ditanggung oleh kerja itu.

Ini adalah materi swadaya yang mendukung, bukan nasihat medis, psikologis, atau hukum, dan bukan pengganti bantuan profesional yang berkualifikasi. Jika Anda atau anak Anda mungkin dalam bahaya, hubungi layanan darurat setempat.